Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Budak-budak yang Beruntung


Persahabatan dua makhluk itu berlangsung hingga bertahun-tahun. Berkat Johan, Remi mendapatkan pandangan baru terhadap manusia.


Remi sadar kalau sikapnya selama ini salah. Ia tak bisa memukul rata semua manusia hanya karena satu pengalaman pahit yang dialaminya.


Tapi setidaknya penyesalan itu perlahan memudar seiring berjalannya waktu yang ia habiskan bersama Johan.


Tapi, persahabatan dua ras tidaklah mudah dilalui. Terlebih lagi dari sudut pandang Remi.


Semenjak pertemuan pertama mereka, Remi dan Johan menetap di Aergium untuk waktu yang lama. Berdua, mereka membangun bisnis kecil yaitu sebagai pedagang anggur.


Tak disangka, Johan cukup berpengalaman dalam berdagang. Ia pandai dalam meneliti anggur yang mereka jual dan juga selalu menetapkan harga yang pas di pasaran, sehingga menarik pelanggan dengan cepat.


Di sisinya, Remi membantu Johan dengan berpikir kalau ini adalah balas budi atas perlakuan Johan yang baik. Ia mendedikasikan hidupnya sebagai budak Johan, tapi Johan menolaknya mentah-mentah.


"Aku tak pernah menganggap mu begitu," Ucap Johan. "Bagiku, kau adalah teman yang bisa dipercaya."


Remi hanya tersenyum walaupun sebenarnya ia tak enak hati. Ia merasa tidak pantas tapi jika itu keinginan Johan maka ia akan menerimanya.


"Baiklah, teman ku," Balas Johan dengan bahasa manusia. Johan telah mengajarinya selama berbulan-bulan.


Tahun berganti, dan keadaan mulai berubah. Bisnis anggur Johan mulai menunjukkan pesonanya di pasar Aergium. Banyak orang membicarakannya dan dengan pesat nama Johan meledak dimana-mana.


Melihat sahabatnya sukses, membuat Remi ikut berbahagia. Terlebih lagi saat ia melihat Johan memulai keluarga dengan perempuan kenalannya di Aergium.


Walau sudah sukses dan punya keluarga sendiri, Johan tidak pernah melupakan bantuan Remi. Ia bahkan menganggap Remi sebagai saudaranya, dan istrinya juga tidak keberatan.


Tapi seperti yang kita tahu, tak ada yang abadi di dunia ini. Itu pun berlaku dalam cerita hidup Remi.


Usia manusia yang singkat dibandingkan iblis seperti dirinya, membuat Remi harus menyaksikan kepergian sahabatnya. Johan meninggal karena usianya yang tua, meninggalkan seorang istri dan seorang anak.


Enam bulan kemudian, istrinya menyusul kepergiannya dan menitipkan anak mereka kepada Remi. Anak itu bernama Rolf. Waktu itu Rolf masih berumur dua belas tahun.


Saat Rolf berusia delapan belas tahun, ia memutuskan untuk menjadi petualang. Itu berarti ia harus meninggalkan bisnis peninggalan ayahnya dan juga keluar dari Aergium untuk mengejar impiannya berkeliling dunia.


Remi awalnya merasa khawatir. Rolf adalah satu-satunya kenangan dari perjuangannya bersama Johan. Ia ingin menahannya, tapi ia juga tak mau membuat Rolf kehilangan impiannya.


Dengan berat Remi melepaskan Rolf. Waktu itu, ia berpikir kalau ini mungkin pilihan terbaik.


Setelah semua orang dari keluarga Johan pergi, kini Remi mencoba mempertahankan usaha anggur Johan agar terus berjalan. Tapi orang-orang mulai menjauh ketika mengetahui kalau bisnis itu sekarang dijalani oleh seorang iblis.


Pada akhirnya, bisnis itu bangkrut. Remi kehilangan segalanya dan ia akhirnya terjerat hutang di sana-sini. Dan ketika ia tak bisa melunasinya, semua benda berharganya mau tidak mau dirampas. Termasuk peninggalan dari Johan.


Kembali jadi iblis yang serabutan, Remi ditangkap oleh para penjual budak dan mengulangi hidup yang sama seperti sebelumnya.


Hingga akhirnya ia berakhir di tangan seorang majikan yang sangat berbeda jauh dengan Johan. Seorang yang keji dan hanya menganggap budak tak lebih dari sekedar barang.


Waktu itu Remi dijebloskan ke dalam kurungan bersama beberapa budak lain. Ras mereka juga bermacam-macam, ada iblis, manusia hewan, dan juga ada beberapa lizardmen.


Tapi ada satu perempuan yang menarik perhatian Remi. Seorang perempuan iblis menyapanya dengan ramah ketika ia masuk ke dalam kurungan itu.


"Kau anak baru, ya?" Ucapnya sambil tersenyum. "Salam kenal, ya. Nama ku Katherine."


Remi hanya sedikit penasaran bagaimana perempuan itu bisa terus tersenyum walau hidup sebagai budak. Apalagi di tangan majikan brengsek seperti ini.


Setelah dibawa ke Vertrag, Remi dijadikan budak pekerja yang bekerja siang malam tanpa digaji. Makanan sedikitpun tidak didapatnya dari hasil kerja itu, dan ia terpaksa mengais ke tempat sampah untuk mengisi perut.


"Ku dengar nama mu Remi, ya?" Katherine muncul dari belakang. Ia melihat Remi yang sedak mengobrak-abrik tong sampah dan memberikan Remi setengah makanannya. "Ini, makanlah."


Remi hanya menatapnya untuk sesaat. Padahal itu makanan satu-satunya, tapi ia mau membaginya. Dan terlebih lagi, ia tak kelihatan sungkan, melainkan memberi dengan senyuman di wajahnya.


"T-Terima kasih," Remi menerima makanan itu.


Mereka berdua makan bersama di gang kecil yang kumuh. Walau itu bukan tempat yang bagus, tapi setidaknya itu lebih tenang dibandingkan di dalam ruangan yang berisik.


"Katherine-san," Panggil Remi sambil melahap makanannya dengan gigitan terakhir. Ia kemudian meneruskan, "Kenapa kau membagi makanan mu dengan ku?"


Katherine menoleh. "Yah, itu karena kau terlihat lapar," Jawabnya.


Remi meneruskan, "Tapi bukannya makanan ini makanan enak? Ini sulit untuk di dapat, dan kau malah membaginya dengan cuma-cuma."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Balas Katherine. "Kalaupun aku ingin mengambilnya lagi, apa kau bisa mengembalikannya?"


Remi terdiam. Makanan itu sudah habis dari tadi. Ia mengira kalau Katherine serius, namun ia merasa lega saat melihat perempuan itu tertawa.


"Sudah, sudah, tidak usah panik. Makan saja. Aku tidak serius kok," Ucap Katherine sambil tersenyum. "Aku juga ikhlas memberikannya."


Remi membalas senyumannya. Senyuman yang terasa sepenuh hati dan tulus. Kapan terakhir kali Remi melihat senyuman seperti itu?


"Aku jadi teringat ibu..." Ucap Remi dalam hati.


"Katherine-san," Panggi Remi lagi.


Katherine menyahut. "Panggil saja aku Katherine. Tidak usah pakai San," Ucapnya.


Remi mengangguk. Ia kemudian meneruskan kalimatnya, "Apa kau mau jadi teman ku?"


Katherine tersenyum dengan lebar. "Tentu saja!"


Bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Remi jadi semakin dekat dengan Katherine. Mereka berdua sering berbagi milik mereka bersama dan saling bertukar perhatian sebagai sesama budak.


Terkadang Katherine membawa teman yang dikenalnya saat bertemu dengan Remi. Ia kadang membawa Sella dan Selly, terkadang ia juga membawa Mia dan Robert.


Sella dan Selly adalah budak yang bekerja dibawah majikan secara langsung. Pekerjaan mereka adalah memuaskan hawa ***** si majikan. Tapi sekarang mereka sudah dibuang karena sang majikan sudah mendapat pengganti baru.


Mia juga sudah dibuang oleh majikannya. Sebelumnya ia bekerja di klub remang-remang dan sering dipaksa melayani pengunjung di sana. Tapi sang majikan menganggap kalau daya pikatnya mulai pudar dan akhirnya dibuang.


Sementara Robert hanya budak yang diperjualbelikan di berbagai tempat. Ia sering berpindah tangan dan hanya sebagai bahan pelampias amarah. Ia selalu dijadikan samsak tinju dan sekujur tubuhnya penuh bekas luka. Ia pun tak kuat dan akhirnya kabur.


Bisa dibilang, semua orang yang dibawa Katherine adalah budak-budak gelandangan yang tidak punya rumah dan kelaparan.


"Aku ingin membantu mereka," Ucap Katherine. Ia dan Remi sedang berdua di gang yang biasanya mereka bertemu.


Remi hanya menunduk. Ia menatap ke tanah dengan perasaan sedih. Tak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya bisa membagi makanan yang ia punya kepada mereka, dan itupun masih kurang dari cukup.


Meminta gaji pada majikan pun mustahil. Bisa-bisa ia dicambuki dan malah terluka. Itu sama saja mencari mati.


Remi jadi bingung. Ia pun berjalan ke sebuah tembok dan menyenderkan punggungnya ke situ. Tapi, tiba-tiba...


Gedubrakk! Tembok yang Remi senderi runtuh dan ia pun jatuh masuk ke dalam. Katherine terkejut dan segera menghampirinya.


"Remi, kau tidak apa-apa?" Ucap Katherine sembari mengecek Remi.


Remi mengangguk pelan sambil agak merintih. Ia tidak mengalami luka yang cukup serius, tapi badannya jadi linu.


"Aduh duh," Ia beranjak berdiri sambil memegangi pinggangnya. "Kok bisa jebol, ya?" Gumamnya.


Katherine menatap keadaan sekitar. "Sepertinya yang kau senderi tadi bukan tembok. Tapi kayu," Ucapnya sambil menunjuk ke arah reruntuhan dinding itu.


Remi dan Katherine melihat ke dalam lubang tembok itu runtuh. Sepertinya itu adalah gedung tua yang tak berpenghuni. Di dalam juga tumbuh beberapa tumbuhan kecil tanda betapa lamanya tempat ini terbengkalai.


"Tak kusangka selama ini kita nongkrong di depan gedung kosong," Ucap Remi sambil melangkahkan kakinya ke dalam gedung.


Ia melirik ke setiap sudut ruangan dan melihat kalau tempat itu cukup nyaman.


"Aha! Katherine, bagaimana kalau kita ajak teman-teman mu tinggal di sini?" Usul Remi. Ide itu terlewat begitu saja di benaknya.


Katherine mengangguk setuju. "Ide bagus!"


Mereka berdua pun masuk ke dalam gedung lebih jauh. Setelah berkeliling cukup lama, mereka akhirnya menyatakan bahwa gedung itu memang kosong. Selain itu, gedung tersebut punya enam lantai. Walau beberapa lantai sudah benar-benar kotor dan terbengkalai.


Satu minggu kemudian, Katherine membawa keempat temannya ke gedung itu. Mia, Robert, Sella dan Selly, dan juga seorang pemuda baru yang dibawa oleh Remi.


"Remi, siapa dia?" Tanya Katherine.


"Namanya Rendi. Ia budak dari Kerajaan," Jawab Remi memperkenalkan Rendi.


Rendi pun membungkuk dengan anggun. Sepertinya ia tahu betul tata krama kerajaan. "Senang bertemu dengan mu, Katherine," Ucapnya. "Aku adalah budak yang dibuang oleh majikan ku. Aku pun putus asa dan tidaj punya tempat tinggal. Tapi secara kebetulan aku bertemu Remi dan ia mengundang ku untuk ikut kemari."


Ia pun menoleh pada Remi. "Aku berhutang budi pada mu, Remi."


Remi menepuk pundaknya. "Santai saja. Lagipula bukan hanya kau kok yang sedang kesulitan."


Setelah itu, mereka semua berkumpul dan memperkenalkan diri masing-masing. Dan sejak saat itu, para budak yang dibuang tinggal di situ.


Rendi juga memperbaiki tembok yang jebol dengan sihir tanahnya. Semuanya di sana terkejut saat melihat Rendi bisa menggunakan sihir. Tapi Rendi bilang kalau itu hanya hal yang ia pelajari selama di kerajaan.


Terkadang, setelah selesai bekerja, Remi dan Katherine mampir ke sana membawakan makanan yang mereka punya untuk dibagikan kepada mereka. Walau sebenarnya mereka sendiri kesulitan.


Mereka jadi akrab dan saling mengenal. Sampai akhirnya Katherine tidak muncul untuk beberapa hari.


"Kemana Katherine?" Gumam Robert.


Mia menjawab. "Iya ya. Ia sudah berapa hari tidak mampir," Ucapnya. "Apa ia sibuk?"


Sella menoleh ke arah Remi yang sedang duduk. "Remi, bukankah kau yang paling dekat dengannya? Apa kau tidak tahu sesuatu?"


Remi menggeleng sambil menghembuskan nafas. "Tidak. Aku juga tidak bertemu dengannya sejak enam hari lalu."


"Apa kita harus mencarinya?" Ucap Selly meneruskan.


Remi berdiri dari kursinya. "Aku akan coba mencarinya," Ucapnya. "Aku pernah ke tempat kerjanya sekali. Mungkin aku bisa coba mencari di sana."


Semuanya mengangguk dan Remi pun pergi.


Begitu Remi tiba di tempat kerja Katherine, ia tak melihatnya sama sekali. Banyak sekali orang berlalu lalang, tapi Katherine tidak terlihat ada di antara mereka.


Remi jadi penasaran sekaligus khawatir. Ia mencoba mencari jauh lebih dalam, tapi ia langsung di usir oleh penjaga di sana.


Remi akhirnya hanya menunggu agak jauh di depan pintu. Berharap melihat Katherine keluar dari pintu itu seperti biasanya.


Tapi setelah lama menunggu, Remi tetap tidak melihat Katherine. Ia mulai gusar dan cemas. Ia mulai mencari ke sekitar tempat itu, berharap kalau Katherine memang sudah keluar dari tadi.


Tiba-tiba...


Kruakk! Remi mendengar sesuatu tak jauh dari situ. Suaranya terdengar dari arah gang kecil di samping tempat kerja Katherine.


Ia cepat-cepat pergi memeriksanya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat apa yang ada di depannya. Seorang wanita dengan pakaian setengah telanjang, tersungkur di antara tumpukan sampah.


Remi segera menghampirinya. Ia tidak tahu siapa yang dihadapannya, dan ia benar-benar hanya berniat untuk membantu.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Remi. Ia melirik ke wajah perempuan itu yang ternyata adalah seseorang yang dikenalnya.


"Katherine!?" Ucap Remi lagi dengan nada terkejut. Ia segera menggendongnya dan menopangnya badannya dengan bahunya. "Apa yang terjadi?"


Katherine hanya diam dan memberikannya tatapan kosong. Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi, dan itu mungkin melukai mentalnya.


"Ayo kita cepat ke gedung," Sambung Remi sambil berjalan menggendongnya.


Semua terkejut saat melihat Katherine dan Remi tiba. Remi segera menurunkan Katherine dari punggungnya dan merebahkannya di atas sebuah alas tipis.


"Katherine? Ada apa ini?" Ucap Mia dengan histeris.


Remi menjawab, "Aku tidak tahu. Aku menemukannya sedang tersungkur di antara tong sampah."


"Apa jangan-jangan ia sudah dibuang majikannya?" Sahut Robert.


"Mungkinkah-- Tapi kenapa?" Ucap Remi.


Tiba-tiba Katherine mengerang. Wajahnya terlihat lesu dan lemah, tapi ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Remi dengan senyuman.


"Terimakasih, Remi," Ucapnya dengan lemah.


Remi dan yang lainnya langsung menoleh dan mereka merasa lega begitu mendengar suaranya.


"Katherine..." Ucap Remi pelan.


Katherine melanjutkan, "Itu benar, aku baru saja dibuang. Karena aku menderita penyakit ini." Ia kemudian menunjukkan bagian perutnya yang mulai mengkerut. Warnanya sedikit pucat dan mengeluarkan aroma aneh.


"Apa ini?" Tanya Remi.


Rendi langsung menyahut begitu melihat penyakit itu. "Aku pernah melihat ini," Ucapnya. "Aku pernah melihat seseorang datang ke kastil dengan penyakit serupa."


"Benarkah?" Ucap Remi.


Rendi mengangguk. "Ya. Ia berhasil di sembuhkan dan kembali sehat seperti sedia kala. Saat ku cari tahu, ternyata itu adalah penyakit langka yang berbahaya. Penyakit itu menyerang organ dalam secara perlahan dan menyakitkan. Jika tidak cepat di obati, maka orang itu pasti akan mati."


Remi langsung berdiri tegak menghadap Rendi dengan wajah penuh harapan. "Apa menurut mu Katherine bisa sembuh?"


Rendi menundukkan wajahnya. "Mungkin bisa, mungkin juga tidak," Jawabnya dengan pesimis. "Kulihat, sihir yang bisa menyembuhkan penyakit itu bukanlah sihir biasa. Melainkan sihir cahaya khusus yang hanya bisa dikuasai oleh orang-orang tertentu."


Remi terlihat kecewa mendengarnya, tapi ia tetap penasaran dengan cerita Rendi.


"Namanya adalah Lionna, putri dari Raja Vertrag, Lionne. Ia adalah perempuan yang menyembuhkan penyakit itu dengan sihirnya. Waktu itu aku adalah pelayannya, dan aku menyaksikannya menggunakan sihir luar biasa itu dengan mata kepala ku sendiri," Sambung Rendi. "Mungkin mustahil bagi kita untuk meminta bantuannya. Kita bisa-bisa malah ditangkap karena berani menginjakkan kaki di kastil."


Remi menyahut, "Apa tidak ada cara lain?"


Rendi menggeleng, "Aku tidak yakin."


Tiba-tiba Katherine menggenggam tangan Remi. "Remi, tidak usah pedulikan aku. Aku baik-baik saja," Ucapnya dengan lembut.


Remi menoleh dengan wajah masam. Ia merasa sedih dan cemas, tapi Katherine masih bisa menunjukkan senyumnya walau di keadaan seperti ini.


"Aku yakin aku akan sembuh beberapa hari lagi. Ini pasti hanya penyakit biasa," Sambung Katherine. "Kau fokuslah pada diri mu sendiri. Jangan biarkan masalah ku mengganggu mu."


Remi sedikit menguraikan air mata. Ia hanya bisa berharap perkataan Katherine benar.


Penyakit Katherine semakin hari semakin parah. Semua orang mulai menyadarinya, terlebih lagi Remi. Ia yang paling sering berinteraksi dengan Katherine di masa-masa sulitnya.


Hampir setiap hari Remi menanyakan keadaannya. Katherine pun hanya membalas dengan senyuman dan menjawab, "Aku tidak apa-apa."


Remi tahu kalau itu bohong. Katherine sebenarnya tidak benar-benar baik. Ia hanya tidak ingin membuat teman-temannya khawatir.


Remi mulai bertanya pada Rendi tentang sihir cahaya itu dan cara mempelajarinya. Tapi Rendi menjelaskan kalau sihir cahaya hanya bisa digunakan oleh manusia.


Remi jadi hilang harapan. Yang ia bisa lakukan hanya menanyakan keadaan Katherine setiap hari. Dan itu tidak membuat keadaan jadi lebih baik.


Bahkan Katherine mulai tidak membalas pertanyaan Remi. Awalnya Remi mengira Katherine kesal karena ia terus menanyakan keadaannya, tapi ia sadar kalau penyakit itu lah yang sudah membuatnya bisu.


Semakin hari, keadaan Katherine semakin memprihatinkan. Setelah kehilangan kemampuannya untuk berbicara, ia juga mulai kehilangan kesadaran penuhnya.


Tatapannya menjadi kosong, ia tak lagi bisa bergerak, dan parahnya lagi, ia mulai kehilangan senyumannya. Itu membuat Remi jadi putus asa.


Namun mulai terdengar berita di Vertrag tentang buronan bernama Darren. Berita itu tersebar luas dengan cepat dan jadi bahan perbincangan di mana-mana.


Bagi orang-orang, berita itu seperti kabar buruk. Buronan yang terkenal karena telah membantai pasukan Erobernesia seorang diri dengan mudah.


Itu menciptakan kegelisahan di hati para manusia. Mereka bahkan mulai berpikir kalau buronan itu bukanlah manusia, melainkan monster yang mempunyai kekuatan setara dengan Raja Iblis.


Karena saking tenarnya, hampir semua orang di Vertrag tahu tentang berita itu. Tak terkecuali para budak, termasuk Remi.


Ia berpikir kalau Darren mungkin punya maksud lain dalam aksinya. Dan juga, itu menumbuhkan harapan dalam hatinya.


"Jika buronan itu bisa membunuh sebegitu banyaknya orang, berarti ia sangat kuat. Mungkin ia bisa menggunakan sihir cahaya juga!" Batin Remi. "Ada harapan! Katherine bisa disembuhkan!"


Remi jadi optimistis. Mulai saat itu, ia selalu memberi semangat pada Katherine yang sudah lemas tak berdaya. Ia percaya kalau Darren bisa menolongnya.


Walau Katherine tidak memberi respon apa-apa, tapi Remi yakin kalau Katherine merasakan hal yang sama seperti dirinya.


Tapi semua tidak berjalan mulus. Beberapa hari kemudian, salah seorang budak dari tempat kerja Remi ada yang kabur. Namanya adalah Tora.


Dia kabur karena takut akan hukuman yang diberikan oleh majikannya. Hukuman cambuk karena ia gagal melindungi barang dagangan si majikan yang dikirim ke Friedlich. Tora dinyatakan menghilang dan tidak lagi ditemukan. Kasus itu pun ditutup.


Sang majikan akhirnya meningkatkan penjagaan pada setiap budak dan akan menghukum mereka yang berani mencoba untuk kabur.


Beberapa minggu kemudian, Remi menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Tapi akhir-akhir ini ia jadi terlalu sering memikirkan keadaan Katherine.


Sehabis bekerja, ia sering menyelinap keluar untuk mencari informasi tentang Darren si buronan. Ia mencarinya dari surat kabar hingga bertanya pada budak-budak dari agensi yang berbeda.


Tapi karena hal itulah, ia ketahuan sering menyelinap keluar dan akhirnya dibawa kehadapan sang majikan. Ia dituduh telah memberikan kesetiaannya pada orang lain dan ia langsung diberikan hukuman di tempat itu.


Kedua tanduknya dipotong. Remi mengerang kesakitan, tapi sang majikan tidak peduli.


"Cepat beri ia kalung budak!" Teriak majikannya pada para bawahannya.


Tapi saat orang-orang itu sibuk mencari kalungnya, Remi menemukan kesempatan dalam keadaan itu. Ia segera bangkit berdiri, melawan rasa sakitnya, dan kabur dari tempat itu.


Sang majikan terkejut dan memerintahkan para bawahannya untuk mengejar.


Pengejaran itu berlangsung sampai keluar dari Vertrag. Remi sengaja kabur keluar kota dan tidak bersembunyi di gedung karena ia tak mau teman-temannya ikut tertangkap.


Dan saat pengejaran itulah, Remi bertemu pahlawannya. Pahlawan yang memberikannya harapan.