
Keesokan harinya...
Kicauan burung terdengar merdu, diselingi bunyi tiupan angin yang lembut. Dedaunan oranye mulai berguguran seperti hujan kemerahan yang indah. Musim gugur sudah di depan mata.
Kalau melihat momen dimana kita berdiri sekarang, kita pasti sudah lupa bahwa sehari yang lalu ada pertumpahan darah yang keji. Namun semua telah berlalu, dan saatnya terus menatap ke depan.
Michael, Riana, dan Katherine berjalan menuju pintu keluar desa di sebelah selatan. Hari ini adalah hari perpisahan mereka. Katherine akan pergi melanjutkan perjalanannya.
Di sepanjang perjalanan, para warga yang lewat menyapa mereka. Para warga kelihatannya sangat sibuk. Sepertinya mereka hendak memperbaiki kerusakan yang timbul karena kejadian kemarin.
"Katherine-san, kenapa tidak menginap semalam lagi?" Ucap Riana dengan kedua tangan yang mendorong kursi roda Michael.
Riana tersenyum sambil menyahut. "Aku sebenarnya ingin. Namun masih ada perjalanan yang harus ku lanjutkan."
Michael mendangakkan wajahnya, melihat ke arah Katherine. "Apa berhubungan dengan Raja Iblis itu?" Ucap Michael menebak.
Katherine mengangguk. "Beberapa hari lalu, aku mendengar kabar tentang aktivitas undead yang aneh di Steinfen," Katanya. "Gosip yang beredar bilang kalau jumlah undead yang berkeliaran sedikit meningkat. Ditambah, banyak sosok undead aneh yang punya kemampuan unik. Aku yakin ini adalah ulah Raja Iblis itu."
"Kemampuan unik? Sepengetahuan ku, Elder Lich dan beberapa jenis undead tingkat atas memang memiliki kemampuan tertentu. Namun jika yang kau bicarakan ini adalah undead kroco, maka sesuatu memang sedang terjadi," Balas Michael.
Katherine menghela nafas. "Aku tidak tahu apa yang direncanakannya dengan makhluk-makhluk busuk itu. Namun aku hanya ingin memberitahu kalian agar waspada. Kita tidak tahu apa kejadian serupa akan terulang."
Setelah berjalan cukup lama, dan beberapa sapaan selamat tinggal dari warga yang berlalu lalang, mereka bertiga tiba di pintu keluar desa. Tak jauh dari sana, mulut hutan bisa dilihat dengan jelas.
"Jadi kita berpisah di sini," Ucap Katherine sambil menatap ke arah hutan yang rimbun. Dedaunan mulai rontok dan melayang di tengah tiupan angin. Memberikan nuansa perpisahan yang epik.
Kemudian ia berbalik menatap mereka berdua. "Ku harap aku bisa menghabiskan lebih banyak waktu di sini. Desa ini sangat nyaman dan ramah."
"Kalau begitu kau bisa berkunjung lain kali," Sahut Riana dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Ya, aku pasti akan mampir kapan-kapan."
"Lalu, kau akan langsung ke Steinfen?" Tanya Michael.
"Benar. Sebagian besar aktivitas yang terjadi berpusat di Steinfen. Aku curiga di sana terdapat sesuatu yang penting bagi rencana Raja Iblis itu," Jawab Katherine.
"Begitu ya. Aneh rasanya aku mengatakan ini, tapi..." Michael menjeda sejenak. Kemudian, "Hati-hati."
Melihat ekspresi Michael, Katherine tertawa kecil. "Apa-apaan raut mu itu."
"Aku masih belum terbiasa mengatakan itu! Aku biasanya mengucapkan: 'Sampai jumpa di akhirat!' saat berpisah dengan pasukan ku. Terlebih aku tidak terbiasa bicara pada iblis."
"Iya iya. Biasakan saja dulu," Balas Katherine sambil menahan tawa. "Riana-chan, jagalah ksatria mu ini. Mulai sekarang, kau adalah pelindungnya."
Mata Riana bercahaya. "Baik!" Ucapnya dengan antusias.
Katherine melambaikan tangan seraya berjalan ke dalam hutan. Riana membalas lambaian tangannya, sementara Michael hanya menatapnya menjauh dalam diam. Katherine pun menghilang di balik bayang-bayang pepohonan hingga akhirnya luput dari pandangan mereka berdua.
Angin mulai bertiup agak kencang. Awan pun mulai berkumpul menutupi sebagian cahaya matahari. Dedaunan juga mulai berterbangan, menghiasi pandangan mereka.
"Anginnya mulai kencang ya. Bagaimana kalau kita kembali?" Ucap Riana pada Michael, yang kemudian disusul dengan sebuah anggukan.
Mereka berdua berjalan kembali ke desa dan tiba di rumah Riana.
"Apa kakak mu tidak ada?" Tanya Michael sambil menoleh ke kiri kanan.
Riana menaruh secangkir teh di hadapan Michael. "Tidak ada. Ia sedang pergi berpatroli seperti biasa."
"Begitu ya," Ucap Michael sambil meneguk sedikit teh-nya.
Dari kursi roda, ia melihat Riana yang sibuk bekerja. Ia menyapu lantai, membersihkan parabotan, hingga mencuci pakaian.
Semua itu dikerjakannya dengan wajah ceria. Berapapun jumlahnya dan betapapun beratnya pekerjaan yang dikerjakan, ia tak sedikitpun menunjukkan wajah letih dan mengeluh.
"Maaf ya Michael-san. Jadi tidak enak kalau bersih-bersih di depan tamu," Ucap Riana sambil menyapu lantai di dekat Michael.
"Tidak apa-apa. Lagian malah aku yang tidak enak karena sudah merepotkan mu selama ini," Balas Michael. "Apa setiap hari kau selalu begini? Ditinggal sendirian dan hanya melakukan pekerjaan rumah."
"Ya. Kedengarannya memang membosankan. Tapi aku punya cara sendiri untuk menikmatinya."
Michael mengepalkan telapak tangannya. Mendengar Riana barusan seakan membangkitkan tekad tersembunyi di dalam dirinya.
"Hidup seperti itu punya sisi menyenangkan?" Ucap Michael lagi.
Riana agak keheranan mendengar Michael, namun ia hanya menjawabnya, "Hmm? Tentu saja ada. Ada perasaan puas tersembunyi yang meluap setiap kali kau menyelesaikan tugas-tugas rumah." Ucapnya. "Eh, tapi bukan berarti pekerjaan lain tidak seru. Hanya saja aku senang mengurus rumah. Michael-san pasti juga pernah merasakannya di kemiliteran, kan?"
Michael mengambil kembali cangkir teh di depannya dan meneguknya. Setelah diteguk hingga habis, ia kembali meletakkan cangkir tersebut, dan kemudian menatap Riana.
"Kemiliteran hanyalah masa lalu ku. Aku ingin meninggalkannya dan memulai sesuatu yang baru," Ucap Michael. "Riana, aku ada satu permintaan."
"Huh?"
.
.
.
Bola api yang besar meluncur dan menghantam sesuatu di sebuah pekarangan rumah. Tumpukan kayu langsung hangus tak tersisa, hanya menyisakan abu yang bahkan begitu rapuh untuk tertiup angin.
"M-Michael-san, sepertinya ini agak berlebihan," Riana tersenyum canggung dengan mata yang berkedut.
Kepulan asap keluar dari telapak tangan Michael. Sepertinya bola api tadi adalah ia penyebabnya.
"Huh, kayu-kayu itu langsung hangus," Ucap Michael menatap ke arah abu hitam di depannya.
"Ya kalau menggunakan sihir sekuat itu pasti hangus. Kita hanya butuh api kecil untuk memasak makan malam," Balas Riana.
Michael memalingkan wajahnya dari kekacauan yang dibuatnya. "Ini terlalu rumit. Apa ada hal lain yang bisa ku lakukan?"
Riana berpikir sejenak. Ia menatap ke langit sambil terus memegangi bibir dengan ujung jarinya.
"Sebenarnya aku ingin jemur pakaian hari ini. Tapi..." Ucapnya sambil melihat awan yang mengepul. "Tidak ada matahari. Di tambah angin cukup kencang. Aku takut pakaiannya takkan kering."
Michael ikut mengarahkan pandangannya ke langit. "Hanya butuh langit cerah, kan? Serahkan pada ku."
"Eh?"
Sebelum Riana menjelaskan apa yang harus dilakukan, Michael telah mengangkat telapak tangannya ke langit dan meneriakkan mantra.
"M-Michael-san, apa yang kau lakukan?" Mata Riana terpelotot.
Michael mencurahkan Mana-nya. "Light Elemental: Heaven's Light!"
Seketika langit terbuka. Awan-awan yang tadinya nampak memenuhi angkasa, sekejap langsung menghilang. Kemudian disusul sebuah cahaya yang menyilaukan turun menerpa mereka.
"M-Michael-san!" Raut Riana langsung berubah jadi panik.
Wooshhh! Angin-angin langsung bertiup kencang di sekitar mereka. Riana mencoba mempertahankan posisinya, namun ia tak bisa melakukan apa-apa selain menutupi matanya dari debu yang berterbangan.
Tak lama kemudian, angin-angin itu berhenti bertiup. Riana membuka matanya perlahan. Wajahnya langsung diterpa cahaya matahari, dan juga beberapa hal mengejutkan lainnya.
"Eh," Matanya langsung tertuju ke arah baju-baju yang berserakan ke mana-mana. Ada yang menyangkut di pagar, di tanah, dan bahkan di atas pohon.
Michael meletakkan tangannya kembali. "Selesai sudah. Aku membuka celah di langit supaya cahaya matahari bisa masuk. Dengan begini jemurannya pasti bisa cepat kering." Ucapnya dengan santai.
Riana tersenyum canggung. "K-Kerja bagus Michael-san. Mungkin lebih baik kita coba hal lain lagi."
Riana pun menuntun Michael ke dapur. Di sana ia meletakkan sebuah daging berukuran besar di atas meja batu yang keras.
"Bagaimana kalau kau memotong daging saja selagi aku akan menjemur baju? Jadi kita bisa hemat waktu," Ujar Riana.
Michael berpikir sejenak. "Ide bagus. Efisiensi memang sangat penting dalam segala hal, bukan hanya dalam militer saja," Sahutnya. "Serahkan ini pada ku."
Riana menghela nafas. Ia hanya bisa berharap Michael tidak berlebihan seperti tadi. Ia mulai berpikir kalau pengalaman Michael dalam militer mungkin membuatnya beraksi berlebihan disegala sesuatu.
"Tapi aku tidak bisa menyalahkannya. Lagian aku di sini untuk mengajarinya cara hidup biasa. Aku harus bisa memaklumi perbuatannya," Batin Riana.
Ia mencoba meyakinkan dirinya untuk tidak mengkhawatirkan Michael. Ia pun menepuk pipinya sendiri sambil perlahan melirik ke arah Michael.
"Tugas memotong seharusnya mudah baginya. Setidaknya seorang tentara pasti pernah menggunakan benda tajam dalam pertarungan. Mereka seharusnya bisa memperkirakan tenaga yang dikeluarkan agar daging yang dipotong bisa terbelah sempurna," Batin Riana lagi.
Kemudian ia menggeleng-geleng wajahnya. "Apa-apaan sih kau Riana. Tidak perlu sekhawatir itu. Ia pasti bisa melakukannya."
Riana menghembuskan nafas. "Kalau begitu, aku tinggal dulu ya, Michael-san. Kalau kau butuh pisau, ada di lemari," Ucap Riana pada Michael seraya berpaling dan pergi.
"Baiklah. Serahkan yang di sini pada ku."
Riana meninggalkan Michael sendirian. Di pekarangan, ia pun mulai memungut pakaian-pakaian yang bertebaran dan menjemurnya di tengah panas mentari yang terik.
Keringat perlahan mengalir ke pangkal dagunya. Tak butuh waktu lama, tangannya pun menggantung baju terakhir hari ini. Pekerjaannya telah selesai.
"Sebaiknya aku segera memeriksa kondisi Michael-san," Riana berjalan kembali ke dalam.
Begitu membuka pintu, mata Riana langsung terpelotot kembali. Banyak noda darah menempel di mana-mana. Juga serpihan batu yang berserakan di lantai. Benar-benar situasi yang kacau.
"A-Apa yang terjadi di sini?"
.
.
.
To be continued...