
Darren berlari menapaki jalan utama kota, menuju toko baju yang Sella dan Selly sebutkan sebelumnya. Shiro dan Tomatsu mengikutinya dari belakang, dan mereka tetap mengawasi sekeliling dari bahaya yang mungkin datang.
Mereka akhirnya tiba di depan toko baju itu. Darren segera menanyakan kondisi pada Tomatsu.
"Tomatsu, apa kau bisa merasakan aura Tora di sini?"
Tomatsu menjawab. "Aku bisa merasakannya. Walau sedikit samar, tapi aku yakin kalau ia lewat sini."
Mereka melanjutkan pencarian hingga agak jauh, sampai akhirnya mereka cukup dekat dan bisa melihat bangunan yang sangat besar berdiri di kejauhan.
Bangunan itu sangat megah. Bagian luar dindingnya mengkilap dan beberapa bagian dibangun dengan emas. Dilihat sekilas saja, Darren langsung bisa menebak kalau itu adalah tempat yang mereka tuju.
"Pasti di sana!" Darren menunjuk ke arah kastil itu. "Semuanya ayo cepat!"
.
.
.
"Jadi kau Accel, ahli sihir Erobernesia?" Raja Vertrag, Lionne, melontarkan pertanyaan seraya menyilangkan kakinya di atas kursi takhta.
Accel dan Tora membungkuk hormat sementara Accel menjawab, "Ya, benar sekali yang mulia."
Lionne agak menunjukkan wajah ragu. Ia tidak mendapat kabar bahwa ada utusan Erobernesia datang kepadanya. Bahkan Raja-nya sendiri tidak memberitahu apa-apa.
"Aku sebenarnya agak terkejut melihatmu di sini," Ucap Lionne. "Axel tidak memberitahu ku tentang kedatangan mu. Apa ada urusan mendadak?"
Accel mengangguk. "Benar sekali, tuan ku."
Akhirnya Lionne mulai mendengarkan. "Lalu, apa masalahnya?"
Accel mulai bangkit dari posisi bungkuknya dan mulai membuka mulut. "Saya mendapat kabar bahwa buronan itu ada di sini."
Sekejap mata Lionne langsung terbelalak. "A-Apa!? Bagaimana bisa?"
Accel meneruskan. "Aku telah menyelidiki keberadaannya. Sesuai dari data yang telah ku kumpulkan, aku sangat yakin kalau ia berada di kota ini."
Accel kemudian menunjukkan Tora. "Pemuda di samping ku ini adalah mantan korban dari kriminal itu."
Wajah Tora agak mengernyit saat mendengar itu. Sejujurnya ia sendiri merasa tidak menjadi korban. Ia hanya takut pada Darren dan tak ingin melihatnya lagi.
"Benarkah?" Ucap Lionne meragukan.
Tora mengangguk sopan. "Iya. Aku adalah mantan budaknya, dan aku kabur."
Lionne melipat kedua tangannya dan matanya terpejam. Sungguh tak terduga baginya akan mendengar kabar ini secara tiba-tiba.
"Kita harus melakukan sesuatu," Ucap Lionne dengan tangan dan kaki yang tegang.
"Itulah kenapa aku disini," Accel perlahan maju ke depan.
Lionne membuka matanya satu persatu dan mulai menatap Accel dengan serius. "Apa kau punya rencana?" Tanya-nya. "Dia itu manusia yang sudah membunuh seluruh pasukan sendirian, rencana murah hanya akan membawa kita ke kekalahan."
Accel menyeringai, walau ia sendiri merasa jengkel. "Jangan remehkan aku. Aku tahu rencana yang ampuh untuk membunuhnya."
"Oh ya?"
Accel kemudian menunjuk Tora. "Pemuda ini bersedia untuk menjadi umpan dan menuntunnya kepada kita."
"Lalu?"
"Setelah ia memakan umpan itu, kita hanya perlu menunggu di satu tempat yang sudah di tentukan dan menyergapnya ramai-ramai."
Lionne menarik nafas dan menghembuskannya. Ia berpikir kalau rencana ini terlalu simpel.
"Apa kau yakin?" Tanya-nya. "Sudah ku bilang kalau ia itu manusia yang kuat. Bermodalkan orang banyak saja belum bisa mengamankan kemenangan kita."
Accel meneruskan. "Aku belum selesai," Ucapnya. "Di tempat kita menyergap ia nanti, kita harus persiapkan jebakan yang bisa membuatnya lumpuh."
"Seratus penyihir seharusnya cukup. Kita bisa gunakan mantra Cancelling secara terus menerus padanya dan ia takkan bisa mengeluarkan sihirnya."
"Lalu kita bisa hujani ia dengan anak panah hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya."
Lionne menggeleng tidak setuju. "Maksud mu, aku harus mengerahkan semua pasukan ku?"
"Apa Erobernesia tidak mengirimkan pasukan mereka sendiri untuk ikut berpartisipasi?" Sambungnya dengan nada kesal. "Aku tidak mau semua kerugian ditanggung oleh Vertrag. Erobernesia juga harus ikut mengambil resiko untuk menangkap buronan mereka sendiri!"
Accel menyeringai. "Aku sendiri sudah cukup," Ucapnya arogan. Ia tidak mau Lionne sampai tahu kalau sebenarnya Raja Erobernesia tidak ada sangkut pautnya dalam hal ini.
Seperti yang kita tahu, Accel kehilangan seluruh pasukannya saat hendak menangkap Darren. Sejak kejadian itu, ia sudah tidak punya muka untuk kembali ke Erobernesia dengan tangan kosong.
Ia akhirnya memutuskan untuk memburu Darren sendirian. Ia mencari informasi apapun yang berhubungan dengan Darren dan mulai membuntutinya sejak mereka keluar dari Friedlich.
Kini ia sudah semakin dekat dengan tujuannya, yaitu membawa kepala Darren dalam piring perak dan menyerahkannya pada Axel, Raja Erobernesia.
Walau Raja awalnya memerintahkan untuk menangkap Darren, Accel bisa beralasan kalau Darren melawan balik saat penangkapan dan akhirnya tak punya pilihan selain membunuhnya. Padahal ia hanya dendam saja pada Darren jadi berniat membunuhnya.
Accel pun kembali meneruskan omongannya. "Raja Erobernesia sudah berbaik hati mengirim ku untuk memberitahu mu tentang hal ini. Tapi kau malah meminta lebih," Sambung Accel. "Mungkin lebih baik aku pergi dan membiarkan negara ini hancur di tangan kriminal itu."
Dengan berat akhirnya ia menyetujuinya. "Fuhh... Baiklah." Ucapnya sambil menundukkan kepala lemas.
Accel kembali menyeringai. Semua berjalan sesuai rencananya.
"Bagus. Sekarang yang aku butuhkan adalah seratus penyihir dan tiga ratus pemanah," Ucap Accel. "Kita akan menyergapnya di pintu gerbang kota untuk mengurangi kerusakan apabila pertempuran terjadi. Semua ahli sihir harus bisa menyembunyikan diri mereka sendiri dengan mantra Sneak, dan bersiap tanpa diketahui musuh. Para pemanah bisa bersembunyi di balik pepohonan, semak, atau bahkan di atas tembok untuk presisi yang lebih baik. Pokoknya sembunyikan diri kalian sebaik mungkin dengan jarak yang aman antara target dengan diri kalian sendiri."
Lionne kemudian memotong kalimat Accel. "Lalu, apa kau akan membawa jasadnya sendrian kembali ke Erobernesia?"
"Benar sekali," Jawab Accel. "Aku harus melapor kepada Raja bahwa ancaman negri-- Tidak, ancaman dunia ini sudah musnah."
.
.
.
Setelah pertemuan tadi, Tora dan Accel dipindahkan ke ruangan megah khusus tamu.
"Tora-kun," Teriak Accel sambil menyilangkan kaki di atas sofa. Ia kemudian merogoh kantongnya dan melempar beberapa koin emas ke atas meja. "Aku haus. Tolong belikan aku minum."
"Tapi, Accel-sama, di kastil kan ada pelayan yang bisa--" Sebelum Tora menyelesaikan omongannya, Accel langsung memotong.
"Aku dengar kota ini punya merek anggur paling terkenal. Aku mau anggur itu," Ucapnya.
Tora hanya menatapnya dengan tatapan jengkel. Bisa-bisanya petinggi kerajaan sepertinya bersikap seperti iti.
"Hey, kau dengar tidak!?" Accel berteriak setelah melihat Tora terdiam beberapa detik.
"Y-Ya, maaf Accel-sama." Tora mengambil uang tersebut dan berjalan keluar.
Singkat cerita, Tora sudah mendapatkan anggur yang Accel minta. Sekarang ia hanya perlu kembali secepatnya dan menyerahkan benda ini.
"Hmph... dasar petinggi tak tahu diri. Bisa-bisanya ia beli anggur siang-siang begini. Mentang-mentang ini anggur langka," Gerutu Tora sambil melayangkan pandangannya jauh ke arah kerumunan orang.
"Huh?" Tora tiba-tiba melihat sesuatu yang familiar. Ia menyipitkan matanya dan melihat dengan serius. "Bukannya itu..."
Tiga orang sedang berjalan bersama menuju ke arahnya. Seorang pemuda bersama dua orang perempuan di sampingnya. Ditambah lagi, salah satu perempuan itu mulai menunjuk-nunjuk ke arahnya.
"Itu Tora-kun!" Suaranya cukup terdengar hingga sampai ke telinga Tora.
Begitu mereka sudah mendekat, betapa terkejutnya Tora. Ia sangat kaget sampai lemas dan hampir melepaskan genggamannya dari botol anggur itu.
"I-itu mereka. Itu Darren dan teman-temannya," Mata Tora tak bisa berhenti melotot. "Ini gawat. Mereka sudah melihat ku. Aku tak punya pilihan lain."
Tora segera membuang botol di tangannya dan hendak merapal mantra. Tapi tiba-tiba ia menjadi gemetaran. Tangannya terasa kaku dan hatinya ragu.
"Kenapa ini? Apa aku ragu untuk menyerang Darren?" Batinnya sambil panik. "Tidak-- Aku hanya takut kalau aku akan kalah darinya. Aku pasti akan dibunuhnya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak menduga mereka akan menemukan ku secepat ini."
"Non-Elemental Spell: Spe--" Sebelum Tora merapal mantranya, ia tak sadar kalau Darren sudah berada di depannya. Ia terkejut dan hendak memukulnya agar menjauh, tapi sesuatu yang lain tiba-tiba terjadi.
Grabb!!! Darren memeluk Tora dengan lembut. Wajah Tora langsung berubah seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Sementara Shiro dan Tomatsu berdiri di sampingnya sambil tersenyum haru.
"Tora, kemana saja kau? Aku mengkhawatirkan mu loh," Bisik Darren di telinganya. "Kalau mau pergi bilang-bilang dulu dong."
Tora masih terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Darren mulai melepas pelukannya dan Shiro maju menghampirinya dengan sesuatu di tangannya.
"Tora-kun, jangan sampai kehilangan ini lagi, ya," Ia menyodorkan sebuah boneka kayu kecil yang ia buang beberapa hari lalu.
Tangan Tora bergerak sendiri mengambilnya. Ia menatap boneka itu dan beberapa air mata mulai menetes tanpa disadarinya.
"Untung saja kami mengerti isyarat mu. Kalau kami tak menemukan boneka itu, kami pasti takkan bisa menemukan mu," Sahut Tomatsu. "Esema-kun bahkan begitu bersikeras untuk mencari mu. Ia sangat khawatir."
Tora melirik ke arah Darren. "Benarkah? Sampai sebegitunya?" Gumamnya.
Darren kemudian menarik lengan Tora. "Tora, ayo pulang," Ucap Darren.
Tora menatapnya dengan sayup. Ia tak mengerti apa yang dipikirkan Darren. Apa ini jebakan? Tapi semua ini terasa tidak seperti sebuah jebakan. Kehangatan seperti ini sudah lama tak ia rasakan, tapi ia tahu kalau orang di hadapannya ini tetaplah seorang buronan. Ia bingung harus apa.
"Tidak, Esema-sama," Balas Tora.
"Tidak? Apa maksudmu?"
Tora melepas genggaman tangan Darren. "Sebenarnya ada tempat yang ingin ku kunjungi terlebih dahulu."
"Eh..." Sahut Darren. "Padahal kau bisa ditangkap oleh mereka. Tapi kenapa?"
Tora menjawab. "Ini sangat penting bagiku."
Darren awalnya heran, tapi akhirnya ia berpikir kalau tempat yang Tora tuju mungkin ada hubungannya dengan masa lalunya. Yah, siapa yang bisa melarang orang untuk bernostalgia?
"Baiklah. Tapi aku akan ikut, untuk memastikan mu aman," Ucap Darren.
Tora mengangguk sambil tersenyum sedikit. "Bagus. Kalau begini, penangkapannya bisa jadi lebih cepat," Ucapnya dalam hati. "Aku akan pergi ke kastil dan memberitahu mereka. Lalu rencana ini pasti akan berhasil."