Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Kenyataan yang Mengecewakan


Mata Tomatsu bertatapan dengan pria itu. Matanya penuh dengan kekhawatiran dan gelisah, tapi ia terus bertahan untuk mengulur waktu bagi Darren.


"Aku harus mengulur waktu agar Darren-kun bisa kabur. Tapi, aku tidak yakin seberapa lama aku bisa menahannya," Batin Tomatsu sambil tetap waspada. "Tak kusangka aku akan bertemu dengan mu begitu cepat, Raja Iblis Kegelapan."


Pria itu kembali bergerak. Ia hendak pergi langsung melewati Tomatsu dan mengarah ke tempat dimana Darren berada. Tapi Tomatsu meluncurkan serangan dengan pukulannya.


Pria itu membalasnya dengan merapatkan tangannya di depan dada dan membentuk posisi bertahan. Pukulan Tomatsu pun tidak menimbulkan apa-apa.


Tanpa banyak bicara, pria itu kembali membuka tangannya dan meluncurkan tendangan ke arah kepala Tomatsu. Tapi Tomatsu menghindarinya dengan mudah.


Melihat sebuah celah di antara pertahanan pria itu, Tomatsu langsung meluncurkan serangan balik. Ia mengeluarkan tombak es dari tangannya dan mengarahkannya ke tubuh pria itu.


Seuutt... Pria itu menangkis dengan pedang hitamnya. Ia bahkan tak menoleh dan terlihat begitu santai menghadapi Tomatsu.


"Aku tidak bisa terus meladeni mu, Tomatsu," Ucap pria itu.


"Aku juga tidak bisa membiarkanmu mendekat," Balas Tomatsu sambil menatap keras.


"Sebenarnya apa yang membuatmu berpikir untuk melindunginya? Bukankah kau benci manusia?" Sambung pria itu.


Tomatsu terdiam sejenak dan kemudian membalas. "Aku membutuhkannya. Lagipula, ia itu manusia yang berbeda."


"Aku juga membutuhkannya-- jauh lebih membutuhkannya," Balas pria itu.


Ia kemudian mengangkat pedangnya dan menebas ke arah tubuh Tomatsu. Tapi Tomatsu segera mengubah tubuhnya menjadi debu sehingga pedang itu menembus tubuhnya tanpa menimbulkan luka.


"Tck, merepotkan sekali," Gerutu pria itu. "Tapi setiap jurus pasti ada kelemahannya."


Tomatsu mengayunkan tombaknya lurus ke arah wajah pria itu. Ia menggerakkan tombaknya dengan cepat dan bertubi-tubi tanpa henti.


Crekk! Beberapa tetes darah mulai menetes di antara celah topeng pria itu.


"Bagaimana? Apa kau menyukainya?" Ucap Tomatsu sambil meluncurkan serangan kedua.


Tomatsu kembali menyerang pria itu secara bertubi-tubi. Kecepatan serangannya sangat cepat, bahkan hampir setara dengan kecepatan suara.


Creekkk! Crakkk! Darah bercucuran deras dari tubuh pria itu. Bahkan mulai menciprati kulit Tomatsu juga.


"Ha, ha, sudah lama aku tidak membuat seseorang bercucuran darah seperti ini," Ucao Tomatsu sambil menyeringai. "Apa kau menikmatinya? Aku beri kau kesempatan untuk pergi sekarang juga."


"Tomatsu, kau membuat kesalahan kedua mu," Ucap pria itu tiba-tiba. "Kau terlena dengan posisi mu. Kau kira kau sudah menang?"


Tomatsu sedikit bingung. Tapi ia mulai sadar saat tiba-tiba tubuhnya terasa panas.


"A-Apa ini!?" Tomatsu terkejut saat melihat api-api hitam muncul di kulitnya. "Jangan-jangan, darah tadi!"


Pria itu membalas. "Benar. Aku mengubah darah ku menjadi api. Api kegelapan, Hell Flame."


Kulit Tomatsu mulai terbakar. Bahkan untuk makhluk selevel Raja Iblis sekalipun, api itu tetap terasa menyakitkan. Manusia biasa takkan sanggup menahannya dan pasti akan mati dalam sekejap.


"S-Sial," Gerutu Tomatsu. "Jika tadi kau bilang bahwa ini adalah kesalahan kedua ku. Maka apa kesalahan pertama ku?"


"Kesalahan pertama mu adalah berani menantang ku," Jawab pria itu. "Sekarang, cepat menyingkir. Aku beri kau kesempatan untuk pergi dan jangan menghalangi ku lagi."


Tomatsu yang Masih dalam keadaan terbakar membalas dengan keras. "Takkan!"


Pria itu menghela nafas. "Sebenarnya apa alasan mu melindungi manusia itu? Apa keuntungannya bagi mu?" Ucapnya.


Tomatsu terdiam dan tak menjawab. Pria itu pun melanjutkan.


"Oh, apa mungkin, kau ingin ia membantu mu mencari kebenaran?"


Tomatsu tersentak. "A-Apa yang kau bicarakan?"


"Kebenaran tentang kerajaan mu, kan? Aku sudah tahu," Sambung pria itu. "Tapi aku cukup yakin kalau kau juga sudah tahu itu, hanya saja kau terlalu takut."


Tomatsu terdiam. Ia menundukkan kepalanya.


"Dilihat dari caramu menanggapinya, sepertinya aku benar," Sambung pria itu. "Kau sudah tahu kebenarannya. Kau tahu apa yang membuat kerajaan mu hancur, dan apa yang terjadi pada rakyat mu, kau sudah tahu semuanya. Tapi kau terlalu takut untuk mengakuinya dan ingin menyalahkan orang lain. Padahal kau tahu siapa pelaku sebenarnya, dan kau ingin membunuh orang itu."


Tomatsu terpaku diam. Ia sedikit menggerakkan giginya dan wajahnya terlihat tertekan.


"Atau mungkin kau masih tidak tahu siapa pelakunya? Jangan khawatir, akan ku tunjukkan pada mu," Pria itu kemudian menerjang ke arah Tomatsu dengan cepat dan menyentuh kepalanya.


"Silahkan lihat sendiri," Ucapnya.


Begitu jari pria itu menyentuh dahi Tomatsu, ia serasa masuk ke dalam mimpi dan tak bisa merasakan apa-apa.


"Dimana aku?" Batinnya. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya dan tahu kalau dirinya dalam keadaan setengah sadar. "Apa yang terjadi?"


Tapi suara lain menyahutnya. "Kau sedang melihat ke masa lalu, Tomatsu. Melihat sebuah kebenaran yang kau cari-cari," Ucapnya.


"Ini..." Ucap Tomatsu.


Kemudian suara itu menyahut. "Benar, ini Erfroren. Tanah kelahiran dan kematian mu."


Terlihat jelas dua orang anak sedang berlari ke sana kemari di tengah padang rumput di dekat gunung. Mereka terlihat sangat ceria dan mereka tertawa riang.


Tak lama kemudian, seorang perempuan muncul memanggil mereka. Wajahnya tidak terlalu muda dan tak terlalu tua. Dari cara anak-anak itu melihatnya, perempuan itu sepertinya kakak mereka.


Mereka segera menghampiri perempuan itu. "Kakak!" Ucap mereka dengan riang gembira.


Perempuan itu membungkuk dan menyambut mereka dengan kedua tangan dan berakhir memeluk mereka.


"Ayo pulang, ini sudah sore. Mama dan papa sudah menunggu di rumah," Ucapnya.


Kedua anak itu mengangguk dengan wajah cerah. Mereka berdua pun pulang sambil bergandengan tangan.


Tomatsu melihat mereka dengan air mata menetes. Walau ia tak merasakan fisiknya berada di situ, tapi air mata itu terasa nyata.


"Kau terharu?" Tanya suara itu. "Kau belum menyaksikan akhirnya."


Tiba-tiba matahari sudah turun di ufuk barat, seakan waktu di putar dengan cepat, dan suasana berganti ke malam yang tenang.


Lampu-lampu mulai menyala menerangi kerajaan itu dengan gemerlap. Cahaya bulan menerangi dari langit dengan begitu cerahnya, membuat kota itu terlihat sangat indah dipandang.


"Inilah kenyataan yang kau cari-cari," Ucap suara itu.


Tak lama kemudian, kastil yang berada di puncak gunung runtuh. Dari atas puncak, muncul awan tebal disertai badai yang menerjang hingga ke kaki gunung.


Angin besar bertiup kencang, dan salju turun dengan deras. Dalam beberapa menit, pegunungan hijau itu segera tertutup salju tebal.


Belum cukup itu saja, terlihat puing-puing bangunan terbang terbawa arus angin dan mulai terlempar ke berbagai arah.


"Ini--" Tomatsu merasa tertekan menyaksikannya.


"Ini kebenaran, Tomatsu. Kebenaran yang kau ciptakan sendiri."


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kaki gunung, di antara puing-puing reruntuhan. Suara itu adalah suara yang sama seperti tadi.


"Tolong aku... tolong adik-adikku..." Suara perempuan yang semakin lama semakin senyap.


Kakinya tertimpa reruntuhan, dan di kedua tangannya ia memeluk kedua adiknya yang sudah mati berlumuran darah.


"Kau lihat itu? Itu perbuatan mu," Ucap suara itu pada Tomatsu.


Tomatsu spontan ingin bergerak menyelamatkan mereka. Tapi sebelum ia menyadarinya, ia sudah kembali. Kesadarannya kembali dan ia mendapat kendali penuh pada tubuhnya lagi.


Di hadapannya, pria itu masih berdiri tanpa mengambil kesempatan sedikitpun.


"Sepertinya kau sudah sadar," Ucap pria itu.


Tomatsu memegangi kepalanya. Matanya melotot lebar dan ia merasa frustasi.


"T-Tidak mungkin--" Ucap Tomatsu sambil menjambak rambutnya sendiri.


Pria itu menatapnya tanpa bersimpati sedikitpun, setidaknya karena topeng itu menghalangi ekspresinya.


"Yang kau butuhkan bukanlah kebenaran. Tapi keberanian untuk menerima kebenaran itu sendiri," Ucap pria itu. Ia berjalan perlahan melewati Tomatsu bermaksud mengejar Shiro dan yang lainnya.


"Sekarang, manusia itu sudah tak ada gunanya lagi bagi mu. Biarkan aku yang menggunakannya sekarang," Ucap pria itu semakin menjauh.


Tapi Tomatsu langsung mengepalkan tangannya dan berbalik menghadap pria itu. Dengan wajah yang bercucuran air mata, ia kembali menyerang pria itu dengan cepat.


Tapi pria itu seakan sudah menduga hal ini. Ia bahkan tak berbalik untuk bertahan. Saat tangan Tomatsu hampir mengenainya, ia menarik lengannya dan melemparnya ke tanah dengan kuat.


Tomatsu yang sudah terluka mentalnya, membuat konsentrasinya menurun. Bahkan ia jadi tidak bisa memanfaatkan fisiknya secara maksimal.


Ia akhirnya kalah dan jatuh menghantam tanah. Saat menghantam tanah, ia bahkan tidak punya kekuatan lagi untuk bangkit.


Tak jauh dari tempatnya terjatuh, ia memiringkan kepalanya dan bisa melihat Darren dengan wajah kepanikan. Tomatsu merasa kecewa pada dirinya sendiri, dan semangatnya seakan padam tak tersisa.


.


.


.


"Maafkan aku--"