Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Manusia Rendahan


Pertarungan antara Raja Iblis dengan pasukan Vertrag semakin sengit. Walau sendirian, Raja Iblis itu mampu mengimbangi kekuatan musuh dan telah mengalahkan sepertiga dari total seluruh pasukan.


Pasukan menjadi porak poranda. Setelah mereka mencoba menembakinya dengan panah, Raja Iblis itu hanya membuat anak panah itu kembali kepada mereka sendiri.


Keadaan menjadi semakin suram saat seorang tentara datang kepada Lionne dan memberikannya kabar buruk.


"Apa? Sekelompok pasukan undead muncul dari kota?" Lionne terkejut mendengarnya. Ia segera memerintahkan pasukan untuk mundur, tapi sudah terlambat.


Saat mereka berbalik, di belakang pasukan mereka, segerombolan skeleton sudah mengepung mereka. Perlahan, para skeleton itu mulai maju menyerang para tentara.


Tentara-tentara itu bisa dengan mudah menghancurkan tulang-tulang yang rapuh, namun jumlah mereka sangat banyak. Bahkan dua kali lipat pasukan Vertrag.


Mereka terus berdatangan. Satu skeleton berhasil dihancurkan, dua muncul. Jika para tentara hanya bisa menghancurkan mereka, maka ini takkan ada habisnya.


"Sial, kita harus pergi dari sini!" Teriak Lionne. Tapi kemudian Accel muncul di depannya dan menentang ucapannya.


"Kita tidak boleh kabur!" Ucap Accel. "Ini kesempatan emas kita. Jika kita bisa sekalian mengalahkan Raja Iblis itu, maka kitalah yang diuntungkan."


Lionne langsung emosi mendengarnya. "Kau lah yang diuntungkan. Tapi pihak ku tidak!" Balasnya keras. "Satu-satunya yang paling dirugikan adalah kami. Kau hanya utusan yang hanya seenaknya dengan menggunakan nama Raja."


Accel mulai tersulut emosi. Ia hanya mengepalkan tangannya dan tidak membalas perkataannya.


Lionne segera mengabaikannya. Ia berpaling dan memerintahkan pasukannya untuk membuka jalan untuk mundur.


Tapi tiba-tiba...


"Wither!" Accel merapalkan mantranya dan mengarahkannya pada Lionne.


Dalam sekejap, Lionne langsung terjatuh dan tersungkur ke tanah. Busa mulai keluar dari mulutnya dan ia tewas seketika.


Para tentara terkejut melihatnya dan tak percaya kalau Raja mereka sudah mati. Apalagi ia mati ditangan sekutunya sendiri.


Accel maju ke tengah-tengah pasukan dan mulai berteriak dengan kencang.


"Pemimpin kalian yang pengecut telah mati. Ia mati dalam keraguan dan ketakutan," Teriaknya dengan lantang. "Jika kalian ingin mati bersamanya, maka aku dengan senang hati akan mengirim kalian ke tempat yang sama dengannya. Tapi jika kalian masih ingin hidup, maka turutilah perintah ku!"


Seorang tentara maju ke depan dengan emosi yang membara. Ia mengacungkan pedangnya pada Accel dan mengancamnya.


"Dasar pengkhianat! Bisa-bisanya kau membunuh yang mulia," Ucapnya. "Akan ku bunuh kau!"


Lima tentara lainnya maju bersamaan dan mulai menyerang Accel.


Tapi Accel menghadapi mereka dengan enteng. Ia merapal mantra airnya dan menyerang mereka sebelum mereka sempat menyentuh dirinya.


"Water Shot," Accel membunuh mereka secara bersamaan dalam sekejap.


Para tentara menatapnya dengan ketakutan. Mereka mulai gemetar dan tidak bisa berkata apa-apa.


Accel melanjutkan, "Sekarang aku lah pemimpin kalian, menggantikan Lionne si penakut. Siapapun yang menentang, akan ku cabut nyawa kalian," Ia pun menambahkan. "Sekarang aku perintahkan kalian untuk maju dan bunuh Raja Iblis itu!"


Para tentara mulai maju dalam ketakutan yang besar. Maju melawan makhluk seperti itu sama saja mencari mati. Tapi mereka tak ada pilihan lain. Mundur pun hasilnya akan sama saja.


Rombongan tentara mulai menyerang secara bersamaan ke arah Pria itu. Mereka mulai berteriak seraya melangkahkan kaki mereka dengan putus asa.


Pria itu menatap mata mereka yang penuh ketakutan. "Nampaknya kalian sudah putus asa," Ucapnya sambil maju.


Slash! Pria itu menebaskan pedangnya dan menghancurkan banyak orang sekaligus.


Para tentara di garis belakang menjadi ketakutan. Tapi Accel terus memerintahkan mereka untuk maju.


"Cepat serang dia dasar pengecut!" Teriaknya pada para pasukan.


Dalam sekejap, Pria itu muncul di hadapan Accel secara tiba-tiba. Para tentara menjadi terkejut dan semakin ketakutan.


"Water Shot!" Accel dengan spontan merapal mantranya.


Tapi pria itu menghindarinya dengan mudah, sehingga serangan air itu malah mengenai tentara lain di belakangnya.


"Kau adalah manusia rendahan," Ucap pria itu dengan nada mengintimidasi. "Kesempatan hidup mu ku cabut di sini."


Pria itu menyentuh dada Accel dan mengalirkan sebuah sihir aneh kepadanya. Accel segera mundur untuk menjaga jarak, tapi itu sudah terlambat.


"Keparat-- Apa yang kau lakukan!?" Ucap Accel sambil meraba-raba sekujur tubuhnya untuk memastikan.


Pria itu menjawab. "Kau akan tahu sebentar lagi."


"Apa ini?" Gumamnya sambil mencoba mengintip ke dalam bajunya sendiri. Wajahnya langsung pucat saat ia melihat apa yang terjadi. "I-Ini--"


Ia segera membuka pakaiannya karena tubuhnya mulai terasa panas. Dan terlihat kalau bagian dadanya mulai menghitam dan berlendir. Gelembung-gelembung lengket mulai meletup keluar dan bau busuk mulai menyebar.


"Apa ini!?" Teriak Accel. Ia berusaha menyembuhkan dirinya sendiri dengan sihir penyembuh, tapi itu tak berdampak apa-apa.


Pria itu sedikit terkekeh. "Itu sia-sia. Penyakit itu takkan bisa disembuhkan dengan mantra ringan," Ucapnya. "Kematian mu sudah ditentukan di sini. Silahkan nikmati saat-saat terakhir mu dalam ketakutan."


Accel melontarkan tatapan kesal pada pria itu. Ia berpikir kalau pria itu mungkin hanya menggertak.


"Wither!" Bahkan dalam keadaan seperti itu pun, Accel masih berniat untuk membunuh Raja Iblis tersebut.


Pria itu tertawa dengan kencang. "Percuma," Ucapnya.


Ketika mantra Wither itu mengenainya, tak ada reaksi apa-apa yang keluar darinya. Ia hanya terus tertawa dan mulai mengolok-olok Accel.


"Dasar manusia lemah. Kau mencoba menyerang ku dengan mantra murahan itu?"


Accel menatapnya dengan mata melotot. Begitu juga para tentara, mereka hanya diam menyaksikan pertarungan mereka berdua.


"M-Mustahil--," Ucap Accel pelan.


Pria itu menghampirinya perlahan. Ia kemudian menunjukkan pedang hitamnya dan menodongkannya pada Accel.


"Kau sudah membuatku kesal. Sebaiknya aku percepat saja kematian mu," Ia kemudian menebaskan pedangnya ke leher Accel.


Tapi ia tak memotong lehernya seutuhnya. Ia hanya membuat goresan kecil yang dimana ia memasukkan sebuah sihir aneh ke dalamnya.


Dalam sekejap, leher Accel langsung membengkak hitam. Ia merasakan sakit yang sangat parah dan mulai berteriak kesakitan. Ia meringkuk di tanah sambil memegangi bagian lehernya yang terluka.


"Sial, ini sakit sekali," Batinnya. Ia mulai merasa pandangannya mulai rabun dan berkunang-kunang, disertai rasa sakit yang luar biasa. "Sihir macam apa ini? Aku bisa mati."


"Tak ada cara lain. Aku harus melakukannya!"


Accel mencoba menghadapkan wajahnya pada pria itu. Ia kemudian memohon ampun sambil bersujud.


"Ku mohon, ampuni aku. Aku punya keluarga di rumah. Mereka pasti sedang menunggu ku," Ucap Accel. "Ku mohon. Aku bersumpah akan menjadi hamba mu yang setia."


Di balik topengnya, pria itu hanya menatap Accel. Tak lama kemudian, ia kembali menyentuh tubuh Accel dengan jarinya. Seketika, bengkak dan kebusukan di tubuh Accel menghilang.


Accel bangkit berdiri dan memegangi tubuhnya yang sudah kembali sehat. Ia kemudian menatap pria itu yang berjalan menjauh darinya.


"Terimakasih! Terimakasih banyak!" Ucap Accel sambil meringis. "Aku takkan melupakan kebaikan mu."


Accel perlahan mengulurkan tangannya ke arah pria itu selagi pria itu tidak memperhatikannya.


"Sekarang, mati lah!" Accel hendak merapal mantra, tapi tiba-tiba pria itu membalasnya.


"Kau sudah mati."


Pria itu menjentikkan jari dan tubuh Accel langsung membusuk secara keseluruhan. Tubuhnya hancur dari dalam. Beberapa bagian kulitnya mengelupas dan berubah menjadi debu.


Accel berteriak kesakitan, tapi bagi pria tersebut, teriakan itu adalah tanda kemenangannya melawan Accel. Walau sebenarnya ia tak benar-benar berusaha.


Perlahan, tubuh Accel hancur berkeping-keping. Dalam waktu terakhirnya, Accel berusaha memohon meminta pengampunan, tapi pria itu tak menghiraukannya.


Dalam beberapa detik, Accel pun tewas. Ia tak meninggalkan mayat, karena tubuhnya hancur menjadi debu.


Para tentara yang menyaksikan itu menjadi semakin ketakutan. Mereka ingin kabur, tapi mereka sudah terkepung oleh para undead.


"Sungguh merepotkan sekali," Ucap pria itu sambil menginjakkan kakinya di atas debu mayat Accel. "Manusia rendahan. Ia pantas mati."


Tiba-tiba sesuatu terdengar dari jauh. Seperti seseorang yang berteriak kepadanya.


"Hey, Raja Iblis!" Ternyata itu Darren. Ia muncul dari portal Non-Eucledian yang ia buat tak jauh dari situ. "Akan ku kalahkan kau di sini!"


.


.


.