
Perjalanan Darren berlanjut. Walau sudah menjauh dari Friedlich, Darren masih khawatir dengan keadaan disana. Ia mungkin sudah pergi, tapi Raja Iblis itu mungkin saja akan mampir ke kerajaan itu untuk mengecek. Darren hanya bisa berharap agar tidak terjadi sesuatu.
Dalam perjalanan mereka, Darren dan teman-temannya seringkali menginap di penginapan kecil di sepanjang jalan. Kebanyakan tidak terlalu mewah dan bagus, tapi menyediakan tempat istirahat yang layak.
Malam ini, Darren sedang berada di sebuah penginapan kecil di sebuah desa yang sangat jauh dari kota. Tempatnya nyaman, tidak banyak suara bising keramaian. Hanya ada suara dedaunan yang bergesek tertiup angin.
Ia sedang berdiri di depan penginapan sambil bersender ke pembatas kayu yang berjejer dari tembok ke tembok. Menatap tanpa arah, dan di matanya terdapat kekosongan.
Di tengah suasana damai itu, pikiran Darren berada di tempat lain. Ia pusing dengan kemungkinan-kemungkinan yang ia pikirkan sejauh ini.
Raja Iblis itu mungkin makhluk yang tanggungjawab atas kehancuran Erobernesia beberapa waktu lalu. Walau tak menimbulkan korban, tapi hal itu benar-benar membuat gempar kerajaan-kerajaan disekitarnya.
Darren tidak mau Friedlich mengalami hal yang sama. Bukan karena tempat itu spesial, melainkan karena tempat itu adalah tempat yang biasa saja. Ia tidak mempunyai dendam pada Friedlich, itulah kenapa ia berpikir akan jadi kerugian bila tempat itu hancur.
Di sisi lain, tidak ada tanda-tanda kemunculan Raja Iblis itu di sini. Ia mungkin belum menemukan Darren, itulah kemungkinan terbaiknya.
Tapi kemungkinan terburuknya. Ia bisa saja sudah menemukan Darren, tapi tetap diam dengan sabar untuk membuat skenario terlebih dahulu.
Sesuai perkataan Tomatsu, Raja Iblis itu sangat kuat. Kata 'Sangat Kuat' bisa berarti kuat dalam fisik, sihir, ataupun strategi. Jika dipikirkan lagi, Raja Iblis itu mengincar manusia-manusia seperti dirinya. Berarti ia memiliki pengetahuan yang lebih jauh tentang Dunia Lain daripada siapa pun di dunia ini.
"Hey, Esema-kun. Sedang melamun, ya," Tomatsu tiba-tiba mengejutkan Darren dari belakang. Ia menepuk pundak Darren.
"Jangan terlalu khawatir. Santai lah sedikit," Sambung Tomatsu. "Yakinlah bahwa Friedlich akan baik-baik saja."
Wajah Darren masih terlihat lesu. Ia sedang tidak mau berbicara, tapi melihat Tomatsu menyemangatinya, rasanya jadi lebih baik.
"Benar apa katamu. Sebaiknya aku lebih santai," Ucap Darren sambil mengubah raut mukanya. Ia sekarang terlihat lebih segar, dan wajahnya terpampang senyuman.
Tomatsu membalas senyumannya. Ia melayangkan pandangannya ke langit berbintang.
"Sudah lama sekali sejak aku melihat bintang-bintang seperti ini," Ucapnya.
Darren menyahut. "Seribu tahun lalu?"
Tomatsu membalas sambil tertawa kecil. "Ya. Rasanya sangat aneh bisa melihat hal ini lagi."
"Kenapa aneh? Bukannya itu bagus?"
Tomatsu tersenyum kecil. "Dulu aku berdiri di atas balkon kastil. Melihat rakyatku hidup dengan damai dan tentram sambil memandangi cahaya bintang-bintang itu."
"Oh," Ucap Darren kecil. Ia tahu kalau Tomatsu sedang mengungkapkan masa lalunya. "Apa kau sangat merindukan mereka?"
Tomatsu mengangguk. "Tentu saja."
Darren paham rasanya saat merindukan sesuatu. Ia dulu hidup di bumi bersama orang tuanya. Kini ia meninggalkan mereka dan takkan bisa melihat wajah mereka berdua lagi.
Dulu hanya orang tuanya lah yang paling mengerti dirinya. Disaat semua orang berpikir dirinya aneh, hanya orang tuanya saja yang paham situasi mental Darren.
"Aku juga selalu merasa demikian," Ucap Darren menyambung. "Orang tua ku. Mereka sedang apa ya di sana?" Gumamnya.
Tomatsu menoleh. "Tentang itu, sebenarnya apa yang membuatmu bisa terkirim ke sini?"
Darren menjawab, "Aku mati tertabrak kereta, dan terbangun di dunia ini."
"Kereta? Apa itu seperti kereta kuda?" Ucap Tomatsu penasaran.
Darren menggeleng. "Fungsinya sama, untuk transportasi. Tapi bentuknya beda jauh," Balas Darren. "Kereta di dunia ku berbentuk seperti gerbong-gerbong kotak yang terikat satu dengan yang lain hingga membentuk ikatan yang panjang."
Tomatsu masih terlihat kebingungan, tapi wajahnya menunjukkan ekspresi penasaran.
"Pokoknya, bentuknya seperti kelabang raksasa yang sangat panjang dan bisa melaju sangat cepat," Sambung Darren lagi.
Wajah Tomatsu langsung cerah. "Dunia mu menjinakkan makhluk seperti itu!? Ternyata orang-orang di dunia mu sangat kuat ya."
Darren hanya tersenyum canggung sambil menggaruk kepala. Mungkin akan lebih baik kalau ia tak melanjutkannya, atau penjelasannya malah akan jadi ruwet.
"Ngomong-ngomong, apa orang tua mu tahu kalau kau sudah meninggal?" Sambung Tomatsu.
"Sepertinya sudah. Walau aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan," Jawab Darren. "Aku bahkan belum sempat mengucapkan kata-kata terakhir ku."
"Andaikan aku mati dengan cara lain. Kematian yang tidak tragis. Mungkin aku masih punya sedikit waktu untuk berbicara dengan mereka," Sambung Darren. "Kira-kira ekspresi apa yang terpampang di wajah mereka, ya? Apa mereka sedih? Atau malah senang karena satu beban di pundak mereka telah lepas?"
"Beban?"
Darren langsung terkejut. Ia tak sadar kalau sudah bicara terlalu banyak.
"Bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan sesuatu," Ucap Darren sambil tersenyum sedikit. Ia tak mau Tomatsu melihat wajah muramnya.
"Sudahlah, ini sudah malam. Lebih baik kau tidur sana," Ucap Tomatsu sambil berpaling. Ia sepertinya paham kalau pembicaraan ini sudah merusak suasana hati Darren.
Ia berjalan kembali ke kamarnya, sementara Darren masih diam di tempat tanpa bergerak sedikitpun. Darren tidak berencana untuk tidur sekarang. Pikirannya masih terasa berat, dan ia tak bisa menikmati istirahatnya.
"Huff..." Darren menghembuskan nafasnya dengan malas. "Sepertinya perkataan Tomatsu ada benarnya. Aku tidak harus begitu khawatir. Lagipula, aku cukup yakin Akira punya rencana soal ini."
.
.
.
"Achoo!" Akira tiba-tiba bersin tanpa sebab.
"Ada apa, Kapten?" Tanya Fak di sampingnya. "Apa kau pilek?"
Akira menggeleng sambil mengusap hidungnya. "Tidak. Kurasa ini cuma bersin biasa," Balasnya. Ia kemudian kembali ke pekerjaannya.
"Jangan lupa, siapkan pasukan lebih di gerbang kota Veronheim," Perintahnya pada Fak. "Awasi setiap pergerakan yang mencurigakan, terlebih lagi dari arah Erfroren. Akhir-akhir ini, pegunungan itu membawa banyak sekali masalah."
Fak menegakkan badan sambil menjawab keras. "Siap, Kapten!" Ia kemudian berbalik dan keluar dari ruangan Akira, meninggalkannya sendirian.
"Huff... sungguh mendebarkan," Ucapnya pelan sambil merebahkan badan di kursi. "Ku harap apa yang ditakutkan Esema-kun tidak benar-benar terjadi."
Akira menatap jauh keluar melalui jendela. Ia melihat bintang-bintang di langit yang bertebaran begitu indah.
"Yang lebih penting, semoga Esema-kun baik-baik saja," Sambungnya.
.
.
.
"Hwaachooo!" Darren tiba-tiba bersin dengan kecang saat hendak membuka pintu kamarnya. Bersinnya cukup keras hingga membuat Shiro keluar dari kamarnya sendiri untuk mengecek.
"Esema-sama, ada apa?" Tanya-nya sambil langsung menghampiri Darren. "Apa kau sakit? Aku bisa merawat mu."
Darren menyeka hidungnya yang berair. "Ah, tidak apa-apa. Angin malam ini hanya membuatku sedikit kedinginan."
Shiro menatapnya dengan tatapan tidak puas. Setiap kali ia menanyakan keadaan Darren, ia selalu menjawab 'Ya, aku tidak apa-apa', atau 'Aku baik-baik saja'.
Hal itu kadang membuat Shiro berpikir kalau Darren selalu menyembunyikan masalahnya sendiri.
"Jangan ragu untuk mengatakan sebenarnya kepadaku, Esema-sama. Aku siap melayani mu kapan saja," Ucap Shiro sambil menatap Darren dengan serius.
Darren tersenyum kecil. Ia kemudian mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas kepala Shiro. Perlahan tangannya mulai bergerak ke kiri kanan, mengusap rambut Shiro dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa, Shiro. Aku serius," Ucapnya sambil terus menggerakkan tangannya. "Terimakasih ya, sudah mengkhawatirkan ku."
Shiro tersipu malu. Pipinya memerah. Ia merasa sangat senang, baik karena ucapan terimakasih Darren ataupun usapan rambut yang diberikannya.
"Darren-sama..." Ucapnya pelan sambil terus memerah.
"Ya, ada apa?" Balas Darren.
"Aku ingin terus di elus," Ucapnya lagi.
Shiro langsung mengangkat wajahnya. Senyuman lebar langsung terpampang di wajahnya. Ekspresi itu menunjukkan tanda terimakasih yang besar dari seorang manusia hewan.
Tak kama kemudian, awan mulai mengepul di langit. Bintang-bintang yang tadinya bersinar terang di angkasa, mulai tertutup bayang-bayang awan yang tebal.
"Sepertinya mau hujan," Darren melayangkan pandangannya ke langit yang gelap. "Sebaiknya kau cepat kembali ke kamar mu dan tidur. Besok kita akan lanjut pergi," Ucapnya pada Shiro.
Saat Darren melepaskan tangannya dari kepala Shiro dan hendak berbalik ke kamarnya. Tiba-tiba Shiro kembali meraih tangan Darren. Ia menggenggamnya dengan erat, seakan tidak ingin tangan itu melepasnya.
Darren sedikit terkejut. Ia kembali menoleh kepada Shiro, dan melihat wajahnya yang murung.
"Ada apa, Shiro?" Tanya-nya.
Shiro menatapnya. Sesaat keadaan menjadi hening, sampai kemudian Shiro menjawab.
"Izinkan aku tidur bersama mu, Darren-sama."
Seketika petir langsung berdentum keras. Hujan deras langsung turun dan angin malam yang dingin bertiup kencang.
Darren melotot kaget. Ia terkejut dengan apa yang barusan didengarnya dari mulut Shiro.
Untuk sesaat, Darren terdiam tak menjawab. Matanya terus terarah kepada Shiro yang seakan berharap padanya.
"Baiklah," Jawab Darren. "Kau akan tidur di kasur dan aku tidur di lant--"
Sebelum Darren menuntaskan kalimatnya, Shiro langsung memotong. "Tidak! Aku ingin tidur bersama mu," Ucapnya keras. "Selama ini, aku selalu merasa tidak diperlakukan seharusnya. Aku ini budak, tapi kau selalu memanjakan ku."
Shiro langsung menundukkan wajahnya. Ia perlu keberanian besar untuk bicara seperti itu di depan Darren.
"Sejak hari pertama, kau bahkan tidak menyentuh ku sama sekali. Kau bersikap seakan aku ini teman mu atau semacamnya. Tapi aku ini tetaplah seorang budak," Sambung Shiro. "Setidaknya, biarkan aku melayani mu sekali saja. Agar perasaan berat di hatiku ini hilang."
Darren terdiam. Ia menatap Shiro yang sedang menunduk tanpa melirik sedikitpun. Perkataan itu benar-benar keluar dari dalam hatinya.
Mengetahui hal ini, Darren jadi merasa sedikit kesal. Apa semua manusia hewan memang memiliki pemikiran seperti itu? Apa mereka tidak mau dianggap setara dengan manusia lainnya? Tidak-- Lebih tepatnya, mereka sudah terbiasa diperlakukan seperti budak dan menerima takdir mereka begitu saja.
Sementara keadaan menjadi canggung, hujan semakin lama semakin deras. Petir terlihat menyambar dan membuat suara keras yang menggelegar.
Kini, Darren dan Shiro masih berdiri di depan pintu kamar Darren.
"Sudahlah, masuk saja dulu ke kamar. Di sini sangat dingin. Aku tidak mau kau kedinginan," Ucap Darren pelan.
Mereka berdua masuk ke kamar Darren. Sekarang mereka baru sadar kalau pakaian mereka sedikit basah karena cipratan air hujan yang terbawa angin.
Shiro terlihat jelas sedang menggigil kedinginan, tapi ia berusaha menahannya. Sementara Darren sedang mengeringkan dirinya sendiri dengan sihir api.
"Shiro, apa kau mau?" Darren menyodorkan telapak tangannya yang menghantarkan hawa panas. "Jangan menahannya. Tak usah ragu."
Tiba-tiba Shiro langsung membuka pakaiannya di depan Darren. Sontak Darren terkejut. Ia langsung menutup matanya sendiri dengan talapak tangannya dan berbalik menghadap tembok.
"Shiro, apa yang kau lakukan!?" Ucap Darren dengan nada panik. "Kenakan kembali pakaian mu, cepat!"
"Tapi, Darren-sama. Bukankah kau yang menawariku?" Balas Shiro. "Kau bilang jangan menahannya, dan jangan ragu."
"Bukan itu maksud ku! Aku maksud, apakah kau ingin mengeringkan pakaian mu."
Setelah mendengar itu, wajah Shiro langsung merah. Sangat merah hingga membuatnya serasa ingin pingsan. Ia sangat malu dengan kesalahpahamannya.
"Cepat kenakan kembali pakaian mu!" Ucap Darren.
Shiro dengan cepat mengenakan pakaiannya kembali. Ia langsung membuang muka dari Darren karena malu.
"Maafkan aku, Darren-sama," Ucapnya sambil menggenggam jari. "Betapa bodohnya aku!"
Darren perlahan membalikkan wajahnya dari tembok, memastikan Shiro sudah berpakaian. Ia kemudian melihat Shiro yang terus menggenggam jarinya sendiri. Ia sepertinya merasa bersalah.
Ia menghampiri Shiro dan meletakkan tangannya di atas rambut Shiro dengan lembut. Walau ia sendiri merasa agak canggung setelah melihat hal tadi.
"Tidak usah merasa bersalah begitu," Ucapnya. "Ini salah ku juga karena tidak bilang dengan jelas."
Shiro masih menundukkan kepalanya, sampai tangan Darren perlahan mengelus rambutnya dengan lembut.
"Lupakan saja tentang hal tadi," Ucap Darren. "Aku tidak menyalahkan mu, kok."
Kepala Shiro perlahan terangkat. Ia menoleh dan melihat Darren yang sudah tersenyum di dekatnya. Rambutnya terasa acak-acakan karena usapan Darren, tapi ia menyukainya.
"Kenapa? Kenapa kau selalu bersikap baik, Darren-sama?"
Dengan pelan Shiro membuka mulutnya, mengulangi pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Darren-sama, apa kau mau tidur bersama ku?"
Darren masih terus mengelus kepalanya. Shiro meliriknya, berharap pertanyaan ini tidak mengusik Darren. Tapi, wajah Darren terlihat cerah. Ia tak marah ataupun terganggu. Ia bahkan tersenyum lembut dan masih terus mengusap kepala Shiro dengan halus.
Tatapan Darren berubah, mengarah ke arah Shiro. Kini mata mereka berdua saling bertukar pandang.
"Apa ini saatnya? Apa ia akan menerimanya?" Pikir Shiro.
Tak lama kemudian...
"Tidak," Jawab Darren sambil tersenyum. "Aku tidak mau."
Shiro terkejut dengan jawabnya itu. "Kenapa? Apa aku tidak terlihat memuaskan bagi mu, Darren-sama?"
Darren membalas kembali. "Bukan, bukan karena itu," Ucapnya. "Aku hanya berpikir kalau kau tidak seharusnya memberi tubuh mu dengan mudah seperti itu."
Shiro memiringkan kepala. Ia tak paham dengan ucap Darren.
"Tubuh mu adalah milik mu sendiri, penentuan harga diri dan masa depanmu," Sambung Darren. "Jangan berikan tubuhmu kepada orang lain semudah itu. Bahkan jika kau seorang budak."
"Lagipula, apa gunanya jika kau berhubungan seperti itu bila kau tidak mencintai lawan main mu," Ucap Darren lagi. "Lebih baik kau simpan tubuh itu untuk seseorang yang kau cintai."
Shiro membuka matanya lebar-lebar. Raut wajah Darren yang begitu cerah sembari menjelaskan hal itu, terasa menenangkan bagi Shiro.
"Tapi, Darren-sama--" Ucap Shiro.
"Sudah, hentikan. Aku memang majikan mu, tapi aku tidak mau melakukan hal-hal semacam itu," Ucap Darren memotong. "Aku ini bukan laki-laki yang suka mengambil kesempatan seperti itu tahu."
Darren berjalan pelan menuju kasur. Ia kemudian menatap Shiro yang masih duduk di lantai.
"Jika kau ingin melayani ku, maka tidur lah di lantai," Ucap Darren sambil merebahkan badannya di kasur.
Shiro langsung berdiri dan mengangguk. "Baiklah, Darren-sama."
Hari semakin malam dan hujan tak kunjung henti. Bahkan suara petir semakin sering terdengar sepanjang malam.
Shiro sudah tertidur di lantai dengan lelap. Berbantalkan tangan yang dilipat dibawah kepala, Shiro tidur sambil meringkul.
Sementara Darren masih terbangun di malam itu. Ia terkadang melirik Shiro yang tertidur pulas untuk memastikan keadaannya. Ia sendiri merasa tidak enak membiarkannya tidur di lantai.
"Aku tahu rasanya. Merasa tidak layak ketika bersama seseorang.
"Terkadang, saat perasaan itu datang, hati akan merasa sangat gelisah dan berat."
"Di saat seperti itu, terkadang memberi hukuman pada diri sendiri adalah obat yang paling manjur."
Darren memiringkan kepalanya. Sekarang ia bisa melihat wajah Shiro yang meringkul di lantai.
"Maafkan aku Shiro. Tapi hanya ini yang bisa ku lakukan. Ku harap, perasaan gelisah itu bisa hilang dari hatimu."
.
.
.