
Untuk seseorang yang belum pernah ke sekolah sebelumnya, pengalaman seperti ini pastinya sangat mendebarkan. Terlebih ketika dirinya sadar bahwa ia adalah salah satu ras terendah di tengah-tengah ras superior seperti manusia dan elf.
"Aku juga harus pindah. Tapi apa aku bisa?" Shiro bergumam pada dirinya sendiri. Kedua tangannya membawa kotak dan kakinya melangkah masuk ke sebuah gedung bertuliskan: 'Asrama Wanita'.
Ketika masuk— seperti yang dialami Darren— Shiro tidak menemukan siapa-siapa di dalam asrama itu. Kebanyakan siswa di sini datang dari keluarga ternama dan kaya. Mereka pasti memilih untuk tinggal di penginapan elit di pusat kota. Mungkin bagi mereka, tinggal di asrama hanyalah untuk orang-orang kasta bawah.
Berjalan menyusuri lorong yang luas pun, Shiro sangat jarang berpapasan dengan orang. Palingan ia hanya melewati satu atau dua orang, dan hampir semuanya melemparkan tatapan aneh ketika melihat Shiro.
"Eh, kenapa ada manusia hewan di sini?"
"Entahlah. Mungkin dia pekerja kebersihan."
"Tidak, tidak mungkin. Dia pasti hanya budak yang dipaksa ikut majikannya menjadi petualang."
"Hee... benarkah? Murid semacam dia hanya akan membuat nama akademi jadi jelek."
Walau tak ditujukan langsung ke arah Shiro, jelas-jelas kalau volume bisikan mereka terlalu keras. Di tengah heningnya tempat itu, suara sekecil itu pun terdengar seperti bunyi kereta kuda yang menggema di tengah ladang luas.
Shiro berusaha untuk tidak menghiraukannya. Tapi di dalam hatinya, ia merasakan sayatan yang perih menusuknya. Hal itu membuatnya murung dan merasa dirinya memang tak seharusnya ada di tempat seperti ini.
"Hey, kalian!" Tiba-tiba terdengar suara teriak yang menggema.
Sontak semua orang langsung melirik ke sumber suara tersebut dan terlihat seorang perempuan dengan topi lebar berdiri di depan pintu dengan tatapan sinis.
Shiro yang melihat hal itu, mengira bahwa perempuan tersebut berteriak ke arahnya. Namun ternyata ia salah.
"Bisa tidak kecilkan suara gosipan kalian itu?" Perempuan itu berteriak ke arah sekumpulan perempuan tadi. "Aku jadi kasihan pada para pria yang harus mengencani wanita bermulut lebar seperti kalian."
Para perempuan tadi nampak jengkel. Tapi mereka tidak menunjukkan niatan untuk melawan balik. Sebaliknya, mereka langsung berbalik dan pergi, sambil memasang wajah jengkel seolah ini bukan pertama kalinya terjadi.
"Mereka pergi." Shiro memandang para perempuan itu menjauh.
"Pasti sulit ya jadi ras non-manusia."
Tanpa disadari, perempuan bertopi lebar itu telah berdiri di samping Shiro.
Shiro tersentak. Namun segera membungkuk untuk berterimakasih. "Terimakasih. Kau benar-benar menyelamatkanku tadi."
Perempuan bertopi lebar itu tersenyum. "Jangan sungkan. Lagipula aku memang kesal saat mendengarkan gosipan mereka," sahutnya. "Ngomong-ngomong, kau Shiro, kan?"
"E-Eh, benar. Apa kira pernah bertemu sebelumnya?"
"Heehh?! Apa kau lupa kalau kita satu kelas? Aku duduk di depanmu tahu!"
"E-Eh, benarkah—" Shiro mencoba mengais ingatan di kepalanya. "Ah iya, benar! Aku ingat ada seseorang dengan topi besar yang menghalangi pandanganku. Aku jadi tidak bisa melihat papan tulis di depan."
"Y-Ya... itu mungkin memang aku. Maaf." Perempuan itu tersenyum canggung. "Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diriku, ya. Namaku Lucy."
Shiro membungkukkan badan sambil berusaha menahan kotak di tangannya. "Namaku Shiro. Sendang berkenalan denganmu."
"Apa kau baru pindah ke sini? Mari, biar kubantu mencari kamarmu."
"Ah terimakasih. Seharusnya kamarku ada di sekitar sini..." Shiro mendangak dan melihat ke atas pintu tempat Lucy berdiri. "Ah..."
"Hm? Ada apa?" Lucy memiringkan wajahnya.
"Lucy-san, apa kau tinggal sendirian?" Tanya Shiro.
"Ya, benar."
"Kalau begitu ini masuk akal." Shiro menunjukkan sebuah kertas yang ditulisi beberapa kombinasi angka.
Lucy melihat kertas itu. Kemudian ia mendangak dan melihat ke atas pintu tempat ia berdiri.
"Ah, begitu..." Ia mengangguk-angguk. "Kalau begitu..."
Ia langsung merangkul Shiro dan meletakkan tangannya mengelilingi lehernya.
"Selamat datang, wahai sobat sekamarku!" Ucapnya antusias. "Tak disangka takdir akan mempertemukan kita di sini pada hari ini."
Shiro hanya bisa tersenyum— tak begitu mengerti apa yang harus dilakukan. Ia melirik ke wajah Lucy yang nampak gembira. Ia cantik. Namun topinya lebih mencolok daripada wajahnya.
Lucy pun melepaskan rangkulannya dan masuk ke dalam kamar. Topinya sempat menyangkut di ambang pintu ketika ia melangkah masuk.
"Mari, mari. Masuk saja. Anggap rumah sendiri."
Namun terlepas dari indahnya kamar itu, hidung Shiro menangkap suatu bau yang mengambang di udara. Bau yang samar namun cukup pahit rasanya.
"Hm? Bau apa ini?" Shiro mengendus-endus udara. "Dari luar jendela? Sepertinya bukan."
Namun nampaknya Lucy tak menyadarinya. Ia masih nampak antusias dengan kedatangan Shiro.
"Shiro-chan, kau mau tidur atas atau bawah?" Lucy menunjukkan kasur tingkatnya.
Bukannya memilih, Shiro malah lebih terkejut dengan cara Lucy memanggilnya. "Shiro-chan? Apa kau sudah menganggapku sedekat itu?"
"E-Eh? Apa aku terlalu sok akrab, ya? Kupikir karena kita akan jadi teman sekamar, aku ingin jadi lebih dekat denganmu." Lucy menggaruk-garuk lehernya. "Tapi, kalau kau tidak menyukainya, aku takkan memanggilmu begitu lagi."
"Tidak apa. Aku menyukainya," sahut Shiro dengan wajah berbinar. "Aku senang bisa mempunyai teman baru. Kalau begitu, apa boleh jika aku memanggilmu Lucy-chan juga?"
"Boleh! Kita akan terdengar jadi lebih dekat." Lucy meraih telapak tangan Shiro dan menggenggamnya. "Nah, kalau begitu, aku akan membantumu beres-beres. Aku sangat bersemangat bisa punya teman sekamar."
Shiro tersenyum. "Baiklah."
.
.
.
"Ngomong-ngomong, Esema. Shiro-chan itu keluargamu, kan?" Tanya Ronald sembari berjalan dengan kedua tangannya dibelakang kepalanya.
"Yah, bisa dibilang begitu."
Darren dan Ronald berjalan menembus keramaian. Sesekali Ronald menarik lengan Darren menuju jalan yang benar agar ia tidak tersesat di tengah kerumunan.
"Kandung... atau angkat?" Tanya Ronald lagi dengan nada penasaran.
"Kenapa kau menanyakan itu?"
"Habisnya aku bingung. Kau kan manusia. Kalau Shiro adalah keluargamu, bagaimana ia bisa jadi setengah hewan?"
"Masuk akal. Sebenarnya, kami tak punya hubungan darah. Ia adalah temanku. Namun aku sudah menganggapnya seperti keluargaku sendiri."
"Serius? Biasanya manusia hewan sepertinya cocok dijadikan budak. Jadi aku sempat berpikir kalau ia adalah budakmu."
Darren segera menghentikan langkahnya. Ronald pun berhenti, kemudian menoleh ke belakang dengan kedua tangan masih terangkat di belakang kepala. Dengan wajah santai ia bertanya.
"Hm? Ada apa?"
"Ia bukan budak. Ia adalah teman. Hubungan kami tidak mungkin seperti itu," ucap Darren sambil mengepalkan tangannya.
"Hm, begitukah? Aku agak terkejut. Gadis secantik dia kalau tidak dijadikan budak, tidak akan berguna untuk hal lain. Dari gerak-geriknya, ia seperti lembut dan rapuh. Tak mungkin kalau gadis lemah sepertinya dijadikan buruh kerja."
"Jadi kau sama saja, ya." Darren menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa kau juga mengikuti norma busuk di dunia ini? Apa kau pikir perbudakan adalah hal yang lumrah?"
"Aku sendiri belum pernah punya budak. Namun setelah mendengarnya darimu..." Tiba-tiba Ronald tersenyum lebar. "Aku jadi senang!"
Kata-kata yang dikeluarkannya memang aneh. Namun wajahnya jauh lebih aneh.
"Apa maksudmu?"
Ronald kemudian mulai bergoyang-goyang kegirangan. "Ahh, aku khawatir kalau Shiro-chan yang manis itu adalah pacarmu. Tapi karena sekarang aku tahu kalau ia tak lebih dari sekedar keluarga bagimu, aku sekarang yakin aku punya kesempatan!"
"Kau ini bicara apa sih?" Darren mengangkat alisnya. Namun tiba-tiba Ronald meraih telapak tangannya dan menggenggamnya.
"Kumohon, Esema— tidak. Calon kakak ipar! Restui aku untuk menjadi kekasih Shiro-chan!" Ucapnya.
.
.
.
"What the f*ck?!"
To be continued...