Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Ratu Erfroren, Tomatsu


Semua ini bermula seribu tahun yang lalu. Di sebuah negeri hijau yang damai nan makmur.


Negeri itu berdiri di atas sebuah pegunungan yang tinggi. Hampir setiap harinya, cahaya matahari selalu menerpa negeri itu tanpa henti kecuali malam. Membuat sebuah musim panas yang panjang dan tak pernah berakhir. Namun itu malah jadi hal bagus bagi mereka.


Negeri itu bernama Erfroren. Kerajaan itu dipimipin oleh seorang wanita muda yang dianggap agung. Ia baik dan murah hati. Selalu mendengarkan apa perkataan rakyatnya dan terkenal akan kebijaksanaannya.


Tapi walau begitu, apabila ia dipaksa bertarung maka ia takkan segan menghabisi musuhnya dengan sekali serang. Dan yang paling membuatnya ditakuti oleh kerajaan lain adalah elemennya.


Ia dijuluki sebagai ratu es karena kemampuannya dalam memanipulasi elemen es dengan begitu handal. Hampir segalanya bisa ia bekukan, tak terkecuali api.


Suatu hari, di hari yang sangat damai seperti biasanya. Sang ratu sedang duduk di balkon kastilnya. Dengan muram ia menatap matahari yang terbenam sambil memikirkan pertanyaan yang mengganggu benaknya.


"Sampai kapan hal ini akan terus berlangsung?" Pertanyaan itu selalu mengganggunya.


Ia tahu, suatu saat nanti ia pasti akan mati. Tahtanya akan diturunkan ke keturunannya. Tapi sampai sekarang, ia masih belum bersuami dan tak punya anak.


Belum lagi ia memikirkan, apakah anaknya bisa memimpin negeri ini. Memimpin suatu negeri bukanlah perkara mudah, apalagi banyak sekali kerajaan-kerajaan lain di luar sana yang terus bersaing.


Semua pertanyaan itu membuatnya frustasi. Saking khawatirnya, ia bahkan sampai jatuh sakit untuk beberapa hari. Salah satu penatua menganjurkannya untuk beristirahat dan pergi ke tempat pelosok di puncak gunung sendirian untuk mencari ketenangan diri. Ia pun menurutinya.


Karena hal itu lah, sesuatu yang buruk terjadi.


Begitu ia kembali turun dari gunung. Ia melihat asap mengepul dari bagian terluar kerajaannya.


"Apa itu? Apa yang terjadi selama aku pergi?" Hanya itu yang bisa ia katakan.


Ia cepat-cepat kembali ke kastil dan menemukan bahwa salah satu wilayahnya telah diserang oleh kerajaan sekitar. Mereka menjarah hasil pertanian dan membunuh semua orang disana.


Saat diselidiki lebih jauh, ternyata itu adalah ulah kerajaan manusia. Tentu saja Ratu menjadi sangat marah. Dengan emosi di kepalanya dan balas dendam di benaknya, ia pergi sendirian menuju kerajaan musuh dan membantai orang-orang disana dengan jumlah yang setimpal.


"Ini demi orang-orang ku!" Teriaknya dengan tombaknya menancap di tumpukan mayat-mayat yang menggunung.


Ia kembali dan membawa kabar gembira kepada semua orang. Sumber daya yang mereka curi telah ia ambil kembali, dan ia sudah membalas dendam mereka. Walau nyawa yang sudah direnggut telah lepas dari genggaman dan tak bisa kembali.


Keesokannya, Ratu menyadari adanya perubahan pada dirinya. Ia merasakan sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang sangat kuat. Sesuatu yang sangat dingin, mengalir dalam aliran darahnya.


Sejak itulah, ia sadar. Dirinya sudah bukan dirinya yang dulu lagi. Sifat aneh yang liar mulai muncul dalam dirinya. Ia menjadi kejam dan suka kekerasan.


Setiap kerajaan-kerajaan terdekat yang memiliki potensi menjadi bahaya bagi Erfroren, langsung ia bantai tanpa ampun. Banyak kerajaan sudah jadi korbannya. Dan jumlah manusia yang terbunuh pun sudah cukup untuk menutupi seisi gunung.


Karena sifatnya yang sangat kejam, orang-orang mulai menjulukinya Raja Iblis. Dan ia sendiri malah senang saat mendengar itu.


Tapi apapun yang terjadi, ia melakukan iti untuk menjaga Erfroren.


Akhirnya ia bisa beristirahat. Tak ada lagi yang mengganggu pikirannya. Ia tak perlu lagi khawatir dengan apa yang akan dihadapi keturunannya, karena semua sudah dalam kendalinya.


Yang masih tersisa sekarang hanya satu. Satu hal yang ia inginkan. Yaitu pasangan hidup.


Sampai suatu ketika. Seorang pria yang elok parasnya, datang ke kerajaan dan melamarnya.


"Ku dengar yang mulia sedang mencari pasangan," Ucapnya begitu tiba dihadapan Tomatsu.


Pria itu tampan dan tutur bahasanya sangat sopan. Seketika, Tomatsu langsung jatuh hati.


Singkat cerita, mereka berdua telah menjalani banyak waktu bersama. Hingga akhirnya tiba waktu dimana pernikahan mereka akan dilangsungkan.


Malam itu, malam sebelum pernikahan mereka. Tomatsu sedang tidur di kamarnya. Ia terus tersenyum walau sedang tidur, menandakan betapa tak sabarnya ia menunggu hari esok.


Tiba-tiba, dari balik bayangan, muncul seseorang dengan pedang panjang. Ia mengangkat pedangnya dan mengayunkannya ke leher Tomatsu yang sedang tertidur pulas.


Tapi keberuntungan berada di pihak Tomatsu. Dengan reflek, Tomatsu langsung tersadar dan menghindar.


Ia membuka matanya lebar-lebar di tengah gelapnya kamar. Dengan sedikit cahaya bulan yang berjalan, wajah orang itu pun mulai kelihatan.


"Kenapa kah harus bangun sih, sayang," Ucap orang itu yang tidak lain adalah calon suaminya.


Tomatsu langsung syok. Ia tak percaya dengan ini semua. Ini semua seperti mimpi buruk baginya.


"S-Sayang..." Ucap Tomatsu dengan syok. "Apa maksud semua ini?"


Pria itu kembali mengangkat pedangnya dan menyerang Tomatsu.


"Akan ku renggut kerajaan ini dari mu!"


Serangan pria itu jelas bukan tandingan bagi Tomatsu. Ia hanya laki-laki biasa yang cuma mengayunkan oedang tanpa strategi.


Jika Tomatsu mau, ia bisa saja membunuhnya di tempat. Tapi, ada perasaan yang mengikat hatinya. Perasaan itu membuatnya tidak bisa melawan.


Jebreett! Darah bercucuran dari perut Tomatsu. Pedang itu telah menancap di tubuhnya dan Pria itu menyeringai di bawah cahaya bulan.


"S-Sayang..." Ucap Tomatsu dengan pasrah. Ia berharap kalau ini hanya mimpi. Ia ingin segera bangun dan melihat calon suaminya di sampingnya, berjalan bersama menuju pelaminan.


Sementara itu, Pria tersebut malah tertawa dibawah penderitaan Tomatsu.


"Wha! Wha! Tak kusangka kalau kau selemah ini," Ucapnya dengan arogan. "Kalau begini, aku bisa menghancurkan kerajaan ini seutuhnya. Akan kubalaskan dendam saudar-saudaraku!"


Begitu mendengar itu, Tomatsu langsung melototkan matanya.


"S-Saudara? Balas dendam? Jangan-jangan..." Tomatsu akhirnya sadar. "Calon suami ku datang dari kerajaan itu."


Ia sempat terdiam memikirkan segalanya. "Jadi, ia memanfaatkan kesempatan ini. Ia memanfaatkan kepercayaan ku. Ia mempermainkan perasaan ku."


Emosi mulai meluap dalam nadinya. Rambutnya langsung memutih, disusul oleh bagian tubuh lainnya. Energi sihir yang kuat pun langsung mengalir dengan hebat di sekitarnya. Bahkan pria itu langsung merasa mual.


"A-Aura yang kuat sekali. Aku harus cepat membelahnya!" Pikir Pria Itu.


Namun, apa yang terjadi selanjutnya berada di luar nalar manusia.


Sebuah badai salju yang sangat besar tiba-tiba muncul dan menyelimuti seluruh area Erfroren dengan luar biasa.


"Akan ku lindungi kerajaan ku dari tangan manusia-manusia seperti mu! Apapun bayarannya!" Teriak Tomatsu.


Badai semakin kuat. Di langit, awan-awan menutupi cahaya bulan dan beberapa atap rumah terlihat terbang terbawa arus angin.


Pria itu tertarik keluar lewat jendela dan kepalanya menghantam batu yang melayang. Kepalanya hancur dan tewas.


Walau ia berhasil membunuh calon suaminya, Tomatsu sudah terbawa banyak emosi. Ia tak bisa menenangkan dirinya sendiri dan alhasil, badai itu menjadi semakin brutal.


Tomatsu akhirnya pingsan dan terlempar ke udara oleh angin.