Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Seperti Anak Sendiri


"Kau pasti memikirkan kabar barusan, ya?" Ronald muncul di samping Darren seolah bisa membaca pikiran.


Darren mengangguk. Mungkin ia akan menggali beberapa informasi dan berharap mendapatkan cukup untuk membuat sebuah kesimpulan kecil.


"Ya. Aku hanya sedikit penasaran," ucapnya.


Ronald melipat tangan sambil tersenyum. Dari wajahnya, kelihatan ia sudah menunggu Darren menanyakan hal ini. Ia bersender di sebuah kabinet dan melipat tangannya.


"Sebenarnya, yang hilang bukan hanya senjatanya saja," ucapnya. "Bahkan beberapa petualang pun ikut hilang. Mereka semua hilang di satu quest yang sama."


"M-Menghilang?" Darren terkejut. Ternyata memang sesuatu yang buruk benar-benar terjadi di sini. "Tentang quest itu, bisa jelaskan lebih rinci?"


Ronald bisa merasakan ketertarikan Darren pada topik ini. Jadi, ia pun dengan senang hati mengatakan semua yang ia tahu.


"Beberapa hari terakhir, aktivitas undead di sekitar kota semakin meningkat secara signifikan. Pemerintah pun khawatir kalau hal ini akan berujung menerobos ke lingkungan warga. Maka akhirnya dikeluarkan sebuah quest bagi para petualang untuk memburu undead," jelasnya.


Darren mengangguk-angguk seraya Ronald meneruskan penjelasannya.


"Beberapa wilayah telah ditetapkan sebagai titik sumber kemunculan undead. Tapi, terdapat satu titik yang sangat misterius."


Darren semakin menatap serius. Ronald pun melanjutkan pembicaraannya.


"Lokasinya terletak di dekat sebuah fasilitas militer yang terbengkalai. Lebih tepatnya, di sana terdapat sebuah pos ronda kecil yang biasa dipakai petugas polisi untuk beristirahat di tengah patroli. Di situlah semuanya di mulai," ucap Ronald. "Beberapa petualang pergi ke tempat itu dengan tujuan memusnahkan undead. Namun malahan, mereka yang musnah di tempat itu. Tak hanya satu, tapi sudah banyak yang jadi korbannya."


"Tapi, ada petualang yang berhasil kembali, kan?" Ucap Darren. "Apa kesaksian mereka?"


"Kurang jelas. Beberapa mengaku kalau mereka bertemu sebuah undead cilik, dan tanpa mereka sadari mereka telah berada di situasi genting."


"Genting? Bagaimana?"


"Seolah terjerat ilusi, ketika mereka bangun, mereka tengah dikepung oleh ratusan undead lain."


"Jadi seperti jebakan?"


"Mungkin."


Darren mengusap dagu dengan raut yang jelas menunjukkan bahwa ia telah menyimpulkan sesuatu di dalam kepalanya.


"Apa itu berarti..." ucapnya, "undead cilik itu mungkin memiliki akal?"


Semua orang tahu kalau undead adalah makhluk yang bertindak melalui insting liar mereka. Seperti makhluk liar yang buas, mereka mengandalkan naluri mereka untuk bertahan hidup. Meski begitu, tingkat kecerdasan mereka hampir nol. Lebih rendah daripada hewan-hewan liar seperti serigala atau anjing. Jadi, mendengar bahwa ada undead yang bisa menyiapkan jebakan seperti itu, rasanya sedikit agak... janggal.


Ronald menganggapi kesimpulan Darren dengan wajah terkejut. "Mungkinkah begitu?" Walau terkejut, nada bicara flamboyannya masih terdengar kental. "Jika kesimpulanmu memang benar, maka ada kemungkinan besar kalau undead itu adalah sebuah lich. Tapi deskripsi yang diberikan para petualang itu lebih mengarah kepada ciri-ciri sebuah zombie."


"Apa itu berarti zombie tersebut punya akal?"


"Seharusnya tidak."


Zombie memang biasanya tidak memiliki tanda-tanda kecerdasan yang cukup tinggi. Berbeda dengan Lich yang merupakan kerangka tulang yang masih diselimuti jiwa yang remang, zombie hanyalah tubuh tak bernyawa yang sepenuhnya tak memiliki jiwa, akal, maupun pikiran.


Zombie tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Mereka tidak punya pendirian pasti dan selalu dikendalikam nafsu darah yang besar. Hampir tak ada kasus yang menyatakan zombie memiliki pemikiran independen dan kemampuan mengatur strategi seperti itu.


Mendengar sesuatu yang seperti itu, tentu saja merupakan hal baru bagi mereka. Tidak hanya itu, mereka kini dihadapkan dengan ancaman yang mungkin lebih berbahaya dari hal tersebut.


"Kemungkinannya ada dua. Pertama, seperti katamu, mungkin memang zombie itu punya akal. Jika demikian, berarti ada suatu evolusi yang terjadi pada zombie itu," ujar Ronald.


"Yang kedua?" Darren memiringkan wajahnya.


"Yang kedua, ada kemungkinan bahwa ada sosok yang mengendalikan mereka dari balik bayang."


Bagaimanapun, kemungkinan pertama terdengar seperti tebakan asal-asalan. Kejadian seperti itu hampir tak pernah dan mustahil terjadi. Di sisi lain, kemungkinan kedua terdengar lebih beralasan.


Tapi nampaknya, Ronald sendiri masih agak curiga dengan kemungkinan nomor dua itu. "Tapi, untuk mengendalikan zombie sebanyak itu, bukankah hanya bisa dilakukan oleh makhluk dengan kekuatan tinggi?"


Benar. Mengendalikan undead bukanlah perkara mudah. Tak sembarang orang bisa melakukannya. Bahkan, di kalangan manusia, punya kemampuan untuk mengontrol undead adalah hal yang langka.


Darren pernah melihat kemampuan ini di masa lalu. Pertama saat ia berhadapan dengan Serina untuk pertama kali, dan yang kedua saat penyerangan Raja Iblis Kegelapan di Vertrag. Faktanya, dua kejadian itu sama-sama disebabkan oleh kemampuan monster seperti succubus dan elder lich.


"Jadi, apa mungkin kalau Raja Iblis itu yang memang menyiapkan ini semua?" Batin Darren.


"Dari wajahmu, kau sepertinya mengetahui sesuatu." Tiba-tiba Ronald berkata.


"Ah, tidak! Aku hanya memikirkan hal yang sama sepertimu," sahut Darren sambil terbelalak.


"Iya, iya. Lagian, kau kan hanya seorang petualang pemula yang tidak tahu apa-apa." Ronald tertawa kecil. Tapi ucapannya barusan seolah punya makna lain. Sarkas?


Tak lama kemudian, Rezkya kembali dengan sebilah pedang di tangannya.


"Aku hanya punya ini." Ia meletakkan pedang berwarna hitam keabu-abuan itu di hadapan mereka.


Darren meraih pedang itu dan mengambilnya. Ketika diangkat, ia hampir tidak merasakan bobot apapun dalam pedang itu. Rasanya ringan hingga terasa seperti tidak terbuat dari logam.


Bentuknya melengkung dengan mata pedang kusam yang tajam di satu sisi. Gagangnya terbuat dari kayu yang dibalut kain tipis— tidak terlalu nyaman untuk dipegang. Dan paling mencolok adalah beberapa bagian nampak tidak ditempa dengan sempurna.


"Sebenarnya ini pedang lama," ujar Rezkya sambil menghela nafas, "tapi hanya ini yang kupunya menurut kriteriamu. Mungkin lebih baik kau pilih senjata lain."


Darren pun memasukkan pedang tersebut ke dalam sarung yang ada dipinggangnya.


"Baiklah. Aku ambil ini."


"Eh, seriusan?" Rezkya nampak kaget. "Ini pedang tua lho. Pedang pertama yang kubuat. Bentuknya tidak bagus sama sekali. Bahkan dijual pun tidak laku."


Memang benar demikian. Tapi tujuan awal Darren membeli pedang baru hanya untuk menyembunyikan kemampuan aslinya. Ia sudah bisa membayangkan betapa "biasa" penampilannya dengan pedang tua ini.


Lagipula, ia sempat membayangkan wajah terkejut orang-orang saat melihat kemampuan aslinya saat menggunakan pedang ini.


"Pura-pura lemah, padahal aslinya Sepuh Merendah."


Ia hanya tersenyum ketika melihat Darren dengan lembut memasukkan pedang itu ke dalam sarungnya.


"Kau kenapa, Rezkya?" Ronald melihat tatapan Rezkya yang nampak senang.


"Tidak apa-apa. Aku senang. Tapi rasanya berat melepaskan sesuatu yang telah lama kurawat," balas Rezkya.


Ronald menepuk pundaknya sambil tertawa. "Itu cuma pedang. Bagaimana nanti jika kau harus melepaskan anakmu yang sungguhan? Haha."


"Itu sudah seperti anakku tahu!"


Ronald menarik lengannya kembali dan ikut memandang Darren dengan pedangnya. "Itulah kehidupan. Kita mungkin berumur panjang dan menganggap masa depan masihlah jauh. Tapi, semua pasti telah berlalu begitu cepat saat kita menyadarinya."


"Orang bilang, kita takkan menyadari betapa berharganya sesuatu sampai hal itu hilang. Tapi nyatanya, kita selalu tahu bahwa hal itu berharga. Kita hanya tak pernah berpikir akan kehilangannya," ucapnya lagi, dengan nada puitis.


Rezkya tersenyum kecil dengan raut terkesan. "Kau terdengar seperti petapa tua penuh kebajikan."


"Aku hanya mengutipnya dari novel."


"Sialan."


Rezkya berbalik dan merapihkan pedang-pedang yang berserakan di atas kabinet. Ketika ia hendak mengambil sebuah pedang perak, tiba-tiba tangannya terpeleset. Klontang! Pedang itu pun terjatuh ke lantai.


Lantas semua tatapan langsung mengarah pada Rezkya.


"Rezkya-san, kau tidak apa?" Darren segera menghampirinya.


Rezkya mengangguk. "Tidak apa-apa. Hanya tak sengaja terjatuh dari tangan."


"Lain kali lebih hati-hati dong," celetuk Ronald.


"Iya, iya. Namanya juga gak sengaja."


Ia membungkuk dan memungut pedang perak itu. Pedang itu sangat berkilauan seperti kaca. Ia bahkan bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di atasnya. Ini membuktikan bahwa pedang tersebut terbuat dari perak murni.


Ketika memungutnya, ia teringat bahwa pedang ini adalah pedang perak yang ditempa ayahnya dulu. Kira-kira berapa usianya? Dengan usia elf yang panjang, mungkin pedang ini telah berumur ratusan tahun.


Ia pun mengangkat pedang itu setinggi wajahnya. Baru saat itu, ia menyadari ada noda kecil yang menempel di mata logamnya.


"Aku harus membersihkan ini nanti—"


"Rezkya-san, jadi berapa harganya?" Tiba-tiba Darren memanggilnya.


Rezkya memalingkan pandangannya dari pedang di depannya.


"Ah, ambil saja. Kau tidak perlu membayarnya," sahutnya.


"Eh? Tidak. Aku tidak bisa menerima ini cuma-cuma."


Rezkya menyentuh pundak Darren. Matanya menatap Darren dengan hangat. Ini adalah tatapan seorang ayah yang menyerahkan putrinya ke tangan pengantin pria.


"Aku menyerahkannya padamu," ucapnya. "Tolong, jaga dia baik-baik."


Walau itu hanya pedang, tapi perasaan yang dituangkan Rezkya ke dalamnya sangat bermakna.


"Terimakasih, Rezkya-san."


"Huwee, aku sangat terharu!" Ronald melompat ke tengah-tengah mereka.


Ia kemudian mengeluarkan buku catatannya dan mulai menulis sambil menumpahkan air mata. Tak ada yang tahu kalau ia bermaksud mengejek atau memang benar-benar menganggap hal ini sebagai kisah mengharukan yang cocok untuk novelnya.


"Kisah seorang ayah yang berpisah dengan putrinya. Benar-benar brilian! Menulisnya saja sudah membuatku berbanjir air mata. Hanya saja, akan kumodifikasi agar lebih manusiawi."


Rezkya mengernyit. "Apa maksudmu 'lebih manusiawi'?"


"Tentu saja dengan mencabut delusi yang dimiliki sang ayah hingga menganggap sebuah lempengan logam sebagai putrinya."


"S-Sialan kau!"


Darren cepat-cepat memisahkan mereka berdua saat melihat Rezkya hendak mengangkat pedang di tangannya.


Rezkya nampak belum puas kalau belum memukul Ronald. Tapi ia tak mau membuat menantu— maksudnya, pelanggan barunya meninggalkan kesan jelek tentang dirinya.


"Huff... Kalau urusan kalian di sini sudah selesai, cepatlah pulang," ucapnya sambil melayangkan tatapan terusik pada Ronald.


"Baiklah. Selamat tinggal, ayahnya pedang-chan."


"Akan kuhajar kau!"


Ronald pun menarik lengan Darren dan berjalan menuju pintu. Sementara Rezkya berbalik dan kembali menatap pedang perak itu.


Cahaya dari pintu pun masuk dan menerpa permukaan perak itu, memantulkan cahayanya hingga menyilaukan mata Rezkya. Tapi di situ, ia melihat sesuatu yang aneh.


Pantulan cahaya itu menampilkan siluet seseorang berjalan keluar dari pintu.


"Hanya seorang?"


Ia segera berbalik dan melihat Darren telah berjalan menghilang keluar dari pintu. Sesuatu terasa janggal baginya. Tapi ia segera mengabaikannya.


"Mungkin aku hanya mengigau karena senang."


.


.


.