
"Darren, maafkan AKU."
Sontak Darren melompat bangun dari tidurnya. Ia terduduk di atas ranjangnya setelah mendengar bisikan aneh di telinganya. Tapi ketika ia menoleh, ia hanya melihat Riuku yang sama terkejutnya dengan dirinya, berdiri menatapnya di dekat pintu.
"Riuku? Apa kau mendengar suara itu?" Tanya Darren. Bagaimanapun, tidak mungkin kalau suara tadi berasal dari Riuku.
Riuku mengelus dadanya sambil mencoba menenangkan diri pasca terkejut tadi. "Suara? Aku tidak mendengar apa-apa," Ujarnya, "Aku tadi terkejut karena melihatmu melompat tiba-tiba."
"Oh." Darren kembali tenang sambil mengembalikan posisinya. Ia pikir ia kembali bermimpi tentang Yuzuna dan Rolf. Tapi suara dalam kepalanya itu bukanlah suara yang pernah ia dengar sebelumnya.
Suara itu penuh kesedihan dan frustasi. Perasaan yang terkandung dalam suara itu seolah mengalir dipenuhi keputusasaan. Seperti suara orang yang ingin mati. Tapi Darren tidak bisa mengidentifikasi suara tersebut. Ia bahkan tidak bisa mengatakan bahwa itu suara pria atau perempuan. Hanya seperti segaris kalimat yang tiba-tiba muncul di benaknya.
"Jadi, kenapa kau datang kemari, Riuku?" Darren menoleh pada Riuku seraya mencoba melupakan kejadian barusan.
Riuku membungkukkan badan kemudian melangkah masuk. Sekilas, ia kelihatan sangat elegan dan anggun. Kulitnya yang cerah, dengan beberapa bagian berupa sisik, membuat parasnya makin merona seraya menunjukkan identitas aslinya sebagai ras lizardmen. Evolusi hasil mimikri benar-benar membuat paras yang sebelumnya seperti reptil kini menjadi gadis muda yang cantik.
Dilengkapi dengan pakain maid hitam putih yang umum ditemukan di dunia asal Darren dulu, menambah kecantikannya hingga tiga kali lipat. Lagipula, siapa yang tidak suka gadis cantik dalam pakaian maid?
Setelah kejadian kemarin, Riuku ditugaskan secara khusus oleh Ravenna untuk merawat Darren secara pribadi. Jadi, gadis reptil itu berinisiatif untuk menggunakan pakaian maid yang katanya cukup populer di kalangan petualang pria, agar bisa melayani Darren baik fisik maupun visual.
"Ravenna-sama memberikanmu ini." Riuku meletakkan sebuah set pakaian di atas meja.
"Apa ini?" Darren mengerutkan wajahnya. Ia tahu kalau itu pakaian, tapi ia tidak mengerti maksudnya.
"Ravenna-sama memutuskan untuk memberimu pakaian baru setelah melihat pakaian lamamu koyak dalam pertarungan kemarin."
Darren melirik ke arah lemari di seberang ruangan. Tergantung di sana pakaian lamanya yang memang nampak usang dan robek di beberapa bagian.
"Memang benar sih. Baiklah, aku terima pakaian ini. Terimakasih telah mengantarkannya, Riuku," Ujar Darren.
Riuku tersenyum, kemudian melanjutkan perkataannya sebelum angkat kaki dari hadapan Darren. "Dan juga, sebaiknya kau cepat berganti, Darren-sama. Karena Ravenna-sama telah menunggumu di rumah sakit."
Riuku pun pergi. Darren beranjak dari kasurnya dan melangkah ke pakaian yang masih terlipat rapih. Sebuah jaket hitam dengan sebuah lempengan logam di kedua sisi pundaknya yang bekerja sebagai proteksi untuk melindungi sendi bahu.
Darren mengangkat jaket tersebut dari atas meja. Ia terkejut saat menemukan celana hitam ketat yang ikut terbaring di bawahnya. Celana yang dibuat dengan bahan lentur, dengan bantalan lutut ikut terpasang di kedua kakinya.
"Pakaian ini... keren sekali."
.
.
.
Darren berjalan di lorong rumah sakit dengan tampilan barunya. Celana hitam ketat dan jaket hitam yang mengembang terbawa tiupan angin. Di balik jaketnya, ia mengenakan kaos berwarna merah tua. Sepanjang lorong, bunyi bantalan logamnya terdengar bergesekan. Seperti suara langkah yang berat. Tapi nyatanya, ini adalah set baju petualang paling ringan yang pernah ia pakai.
Srekk... Pintu terbuka.
"Akhirnya kau datang juga." Ravenna melirik ke arah Darren yang muncul dari pintu.
"Darren-sama." Shiro pun langsung beranjak di atas ranjangnya, hendak menghampiri Darren. "Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka-- Ekk!"
Namun Ravenna mendorongnya hingga kembali jatuh ke atas kasur yang empuk. Darren hanya menatap mereka dari pintu sambil seolah diselimuti perasaan dejavu.
"Kau ini sama saja seperti Darren-kun, ya. Tidak bisa kah kalian tenang kalau sedang sakit?" Ucap Ravenna.
"Aku bisa." Dari ranjang sebelah, Tora menyahut. Wajahnya tidak begitu peduli karena sedang fokus dengan buku yang ia baca.
"Kau mah beda. Lebih ke arah aneh. Bukannya beristirahat malah sibuk baca buku."
"Habisnya buku ini sangat menarik."
"Kau masih harus istirahat!"
Darren pun menghampiri mereka. "Kau bagaimana, Shiro?"
Mendengar Darren berbicara kepadanya, Shiro langsung tenang. Ia terduduk di atas kasur dengan setengah kakinya tertutup selimut, kemudian mengangguk sambil menunjukkan senyumnya.
"Ya." Kalimat simpel namun mengandung perasaan bersyukur yang besar di dalamnya.
"Bagus. Tora, kau bagaimana?" Darren menoleh ke sisi seberang kasur, memandang Tora yang masih terpaku pada bukunya.
Pemuda itu hanya mengangkat sebelah tangannya sambil mengacungkan jempol. Sepertinya buku yang ia baca benar-benar menarik hingga membuatnya tak mau melepaskannya.
"Apa ia selalu begitu?" Tanya Ravenna. "Sejak ia bangun, ia tak berhenti membaca."
Darren hanya tersenyum kecil. "Ia memang suka buku. Mungkin lebih tepatnya pengeth yang ada di dalamnya."
"Kutu buku ya. Masuk akal."
Darren pun berpaling. Kini ia ingin membicarakan hal yang penting pada Ravenna.
"Jadi, kenapa kau memintaku ke sini? Kau tidak mengundangku hanya untuk menjenguk Shiro dan Tora, kan?"
Ravenna mengusap wajahnya. "Bagaimana mengatakannya ya. Ini benar-benar buruk. Satu hal buruk terjadi, datang yang lainnya lagi."
"Sebenarnya ada apa?"
"Succubus itu berhasil kabur."
Darren tersentak. Begitu juga dengan Shiro, dan bahkan Tora sampai menjatuhkan bukunya.
"Kabur? Bagaimana bisa?"
Ravenna semakin membenam wajahnya ke dalam telapak tangannya. "Entahlah. Seharusnya itu mustahil. Rantai yang memborgolnya adalah rantai sihir. Seharusnya ia tidak bisa merapal mantra apapun," Ujarnya, "Namun nyatanya, ia berhasil kabur. Hanya menyisakan rantai yang robek bagai kumpulan kertas."
"Apa mungkin ada seorang temannya yang datang membantunya?"
"Mungkin. Tapi Kanrei mengaku tak mendengar apa-apa dari dalam sel. Semuanya begitu tenang, bahkan di tengah sunyinya malam itu."
Darren terduduk di sisi ranjang Shiro, dengan telapak tangan yang mengusap setengah wajahnya. Ia jadi ikut khawatir sekaligus waspada dengan kabar ini. Apa Succubus itu akan kembali menyerangnya? Tapi, apa itu mungkin?
"Bagaimana dengan keadaan artefak itu?" Tanya Darren.
"Waktu dalam Botol? Benda itu masih aman dalam brankas. Aku baru saja mengeceknya," Balas Ravenna. Kemudian ia melanjutkan, "Darren-kun, kau harus cepat pergi menuju Steinfen. Berlama-lama di sini bukanlah hal bagus. Musuh mungkin sudah mengincarmu lagi."
Perkataan Ravenna benar. Semakin lama ia berada di kota ini, semakin besar juga ancaman yang mungkin terjadi. Jika Raja Iblis itu menyerangnya di saat ini juga, maka seisi kota bisa jadi taruhannya. Teman-teman yang ia kenal bisa dalam ancaman.
Darren tiba-tiba teringat perkataan Ravenna tadi. "Tadi kau bilang satu masalah datang masalah lainnya lagi. Apa berarti ini bukan satu-satunya kabar buruk yang kau punya?"
Ravenna menggaruk kepala. "Uhh... sejujurnya aku tidak tahu apa ini kabar buruk atau baik. Tapi keadaannya jadi lebih genting dari biasanya," Ucapnya. "Hal ini menyangkut Akira. Seorang utusan dari Friedlich datang untuk menjenguknya."
Darren mengangkat sebelah alisnya. "Apa hanya itu?"
"Masalahnya, yang menjenguknya bukan orang biasa."
.
.
.