
Simson mulai memejamkan matanya.
"Aku akan memotong ruang bagi suara ini. Sampailah kepadanya dan bawalah keselamatan," Ucap Simson dengan mata tertutup.
Tora dan Shiro memperhatikan hal tersebut dengan kagum.
"Apa ini salah satu bentuk sihir kegelapan?" Tanya Tora pada Hain.
"Ya. Simson akan memotong ruang bagi suaranya, hingga suara tersebut akan langsung sampai ke tempat tujuannya," Jawab Hain.
"Jadi simpelnya, ini seperti teleportasi tapi berbentuk suara?" Sahut Shiro.
"Ya, semacam itulah," Sambung Hain. "Namun, dengan metode ini, telepati tersebut hanya akan berlaku satu arah. Sang penerima bisa mendengar suara Simson, tapi tidak bisa membalasnya. Kecuali si penerima mampu menggunakan mantra telepati juga."
Tora dan Shiro menatap ke arah Simson yang sudah terpejam. Mereka hanya berharap pesan ini bisa tersampaikan sebelum sesuatu terjadi pada Darren dan yang lainnya.
"Semoga tersampaikan."
.
.
.
Sementara itu, di Fueno...
Darren sedang mengemasi barang-barangnya di kamar. Dengan kepala yang pusing, ia sesekali melayangkan pandangannya ke tempat yang kosong dan melepaskan apa yang ia sedang lakukan.
"Kepalaku sakit," Ucapnya sambil memegangi luka memar di ubun kepalanya yang entah ia dapat darimana. "Sepertinya aku terbentur sesuatu kemarin. Saat kami mencoba kabur dari kejaran para tentara itu."
Darren menarik nafas panjang dan menghembuskannya. "Huff, tak kusangka aku akan bertemu Michael di sini," Ucapnya dalam hati.
Ia kemudian beranjak dan berjalan menuju jendela kamarnya. Ia menatap refleksi bayangannya di kaca dan merengut dengan wajah penuh keraguan.
Ia melihat sebuah luka memar di dahinya. Saat di pegang, luka itu terasa sedikit perih, namun juga terasa tidak nyata di saat yang bersamaan.
"Entah kenapa, aku merasa ada yang aneh. Seperti, semua ini tidak beres," Batin Darren. "Oke, ayo kita ringkas kejadian kemarin."
"Kemarin, kami dikejar oleh tentara-tentara. Aku cukup yakin kalau itu adalah tentara Erobernesia. Aku bisa tahu karena terlihat dari motif seragam mereka."
"Kami berhasil kabur dan luput dari kejaran mereka. Setelah itu, kami pergi menuju ke toko obat terakhir di luar kota secepat mungkin."
"Namun kami tak menemukan petunjuk apapun tentang penyusup itu. Kami akhirnya pulang dengan tangan hampa."
"Karena kelelahan, Clara memutuskan untuk menyewa penginapan untuk satu malam lagi dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan pulang keesokannya."
Tiba-tiba, kepala Darren jadi terasa pusing. Awalnya ia berpikir itu disebabkan oleh memar di kepalanya. Namun, ternyata bukan.
Darren segera memegangi wajahnya. Matanya sedikit berkedut dan pikirannya tiba-tiba jadi kacau.
"Kenapa ini?" Tanya-nya lagi dalam hati. Ia terus mengelus-elus dahinya sendiri. "Kenapa tiba-tiba kepala ku sakit?"
Darren segera membalikkan wajahnya dari jendela dan berjalan kembali ke tumpukan barang-barangnya.
Ia mencoba melupakan kejadian aneh tadi. Namun semakin ia berusaha melupakannya, rasa pusing itu malah semakin terasa.
Tok... tok... sebuah ketukan pintu mengejutkan Darren. Ia segera membuang wajah deritanya dan bersikap seakan tak terjadi apa-apa.
"Esema, apa kau sudah bangun?" Ternyata itu suara Bagus dari luar.
Darren menyahut. "Ya, aku sudah. Masuklah."
Bagus membuka pintu perlahan dan melihat Darren yang sibuk dengan barang-barangnya. Ia berjalan mendekat dan duduk di dekat tas milik Darren.
"Kau sudah mengemasi semuanya, ya?" Ucap Bagus sambil melirik beberap barang Darren yang menarik.
"Ya, hampir semua. Beberapa masih ada di dalam lemari," Jawab Darren. "Apa kau sudah berkemas juga?"
Bagus membalas, "Sudah. Semua barang-barang sudah ku masukkan dalam tasku."
Bagus kemudian beranjak berdiri dan melanjutkan. "Biar ku bantu kau berkemas."
"Baiklah."
Bagus berjalan ke arah lemari. Ia membuka pintunya dan mengambil barang sebanyak yang tangannya bisa bawa. Lalu, membawanya kembali ke dekat tas Darren.
"Terimakasih, Bagus-san," Ucap Darren.
"Tidak masalah," Balas Bagus singkat.
Bekerjasama bersama Bagus, walau cuma mengemasi barang, membuat Darren merasa semakin akrab dengannya.
Padahal ini pertama kalinya mereka berdua saja. Biasanya selalu ada Clara yang menjadi penghubung di antara mereka.
Tapi, setelah berbicara dengannya walau sebentar, Darren merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama.
Atau mungkin, ini karena fakta bahwa Darren tahu kalau merkea berdua berasal dari dunia yang sama. Sehingga ia merasa tidak sendirian dan lega.
Untuk sejenak, terpintas di benak Darren. "Apa mending aku beritahu saja, ya?" Ucapnya dalam hati.
Tapi ia mengurungkan niatnya karena merasa ini bukan saat yang tepat. Ia berencana mengatakan semuanya pada Bagus setelah konflik ini berakhir.
"Tapi, kapan ini akan berakhir? Setelah pemenang dari perang saudara ini ditentukan? Atau saat aku mencapai tujuan ku untuk bertemu Raja Iblis pemimpin tanah ini?"
Saat Darren bergumam dalam pikirannya, Bagus tiba-tiba memanggil namanya.
"Esema, ada apa?" Ucap Bagus.
"Eh, aku tidak apa-apa. Hanya memikirkan sesuatu saja," Balas Darren.
Bagus menatap Darren sejenak, kemudian melanjutkan. "Baiklah. Ngomong-ngomong, semua barangnya sudah dimasukkan ke tas."
"Oh iya, benar. Aku sampai tidak memperhatikan," Sahut Darren sambil beranjak berdiri. Ia kemudian mengambil tas-nya.
Bagus pun ikut berdiri. "Sejujurnya aku agak kecewa kita tidak menemukan apa-apa," Ucap Bagus tiba-tiba. "Hasil tidak ada, malah kita nyaris tertangkap oleh pasukan itu."
Darren baru sadar kalau yang Bagus bicarakan adalah kejadian kemarin. "Ya, aku juga berpikir begitu," Ucap Darren menyahut.
"Untung saja kita berhasil lolos," Sambung Bagus lagi. "Jadi kita punya sedikit waktu untuk beristirahat."
"Ya, benar. Clara-san juga nampak kelelahan kemarin," Balas Darren. "Tapi ngomong-ngomong, apa Clara-san sudah bangun ya? Biasanya dia yang paling antusias."
"Seharusnya sudah. Bagaimana kalau kita periksa ke kamarnya?" Usul Bagus.
"Ide bagus."
Darren menenteng tas-nya dan mengikuti Bagus menuju kamar Clara. Kamar Clara sendiri terletak tidak jauh dari kamar Darren. Hanya perlu beberapa langkah, dan mereka sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Clara-san, apa kau sudah bangun?" Panggil Darren agak keras, memastikan suaranya bisa mencapai ke dalam kamar.
Terdengar suara sahutan kecil dari balik pintu. "Ya, aku akan segera keluar," Balas Clara.
Beberapa menit kemudian, Clara nampak sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Mereka segera menyusun rencana dan memastikan semua akan berjalan mulus hingga sampai kembali ke markas
Clara mengusulkan untuk mengambil rute yang sama seperti perjalanan mereka sebelumnya saat menuju ke sini. Namun, Bagus menolak usulan itu mentah-mentah.
"Lebih baik kita lewat sini," Ucap Bagus sambil menunjuk ke bagian hijau di peta. "Hutan Pulvis. Hutan yang terletak diantara Kota Fueno dan Kota Cinis."
Clara mengernyitkan matanya. "Cinis? Kau tahu kan kalau kita seharusnya menuju ke arah sebaliknya?"
Bagus mengangguk. "Aku tahu. Tapi, aku juga tahu bagaimana cara pemikiran para tentara itu," Sambungnya. "Mereka pasti sudah menemukan rute yang kita gunakan sebelumnya. Jika kita kembali melalui jalan yang sama, mereka pasti sudah menyiapkan jebakan untuk kita."
Clara mulai berpikir kalau perkataan Bagus ada benarnya.
"Baiklah. Alasan mu dapat dicerna," Ucap Clara. "Ku rasa memang lebih baik mengambil jalan memutar sedikit daripada harus berhadapan dengan para tentara itu."
Setelah memutuskan rute, mereka pun berangkat dan berjalan menuju keluar kota. Lebih tepatnya, menuju hutan Pulvis yang lebat dan rimbun.
Hutan Pulvis merupakan hutan yang terletak di antara dua kota besar Avon, yaitu Fueno dan Cinis. Hutan tersebut memiliki ukuran yang cukup luas. Luasnya bahkan hampir seluar Fueno dan Cinis digabung.
Dulunya, Hutan Pulvis dihuni oleh banyak sekali satwa langka dan juga berbahaya. Namun karena perang puluhan tahun lalu, banyak sekali fauna yang punah.
Karena banyaknya fauna yang menghilang dari tempat itu, mengakibatkan perkembangan tumbuhan yang semakin liar.
Fauna herbivora yang seharusnya menjaga keseimbangan ekosistem, telah meninggalkan tugasnya untuk menahan pertumbuhan flora yang semakin merajalela.
Karena itu, hutan Pulvis pun menjadi semakin rimbun akan pepohonan dan akan selalu bertambah kelebatannya hingga kedepannya.
Kembali ke Darren dan regunya. Mereka nampaknya sudah tiba di mulut pintu masuk hutan.
Darren melayangkan pandangnya dan dipukaukan oleh lebatnya hutan itu.
Pohon-pohon menjulang tinggi. Semak belukar tumbuh di mana-mana. Dan seisi hutan nampak gelap karena hampir sembilan puluh persen cahaya matahari tak mampu menembus rimbunnya dedaunan.
Darren memang terpukau. Namun di saat yang bersamaan, pemandangan spektakuler itu membangkitkan sebagian kecil kenangan buruknya.
"Semuanya, nyalakan obor kalian," Ucap Clara.
Bagus dan Darren pun mengambil sebatang kayu dan memantik ujungnya dengan api. Sementara Clara hanya menggunakan ujung jarinya yang menyala-nyala dengan sihir.
Memasuki hutan, nuansa gelap mulai menyelimuti seisi pandangan. Bahkan dengan obor pun, penglihatan masih tidak terlalu leluasa.
"Bagus, Esema, awasi langkah kalian," Ucap Clara waspada. "Walau hutan ini nampak damai, tetap tak ada jaminan bahaya takkan mengintai."
Mereka berjalan semakin jauh ke dalam hutan. Saat tiba di beberapa titik, mereka akan mengambil arah menyerong hingga membentuk rute memutar.
Whoop... Obor milik Bagus dan Darren tiba-tiba padam.
"Ada apa ini?" Tanya Darren panik.
Clara menyahut. "Tidak apa-apa. Itu hanya anomali elemen api," Ucapnya. "Hutan ini dulunya adalah medan perang. Banyak sekali sihir dilancarkan di sini. Walau perang sudah berlalu puluhan tahun, namun beberapa anomali sihir masih terasa hingga sekarang."
"Oh, jadi seperti nuklir, ya? Walau meledak puluhan tahun lalu, efek negatifnya masih bertahan hingga puluhan tahun kedepan," Batin Darren.
Walau kobaran api pada obor Darren dan Bagus padam, nampaknya itu tak berpengaruh pada api di ujung jari Clara.
Walau apinya kecil, tapi api tersebut tidak terlihat terganggu sama sekali oleh anomali sihir di area itu.
"Tapi, ini masih sangat gelap. Aku tak bisa melihat dengan jelas," Ucap Bagus. "Satu sumber cahaya takkan bisa membantu banyak untuk melihat di dalam kegelapan ini."
"Tidak masalah. Aku akan merapal mantra penglihatan malam," Sahut Darren.
Darren pun merapal mantra penglihatan malam. "Night Vision."
Mereka berjalan semakin jauh lagi ke dalam. Semakin lama, Darren mulai merasakan perasaan merinding. Lehernya berkeringat dan bulu kuduknya berdiri.
Tapi yang ia rasakan bukanlah merinding akan ketakutan, namun karena perasaan tidak enak yang menghantuinya.
"Kenapa rasanya seperti ada yang aneh?" Batin Darren sambil terus berjalan di belakang Clara. "Semua terlihat baik-baik saja. Apa aku hanya merasa parno?"
"Kemunculan Michael kemarin masih membuat bekas di pikiran ku. Sekarang aku malah kepikiran dan sulit membuangnya."
"Aku harus fokus dengan apa yang ada di depan ku. Aku harus kembali ke markas dengan selamat."
Dupp! Tiba-tiba, perasaan pusing kembali menyerang kepala Darren.
"Ghh, kenapa? Kenapa muncul lagi?" Darren segera memegang kepalanya yang pusing tanpa alasan.
Ia memegang kepalanya dengan tangan kiri. Namun tidak sengaja menyentuh memar yang membekas.
"Memar ini. Aku ingat," Ucap Darren dalam hati. "Tengah malam. Aku hampir terbangun. Tapi kembali tidur seketika itu juga."
"Ada orang, menatap ku. Matanya tajam, namun juga lembut. Ketika aku bangun, ia segera menidurkan ku."
"Tidak. Bukan seperti itu. Ia memukul ku seketika. Dan aku pun kembali tergeletak dan pingsan."
Rasa pusing itu menyerang makin kuat. Bahkan lebih kuat dari yang pertama kali.
"Sial. Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Semuanya seakan rabun."
"Kami pernah ke sana. Tunggu-- Apa benar begitu?"
Darren menderita pusing yang berat. Pada beberapa titik, ia bahkan merasa dirinya hampir pingsan. Namun ia kembali tersadar saat tiba-tiba sebuah suara muncul.
Suara yang terdengar familiar. Namun suara itu tidak benar-benar nyata. Melainkan berada di kepala mereka.
"Clara, aku harap kau bisa mendengar ini," Sebuah suara terlintas di kepala Darren.
Terlihat jelas Clara menunjukkan ekspresi yang sama seperti Darren. Ia juga mendengar suara itu.
Begitu mendengarnya, mereka berdua langsung bisa mengenali kalau itu suara Simson. Ia pasti menggunakan telepati jarak jauh untuk mengabarinya sesuatu.
Suara telepati itu berlanjut. "Aku ingin kalian hati-hati. Penyusup itu nampaknya sedang mengincar kalian sekarang," Katanya. "Sebuah kekacauan terjadi di markas, dan itu disebabkan oleh si penyusup. Untungnya, Shiro, Tora, dan Dyland berhasil merendamnya."
Clara mengangguk-angguk paham. "Jadi, penyusup itu sudah tahu rencana kita, ya?" Ucapnya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba, ada suara lain yang menyahut.
"Apa Tora dan Shiro-sama baik-baik saja?"
Clara dan Simson pun terkejut.
"Suara siapa itu?" Ucap Simson terkejut. "Ini kan seharusnya telepati satu arah."
Clara langsung menoleh ke arah Darren yang sedang memejamkan mata.
"Ini aku, Esema," Darren menjawab dalam pikirannya.
"Esema? Itu kau?" Balas Simson. "Tapi, bagaimana bisa?"
"Tak ada waktu untuk hal itu. Yang penting, tolong ceritakan semuanya pada ku," Sambung Darren.
Simson pun tak pikir panjang dan menceritakan semua kejadian di markas. Baik dari bagaimana pertarungan Marvin dan Rosemary, hingga kesimpulan tentang sihir ingatan yang menjadi penyebab utamanya.
"Pokoknya, aku ingin kalian hati-hati," Ucap Simson. "Pelaku mungkin sudah berada di dekat kalian. Dan mungkin sudah bersiap untuk mengeliminasi kalian bertiga."
Darren mengernyitkan alisnya. "Tadi kau bilang, ingatan palsu?"
"Ya. Dia bisa membuatmu merasa mengalami pengalaman yang sebenarnya tidak pernah kau alami," Balas Simson. "Karena itu, sebaiknya kalian jangan melihat sesuatu dari sudut pandang kalian sendiri. Kalian tidak boleh mudah percaya, bahkan dengan diri kalian sendiri."
Ia menerus kan, "Sebaiknya kalian cepat selesaikan misi kalian. Jika kita bisa temukan siapa pelaku sebenarnya maka kita bisa tahu apa tujuan sebenarnya." Setelah pesan singkat itu, Simson menutup saluran telepati dan memutuskan kontak.
Clara menatap Darren dari kejauhan. "Bagaimana kau bisa melakukan itu?" Tanya-nya.
Darren hanya membalas tatapannya. "Aku... tidak tahu."
Clara terlihat tidak puas dengan jawaban Darren. Ia hanya memalingkan wajah seakan tidak lagi peduli.
Darren mengerutkan wajahnya. "Ingatan palsu... ku rasa aku pernah mendengar ini."
Bagus menyahut Darren. "Ada apa, Esema?" Tanya-nya. "Tadi kalian berdua seperti habis mengalami sesuatu."
Darren membalas. "Ya. Simson mengabari kami sesuatu."
"Simson?"
"Ya. Dia menggunakan telepati jarak jauh untuk memberitahu kami tentang keadaan di markas," Sambung Darren. "Keadaan di sana kacau. Namun berhasil di redam oleh Dyland dan yang lain. Aku pun sekalian menanyakan bagaimana keadaan detailnya."
Bagus nampak terkejut. Tapi ia tak membahas hal itu lebih lanjut. Yang ia sisakan hanya menatap Darren dengan tatapan aneh.
Clara juga nampak melakukan hal yang sama. Mereka berdua menatap Darren dengan tatapan yang asing. Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi Darren tak memedulikan hal itu. Ia hanya berfokus dengan "ingatan palsu" yang dikatakan Simson.
"Entah kenapa, tiba-tiba kepala ku mulai aneh." Ucap Darren pada dirinya sendiri. "Rasanya, seperti ada sesuatu yang berkabut."
"Toko obat itu. Kenapa aku merasa tidak nyata," Darren memejamkan matanya.
"Rasanya seperti rabun. Aku tak bisa melihatnya begitu jelas. Aku yakin ingat, tapi juga tidak ingat di saat yang bersamaan."
"Perasaan aneh apa ini? Jangan-jangan--"
Darren segera berjalan kepada Clara dan Bagus.
"Clara-san, Bagus-san, apa kalian merasa ada yang aneh?" Tanya-nya.
Clara dan Bagus hanya mengangkat alis.
"Ya, memang. Aku merasa ada yang aneh," Ucap Clara. "Bagaimana cara mu menggunakan mantra telepati? Apa itu bakat mu?"
Darren menggeleng. "Bukan, bukan itu yang aku bicarakan. Kita bisa bahas itu nanti," Ucapnya. "Maksud mu. Apa kalian merasa ada yang aneh dengan toko obat itu?"
"Maksud mu toko obat yang kita kunjungi kemarin?"
"Ya, itu. Coba kau ingat-ingat bagaimana bentuk toko itu. Bagaimana kita menuju ke sana. Dan bagaimana kita melihatnya."
Clara terdiam sejenak. Ia memejamkan mata dan tiba-tiba rautnya berubah.
"Kepala ku, tiba-tiba pusing," Ucap Clara. Seketika itu juga, ia menyadari sesuatu. "Jangan-jangan, ini--"
Darren mengangguk. "Ya. Kita mungkin sudah berada di telapak tangan musuh," Kata Darren.
Clara hanya menunjukkan wajah terkejut kecil. Darren kemudian melanjutkan.
"Sihir ingatan palsu. Aku rasa ini sihir yang mirip dengan sihir pemberi ingatan," Katanya.
"Aku pernah dengar itu sebelumnya," Sahut Clara.
Darren pun melanjutkan teorinya. "Sebelum aku pergi ke sini, aku pernah diberi transfer ingatan oleh seseorang. Ia adalah pengguna sihir cahaya," Jelasnya. Yang dimaksud di sini adalah pengalamannya bersama Lionna.
"Sihir cahaya?" Clara menatap tajam. "Itu kan sihir yang hanya bisa digunakan oleh manusia."
"Benar sekali," Sambung Darren. "Jika di pikir-pikir, sihir ingatan palsu punya cara kerja yang hampir sama. Bedanya, transfer ingatan hanya akan menjadi sebuah pengetahuan. Tapi mantra ingatan palsu akan menjadi sebuah ingatan akan suatu pengalaman yang tak pernah terjadi, dan meyakinkan korbannya bahwa ia pernah mengalaminya."
Clara memagut dagu. "Masuk akal."
Darren melanjutkan. "Jika sihir transfer ingatan adalah sihir cahaya. Maka kemungkinan, sihir ingatan palsu juga termasuk sihir cahaya," Ucapnya. "Dari pengalaman sejauh ini, aku mulai mengerti sedikit cara kerja sihir cahaya."
"Benarkah? Apa itu?"
"Sihir cahaya adalah sihir yang mengendalikan ingatan. Baik itu mengambil, memberi, melihat, maupun mengubah bentuknya. Tapi ini baru spekulasi ku saja. Karena aku pernah melihat seseorang menggunakan sihir cahaya untuk menciptakan kerusakan," Jelas Darren.
Darren menyambung. "Pokoknya, sekarang kita harus cepat memutuskan langkah ke depannya."
Clara menyahut. "Jadi, apa yang kita lakukan sekarang? Kembali ke kota dan cari toko obat itu, atau kembali ke markas dengan tangan kosong?"
Darren sempat ragu. Jika mereka kembali untuk pergi ke toko obat itu, mereka bisa dalam bahaya yang lebih besar.
Tapi di sisi lain. Kembali ke markas juga hanya akan membuat semuanya sia-sia.
Ia berniat untuk menanyakan pendapat Bagus. Tapi saat ia menoleh, pemuda itu sudah tak ada di sisinya.
"Bagus-san mana?" Tanya Darren spontan.
"Menurut ku bagusan kembali ke kota dan cari identitas musuh," Sahut Clara.
"Bukan, bukan itu maksud ku," Ucap Darren lagi sambil menoleh ke sana-sini. "Bagus-san tidak ada."
Sebelum mereka menyadarinya, sebuah bilah pedang melayang ke arah Darren.
Swoosh!
Darren spontan mengangkat tangannya untuk berlindung. Ia hendak mengeluarkan pedangnya, namun tidak sempat.
Tebasan itu pun berhasil melukai kedua tangan Darren.
"Gahh!" Darren berteriak. Saat ia menoleh ke atas, ia melihat Bagus memegang pedang tersebut.
"Bagus-san, apa yang kau lakukan?" Ucap Darren dengan tatapan syok.
Bagus menggigit bibirnya. Ia tak membalas sepatah kata pun dan langsung meluncurkan serangan ke dua.
Kali ini Darren berhasil mengeluarkan pedang hijaunya. Ia segera menangkis serangan Bagus. Namun karena pergelangan tangannya yang terluka, ia akhirnya terlempar dan tergeletak di tanah.
"Esema!" Clara hendak menolong. Namun, tiba-tiba terdengar suara dari arah lain.
"Non-Elemental Spell: Canceling!"
Mantra itu pun menghapus sihir penglihatan malam pada Clara dan Bagus.
"Sial, aku tak bisa melihat apa-apa," Ucap Clara panik. Ia segera mengeluarkan api kecil di jarinya sebagai pencahayaan, namun sia-sia karena tempat itu terlalu gelap.
Darren merasa punggungnya menghantam sebuah batu. Ia hendak berdiri, namun tubuhnya terasa sakit saat diangkat.
"Sial. Aku tak bisa bergerak."
Tiba-tiba, terdengar suara keramaian dari dalam kegelapan.
"Cepat tangkap mereka!" Suaranya terdengar seperti puluhan pasukan yang bersorak.
Tanah mulai bergetar. Suara tapak kaki mulai bergeming ke seisi hutan yang sunyi.
Darren sekali lagi berusaha berdiri, namun tubuhnya langsung diinjak oleh Bagus.
"Kau diam saja di situ," Ucapnya sambil menatap Darren yang tergeletak. Tatapan matanya seakan menembus kegelapan.
Clara berusaha menyerang balik, namun anomali elemen di hutan itu membuat kekuatannya mengerut. Ia hanya bisa membuat api kecil yang cukup sebagai pencahayaan saja.
"Clara-san, pergilah!" Teriak Darren.
Tanpa basa-basi, Clara langsung pergi tanpa menghiraukan Darren. Ia meninggalkan tempat itu dan berhasil lolos.
"Sial, dia kabur," Ucap salah satu tentara.
"Tidak apa-apa. Cukup satu saja untuk diinterogasi," Sahut Bagus. "Kalian semua, kerja bagus."
Darren hanya bisa menatap penuh frustasi. Ia tak menyangka semua ini.
"Bagus-san, apa kau..." Ucapnya. Lalu dipotong oleh Bagus sendiri.
"Ya, benar sekali. Aku cukup terkejut kau bisa menyadari semuanya, Esema," Ucap Bagus. "Padahal sedikit lagi. Sedikit lagi dan rencana ku akan berhasil. Tapi kau mengacaukan semuanya."
Darren bisa melihat tatapan Bagus yang mulai berubah. Matanya menjadi sedikit sayup dan berkilauan.
"Padahal aku hampir bisa pulang," Sambung Bagus kecil.
"Pulang?" Ucap Darren.
Bagus segera memukul kepala Darren dan membuatnya terpingsan seketika.
Bagus pun menggendong Darren yang terpingsan dan menyerahkannya pada para tentara.
"Bawa dia ke kastil. Biar pendeta suci yang mengurus sisanya."
.
.
.
"Sekarang aku ingat bagaimana aku mendapatkan memar ini."
"Aku terbangun di tengah malam, dan mendapatinya sedang merapal mantra pada ku."
"Lalu ia membuat ku pingsan."