Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tekad sang Pemimpin


Keadaan menjadi hening sesaat. Di ruangan itu sudah tidak ada orang selain mereka.


Pendeta Suci telah di bunuh, begitu juga dengan Raja Iblis Ryan. Tapi apa semua akan berakhir semudah ini? Itu lah yang dipikirkan Darren.


Terlebih kehadiran Clara membuat berbagai pertanyaan di benak Darren. Clara tiba tanpa banyak bicara dan langsung membunuh kedua musuh utama mereka seorang diri.


Bukankah ini terlalu mudah? Atau mungkin ada sesuatu yang disembunyikan Clara? Apapun itu, kehadiran Clara di tempat ini memberikan perasaan buruk bagi Darren.


Darren tahu betul sesuatu pasti akan terjadi. Namun di tengah keheningan tersebut, terlalu beresiko baginya untuk bertanya.


Tiba-tiba, Hain memecah suasana dengan bersorak-sorai senang.


"Clara telah tiba! Kita menang!" Ucap Hain tanpa ragu. Rasa senang bisa terdengar jelas dari nada suaranya.


Tapi Clara tidak menunjukkan wajah senang ataupun bersyukur karena kemenangan itu. Yang ada, ia malah menunjukkan wajah muram yang bikin Darren heran.


"Kakak ku sudah berjuang ya," Ucap Clara pelan seraya merendahkan pandangan, menatap Dyland yang masih terkapar tanpa kesadaran. "Aku seharusnya tiba lebih awal."


"Kapten adalah orang yang kuat. Ia pasti tidak apa-apa," Ucap Hain. Ia sepertinya masih belum paham situasinya.


"Kuat... ya?"


Sementara itu, Tora menghampiri Darren dan Simson. Ia ingin memastikan keadaan mereka berdua baik-baik saja.


"Darren-sama, Ketua, apa kalian baik-baik saja?" Tanya Tora.


"Ya, kami berdua baik-baik saja. Semua berjalan lancar, walau Clara sedikit membuatku terkejut. Namun yang penting efek penghancuran fisik dari pelindung itu sudah hilang," Balas Simson.


"Benarkah?" Tanya Darren tak menduganya.


Simson mengangguk. "Ya. Bagus tidak akan kesakitan lagi. Namun tetap saja kita perlu menghapus efeknya secara total. Dengan cara menghancurkannya batu sihirnya," Ucap Simson. "Jika tidak dihancurkan, maka batu itu akan kembali memancarkan energi."


"Berarti kita hanya perlu menghancurkannya kan?" Ucap Darren.


"Ku harap semudah itu," Sambung Simson.


Darren menatap heran. Kelihatan jelas dari rautnya bahwa ia bertanya-tanya. Kemudian Tora menyambung perkataan Simson untuk menjelaskan.


"Batu sihir merupakan konsentrasi murni energi Mana. Jika sembrono menghancurkannya, maka akan menyebabkan efek samping yang berbahaya," Jelas Tora.


"Seberapa berbahaya?"


Simson menyahut. "Sesuai tingkat konsentrasi yang terkandung. Dan untuk batu yang satu ini. Tingkat konsentrasinya sangat tinggi. Bisa sangat berbahaya jika kita hancurkan begitu saja," Kata Simson.


"Bahkan dengan Rematerialize?" Ujar Darren.


"Tetap saja. Mana yang terkonsentrasi akan meledak dan mengakibatkan kerusakan pada fisik. Efeknya sama seperti yang Bagus alami, bahkan lebih parah."


Darren menatap ke arah Bagus yang sedang tak sadarkan diri. Ia cukup lega karena Bagus tidak terluka lagi, namun ia ingin membebaskannya dari situ.


Tidak-- lebih tepatnya, membebaskan Bagus dari ini semua.


"Apa tidak ada cara lainnya lagi?" Tanya Darren.


"Kau tahu? Mungkin Clara bisa menolong kita," Ucap Simson.


Darren mengangkat wajahnya. Ia melirik sedikit ke arah Clara, yang entah mengapa daritadi memberikan perasaan tidak enak pada dirinya.


"Kenapa harus Clara?" Tanya Darren dengan raut risih.


"Dia baru saja mengalahkan Ryan dan Pendeta itu dengan mudah. Ia pasti punya kekuatan tersembunyi yang semoga saja bisa membantu."


Sejujurnya Darren heran kenapa Simson tidak curiga pada Clara. Maksudnya, Clara datang begitu saja, mengalahkan semuanya, dan tidak menjelaskan apa-apa. Bukankah itu alasan yang masuk akal untuk curiga?


"Bukannya aku berburuk sangka. Tapi mungkin sebaiknya kita jangan minta tolong Clara," Ucap Darren.


Namun apesnya, Clara tiba-tiba sudah berdiri di samping Darren. Darren tak menyadarinya sampai Clara tiba-tiba menyentuh pundaknya.


"Darren-kun, kenapa kau tidak mempercayai ku?" Ucap Clara sambil melototkan matanya. Wajahnya menyeringai lebar dengan senyuman seram tiada tara.


Darren terpaku diam dengan penuh keterkejutan. Tatapan Clara, dengan senyum seringainya, membuat mulut Darren seakan digembok oleh ketakutan.


"Aura menekan ini. Rasanya aku pernah merasakan yang mirip sebelumnya," Batin Darren.


Clara melanjutkan sambil tersenyum. "Ha ha, tidak perlu ketakutan begitu. Aku bisa membantu kok," Ucapnya.


"Baguslah," Ucap Simson menarik nafas lega. "Tolong ya, Clara."


"Serahkan pada ku," Ucap Clara. "Kalian sebaiknya menjauh, karena ini akan berbahaya."


Saat Simson, Tora, dan Darren hendak mundur dari situ, Clara tiba-tiba menarik lengan Darren.


"Aku hanya bicara pada Simson dan Tora. Kau tetap di sini," Ucap Clara dengan pandangan dingin.


Karena merasa tertekan oleh hawa tajam yang dipancarkan Clara, Darren hanya bisa menurutinya. Walau sebenarnya ia ingin lakukan adalah sebaliknya.


Darren bergabung dengan Clara untuk menghancurkan batu sihir itu.


Awal-awal, semua terlihat meyakinkan. Clara mengulurkan tangannya ke arah batu itu dan memancarkan mantra api nya.


Ia berencana menggunakan rantai api nya yang super panas untuk melilitkannya pada batu sihir itu. Namun semuanya berubah saat Clara tiba-tiba dengan cepat mengubah arah tangannya.


Wooshh!


Serangan Itu memang sengaja ditujukan pada Darren. Entah apa yang merasuki Clara hingga membuatnya berniat menyerang Darren.


Tapi hal ini sudah diduga oleh Darren sejak awal. Ia sendiri bersyukur karena telah berprasangka buruk sebelumnya.


Rantai itu kini menjulang ke arah Darren melalui tangan Clara, dan ia tidak terlihat akan menariknya kembali.


Darren segera melompat ke belakang dan menghentakkan kakinya ke lantai. Sebuah tembok es tebal pun muncul untuk menahan rantai api itu.


"Sudah ku duga ada yang tidak beres," Batin Darren. "Tapi kenapa? Tidak mungkin Clara menyerangku tanpa alasan."


"Aku harus mencari tahu nya!"


Semua orang disitu terkejut melihat aksi Clara. Hain dan Shiro sedang mengobati luka Dyland saat tiba-tiba kekacauan itu terjadi. Sementara Tora dan Simson sedang mengawasi Michael dan menyaksikan tak jauh dari situ.


"Apa yang terjadi?" Hain kebingungan, melihat kedua rekannya saling meluncurkan serangan satu sama lain.


Darren meengeluarkan pedangnya. Ia sebenarnya tak mau bertempur karena kondisinya sendiri tidak diuntungkan. Ia telah kewalahan sejak pertempuran tadi.


"Clara-san, ada apa dengan mu?" Darren berusaha mengulur waktu seraya mengisi Mana-nya perlahan. "Kenapa kau menyerang ku tiba-tiba?"


"Clara yang kau kenal itu tidak ada," Balas Clara.


"Huh?" Darren merespon bingung.


Clara meneruskan. "Apa tujuan sebenarnya kau ke benua ini, Darren-kun? Apa itu untuk mencari Raja Iblis Sejati?"


Darren sedikit tersentak saat mendengar itu. Apa-apaan dengan tebakannya itu? Apa Clara bicara seperti itu tanpa alasan?


"Raja Iblis Sejati? Tidak mungkin. Semua Raja Iblis Sejati kan sudah mati," Ucap Hain menyahut.


"Nyatanya, kau sedang melihat salah satunya sekarang," Sambung Clara menunjuk kepada dirinya sendiri.


Wajah Darren mengeras seketika. Apa yang barusan ia dengar? Apa Clara sedang bercanda? Tapi keadaan yang seperti ini tidak mendukung candaan itu.


Darren mulai paham kenapa Clara bisa mempunyai jurus rantai api yang sama seperti Raja Iblis Ryan. Mungkin semua garis kepemimpinan Raja Iblis Avon bisa menggunakan jurus itu.


"Kau Raja Iblis Sejati?" Ucap Darren menebak.


Clara menyeringai lebar. "Tebakan mu benar. Akulah Raja Iblis Api, satu dari tujuh Raja Iblis Sejati."


Jawaban itu mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak, bagi mereka Raja Iblis Api adalah Tuhan. Apalagi fakta bahwa cerita tentang tujuh Raja Iblis Sejati yang telah mati dipatahkan ditempat ini.


"T-Tidak mungkin. Clara, berhenti bercanda! Ayo kembali! Kita telah menang!" Ucap Hain histeris.


"Ini mungkin sebuah kemenangan bagi kalian. Tapi tidak bagiku," Balas Clara. "Kemenangan ku akan terukir setelah berurusan dengan orang ini," Sambungnya menunjuk ke arah Darren.


Darren menggigit bibirnya. Tidak pernah disangkanya bahwa Raja Iblis Sejati yang ia cari akan muncul dengan sendirinya. Parahnya lagi, sekarang ada dua Raja Iblis yang berniat membunuhnya.


"Kenapa kau ingin membunuh ku?" Tanya Darren. "Apa Raja Iblis Kegelapan yang menyuruh mu?"


Clara mengangkat alisnya sedikit. "Rupanya kau sudah tahu tentang itu, ya?" Ucap Clara. "Sebenarnya aku berusaha untuk mencegahnya menangkap mu."


Clara meneruskan. "Kau bukan dari dunia ini, bukan?" Ucap Clara tanpa basa-basi.


Ia mengucapkan hal itu di depan semua orang, yang dimana membuat Darren cukup panik. Ia sebenarnya tak mau siapapun mengetahui hal itu.


Clara menyambung. "Raja Iblis Kegelapan sedang mencari para Outlander seperti kalian. Dan tugasku adalah menghentikannya."


"Dengan membunuh kami?" Tanya Darren memotong.


"Tidak ada cara lain. Sekuat apapun kami mencoba menghentikannya, Raja Iblis Kegelapan jauh lebih kuat," Balas Clara. "Entah apa yang terjadi pada para Outlander yang sudah ia tangkap. Tapi setiap kali ia menangkap satu, ia menjadi lebih kuat setiap harinya. Maka dari itu, satu-satunya cara adalah dengan memusnahkan kalian."


Darren menggertakkan giginya. Clara sebenarnya punya tujuan yang cukup solid. Namun ia tak menyangka kalau harus begini caranya.


"Darren-sama?" Shiro memanggil Darren pelan. Ia nampak terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. "Itu tidak benar, kan?"


Tora pun hanya diam menatap Darren. Ia sepertinya tidak berniat menanyakan apa-apa.


Darren melirik ke arah Shiro. Tapi ia tak bermaksud memberikan jawabannya sekarang. Ia harus terus fokus pada Clara.


"Lalu apa kau akan membunuh kami berdua sekarang?" Tanya Darren pada Clara.


Clara mengepalkan tangannya. "Maafkan aku. Tapi ini cara satu-satunya. Nasib dunia dipertaruhkan di sini."


Kobaran api yang besar meluap dari dalam tanah, meliputi area sekitar mereka dalam bentuk lingkaran. Kini Darren dan Bagus terjebak didalamnya bersama dengan Clara.


Nampaknya Clara benar-benar ingin menghancurkan mereka berdua dengan serius kali ini. Ia bahkan tak membiarkan yang lainnya ikut campur.


Darren harus lebih waspada. Keadaannya benar-benar tidak menguntungkan dirinya. Semuanya berada di luar perkiraan dan kendalinya.


"Kenapa bisa jadi seperti ini?" Gerutunya. "Clara jelas tidak akan menahan diri kali ini. Aku memang pernah melawannya sekali waktu latihan, tapi aku yakin waktu itu ia belum mengerahkan seluruh kekuatannya."


"Sial. Aku benar-benar kehabisan ide. Aku saja tidak yakin kalau aku sendiri bisa selamat. Dan sekarang, aku juga harus melindungi Bagus."


Darren mengepalkan tangan. Dia merasakan Mana dalam tubuhnya sudah sedikit pulih berkat waktu yang telah ia ulur tadi.


Tapi bagaimanapun juga, Clara masih jauh lebih kuat darinya. Ia tidak bisa melawannya secara langsung tanpa rencana.


Tangan Darren menggenggam erat gagang pedangnya. Matanya menajam sambil menatap ke arah Clara yang berjalan perlahan ke arahnya.


Di belakang Darren, Bagus masih nampak tak sadarkan diri. Efek dari batu sihir itu masih menahan kesadaran Bagus.


Darren memasang kuda-kuda. Ia bersiap merapal mantra untuk menangkis serangan yang mungkin datang.


"Cover Me in Thunder," Ucap Darren pelan, mempersiapkan dirinya dengan zirah petir yang luar biasa kuat. "Majulah, Clara!"


Clara mempercepat langkahnya. Namun sesaat kemudian, ia nampak menapak kakinya dengan kuat dan mulai terbang ke udara.


Di atas udara ia membentangkan tangannya dan muncul api yang menutupi tubuhnya, layaknya jubah dan selendang yang berkobar.


Rambut merahnya menyala-nyala layaknya api yang tak terpadamkan. Dan matanya bercahaya bagaikan tekad yang tak terpatahkan.


Sekilas Ia nampak seperti dewi yang siap berperang untuk membela kebenaran. Sayangnya, ia memiliki caranya tersendiri untuk mewujudkannya.


"Sungguh disayangkan!" Batin Darren sambil melangkahkan kakinya dengan penuh tekad. Ia melompat dan menghampiri Clara di atas udara dengan pedang ditangan. "Aku tidak akan mati di sini. Aku akan menyelamatkan semua orang. Dan akan kutegakkan kebenaran!"


Disaat pedang Darren berayun menerjang ke arahnya, selendang api yang mengelilingi Clara menyemburkan api yang berbentuk padat layaknya pedang.


Api itu menangkis serangan Darren. Membuat ayunan berat dari pedang hijau tersebut seakan bukan apa-apa.


Clara kemudian meluncurkan tangan kanannya, hendak memukul Darren di wajah.


"Speed! Strength!" Darren merapal mantranya dengan cepat.


Dengan kecepatan dan kekuatan yang bertambah, ia dapat mengimbangi pukulan Clara. Ia menggunakannya tangannya yang lain untuk menangkap pukulan tersebut dan menahannya.


Tangan mereka berdua kini saling bertemu. Di saat itu, Darren merapalkan mantra selanjutnya.


"Wither!" Ucapnya.


Sihir wither pun mulai mengalir dari telapak tangan Darren dan merambat menuju telapak tangan Clara.


Menyadarinya, Clara segera menarik lengannya dan mundur beberapa meter ke belakang.


"Cih," Ucap Clara menatap ke tangannya sendiri.


Tanpa basa-basi, Darren langsung kembali menerjang. Ia berpikir ini akan jadi kesempatan yang bagus, melihat Clara masih sibuk dengan tangannya.


Darren kembali mengangkat pedangnya. Diayunkannya dengan cepat seraya dirinya kembali melompat untuk mencapai Clara yang sedang melayang di udara.


"Channeling, Sharpness!" Darren meningkatkan ketajaman pedangnya dengan mantra. Dengan begitu, kemungkinan untuk mengalahkan Clara dalam satu kali tebasan akan meningkat.


Tapi yang tidak terpikirkan oleh Darren adalah, Clara masih menyembunyikan tangannya yang satu lagi.


Saat pedang tersebut hampir mengenainya, Clara mengeluarkan tangannya yang satu lagi dan menangkap mata pedang berwarna hijau itu tanpa kesulitan.


Wajah percaya diri Darren langsung lenyap seketika. Ia sadar kalau dirinya dalam bahaya.


Dengan sekali remasan, pedang Darren hancur berkeping-keping layaknya remah roti. Dan saat itu juga, Clara meluncurkan tangannya hendak memukul Darren.


Sesaat sebelum pukulan tersebut menyentuh Darren, Clara berhenti.


"Trik bagus. Namun cara yang sama takkan bekerja dua kali," Ucap Clara, menyadari bahwa Darren telah melapisi dirinya dengan mantra petir. "Aku sekarang paham. Mantra ini hanya bisa melindungi mu dari serangan fisik, bukan? Kalau begitu, biar ku tunjukkan kartu As milikku juga."


Clara kemudian menarik kerah baju Darren dan melemparkannya ke tanah bagaikan kertas.


Darren menghantam tanah secara langsung dan mengakibatkan mantra petirnya teraktivasi. Ledakan petir tersebut mengakibatkan area sekitarnya hancur lebur.


"Sial. Mantra ku jadi terpakai sia-sia," Gumam Darren sambil berusaha berdiri.


Namun saat ia menoleh ke arah Clara, perempuan itu sudah menodongkan tangannya yang tadi terkena mantra Wither, ke arah Darren. Tangannya audah sembuh total.


Seketika wajah Darren langsung pucat.


Sebelum Darren sempat berpikir, Clara sudah terlebih dahulu menyemburkan api yang sangat panas dari tangannya. Membakar sekujur tubuh Darren tanpa henti.


"D-Darren-sama!" Teriak Shiro.


Para teman-temannya mencoba menolong. Namun api yang sangat panas membelah posisi mereka.


"Shiro, coba gunakan mantra es mu!" Ucap Tora.


Dengan putus asa, Shiro menyemburkan es dalam jumlah banyak, bermaksud untuk memadamkan api tersebut. Namun hasilnya nihil.


Bahkan sebelum es tersebut mendekat, api tersebut langsung menyambarnya dan melelehkannya.


"Percuma. Apinya terlalu panas. Ini bukan api biasa," Sahut Hain panik.


Keadaan menjadi riuh, namun Simson tetap berdiri dengan tenang. Tatapan wajahnya tertuju pada Bagus yang sedari tadi luput dari perhatian Clara.


Mungkin Clara tidak menganggap Bagus sebagai ancaman karena ia tak sadarkan diri. Sebaliknya, ia berpikir bahwa Darren harus jadi prioritas utama karena ia masih bisa bertarung dan mungkin akan menggagalkan rencananya.


"Aku akan masuk," Ucap Simson sambil berjalan. "Mungkin hanya aku yang bisa. Jadi kalian tetaplah di sini dan jaga Jenderal itu bersama dengan Dyland."


"Haa!?" Semua orang menyahut kaget. "Apa dia akan berjalan menerobos api itu?"


Simson mendekati api yang menjalar ke arahnya. Ia berjalan tanpa takut dan cemas.


"Hey, hey, dia beneran masuk ke api itu," Teriak Hain. "Dia bisa mati sebelum sampai ke sisi seberang."


Tapi Simson sudah menyiapkan rencananya sendiri.


"Dark Elemental: Rematerialize!" Dalam gerakan mulutnya, ujung api tersebut diubahnya menjadi butiran air.


Butiran air itu kemudian tumpah ke pakaiannya dan ia memanfaatkan hal tersebut untuk tetap dingin walau dikelilingi api panas yang menyala-nyala.


Setiap api yang menyambar ke arahnya, diubahnya menjadi partikel air yang membasahi dirinya. Ia melakukan itu secara berulang-ulang.


Namun tetap saja. Butiran air yang hanya berjumlah setitik demi setitik, tidak bisa bertahan ditengah api yang nampak seperti neraka.


Lama kelamaan, pakaian Simson mulai habis terbakar. Kelihatan juga beberapa luka bakar mulai terbentuk di kulitnya.


"Ketua, kembali lah! Kau bisa mati," Teriak Hain memanggilnya.


Namun Simson tidak menoleh sedikitpun. Tatapannya tetap lurus ke depan. Ia sudah meneguhkan tekadnya.


"Jika benar kata Clara, tentang asal mereka dari dunia lain. Maka, aku takkan membiarkan mereka mati di sini," Ucap Simson dalam hati. "Takkan kubiarkan orang yang tak bersalah mati hanya karena kesalahan orang lain. Aku akan menyelamatkan mereka!"


Simson melebarkan langkahnya. Lama kelamaan, ia mulai berlari.


Karena ia berlari, ia jadi tidak bisa merapal mantranya dengan benar. Mengakibatkan dirinya menerima lebih banyak luka bakar.


"S-Simson..." Ucap Hain pelan. Melihat Pemimpinnya hampir tiba di seberang lautan api itu.


Dengan badan yang hampir sekujurnya hangus, dan pakaian yang sudah terbakar habis-habisan. Simson berjalan keluar dari neraka itu.


Di momen itulah ia menyadari. Beberapa bagian tubuhnya sudah tidak berada di tempatnya.


Beberapa jarinya sudah hangus menjadi abu. Rambutnya habis terbakar. Dan kulitnya robek karena menerima panas yang luar biasa.


Dia pun merasakan nafasnya kelamaan menjadi berat. Ia meraba ke arah lehernya, dan merasakan sebuah luka robek di kulit tenggorokannya.


"Heh heh, ternyata aku berjalan ke ajal ku sendiri ya," Batin Simson dengan senyuman melintang di wajahnya, seakan ia sudah menerima fakta bahwa ia akan mati sebentar lagi.


Dengan nafas terengah-engah ia berjalan sempoyongan kepada Bagus. Pandangannya mulai buram. Kakinya juga sudah separuhnya lumpuh. Tapi ia tak menyerah.


Ia melirik ke arah Clara yang nampak sibuk dengan Darren. Ini bisa jadi kesempatan emas nya.


Setibanya disamping Bagus, ia segera mencabut batu sihir yang masih menempel pada pedang perak yang Bagus genggam.


"Bagus, kau harus membantu kawan seperjuangan mu," Ucapnya pelan di telinga Bagus. "Jangan biarkan kesempatan kedua mu jadi sia-sia."


Di saat itu juga, Simson merapal mantranya. Dan mantra itu ditujukan pada batu sihir tersebut.


Tora menyaksikan Simson dari balik api. Melihat dari gerak gerik nya, ia langsung menyimpulkan apa yang hendak Simson lakukan.


"Jangan-jangan, ia mau menghancurkan batu sihir itu," Ucap Tora pelan. Sementara Hain terus meneriakinya untuk kembali.


Simson memejamkan matanya. Mulutnya berkomat-kamit dan batu itu diremasnya dengan erat.


"Dark Elemental: Rematerialize," Ucap Simson tanpa ragu, walau ia tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya.


Seketika itu juga, cahaya menyelubungi sekujur tubuh Simson. Mirip seperti yang terjadi pada Bagus sebelumnya. Namun bedanya, tubuh Simson mengalami kerusakan yang lebih cepat.


Batu itu sudah hancur dalam genggaman Simson. Ia mengubah susunan materinya menjadi udara dan lonjakan Mana yang kuat langsung menggerogoti fisiknya.


Seraya batu itu hancur, Bagus langsung terbangun dari pingsannya. Bukannya melihat pemandangan enak setelah bangun dari pingsannya, ia malah melihat Simson yang sekarat di depan wajahnya.


"S-Simson--" Ucap Bagus berusaha meraihnya. Namun tangannya yang mencoba menggapainya malah menembus ke dalam tubuh Simson yang sudah terurai.


"Bagus, selamatkanlah Darren!" Ucap Simson diujung ajalnya. "Hanya dia yang bisa memahami mu. Dan mungkin hanya kau yang bisa memahami dirinya. Salinglah melengkapi. Karena dunia ini tidak akan mengerti kalian."


Dan kemudian, Simson tersenyum seraya sebagian wajahnya mulai lenyap. "Tetaplah hidup," Ucapnya untuk terakhir kali.


Tak lama kemudian, Simson lenyap tanpa jejak. Tubuhnya seakan menjadi debu dan tak menyisakan apapun sama sekali.


Hain, Tora, dan Shiro yang menyaksikannya dari jauh, langsung dilanda keheningan. Terlukiskan ekspresi syok di wajah mereka, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.


Terlebih lagi Hain yang nampak sangat terpukul. Ia menjatuhkan dirinya sambil berlutut dan menutupi wajahnya yang penuh linangan air mata.


Bagus juga mengalami hal yang sama. Ia sadar kalau Simson telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dirinya. Tapi ia sendiri merasa tidak pantas untuk diselamatkan.


"Simson..." Air mata mengalir di pipi Bagus. Tapi ia langsung menyeka-nya dan mengepalkan tangannya. Ia mengambil pedang peraknya dan berdiri.


Ia teringat permintaan terakhir Simson dan ia tak ingin mengecewakannya.


"Simson, terimakasih. Aku takkan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang telah kau beri."


.


.


.


To be continued...