
Dengan mata kepalanya sendiri, Tora melihat Darren berada di ambang kematian. Succubus itu bentar lagi akan membunuhnya, dan dirinya tak bisa apa-apa.
"Darren-sama!" Teriak Shiro di sampingnya. Ia terdengar sangat histeris.
Tapi dari teriakan itu, terpampang sebuah kebenaran yang mengejutkan bagi Tora. Tubuhnya yang gemetar dan panik, tiba-tiba berhenti. Fakta yang membuat pemikirannya berubah.
"Darren-sama?" Pikir Tora saat mendengarnya. Perhatiannya langsung teralih dan ia melepas pandangannya dari Darren.
"Darren, si buronan itu?" Ucapnya dalam hati.
"Tora! Shiro! Kaburlah!" Teriak Darren, padahal ia sendiri akan mati.
Tora langsung terkejut. Apa dia benar-benar penjahat itu?
Seketika itu juga, dalam hatinya langsung muncul keraguan. Tapi keadaan masih sangat genting, jadi ia tak sempat memikirkan banyak hal. Ia hanya diam tak berkata-kata.
Setelah mereka bertiga selamat dan berhasil dari dungeon itu hidup-hidup, Tora mulai memperhatikan Darren. Ia masih tak percaya dan tak yakin.
"Apa dia Darren yang terkenal itu?" Pikirnya.
"Sekarang semuanya masuk akal. Sewaktu ia pergi bersama rombongan Akira-san, ia pasti punya tujuan di sana. Erobernesia, ya itulah alasannya. Pasti telah terjadi sesuatu."
"Lalu, Tomatsu. Apa dia juga punya hubungan dengan semua ini. Aku cukup yakin dan takut bahwa jawabannya iya."
"Tidak heran kenapa ia bisa begitu tenang berada di dekat Raja Iblis. Ia bahkan bisa mengalahkannya. Aku sekarang yakin."
Sejak itu ia memutuskan untuk menjaga jarak dari Darren.
Selama perjalanan, ia terus memperhatikan Darren dari belakang. Melihat cara Darren berjalan, ia berjalan selayaknya manusia biasa. Ia bahkan bersikap seperti manusia normal.
"Aku yakin ia sebenarnya monster yang menyamar menjadi manusia," Ucapnya dalam hati. "Seorang manusia tidak mungkin membunuh manusia lain dengan mudahnya."
"Sebaiknya aku menjauh darinya. Atau mungkin aku pergi saja? Pikir Tora. "Tidak. Jika aku pergi begitu saja, ia pasti akan menyadarinya. Aku bisa-bisa dalam bahaya."
.
.
.
Tok... tok... tok... Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Tora.
"Tora, apa kau mau makan?" Ternyata itu Darren. "Ini sudah malam loh."
Tora masih berbaring di atas kasur saat mendengar panggilan itu. Tapi ia tidak mau menjawabnya. Ia berpikir kalau ini langkah awal yang bagus untuk menjaga jarak.
Tak lama, terdengar suara ketukan lagi.
Tok, tok, tok, "Tora, apa kau baik-baik saja?" Sambung Darren.
Tora mendekap kepalanya ke bantal. Ia diam, tak bersuara sedikitpun. Berharap Darren pergi meninggalkannya.
"Kebaikan yang bohong," Ucapnya dalam hati. "Kau pikir kau bisa bersikap baik terus seperti itu?"
Setelah itu, terdengar suara langkah kaki Darren menjauh. Ia telah pergi.
Sekarang suasana menjadi hening. Lampu minyak yang agak redup, dengan hawa sedikit hangat yang dihasilkannya. Tora masih memendam wajahnya di bantal.
"Apa yang harus ku lakukan?" Ucap Tora pelan. "Aku harus pergi dari sini. Tapi aku terlalu takut."
"Jika ia tahu aku meragukannya, nasibku mungkin akan sama seperti para tentara itu."
"Padahal ia sangat baik kepada ku. Bahkan tidak pernah ada yang sebaik dia."
"Tidak. Itu pasti jebakan. Ia ingin aku menjadi pengikutnya."
"Tapi, apa kebaikan seperti itu benar-benar kebohongan? Bagaimana jika ia memang baik?"
"Tidak mungkin seorang pembunuh itu baik. Hanya perlu menunggu waktu sampai ia menunjukkan sifat aslinya."
Tora kehabisan akal. Kepalanya pusing dan ia tak mau melakukan apapun. Hari ini benar-benar memberinya banyak luka, baik fisik maupun mental.
"Huff... lebih baik aku menjaga jarak untuk sementara, lalu pergi saat dia lengah."
Tora sudah hampir tertidur saat tiba-tiba suara ketukan kembali terdengar. Seseorang mengetuk pintunya.
Ia hanya diam, berharap itu bukan Darren.
"Tora-kun, apa kau masih bangun?" Dari nada suaranya, itu pasti Shiro. "Kau belum makan kan? Ini, aku bawakan makanan."
Mendengar itu, Tora langsung sadar kalau ia belum makan malam. Perutnya langsung berbunyi dan ia merasa lesu.
Ia beranjak dari kasurnya dan berjalan ke pintu. Ia membukanya dan terlihat Shiro sudah di depan membawa sebungkus makanan. Tapi apa itu? Ada satu benda lain lagi di tangannya.
"Ini," Ucap Shiro sambil menyodorkan makanan. "Langsung dimakan ya. Kalau sudah dingin nanti tidak enak."
Tora menatap makanan di tangannya. Ia berpikir ini pasti Darren yang membelinya.
"Ah, dan ini juga," Shiro menyerahkan benda lain. Sebuah boneka kayu kecil dengan motif yang indah. "Esema-sama yang membelikannya. Aku juga punya satu."
Tora menatap mainan itu. Matanya terasa pusing dan kepalanya terasa berdenyut.
"Sebenarnya apa mau monster itu?"
Tora hanya mengangguk pada Shiro dan tak berbicara panjang. "Terimakasih."
Ia langsung menutup pintu dan pergi ke meja untuk membuka makanannya.
"Kenapa ia sangat baik?" Gumamnya. "Tidak, ini hanya aktingnya saja. Ia pasti punya rencana dibalik semua ini."
"Tapi... selama rencananya tidak buruk, bukankah ia tetap manusia?"
"Tidak! Tidak! Dia bukan manusia. Ingat itu!"
Kruukkk... perut Tora berbunyi.
"Agh, laparnya," Ucapnya sambil memegangi perut. Ia menatap makanan Darren. Tiba-tiba muncul keraguan.
"Apa ini salah satu rencananya? Membuat ku memakan makanan ini, yang mungkin saja sudah terkandung sesuatu di dalamnya."
Sreekk! Ia mengibaskan tangannya dan melempar makanan itu dari meja hingga berceceran di lantai.
"Aku tidak sudi makan makanan yang disediakan monster."
Ia langsung berjalan ke kasur dan tidur. Ia tak mau memikirkan masalah ini sekarang, karena pikirannya masih kacau dan syok.
"Akan ku siapkan pikiran ku untuk besok."