Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Janji Seorang Kawan


2 Hari Kemudian...


Darren terbangun di sebuah ranjang yang terasa sangat lembut. Tangannya spontan menyentuh kain sprei dan langsung tahu kalau ini bukanlah kasur penginapan.


Ia menoleh ke sekitar seraya jemarinya meraba ke kain sprei yang sangat lembut. Pemandangan yang indah pun langsung menerpa mata Darren.


Ruangan yang tersusun rapih, dengan jendela lebar yang menyuguhkan pemandangan langit cerah. Angin semilir sejuk pun bertiup melaluinya dan membuat Darren menyadari bahwa ini adalah pemandangan kamar kastil.


"Ah iya, kemarin aku pingsan," Batin Darren. Ia beranjak dari kasurnya dan menemukan tubuhnya sudah bersih. Pakaiannya yang kemarin pun telah diganti dengan pakaian baru.


"Lagian siapa yang niat banget gantiin baju ku. Semoga pakaian ku yang lama tidak ke selip," Ucap Darren sembari berjalan mendekat ke arah jendela.


Dirasakannya semilir angin sejuk menyentuh kulitnya. Dari kejauhan ia melihat kota Fueno yang nampak berbeda dari biasanya.


Ia teringat dengan hari pertamanya di Fueno. Waktu itu, pemandangannya terasa sangat kumuh. Banyak gelandangan memenuhi pinggiran jalan dan wajah orang-orang nampak tertekan.


Namun sekarang, walau hanya melihat dari jauh, ia bisa merasakan kemeriahan yang terjadi di kota. Sesekali, ia bahkan dapat mendengar suara gema sorak dari kota itu.


Saat Darren sedang menikmati pemandangan itu sambil bertanya-tanya apa yang terjadi, mendadak seseorang muncul dari pintu kamarnya.


"Darren, kau sudah bangun," Ucap seseorang yang tak lain adalah Dyland. Di belakangnya pun nampak Clara berjalan bersama Shiro dan Tora.


"Oh, Dyland-san. Bagaimana kabar... mu?" Darren terkejut dengan penampilan Dyland. "Ehh!? Apa-apaan pakaian mu itu?"


Dyland tampil dengan pakaian megah. Pakaiannya terlihat mirip dengan pakaian Raja Iblis sebelumnya dan Dyland terlihat sangat cocok dengan pakaian itu.


"Eh... kau belum tahu ya," Sahut Clara memotong. "Sekarang Dyland adalah Raja Avon!"


Berita itu sangat mengejutkan Darren. Sebenarnya apa yang telah terjadi selama dua hari kemarin?


"R-Raja? Apa itu berarti Dyland menjadi Raja Iblis?" Tanya Darren sambil menghampiri.


"Secara teknis mungkin begitu," Balas Clara. Ia pun dengan iseng menatap kakaknya yang malah nampak muak dengan sikap adiknya itu.


"Terasa aneh bila Iblis yang tidak bisa menguasai mantra api memimpin Avon. Tapi mau bagaimana lagi," Ucap Dyland.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Darren.


Dyland menjelaskan. "Kemarin, waktu kami bangun dari pingsan. Beberapa anggota militer telah datang ke tempat kejadian. Mereka melihat kepala Ryan yang tergeletak jatuh dan terkejut."


Dyland kemudian menoleh ke arah Clara. "Dan si Raja Iblis yang satu ini, malah mengatakan kalau aku yang membunuh Ryan," Ucapnya. "Dan menurut ketentuan. Siapa yang dapat membunuh Raja Iblis sebelumnya, maka orang itu akan mendapatkan takhta. Tapi kan, aku tidak benar-benar membunuhnya."


Clara hanya senyum-senyum menahan tawanya. "Lagian tidak ada kandidat yang cocok lagi," Ucap Clara. "Aku telah mengenal sifat mu dengan cukup baik. Dan aku berpikir, mungkin kau akan cocok menjadi Raja yang memimpin Avon."


Dyland melipat tangannya. "Huff, baru kupikirkan saja aku tahu kalau ini akan sangat merepotkan. Tapi ku rasa aku akan berusaha."


"Nah, begitu dong. Yang mulia Dyland-sama," Ucap Clara meledek.


"Hentikan! Apa-apaan panggilan itu."


Seisi ruangan dipenuhi gelak tawa. Clara terus-terusan menggoda kakaknya. Sementara Shiro dan Tora menghampiri Darren.


"Darren-sama," Ucap Shiro dengan wajah yang tersipu.


"Shiro. Ada apa?" Sahut Darren dengan nada heran. "Apa ada sesuatu yang salah?"


"A-Anu... tentang kau bilang kemarin," Wajah Shiro semakin memerah. Ia pun mulai menutupi wajahnya. "Kemarin kau bilang kita adalah keluarga, kan?"


Darren mengangguk. "Ya. Kita adalah keluarga. Emangnya kenapa?"


Shiro mulai bertingkah aneh. Ia berkeringat dan wajahnya sangat merah.


"A-Anu, aku i-ingin m-menanyakan s-sesuatu--" Shiro keliahatan berusaha mengatakan sesuatu, namun ia nampak kesulitan mengatakannya karena grogi.


Di saat itu Tora langsung memotong omongannya. "Ah, Darren-sama. Sepertinya Shiro-sama masih kelelahan karena pertempuran kemarin," Ucap Tora.


Tora pun berpaling pada Shiro dan menariknya pergi. "Ayo Shiro-sama. Kau harus istirahat."


"T-Tapi, a-aku mau t-tanya--"


"Iya iya, sudahlah. Jangan dipaksakan. Kau bisa mengatakannya lain kali."


Tora pun membawa Shiro keluar dari ruangan tersebut. Sementara Darren menyaksikannya dengan wajah keheranan.


"Ada apa dengan mereka?" Pikir Darren.


Ia kemudian menoleh pada Clara yang masih menggoda Dyland sedari tadi. "Lalu, apa yang terjadi di Fueno?"


"Sepertinya kau bisa mendengar sorakan meriahnya sampai ke sini, ya," Ucap Clara. "Mereka sedang merayakan naiknya pemimpin baru."


"Apa biasanya memang semeriah itu?"


"Biasanya tidak. Namun karena tirani Raja Iblis Ryan akhirnya telah runtuh, mereka merasa sangat senang dan merayakannya lebih meriah."


Dyland menyambung. "Saking senangnya, mereka bahkan sampai tidak peduli kalau Raja yang memimpin mereka sekarang tidak bisa menggunakan sihir api," Katanya.


"Ku rasa tidak masalah kan?" Ucap Darren.


"Untuk sekarang mungkin tidak. Namun Raja Iblis yang telah memimpin Avon dari generasi ke generasi, selalu seorang pengguna sihir api. Sedangkan aku tidak," Balas Dyland. "Rasanya, mungkin di masa depan, orang-orang akan mulai meragukanku karena hal ini."


Clara menepuk pundak Dyland. "Tenang saja, Onii-sama. Jika mereka sampai meragukanmu, aku akan maju sebagai Raja Iblis Sejati di depan mereka," Ucap Clara sambil tertawa.


"Berhentilah memanggilku begitu."


"Ah, iya. Maaf maaf."


Darren merengutkan dahinya. "Clara-san, apa kau tidak akan menunjukkan identitas asli mu ke publik?"


Clara menggeleng. "Tentu saja tidak. Itu akan menciptakan keributan pastinya," Katanya. "Tentang Raja Iblis Sejati, dan asal kedatangan mu dari dunia lain. Sebaiknya jangan sampai bocor ke masyarakat."


"Benar," Sahut Dyland. "Dilihat dari situasinya sekarang, pemerintahan masih mencoba memulihkan diri dari kejadian kemarin. Akan berbahaya jika ada pihak yang memanfaatkan hal ini untuk merusak Avon. Jadi sebaiknya jangan sampai ada orang yang tahu selain kita."


"Lalu, Hain dan Bagus?" Tanya Darren.


Setelah mengatakan itu, Darren baru tersadar sesuatu. "Ngomong-ngomong, dimana Bagus dan Hain?"


Clara menjawab. "Bagus sedang ditahan di ruang bawah tanah. Dan Hain ditugaskan untuk menjaganya."


Dyland menyambung. "Aku yang menyuruhnya menjaga Bagus. Ku pikir Hain bisa menggali beberapa informasi darinya, karena mereka dulu cukup dekat saat di pasukan pemberontak."


"Oh, begitu ya," Balas Darren. "Ku harap semuanya baik-baik saja."


.


.


.


Sementara itu, di ruangan gelap yang terletak bawah kastil. Hain sedang duduk di sebuah kursi kecil di depan jeruji besi yang tebal.


Ia hanya duduk disana, sambil menatap seseorang dibalik jeruji yang tak lain adalah Bagus.


Bagus hanya duduk di tanah tanpa melakukan apapun. Tangannya di borgol oleh sebuah rantai yang terikat di lantai penjara. Wajahnya pun hanya menunduk tanpa mengatakan apa-apa.


Keadaan hening menyelimuti mereka berdua. Tak ada satupun dari mereka yang bicara dan ingin bicara. Padahal sebenarnya mereka ingin mengatakan sesuatu pada satu sama lain, tapi terlalu takut untuk memulainya.


"Hain."


"Bagus."


Mereka berdua langsung terdiam saat menyadari mereka mencoba berbicara di saat bersamaan.


"Kau duluan."


"Duluan saja."


Lagi-lagi mereka mengucapkannya bersamaan.


"Ha ha, kita mengulanginya lagi," Ucap Bagus pelan.


"Ya. Terasa aneh, bukan," Sahut Hain dengan nada canggung.


Keadaan hampir kembali hening, namun Bagus berinisiatif untuk membuka pembicaraan.


"Anu, Hain. Aku ingin minta maaf tentang Simson," Ucap Bagus. "Aku juga ingin minta maaf atas semuanya. Karena ku, semuanya jadi seperti ini."


Hain menggeleng. "Tidak. Aku paham bagaimana rasanya menjadi mu," Balas Hain. "Kau pasti tidak punya banyak pilihan kan? Jika aku jadi kau, mungkin aku akan melakukan hal yang sama."


Hain meneruskan. "Semua ini adalah salah yang mengirim mu ke dunia ini. Bukannya aku benci dengan keberadaan mu di sini. Namun jika kau tidak ke sini, mungkin tidak akan ada hal buruk yang terjadi," Ucap Hain.


Bagus mengangguk. "Ya. Bagaimanapun juga, lebih baik jika kita tetap berada di dunia kita masing-masing. Tapi, apa sebenarnya tujuan mereka memanggil kami ke sini?"


"Apa Gereja Suci tidak memberikan suatu informasi?"


"Tidak. Bahkan tidak seluruh anggota Gereja tahu tentang asal muasal ku. Hanya Deus seorang."


Hain melipat tangannya. "Lalu, apa Pendeta Suci hanya memanfaatkan mu untuk menyusup ke negara ini saja?"


"Ku rasa iya. Karena aku baru tiba di sini sejak dua bulan lalu, ini adalah misi pertama ku," Balas Bagus. "Ia hanya menugaskan ku untuk mengendalikan ingatan Ryan. Karena itu, Ryan menyebabkan rakyat menderita dan berharap itu dapat memancing keluar Raja Iblis Sejati."


"Jadi Deus tahu kalau Raja Iblis Sejati masih hidup, ya," Hain mengelus dagunya. "Kira-kira apa tujuannya?"


"Ku rasa aku tahu," Balas Bagus lagi. "Aku pernah mendengarnya berbicara tentang pemburuan Raja Iblis."


"P-Pemburuan Raja Iblis? Untuk apakah demikian?"


Bagus menggeleng. "Aku tidak tahu banyak. Namun aku juga pernah mendengar ia berbicara pada dirinya sendiri. Begini katanya: Kehendak Dewa harus kita penuhi. Tapi kenapa harus aku? Karena sekarang kau adalah aku.Tidak, aku tidak mau melakukan ini. Kau harus bersyukur, karena Dewa telah memilih tubuh ini."


Hain semakin penasaran dengan apa maksudnya pembicaraan itu. "Ia berbicara begitu pada dirinya sendiri?"


Bagus mengangguk. "Ya. Aku tidak mungkin salah dengar."


"Tapi bukankah itu terdengar seperti ia bicara pada seseorang?" Gumam Hain. "Baiklah kalau begitu. Aku akan melaporkan semuanya pada Dyland."


Hain beranjak dari kursinya. Ia hendak pergi, namun kemudian berhenti sambil melirik ke arah Bagus.


"Bagus, apa kau benar-benar ingin pulang?" Tanya Hain.


Bagus mengangkat wajahnya. Kemudian Hain meneruskan, "Maksudku, di sana kau sudah tidak punya siapa-siapa lagi kan?"


Bagus menjawab sambil tersenyum. "Aku akan tetap pulang. Bagaimanapun juga, itu adalah tanah kelahiran ku."


"Tapi apa kau pernah berpikir untuk tinggal di sini?" Sambung Hain. "Maksud ku, semuanya telah terjadi. Aku pun tidak masalah jika kau tinggal. Aku juga sudah melupakan apa yang terjadi di pasukan pemberontak."


"Bukan begitu. Ada sebuah pepatah mengatakan: Lebih baik hujan batu di negeri sendiri, daripada hujan emas di negeri orang," Balas Bagus. "Aku tidak berharap ada yang menunggu ku pulang. Lagipula, bukankah lebih baik jika kita berada di tempat yang seharusnya kita berada."


Hain mengangguk muram. "Begitu ya. Mungkin kau benar," Ucapnya termangu. Nada bicaranya juga sedikit ruyam walau wajahnya berusaha menutupinya.


Ia melanjutkan langkahnya ke pintu. Namun ia tiba-tiba mengacungkan tangannya ke atas dengan jempol yang menonjol. Ia pun berteriak dengan lancang.


"Aku akan membantu mu mencari cara untuk pulang. Aku janji," Ucapnya.


Bagus tersendat. "Terimkasih, Hain."


"Untuk sekarang, kau harus mendekam di sini sampai keputusan Raja diturunkan. Tapi aku yakin Dyland tidak akan menurunkan keputusan yang tidak-tidak," Sambung Hain. "Aku akan menemui mu lagi besok."


"Baiklah. Sampai jumpa."


.


.


.