
Accel mengeluarkan tongkat sihirnya. Tongkat itu tak terbuat dari kayu, melainkan sebuah bahan yang Darren masih belum ketahui. Warnanya sedikit transparan, dan di ujung tongkatnya terdapat batu berwarna biru.
"Biru? Apa dia pengguna sihir air?" Pikir Darren.
Darren juga mulai mengacungkan pedangnya.
"Pastikan kau tepati janji mu setelah ini!" Ucap Darren memperingati.
"Tenang saja. Aku selalu memegang kata-kata ku," Balas Accel yang sudah siap untuk bertindak.
"Waves Cut!" Ucap Accel lagi, meluncurkan serangannya.
Gelombang air yang berbentuk pipih mulai meluncur ke arah Darren dengan kecepatan tinggi.
Darren segera mengeluarkan mantra balasan. "Earth Elemental: Stone W-"
Slash!
Sebelum ia sempat menyelesaikan mantranya, gelombang air itu sudah terlebih dulu melukainya. Tapi Darren masih sempat mengambil kesempatan untuk menghindar walau tidak sepenuhnya luput dari luka.
Darren segera mundur beberapa langkah untuk menjaga jaraknya. Ia melihat tangannya yang terluka dan ia harus cepat mengobatinya.
"Ia bisa mempersingkat rapalan mantra, tanpa harus mengucapkan jenis elemen-nya. Itu membuat setiap serangannya sedikit lebih cepat," Ucap Darren dalam hati.
"Heal!" Darren kemudian mengobati tangannya tanpa melepaskan pengawasannya pada Accel yang sudah bersiap meluncurkan serangan kedua. "Sial, dia menyerang lagi. Aku bahkan belum selesai mengobati tangan ku!"
Accel mengangkat tongkatnya, dan merapal sebuah mantra, "Water Shot!"
Darren langsung bergerak menghindari semua serangannya.
Pew! Pew! Pew! Serangan air yang berbentuk seperti laser dengan tingkat penetrasi yang sangat tinggi, meluncur ke segala arah. Pohon pun bisa dibuatnya berlubang dengan mudah.
Sekali tembak dibagian dada saja, maka Darren bisa mati.
Sementara mereka berdua bertarung, Akira dan pasukannya memperhatikan setiap pergerakan antara dua orang tersebut.
Mereka menyaksikan mereka dengan terkagum-kagum, dan mulai ragu dengan penentuan siapa yang akan menang.
"Jadi sebenarnya, aku di pihak siapa?" Gumam Akira. "Jika memang benar bahwa Esema-kun adalah buronan itu, apakah aku harus menangkapnya?"
"Tapi berkat ia juga lah, kami bisa selamat dari serangan makhluk di pegunungan Erfroren itu. Apakah aku harus benar-benar menangkapnya?"
Darren bergerak kesana kemari tanpa berhenti.
"Ia menyerang tanpa henti. Aku tak punya kesempatan untuk membalas," Gerutu Darren. "Rapalan mantra ku pun jauh lebih lambat dibandingkan dirinya. Aku pasti kalah bila adu sihir dengannya."
Untuk sesaat, Darren mulai kehabisan ide. Tapi ia tersadar, "Tunggu, aku kan punya pedang. Kenapa gak aku gunakan?"
Saat Darren memijak salah satu dahan pohon, ia menggenggam kuat pedangnya. Ia menarik nafas panjang dan merapal sebuah mantra dengan cepat.
"Non-elemental Spell: Speed!"
Swung! Sweng! Ia bergerak dari pohon satu ke yang lain dengan cepat.
Accel yang melihat itu sempat terkejut, tapi kemudian ia tertawa.
"Ha! Ha! Akhirnya kau menunjukkan kekuatan asli mu!" Ucapnya kesenangan.
Darren segera bergerak ke arah Accel dengan kecepatan tinggi. Accel tak tinggal diam. Ia membalas Darren dengan terus menembakkan Water Shot tanpa henti, tapi semuanya meleset.
"Dia sangat cepat!" Ucap Akira saat menyaksikan Darren bergerak. "Accel takkan punya kesempatan untuk melawan."
Darren sudah sangat dekat dengan Accel. Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah memotong tongkat sihirnya. Dengan itu maka ini semua bisa berakhir.
Accel yang masih berdiri di situ pun tersenyum, seakan ia sudah menanti-nanti ini.
"Ultimate Splash!" Ucap Accel dengan cepat.
Sebuah gelombang air dengan tenaga dorong yang kuat, tiba-tiba muncul dan menghempaskan Darren hingga beberapa meter jauhnya.
Darren terlempar hingga menabrak sebuah pohon dengan punggungnya dan tergeletak lemas di tanah.
"Sesuai ekspetasi ku," Ucap Accel. "Kau sangat kuat hingga bisa mengalahkan Michael sekalipun."
Darren berusaha berdiri dengan bertumpu pada pedangnya, tapi tak bisa. Kakinya terkilir, dan punggungnya sakit.
"Apa aku kalah?"
Accel pun menghampiri Darren dengan perlahan. Ia kemudian jongkok dihadapannya sambil mengucapkan sebuah tawaran.
"Kau sangat kuat," Ucapnya. "Sangat disayangkan bila seseorang sekuat dirimu disia-siakan. Bagaimana jika kau bergabung dengan kami?"
"Jika kau bergabung dengan kami, maka kau bisa hidup dengan nyaman. Kau tak perlu mengembara dan melindungi manusia-manusia hewan itu lagi," Sambung Accel. "Kau sangat beruntung bisa mendapat tawaran seperti ini. Banyak orang yang sengaja bergabung dengan akademi militer kerajaan, tapi tetap tidak bisa mendapatkan posisi ini."
Darren terdiam untuk sesaat.
"Jadi, jika aku bergabung denganmu, maka hidupku akan terjamin?" Ucap Darren tiba-tiba.
Accel sedikit terkejut mendengar itu, tapi ia kembali tersenyum. "Ya, benar sekali. Kau bisa hidup nyaman seumur hidupmu," Balas Accel. "Jadi, bagaimana? Apa kau tertarik?"
Darren segera berdiri dan memfokuskan tatapannya pada Accel. Ia menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Accel merasa sangat senang melihatnya. Ia pun membalasnya dengan jabatan tangannya juga.
"Tawaran mu sangat menarik. Dari dulu, hidup terjamin adalah salah satu impian ku. Bida hidup enak tanpa melakukan hal berat, dan membantu orang-orang penting, aku sangat terhormat mendengarnya," Ucap Darren. "Tapi..."
"Tapi... apa?" Ucap Accel.
"Daga Kotowaru!" Balas Darren dengan nada bersemangat.
"Apa yang kau bicarakan!?" Ucap Accel.
"Aku sudah menunggu lama untuk mengatakan ini," Sambung Darren dengan antusias. "Menyelipkan beberapa referensi jojo di dalam kehidupanku adalah salah satu kebiasaan ku. Dan kali ini, aku telah berhasil menolak mu dengan referensi jojo!"
"A-apa? Kau menolak?" Ucap Accel.
Darren segera menajamkan matanya. Dengan tangannya yang masih berjabatan dengan Accel, ia menarik tangan Accel dan menghantamkannya ke pohon dibelakangnya.
Gubrakk!!! Accel berhasil tertipu dengan akting Darren.
"Sebenarnya aku berpura-pura terluka. Terlihat seperti mengalami patah tulang dan putus asa," Ucap Darren. "Tapi, aku masih sehat total!"
Accel yang bagian dahinya sudah berdarah, merasa jengkel karena telah di tipu dengan mudahnya.
"Sialan kau!" Gerutunya.
Ia langsung mengacungkan tongkatnya dan merapal mantra, "Wate-"
Tiba-tiba...
"Non-elemental Spell: Bind!" Ucap Darren dengan sangat cepat.
Grab!!! Accel terikat dengan pohon dibelakangnya. Ia tak bisa bergerak dan terus meronta-ronta.
"Apa ini?" Ucapnya kaget. "Apa ini sihir Bind!? Rapalan mantranya cepat sekali!"
Darren tertawa. "Aku berhasil. Aku lebih cepat darinya," Ucapnya. "Dulu sewaktu aku kecil, aku sering dimarahi orang tua ku karena gaya berbicara ku yang sangat cepat. Mereka bilang bahwa tidak sopan kalau berbicara seperti itu dihadapan orang-orang, jadi aku mulai membiasakan diri ku untuk berbicara lambat."
"Tapi sekarang, tak ku duga kebiasaan buruk lama ku itu akan berguna lagi disini," Sambung Darren.
Accel yang masih terpaku melihat Darren, terus berpikir untuk melepaskan diri. Tapi sihir Bind itu juga mengikat tangannya, hingga ia kesulitan untuk mengambil tongkatnya yang terlempar ke tanah.
"Keparat. Aku tak menyangka kau akan menggunakan cara licik seperti itu," Ucap Accel.
Darren pun menoleh kepadanya. "Aku juga tak menyangka kau akan memanfaatkan Akira untuk menangkap ku," Balas Darren. "Jika tak ada aku waktu itu, maka Akira dan pasukannya bisa-bisa sudah jadi es di dalam jurang Erfroren itu."
Akira dan pasukannya tersentak. Mereka mulai berpikir apa yang dikatakan Darren itu benar.
"Iya, ya. Kalau tak ada dia, kita mungkin sudah mati," Bisik para tentara. "Tega-teganya petinggi Erobernesia menjadikan kita umpan."
"Kalian diamlah!" Teriak Akira pada tentaranya. "Walau Esema-kun yang telah menyelamatkan kita, tapi ia jugalah yang telah membunuh seluruh pasukan Erobernesia. Dia itu pembunuh yang berbahaya! Kita tak bisa membiarkannya berkeliaran bebas!"
Mendengar itu, Darren terkejut.
"Esema-kun, tidak-- Darren! Maafkan aku, tapi aku harus menangkap mu," Ucap Akira kepada Darren.
Darren langsung menegakkan tubuhnya, dan menghadap ke arah Akira. Ia tak ingin melawannya, mengingat jurus spesial yang dimiliki Akira sangatlah berbahaya.
"Aku tak ingin melawan mu, Akira," Ucap Darren.
"Maaf, tapi aku harus," Balas Akira.
Darren menarik nafasnya. Ia tak menyangka akan bertarung dua ronde dalam satu hari ini.
.
.
.
"Kenapa hidupku harus ribet begini?"