Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Kunci dan Gembok


"Jadi ini markas mereka?" Pikir Darren setelah membuntuti mereka selama beberapa menit.


Markas utama para perampok berada di tepi sebuah tebing pegunungan Erfroren. Di pintu masuk, Darren melihat dua orang penjaga yang membawa senjata berupa pedang.


"Ada kemungkinan kalau di dalam akan ada lebih banyak orang."


Dengan mantra Sneak-nya, Darren berhasil menyelinap melewati kedua penjaga tersebut tanpa ketahuan.


Begitu Darren berhasil masuk. Sesuai dugaannya, disana banyak sekali orang. Para perampok disana terlihat sibuk, membuat Darren bertanya-tanya kenapa.


"Richard, cepat ambil kotak disebelah sana! Kita harus mengirim mereka semua ke Aergium besok pagi!" Teriak salah satu perampok dengan ikat kepala.


"Mereka? Apa yang dimaksud adalah manusia-manusia hewan itu?"


Para perampok beramai-ramai mengangkat sebuah kurungan besi yang tebal keatas gerobak kuda.


"Benarkan dugaanku! Mereka mau menjual manusia hewan!"


Darren harus bergegas. Ia harus cepat mendapatkan kuncinya atau manusia-manusia hewan di rumah itu akan menjadi barang dagangan.


"Dasar manusia tak punya hati."


Masih dibawah efek sihir Sneak, Darren menelusuri beberapa ruangan untuk mencari benda yang ia butuhkan.


"Aha! Ini dia kuncinya!" Darren akhirnya menemukan kuncinya di sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruangan keuangan.


Darren berhasil mengamankan kuncinya. Sekarang ia hanya perlu kelar dari situ tanpa meninggalkan jejak.


"Eh, apa ini?" Tanya Darren saat melihat sebuah berkas-berkas diatas meja. "Lihat dikit gapapalah."


Dengan berhati-hati, Darren memperhatikan semua berkas itu.


"Aergium?" Ucap Darren membaca salah satu tulisannya. "Bukankah Aergium adalah tanah kelahiran Rolf?"


Darren melanjutkan bacaannya. "Disini tertulis bahwa ada seorang penampung. Ia adalah pembeli dari manusia-manusia hewan itu."


"O-oy... K-kenapa berkas-berkasnya gerak-gerak s-sendiri!?" Tiba-tiba seseorang masuk ke ruangan itu.


Darren terkejut. Ia segera melepaskan tangannya dari berkas itu.


Orang itu pun langsung mengambil sebuah pedang yang terpajang di dinding dan mengayun-ayunkannya secara membabi buta ke setiap sudut ruangan.


"Semuanya! Ada penyusup disini!" Teriaknya. "Seseorang baru saja membuka berkas-berkas ini. Dia pasti menggunakan sihir Sneak!"


Seketika semua perampok itu pun menengok dan menjadi waspada. Mereka menajamkan mata mereka dan mulai menggeledah segala tempat.


"Sial. Ini karena aku terlalu kepo. Sekarang aku dalam masalah!" Ucap Darren dalam hati. "Setidaknya aku harus keluar dengan kunci ini."


Darren segera menyelinap melalui celah-celah orang-orang itu dan berhasil melarikan diri.


"Aku berhasil keluar. Kuncinya juga sudah ditangan ku. Sekarang aku hanya perlu ke rumah itu."


Sekembalinya di rumah itu, Darren mengeluarkan kuncinya dari sakunya. Ia menengok sekeliling untuk memastikan bahwa tak ada perampok yang datang.


"Sepertinya aman," Ucap Darren yakin. "Aku harus cepat, sebelum mereka menyadari bahwa kunci mereka telah hilang."


Kreekk... Darren membuka pintu itu perlahan.


Semua manusia hewan di dalam tertegun. Mereka merasa asing dengan wajah Darren. Mereka awalnya berpikir bahwa mereka sudah dijual kepada tuan yang baru lagi.


Ketakutan langsung terpampang di wajah mereka. Mereka gemetar dan putus asa.


Darren melihat wajah mereka dengan rasa iba.


"Sudah sejauh apa penderitaan mereka?" Kata Darren pada dirinya. "Tatapan putus asa yang mereka berikan, dan tubuh mereka yang rapuh dan gemetaran. Mereka pasti sudah melalui neraka yang kejam selama hidup mereka."


"Kalian semua," Ucap Darren, "Aku adalah..."


Sebelum Darren menyelesaikan kalimatnya, seorang manusia hewan memotong kata-katanya.


"Tuan ku, kumohon, berilah anak ini makanan," Ternyata itu adalah manusia hewan perempuan waktu itu. "Ia sudah tidak makan selama seminggu. Ia masih kecil dan ia sekarat."


Anak itu terlihat kurus, seperti tumbuhan yang layu. Tubuhnya gemetaran dan ia merintih kesakitan.


"Ini, cepat berikan kepadanya," Ucap Darren dengan iba.


Perempuan itu langsung mengambilnya dan menyuapi anak itu dengan hati-hati.


Nom... nom... nom... anak itu mulai mengunyah makanannya.


"Jangan lupa minumnya. Nanti ia bisa tersedak," Ucap Darren.


Semua manusia hewan disana tertegun melihat Darren.


Saat Darren memperhatikan anak kecil itu, terlihat sebuah luka di punggungnya. Ternyata itu adalah luka cambuk.


"Berikan anak itu," Ucap Darren.


Lukanya cukup parah. Sepertinya majikan sebelumnya sangat keji. Untuk seukuran anak kecil, dia cukup kuat hingga bisa bertahan dengan luka seperti ini.


"Heal!" Darren pun menyembuhkan luka anak itu hingga tuntas. "Sekarang semuanya baik-baik saja."


"Terimakasih, Tuanku," Ucap perempuan itu. Ia kemudian berlutut di hadapan Darren. "Kau bisa lakukan apapun kepada ku sebagai bayaranku."


Darren sempat tertegun. "Dia... terlalu baik. Padahal anak itu belum tentu punya hubungan apa-apa dengannya."


Darren membalas, "Ehem... kalau soal itu, kita bisa bicarakan nanti," Balasnya, "Untuk sekarang, kalian semua harus keluar dari sini."


Para manusia hewan itu hanya menurut tanpa berkata apa-apa. Hal itu menunjukkan betapa takutnya mereka kepada manusia.


"Padahal aku hanya manusia yang baru mereka lihat," Ucap Darren dalam hati. "Tapi mereka sudah mau menurut begitu saja. Apa mereka tidak punya pendirian?"


"Tidak. Aku yakin itu karena masa lalu mereka yang kelam. Mereka selalu takut kepada manusia."


"Hal itulah yang harus aku ubah!"


Satu-persatu mereka mulai keluar dari rumah tersebut. Saat dihitung, jumlah mereka sekitar tiga puluh lima.


"Ayo cepat. Kita tak punya banyak waktu," Ucap Darren khawatir kalau-kalau para perampok itu kembali.


Twang!!! Sebuah anak panah melayang dan tertancap di tanah, tepat di hadapan Darren.


"Gawat, itu mereka!" Ucap Darren melihat kerumunan orang muncul dari jauh.


"Lihat! Ia kabur membawa mereka! Cepat tangkap mereka semua!" Teriak perampok dengan ikat kepala. "Jika mereka melawan, jangan ragu untuk membunuh mereka!"


Anak panah pun berterbangan.


Dengan cepat Darren mengeluarkan mantranya.


"Earth Elemental: Stone Wall!" Tembok besar pun tercipta diantara Darren dan para perampok itu.


"Kalian, cepat berlindung di belakang ku!" Ucap Darren kepada para manusia hewan.


"Sial. Melawan mereka sebanyak itu takkan mudah. Apalagi mereka adalah perampok yang pastinya punya kemampuan bertarung yang bagus."


"Prioritas ku adalah menyelamatkan para manusia hewan. Takkan ku biarkan mereka berjalan di neraka lagi!"


Darren langsung mengeluarkan mantra pamungkasnya.


"Non-elemental Spell: Weather Modification!"


Seketika, gemuruh petir terdengar sangat keras disegala tempat. Hujan deras mengguyur area situ dengan sangat tebal.


Dalam sekejap saja air mulai menggenangi tempat itu. Membuat sebuah genangan air yang luas.


Para perampok terkejut dengan kejadian itu, tapi mereka tetap melawan.


"Belum cukup juga, ya," Ucap Darren. "Ice Elemental: Proximity Freze!"


Genangan air luas itu pun seketika membeku dan menciptakan lapangan es yang licin.


"S-sihir macam apa ini!?" Ucap para perampok terkejut.


Darren tertawa. "Apa kalian masih mau bermain?" Ucapnya sambil menyeringai. "Jika iya, maka aku akan meladeni kalian!"