Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Memata-Matai dan diMata-Matai


Beberapa Hari Sebelumnya...


Dunia sedang digemparkan oleh kemunculan Raja Iblis yang menghancurkan Erobernesia hingga ke tanah. Banyak negara yang membentuk aliansi untuk mengantisipasi serangan raja iblis selanjutnya.


Erobernesia yang sudah menjadi korban, meminta bantuan militer pada Friedlich untuk penyelidikan Raja Iblis itu selanjutnya.


Mereka mengadakan sebuah rapat yang dihadiri oleh petinggi-petinggi negara. Semua orang hadir disana hingga memenuhi ruangan yang cukup kecil tersebut.


"Taiji Kuroba, petarung terbaik Erobernesia, telah mati di tangan Raja Iblis itu," Ucap Raja Erobernesia, Axel Davel. "Kita telah kehilangan seorang dengan kemampuan bertarung yang setara dengan seribu orang."


"Sebenarnya apa kemauan raja iblis itu?" Ucap Michael sambil mengerutkan dagunya. "Ia menghancurkan seisi kota tanpa memakan korban sedikit pun."


"Ya, apalagi penyerangan itu terjadi tepat saat kita hendak meluncurkan serangan besar-besaran ke desa manusia hewan itu," Sambung seorang ahli sihir kerajaan bernama Accel.


"Aku merasa bahwa Raja Iblis itu memiliki maksud lain," Ucap Michael. "Apa dia ada hubungannya dengan buronan itu?"


"Masa buronan seperti dia bisa menarik perhatian seorang Raja Iblis? Tidak mungkin," Balas Accel.


"Jangan remehkan buronan itu. Ia bukanlah orang biasa. Bahkan aku yakin, kalau kekuatan buronan itu setara dengan iblis yang asli," Sambung Michael.


"Michael, kau sempat ikut bertarung bersama Taiji kan?" Ucap Raja tiba-tiba.


"Iya, benar."


"Apa Raja Iblis itu mengatakan sesuatu atau semacamnya?"


"Iya, Tuanku. Ia bilang kepadaku: Nyawa mu masih ku ampuni, karena bukan takdir ku untuk membunuh mu." Ucap Michael. Ia sendiri merasa merinding saat mendengar perkataan itu.


"Hanya itu?"


"Iya,Tuanku. Aku telah mengatakan segala yang ku tahu."


Raja merasa tidak puas. Ia ingin mencari Raja Iblis itu dan membunuhnya. Baginya, makhluk kuat seperti itu bisa membahayakan seluruh dunia bila dibiarkan.


"Jika buronan itu memang benar memiliki hubungan dengannya," Sambung Raja, "Aku ingin kalian menangkap dan membawanya kesini."


"Apa ada jejak dari si buronan?" Tanya Raja lagi.


"Ada, yang mulia," Balas Michael. "Sehari sebelum pertempuran itu, Taiji mengatakan pada ku bahwa ia bertemu dengan si buronan."


"Di Hutan Albtraum, ada sebuah desa kecil. Desa berpenghuni yang berisi Lizardmen," Sambung Michael. "Disanalah buronan itu menetap."


Raja menenggakan badannya. Ia merasa tertarik dengan kabar dari Michael.


"Apa dia mencoba membuat aliansi dengan monster?" Tanya Raja


"Sepertinya begitu tuan ku. Pada waktu Taiji bertarung dengannya, banyak Lizardmen yang tiba-tiba muncul mengepungnya. Jika memang benar, maka itu berarti buronan itu memang menciptakan hubungan dengan para monster," Jawab Michael.


"Sebenarnya, seberapa kuat sih buronan itu?" Ucap Accel.


"Bisa di bilang sangat kuat. Ia bahkan bisa meniru sihir cahaya milikku," Sahut Michael.


"Oh, jadi dia bisa meniru sihir, ya? Itu bukan masalah besar," Sambung Accel sambil berdiri dari kursinya. "Serahkan urusan buronan itu padaku. Aku akan menangkapnya."


"Yang mulia," Ucap Accel lagi. "Jika aku boleh meminta tolong, aku ingin pertemuan Friedlich dan Erobernesia dilangsungkan di hutan Albtraum. Dan juga, aku ingin sepertiga dari total seluruh tentara di Erobernesia untuk dikerahkan kesana juga."


"Untuk apa?" Tanya Axel.


"Inilah rencana ku. Jika kita ingin menangkap buronan itu, maka inilah satu-satunya cara."


Axel hanya bisa mengiyakan. Ia kemudian memerintahkan sepertiga dari total militer Erobernesia untuk ikut bersama Accel. Mereka semua bersama-sama berjalan menuju Hutan Albtraum.


"Kau tunggu saja, Darren Aswan!"


.


.


.


Sementara itu, Darren dan pasukan Friedlich berhasil keluar dari Pegunungan. Mereka akhirnya bisa menghirup udara segar nan hangat dan terbebas dari hawa dingin yang selalu menusuk paru-paru.


"Sebenarnya, apa yang kau bicarakan dengan makhluk itu?" Tanya Akira. Yang dimaksudnya adalah Raja Iblis Es, Tomatsu.


"Ah, itu. Aku hanya membuat kesepakatan dengannya," Jawab Darren. "Ia hanya lapar, dan ingin makan. Jadi kuberi saja persediaan makanan ku."


"Hanya begitu saja?" Ucap Akira. "Tapi untungnya, berkat kemampuan bahasa iblis mu, kami jadi selamat dari tangan makhluk itu. Terimakasih ya, Esema-kun."


"Ah, tidak masalah. Lagipula, aku memang berharap agar tidak ada pertarungan waktu itu."


"Iya, itu salah satu alasannya. Tapi ada alasan lain," Ucap Darren. "Ada seorang tokoh terkenal di tempat asalku. Namanya Sun Tzu. Dari bukunya yang ia tulis, ia mengatakan bahwa: Cara terbaik untuk memenangkan perang adalah menang tanpa pertarungan."


"Sun Tzu? Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi sepertinya ia orang yang bijaksana," Balas Akira. "Aku akan merasa sangat terhormat bila bisa bertemu dengannya kapan-kapan."


"Eh... i-iya, tentu saja," Ucap Darren canggung.


"Esema-sama, ku dengar anda telah menyelamatkan nyawa kami. Kami berhutang budi pada anda," Ucap Fak yang tiba-tiba menghampiri Darren.


"Ya, tidak masalah. Ku peringatkan ya, lain kali berhati-hatilah saat berjalan melalui daerah yang belum kau kenali. Jangan terlalu penasaran dan bertindak tanpa pikir panjang," Ucap Darren. "Aku bersyukur kalian semua selamat. Tapi, jika seandainya raja iblis itu tak mudah di bujuk, maka kita tidak akan berada disini sekarang."


"Baiklah, dimengerti!" Balas Fak.


"Baguslah kalau kau paham," Ucap Darren sambil menahan tawa. "Namanya itu loo, bikin salah paham."


Perjalanan mereka sudah mulai memasuki area Hutan Albtraum. Hutan lebat dimana banyak monster kuat berkeliaran.


Darren terus mewaspadai sekitarnya, berharap ia tak bertemu dengan satupun monster yang mungkin mengenalinya.


"Sesuai petunjuk yang diberikan oleh Michael, maka seharusnya lokasi pertemuannya tak jauh dari sini," Ucap Akira.


"Tak jauh dari sini? Apa mereka merencanakan pertemuan itu di hutan?"


Darren merasa khawatir dengan para Lizardmen. Ia pun memutuskan untuk pergi mengeceknya. "Akira, aku ada urusan sebentar, aku harus pergi..." Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, seseorang muncul dari balik bayangan.


"Waves Cut!" Sebuah gelombang air yang tajam meluncur ke arah Darren dengan kecepatan tinggi.


Splashh! Darren melompat dan berhasil menghindarinya.


"Apa-apaan itu? Apa ini serangan?"


"Kau, Accel, kan?" Ucap Akira saat melihat orang itu. "Penyihir dari Erobernesia. Kenapa kau menyerang anggota mu sendiri?"


"Anggota? Apa kau bodoh?" Ucap Accel sambil berjalan mendekati mereka. "Dia itu penyusup. Bisa-bisanya kau di bodohi olehnya."


"Penyusup?" Ucap Akira sambil menoleh ke arah Darren dengan tatapan tidak percaya. "Tidak mungkin. Tapi ia telah menyelamatkan nyawa kami!"


"Aku tak tahu apa yang telah terjadi, tapi ia hanya memperdaya kalian," Sambung Accel lagi. "Dia adalah Darren, si buronan yang telah membunuh banyak pasukan Erobernesia."


Akira dan seluruh tentara Friedlich terkejut. Mereka diam tanpa kata dengan tatapan kekecewaan mereka.


"Sepertinya rencana ku berhasil sempurna," Ucap Accel dalam hati, "Aku memindahkan lokasi pertemuan di dekat Desa Lizardmen, dan mengirim beberapa kabar palsu tentang pertemuan antar negara yang diwakili oleh Michael. Aku tahu kalau ia punya dendam dengan Michael jadi tak salah lagi, kalau orang ini adalah Darren yang sudah terpancing."


"Sebelumnya, aku telah menyandera seluruh Lizardmen di desa, untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu terjadi. Jika ia tak menyerahkan dirinya, maka para Lizardmen itu bisa jadi alat yang bagus."


"Darren Aswan, petualang tingkat perunggu, dan buronan Erobernesia. Perkenalkan, nama ku Accel Ostrogoans, katua Asosiasi Penyihir Erobernesia," Ucap Accel memperkenalkan diri.


Darren yang masih berdiri agak jauh dari situ, segera meletakkan tangannya diatas pedangnya. "Ho, kau sudah tahu, ya?" Ucap Darren. "Apa ini semua hanyalah bagian dari rencana mu?"


"Tepat sekali. Aku senang kau sudah menyadarinya," Balas Accel. "Beberapa meter dari sini, lebih tepatnya di desa Lizardmen, aku telah menyandera seisi desa."


Darren tersentak. Ia segera menggertakan giginya sambil berteriak. "Apa yang kau mau!?"


"Tenang saja. Aku takkan melukai mereka, sebelum aku merasakan betapa kuatnya dirimu," Ucap Accel dengan arogan. "Aku dengar desas-desus di kota, bahwa kekuatan mu sangat luar biasa."


"Lalu?"


"Aku, ingin menantang mu bertarung. Jika kau berhasil mengalahkan ku, maka aku akan melepas semua Lizardmen. Tapi jika kau kalah, maka kau harus menyerah!"


"Bagaimana jika aku menolak?"


"Maka biarkan para Lizardmen itu menangis dalam siksaan."


Darren emosi. Ia tak menyangka akan masuk kedalam jebakan seperti ini. Berarti, selama ini ia hanyalah tikus yang sedang dalam perjalanan menuju perangkap.


"Pilihanku satu-satunya hanya bertarung. Tak ada pilihan lain."


Darren langsung mengeluarkan pedangnya dan mengacungkannya kepada Accel. Dari balik topengnya, terdengar suaranya tertawa.


"Kemarilah! Akan ku buat kau mencicipi kekuatan ku!" Teriak Darren bersemangat.


.


.


.


~Apa yang akan terjadi selanjutnya?~