
Keesokkannya, Darren dan teman-temannya berkumpul di lantai bawah penginapan. Sebelum berangkat, mereka berencana untuk sarapan terlebih dahulu.
"Esema-kun, kau pesan apa?" Clara melirik ke piring Darren.
"Daging panggang," Darren menunjukkan makannya.
"Wih, bagi dong," Clara langsung mengambil garpunya dan mengambil secuil daging Darren.
"Clara-san, hentikan. Kasihan Esema," Ucap Bagus sambil melahap makanannya.
"Ah, tidak apa-apa. Cuma sedikit doang kok," Darren menyahut. Sementara Clara menunjukkan muka senyum sambil melanjutkan aksinya.
Karena penasaran, Darren pun mengintip ke arah piring Bagus.
"Itu kan, gulai?" Ucap Darren spontan begitu melihat apa yang ada di atas piring Bagus.
"Eh, kau tahu ya? Ya, ini gulai," Balas Bagus.
"Apakah enak?" Clara langsung ikut nimbrung.
"Tentu saja enak! Kau mau coba?"
"Aku mau!" Clara langsung mengambil sesendok dan memasukkannya ke mulutnya. "Mmn! Enak!"
"Ini belum seberapa. Jika pakai resep kampung halaman ku, pasti akan lebih enak," Sahut Bagus dengan wajah bercahaya. "Gulai kambing, dengan rempah-rempah yang pas. Rasa gurihnya akan lebih nikmat dan tak terlupakan di lidah."
"Ehh, aku gak tahu kalau kau pintar dalam hal memasak," Clara terus mengambil gulai dari piring Bagus.
"Yah, aku hanya ingat resep masakan nenek ku dulu-- Eh, jangan minta terus dong!"
Darren mengambil sepotong daging dari piringnya dan memasukkannya ke mulutnya. "Kalau boleh tahu, darimana kau berasal, Bagus-san?"
Bagus menoleh, dengan tangan kanannya sedang menjauhkan Clara dari piringnya. "Eh, kampung halaman ku? Aku datang dari jauh."
"Ya dari mana? Jawab yang jelas dong!" Clara menjauhkan tangan Bagus dari wajahnya.
"Umm, aku dari... Aceh," Jawab Bagus.
"Aceh? Aku tak pernah melihatnya di peta," Sambung Clara sambil keheranan.
"Kampung halaman ku memang tidak begitu terkenal di sini. Tak heran kalau kalian tidak pernah mendengarnya," Balas Bagus sambil kembali melanjutkan sarapannya. "Sudahlah, ayo cepat habiskan sarapannya. Masih ada tugas yang menunggu kita."
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka bertiga pun keluar dari penginapan dengan pakaian penyamaran mereka. Baju yang terlihat santai, dan selendang yang dililitkan di leher. Mungkin itu bisa berguna untuk menutupi wajah mereka semisal mereka dikenali.
Sebelum berangkat pun, Bagus kembali memberikan kertas suara pada Clara dan Darren. Tentu ini akan sangat berguna, mengingat banyak petugas kerajaan yang berkeliaran di kota. Mereka tidak bisa meneriakkan nama satu sama lain dengan lantang, kan?
"Bagus-san, sebenarnya berapa lama durasi efek kertas ini?" Tanya Darren melalui saluran suara kertas tersebut.
"Kurang lebih satu jam. Jika kau merasa efeknya sudah memudar, cepat beri sinyal pada ku. Aku akan memberikan mu kertas yang baru."
Mereka mulai bergerak.
"Toko obat pertama kita ada di pojok perempatan. Tokonya cukup terkenal, dan juga banyak orang ke sana. Semoga kita bisa menemukan petunjuk di situ," Ucap Clara.
"Semoga," Sambung Bagus.
Hanya butuh setengah jam untuk sampai ke toko tersebut dari penginapan. Dan setibanya di sana, mereka bertiga dikejutkan dengan sesuatu.
"R-Ramai sekali!" Teriak Clara dengan tatapan terkejut.
Toko obat itu sangat ramai. Padahal ini masih pagi, namun antriannya sangat panjang. Sangat panjang hingga beberapa orang harus mengantri di luar toko.
"Kalau ramai begini, kita bisa-bisa harus menunggu sampai malam," Ucap Bagus.
"Tapi kita tidak punya waktu sebanyak itu, kan?" Sahut Darren.
"Benar sih. Tapi kalau tidak ada jalan lain, kita terpaksa harus mengantri," Sambung Bagus. "Kita bisa saja mengunjungi toko obat yang lain terlebih dahulu. Tapi, toko-toko itu berada di sisi lain kota. Jika kita ke sana, itu sama saja bolak-balik."
"Tapi, kalau kita bisa mengusir antrian itu. Berarti kita tak perlu menunggu, kan?" Ucap Clara sambil mengangkat tangannya. "Aku punya rencana bagus."
"Tidak boleh ada keributan," Bagus membalas.
"Oke, sekarang aku tak punya rencana," Clara menurunkan tangannya perlahan.
Darren menatap ke langit. Langit terlihat cerah dengan beberapa awan bertaburan. Untuk sesaat, sebuah ide terlewat dalam benak Darren.
"Aku juga punya rencana yang layak dicoba," Ucap Darren pada Bagus.
"Hm, apa itu?" Balas Bagus sambil menoleh.
Clara melipat tangannya. "Kalau Esema-kun yang usul langsung didengerin," Ucapnya dengan nada kesal. "Lalu, apa rencana mu itu?"
Darren menunjuk ke kerumunan itu. "Akan ku buat mereka pergi."
"Sudah kubilang, kan. Jangan membuat keributan. Polisi bisa saja menemukan kita," Bagus langsung menyahut. Tapi Darren menggeleng.
"Aku tidak bilang untuk menggunakan keributan, kan?"
Bagus dan Clara menatapnya.
Darren mulai memejamkan matanya. "Weather Modification," Ucapnya pelan.
Tiba-tiba, langit yang kosong langsung dipenuhi awan tebal. Cuaca yang cerah langsung mendung seketika. Ini juga membuat Bagus dan Clara sedikit terkejut.
"M-Mantra apa ini?" Batin Bagus dengan wajah kaget.
Sementara Clara cuma menyeringai kecil dengan ekspresi wajah seakan sudah menduga ini.
Rintikan air hujan mulai berjatuhan. Orang-orang yang mengantri di luar toko menyadari hujan sudah mulai turun.
"Eh, hujan? Bukannya tadi cuacanya panas, ya?" Ucap mereka.
"Kerja bagus, Esema-kun," Ucap Clara dengan wajah berbinar.
"Mantra yang hebat, dan juga... langka. Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya," Ucap Bagus sambil mengulurkan tangannya menyentuh air hujan. "Darimana kau belajar ini?"
"Eh, aku... membuatnya," Jawab Darren.
"Membuatnya?" Bagus menoleh. "Jadi ini mantra kreasi mu?"
Darren mengangguk. Bagus hendak melontarkan pertanyaan lagi, namun Clara menghentikannya.
"Lihatlah. Orang-orang sudah pergi. Kita bisa pergi ke sana sekarang," Ucap Clara.
Mereka segera menyebrangi hujan dan berjalan menuju toko itu. Setibanya di sana, mereka pun segera menghampiri kasir.
Seorang iblis tua yang menjaga kasir melihat mereka bertiga dan menanyakan apa keperluan mereka.
Clara mengeluarkan pecahan kaca itu dan menyerahkannya. "Apa anda merasa pernah menjual botol ini?"
Iblis tua itu mengambilnya dan mengamatinya dengan teliti. Beberapa detik kemudian, ia kembali menyerahkannya.
"Maaf, tapi aku tak pernah ingat menjual ini," Ucap iblis tua itu.
"Begitu, ya," Clara memasukkan kaca-kaca itu ke saku-nya. "Kalau begitu, terimakasih. Maaf karena telah membuang waktu anda."
Saat mereka hendak pergi, iblis tua itu tiba-tiba memanggil mereka.
"Tapi, sepertinya aku tahu itu ramuan apa," Ucapnya.
Seketika mereka bertiga menghentikan langkah. Clara langsung berbalik dan mendengarkan ucapan iblis itu. "Sungguh?"
Iblis itu mengangguk. "Ya. Walau efeknya obatnya sudah memudar, tapi bau nya masih ku bisa ku kenali dengan jelas," Sambungnya. "Ini adalah obat tidur. Obat tidur biasanya digunakan untuk mengatasi masalah tidur. Namun yang satu ini punya dosis yang tinggi. Obat sekeras ini bisa membuat orang-orang tidur dengan lelap dalam sekejap, dan biasanya digunakan oleh pemburu untuk membius hewan liar."
"Jadi, ini adalah obat bius?"
"Mungkin iya, namun juga bukan," Balas iblis itu. "Obat bius untuk hewan tak dijual dalam bentuk botolan. Jadi, mungkin ini adalah obat lain dengan zat sama."
Clara mengangguk-angguk. "Baiklah. Terimakasih informasinya."
Setelah itu, mereka pergi meninggalkan toko tersebut. Mereka segera kembali ke penginapan dan mendiskusikan tentang langkah selanjutnya.
"Aku tidak mengerti," Ucap Clara sambil merebahkan badannya di kursi kamar Darren. Wajahnya terlihat serius. "Bagaimana obat tidur ini bisa membuat nyawa enam orang melayang? Ini seperti tak ada hubungannya."
"Tidak, Clara-san," Bagus yang sedang duduk di kasur menyahut. "Mungkin pelaku menggunakan obat tidur itu untuk membuat semua orang pingsan, lalu membunuh mereka."
"Tapi, kenapa Hain dan Tora dibiarkan hidup?" Sahut Darren. "Dan, kesaksian mereka berdua tidak ada hubungannya dengan obat ini. Mereka bahkan sempat terlibat pertarungan dengan pelaku."
"Benar juga sih. Ada sesuatu yang tidak beres," Balas Bagus mengerutkan keningnya.
"Mungkin... Hain dan Tora, mereka berdua adalah pelakunya," Ucap Clara tiba-tiba.
"Tidak mungkin!" Bagus dan Darren berteriak bersamaan.
"Tora bukanlah orang jahat. Aku bisa menjamin itu," Darren menyambung.
"Hain juga. Ia adalah orang yang bisa dipercaya," Bagus menyahut.
"Iya, iya. Maafkan aku. Aku hanya mengatakan apa yang ada dibenakku," Clara beranjak. "Tapi apapun bisa terjadi, kan? Kita tidak tahu apakah penyusup itu masih ada di antara para pemberontak. Bisa saja itu orang terdekat kita, orang yang paling kita percaya, dan bahkan saudara kita sendiri."
Darren dan Bagus mengernyitkan alis mereka.
"Jadi, jika seandainya ternyata Dyland-san adalah penyusup itu, apa kau akan menerimanya?" Tanya Bagus.
Clara terdiam. Ia tak menjawab dan melipat tangannya.
"Sepertinya cukup sampai di sini saja," Darren mencoba memperbaiki keadaan canggung itu. "Besok kita akan pergi ke bagian utara kota, kan? Lebih baik kita tidur sekarang."
"Benar apa kata mu," Bagus beranjak dari kasur. Ia berjalan mendekati Clara dan menyentuh pundaknya. "Maaf, pertanyaan ku tadi sepertinya terlalu berlebihan. Lebih baik lupakan saja."
"Ya," Balas Clara singkat. Setelah itu, ia pergi meninggalkan ruangan.
Sebelum pergi, Bagus berhenti sejenak di depan pintu kamar Darren. Ia menoleh pada Darren dan menatapnya.
"Ada apa, Bagus-san?" Tanya Darren melihatnya.
"Tidak. Aku hanya merasakan hawa yang familiar saat berada di dekat mu," Ucapnya. "Rasanya kita berasal dari tempat yang sama."
"Eh, apa maksud mu?" Balas Darren sambil menggaruk kepalanya.
Bagus terdiam sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak. Lupakan saja," Ucapnya. "Aku akan kembali ke kamar ku. Pastikan kau tidur cukup. Besok kita akan berangkat lebih pagi."
"Baiklah."
Bagus pun menutup pintu dan pergi.
Setelah yakin ia sendirian, Darren segera berbaring di atas kasur dan menutupi wajahnya dengan lengan kanannya. Ia tidak mengerti kenapa ia harus berbohong tentang asal muasalnya pada Bagus.
Padahal tadi mereka sedang berdua, dan itu kesempatan yang bagus untuk mengatakan kebenarannya. Tapi ia malah merasa ragu.
"Ah, mungkin lain kali saja," Ucap Darren. "Lain kali. Di saat keadaan lebih tenang."
.
.
.
~Ilustrasi Bagus~