Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Selamat Tinggal Rekan-Rekan


Keesokannya, Darren kembali ke kastil untuk menjenguk Katherine dan Tomatsu. Saat ia tiba di kastil, para tentara di sana menyambutnya dengan hangat. Mereka memperlakukan Darren dengan hormat, tanda betapa berjasanya Darren bagi negara ini.


Katherine dan Tomatsu sedang berbaring di atas kasur saat Darren tiba. Saat melihat Darren, Katherine langsung beranjak.


"Darren-sama," Ucapnya.


Darren menyahutnya dengan lambaian tangan dan menghampirinya. Tapi ia merasa sangat bersalah pada Katherine.


"Katherine..." Ucap Darren pelan. Ia berniat memberitahunya tentang Remi.


"Aku sudah tahu, Darren-sama," Katherine memotong. Ia kemudian menyeka matanya sendiri dan mulai tersenyum kecil.


Darren tahu kalau senyuman itu adalah senyuman palsu. "Aku sangat minta maaf," Ucap Darren. "Aku tidak bisa menyelamatkannya."


"Tidak, Darren-sama. Ini salah ku," Balas Katherine. Air mata kembali menetes dari matanya. "Andaikan aku punya kekuatan. Remi tidak akan mengalami hal ini."


Darren terdiam. Katherine pun terdiam. Keadaan menjadi hening untuk sesaat.


Tiba-tiba Katherine menangis keras. "Kenapa? Kenapa harus Remi?" Air mata bercucuran di pipinya. "Kenapa tidak aku saja? Remi tidak salah apa-apa. Ia adalah pemuda yang baik."


Katherine kemudian menatap Darren. "Benar kan, Darren-sama? Kau juga pasti berpikir begitu, kan?"


Darren terpaku diam. Ia melihat betapa emosionalnya ekspresi Katherine. Ia terus menatap Darren dengan mata yang berkaca-kaca.


Darren memegang pundak Katherine. "Bunga yang indah pasti akan dipetik pertama," Ucap Darren.


Mendengar itu, Katherine terdiam. Ia menundukkan wajahnya dan menyeka air matanya.


Darren melepaskan tangannya dan berjalan menjauh darinya. Katherine pasti membutuhkan waktu untuk sendiri sementara ini.


Darren berpindah dan berjalan ke arah Tomatsu yang masih berbaring. Ekspresi frustasinya tidak berubah walau setelah melihat Darren.


"Tomatsu," Panggil Darren pelan.


Tomatsu hanya menoleh dengan matanya. Setelah melihat Darren, ia berbalik memunggunginya. Dan ia menutupi wajahnya dengan selimut.


Darren hanya menatap Tomatsu. Ia berpikir kalau mungkin ini saat yang tidak tepat untuk berbicara. Tapi ia harus tetap memberitahunya kalau ia akan melanjutkan perjalanan ke benua iblis.


Darren pun duduk di sampingnya di atas kasur. Setelah itu, Darren mulai bicara perlahan.


"Tomatsu, aku akan berangkat sekarang," Ucap Darren.


Ia melirik sedikit dan masih melihat Tomatsu tidak bereaksi.


"Aku tidak akan memaksa mu untuk ikut. Pilihan berada di tangan mu," Sambung Darren. "Namun, jika kau membutuhkan bantuan ku, kau bisa mencari ku."


Darren kembali melirik. Sama seperti tadi, Tomatsu tetap diam.


Darren menarik nafas pelan dan melanjutkan, "Jika ada apa-apa, katakan saja. Aku akan selalu ada untuk membantu mu, Tomatsu."


Tak ada jawaban apa-apa untuk sesaat, namun Tomatsu tiba-tiba bicara.


"Terimakasih, Esema-kun," Ucapnya sambil membuka selimutnya. Ia kemudian beranjak dan duduk di samping Darren. "Tapi, aku sudah menemukan apa yang ku cari."


Darren menatap bingung.


"Raja Iblis itu sudah menunjukkannya pada ku. Kenyataan yang selalu kutakutkan," Sambung Tomatsu. "Aku sendirilah yang telah menghancurkan kerajaan ku."


Darren melihat wajah Tomatsu yang murung. "Tomatsu..."


"Aku benci mengakuinya, tapi apa yang dikatakan pria itu adalah fakta. Aku adalah seorang pengecut," Sambung Tomatsu. "Aku terlalu takut untuk menerima kenyataan dan terus mencoba mencari orang lain untuk disalahkan."


Tomatsu menoleh menatap Darren. "Aku ini menyedihkan, bukan?"


Darren terlihat kaget melihat Tomatsu yang begitu pesimis. Ini pertama kalinya ia melihat sisi lemahnya. Padahal ia adalah perempuan yang kuat dan memiliki gelar Raja Iblis sejati. Namun hatinya tak berbeda dengan perempuan-perempuan normal lainnya yang rapuh dan mudah sekali disakiti.


"Tomatsu," Ucap Darren pelan. Ia ingin membuat Tomatsu merasa lebih baik, namun ia sendiri bingung harus apa.


Tomatsu tiba-tiba berbicara. "Ku dengar kau akan pergi ke benua iblis hari ini. Benarkan?" Ucapnya.


Darren mengangguk pelan. "Ya. Sebelum aku pergi, aku berpikir ingin menjenguk mu terlebih dahulu."


"Maaf ya. Aku tidak bisa menemani kalian kesana," Sambung Tomatsu.


"Ya, tidak apa-apa," Balas Darren. "Kau sudah menemukan apa yang kau cari. Jadi sekarang kau sudah tidak punya alasan untuk membantu ku lagi."


"Jangan berpikir begitu. Aku akan berusaha tetap menolongmu," Ucap Tomatsu. "Tapi aku hanya bisa membantu sedikit. Aku akan memberitahu mu sedikit tentang Raja Iblis kegelapan."


Mata Darren langsung terbuka. "S-Sungguh?"


Tomatsu melanjutkan. "Aku mungkin tidak bisa mengatakan semuanya. Karena ini adalah perjanjian ku dengannya," Sambung Tomatsu. Wajahnya seketika jadi serius. "Seingat ku, Raja Iblis kegelapan namanya adalah--"


Tiba-tiba Tomatsu terdiam.


"Tomatsu, ada apa?" Tanya Darren. Ia melihat Tomatsu yang terdiam bengong.


Tomatsu tiba-tiba berkeringat. "Eh, kenapa? Apa yang terjadi?"


Darren hanya menatap Tomatsu sambil terus menunjukkan wajah heran.


"Tomatsu, kau baik-baik saja?" Tanya Darren sambil sedikit menyentuh pundak Tomatsu.


Tomatsu tersadar. "Kenapa ini? Kenapa aku tiba-tiba lupa?" Ucapnya.


"Apa kau tidak enak badan?" Sambung Darren.


"Ah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," Balas Tomatsu. "Hanya saja, kenapa aku bisa melupakannya? Seingatku, namanya adalah--"


Darren segera menenangkan Tomatsu. "Tenang, tenang. Tidak perlu memaksakannya. Kau sudah terkurung di dalam dinding es itu berabad-abad."


"T-Tapi--" Kemudian Tomatsu diam. "Maafkan, aku. Aku tidak bisa mengingatnya."


"Ya, tenang saja," Sahut Darren. "Aku akan mencari tahu sendiri."


Tomatsu kemudian melanjutkan. "Tapi, kenapa dia tidak menangkap mu? Dan juga, bagai kau bisa selamat? Padahal kau berhadapan dengannya satu lawan satu."


"Ia kabur. Aku tidak bisa menghentikannya," Balas Darren.


"I-Ia kabur!?" Tomatsu terkejut. "Esema-kun, sebenarnya apa yang terjadi? Apa kau berhasil memukulnya mundur hingga ia terpaksa melarikan diri?"


"Aku hendak membunuhnya karena ia telah membunuh Remi. Tapi ia lolos," Ucap Darren.


"Sepertinya, kau lebih kuat dari apa yang kubayangkan," Ucap Tomatsu. "Sepertinya kekuatan mu bukanlah kekuatan biasa. Kau punya kesempatan untuk mengalahkannya."


"Oh ya, bicara soal kekuatan," Sambung Darren. "Aku punya satu pertanyaan lagi."


"Apa itu?"


"Sebenarnya, apa itu sihir cahaya dan sihir kegelapan?" Tanya Darren. "Jika sihir es bisa memanipulasi elemen es, dan sihir api bisa memanipulasi elemen api. Lalu bagaimana dengan kedua sihir tadi?"


Tomatsu melipat tangannya. "Sejujurnya, aku tidak begitu tahu," Jawabnya. "Tapi aku tahu beberapa bentuk sihir kegelapan."


Tomatsu melanjutkan. "Manipulasi ruang seperti teleportasi dan non-eucledian, merupakan salah satu bentuk sihir kegelapan. Dan juga, mantra wither termasuk sihir kegelapan."


"Wither?" Sahut Darren. "Bukankah itu sihir non-elemental?"


"Sihir wither adalah sihir kegelapan, namun karena para manusia bisa menggunakannya, jadi dikeluarkan dari kategori sihir kegelapan," Jelas Tomatsu. "Dan asal kau tahu. Sihir Heal juga salah satu bentuk sihir cahaya, namun dikategorikan sebagai sihir non-elemental karena monster juga bisa menggunakannya."


Darren mengangguk paham. "Walau itu bukan jawaban yang ku cari. Tapi, terimakasih, Tomatsu."


Setelah penjelasan itu, Darren sadar kalau hari sudah mulai siang. Ia pun pergi menuju gerbang kastil untuk melanjutkan perjalannya ke Noordoos.


Saat sedang bersiap pergi, tiba-tiba Tora maju ke depan dan menghadap Darren.


"Darren-sama," Ucapnya sambil merendahkan badan.


Darren kaget dan menyahut. "Ada apa, Tora?" Tanya Darren. "Apa kau tidak mau ikut?"


Tora pun menundukkan kepalanya dengan hormat. "Tidak, bukan itu," Jawabnya. "Aku dengan senang hati mengikuti mu, Darren-sama. Tapi, bagaimanapun, aku masih belum memaafkan diri ku sendiri."


"Ah, tentang hal kemarin? Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan mu," Sahut Darren.


"Tidak, Darren-sama. Aku tidak layak mengikuti mu lagi. Bahkan sebagai budak mu."


Darren terdiam sejenak. "Lalu, apa mau mu?"


Tora mengangkat wajahnya dan menatap Darren. "Selama ini kau selalu memperlakukan ku seperti seorang teman. Kau tak ragu menaruh rasa percaya mu padaku, dan kau selalu berbagi apa yang kau miliki. Tapi, bahkan dengan semua kebaikan mu itu, aku masih buta dan malah meragukanmu," Sambung Tora.


Darren diam dan terus mendengarkan.


"Jadi, agar aku tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tolong, beri aku kalung budak," Tora melanjutkan.


Darren menggeleng. "Tidak. Aku takkan melakukannya."


"Kenapa?"


"Aku tidak suka cara itu. Walau kau pernah mengkhianati ku, tapi itu hanya masa lalu. Tidak ada orang yang dirugikan lagi selain diriku. Dan aku pun sudah melupakan itu."


Tora tidak puas dengan tanggapan Darren. Ia sebenarnya hanya merasa bersalah dan tidak layak untuk memanggil Darren sebagai rekan lagi.


"Kalau Darren-sama tidak mau melakukannya," Tora meneruskan. Ia kemudian menoleh kepada Shiro. "Shiro, tolong jadikan aku bawahan mu."


Semua orang di sana terkejut.


"Tora, kau tahu kan apa artinya itu?" Robert menyahut. "Itu artinya kau lebih rendah daripada monster seperti kami."


Tora menjawab, "Aku tahu."


Tora kemudian kembali berbicara kepada Shiro. "Ku mohon, Shiro-sama," Ucapnya sambil bersujud di hadapan Shiro.


Shiro hanya kebingungan tidak tahu harus melakukan apa. Ia pun juga masih berstatus sebagai bawahan Darren. Itu berarti, Tora akan menjadi bawahan dari bawahannya seseorang.


"Darren-sama?" Shiro melirik ke arah Darren.


Darren diam untuk sesaat. Namun kemudian ia mengangguk.


Setelah itu, seseorang memberikan Shiro kalung budak untuk dipasangkan kepada Tora.


Dengan kalung budak iti, Shiro membuat kontrak dengan Tora dan membuatnya menjadi bawahannya. Dengan begitu, Tora tidak akan bisa menentang perintah Shiro.


Selain itu, kalung budak juga akan bereaksi begitu budak itu memiliki pikiran untuk memberontak. Saat budak berpikir untuk memberontak, maka kalung budak akan menyalurkan sihir khusus dan memberinya rasa sakit yang luar biasa.


Ceklekk... Kalung budak itu sekarang terpasang di leher Tora. Shiro perlahan melepaskan tangannya dari leher Tora dan berbisik.


"Tora-kun, apa kau serius?" Tanya Shiro.


Tora mengangguk dengan wajah tersenyum. "Setidaknya dengan ini, aku bisa mengikuti Darren-sama tanpa perlu khawatir aku akan mengkhianatinya lagi."


Darren menghampiri Tora dan menepuk pundaknya. "Tora, selamat datang kembali," Ucapnya.


Tora tersenyum senang dan menjawab. "Aku kembali, Darren-sama."


Darren berbalik dan melirik Tora dari jauh. "Perasaan bersalah hanya bisa diobati dengan menghukum diri sendiri. Jika ini satu-satunya cara, maka ini yang terbaik."


Darren pun bersiap-siap untuk pergi, namun Tora dan Shiro terlihat masih sibuk dengan urusan mereka. Jadi ia menunggu sebentar.


"Esema-kun," Tomatsu muncul dan menghampiri Darren.


"Oh, Tomatsu. Keadaan mu sudah membaik?"


Tomatsu menngangguk. "Tentu saja sudah," Jawabnya sambil tersenyum. "Tentang hal tadi, aku minta maaf karena tidak bisa memberi mu petunjuk."


"Iya, iya, sudahlah. Tidak usah dipikirkan," Balas Darren.


Tomatsu merasa lega. "Aku mungkin akan mencoba untuk hidup tenang," Sambungnya tiba-tiba.


"Wah, bagus. Lagian, umur mu juga sudah ribuan tahun. Sebaiknya kau nikmati masa tua mu dengan santai."


"Hey, hey, seribu tahun itu belum tua tahu!" Sahut Tomatsu. Ia kemudian tertawa. "Kau tahu. Aku berpikir untuk mencoba membangun rumah dan tinggal dengan tenang. Menjauhi pertempuran dan menikmati sisa hidupku dengan damai."


"Sendirian?" Darren meneruskan.


"Hm... mungkin pemikiran ku terhadap pria tidak akan sama seperti dulu lagi, jadi aku akan mencoba mencari pasangan."


"Ha, ha, bagus lah. Jangan sendirian terus... tunggu, aku juga masih sendirian sih."


Tomatsu mendekat kepada Darren dan berbisik pelan, "Mungkin aku akan coba cari pria yang mirip seperti mu."


"Aih, janganlah. Kau bakal menyesal," Balas Darren dengan canda.


"Benar juga. Dasar murid nyusahin," Tomatsu membalas sambil tertawa.


Setelah itu, Darren, Shiro, dan Tora pun bersama-sama melangkahkan kaki keluar dari kastil. Semua orang di sana melambaikan tangan dan menyoraki salam perpisahan.


Darren melanjutkan perjalanannya ke arah timur laut, ke Kerajaan Noordoos. Bersama dua rekannya, ia yakin kalau perjalanan ini pasti akan penuh dengan berbagai cerita lagi.


"Tora, Shiro, aku senang bisa bersama kalian," Ucap Darren


Kedua rekann pun tersenyum mendengarnya.


"Mungkin ini saatnya aku memberitahu kalian yang sebenarnya," Ucap Darren lagi.


Mereka berdua pun menunggu Darren melanjutkan kalimatnya.


"Sebenarnya..." Ucap Darren perlahan. "Ini pertama kalinya sejak terakhir kali aku punya sahabat dekat. Terimakasih, ya."


Kedua orang itu pun tersenyum dan menjawab bersamaaan. "Sama-sama, Darren-sama!"


Sementara itu di kastil, Rendi kembali bekerja dibawah perintah Lionna. Ia menjadi pelayan terpercayanya dan menjadi kepala pelayan di kastil.


Robert, Mia, Sella, dan Selly juga dipekerjakan sebagai pelayan di kastil. Kebutuhan mereka pun terjamin dan hidup mereka jadi lebih baik.


Perlahan, kekacauan yang terjadi di Vertrag mulai reda. Dalam beberapa hari, keadaan kembali seperti semula. Kota kembali dipenuhi pedagang dari seluruh dunia. Dan Lionna menetapkan sebuah peraturan baru, yaitu pelarangan perdagangan budak. Sebelumnya, Darren sempat meminta hal itu juga kepadanya.


Sementara itu, Katherine menghilang. Ia terakhir kali terlihat di saat perpisahan mereka dengan Darren. Setelah itu, ia tak ditemukan di mana-mana. Setiap sudut kota telah diperiksa, namun tidak ada hasil apa-apa. Akhirnya, Katherine dinyatakan menghilang.


Di sisi lain, Tomatsu pergi dari Vertrag dan kembali ke tanah kelahirannya, Erfroren. Di sana ia membuat sebuah rumah kecil dan tinggal di sana.


Dalam beberapa hari, rumah Tomatsu dikenal sebagai tempat peristirahatan bagi para petualang. Banyak petualang yang terjebak salju dan diselamatkan oleh Tomatsu. Pada akhirnya, Tomatsu membawa mereka ke rumahnya dan menyediakan tempat istirahat yang nyaman.


Dengan menolong orang-orang, Tomatsu menemukan kedamaian dalam hatinya. Perlahan, rasa pedih atas masa lalunya mulai pudar setiap kali ia melihat senyuman orang-orang yang ditolongnya.


.


.


.


To Be Continued...