
"Kamu ini ngomong apaan sih?!" Darren melompat kaget dengan wajah terkejut.
Ronald tersipu dengan wajah putih pucatnya. "Sebenarnya, aku telah lama menyukai Shiro-chan."
"Sejak kapan?!"
"Sejak pandangan pertama di kelas."
"Itu baru kemarin!"
Darren melipat tangan sambil terus-terusan memijat pangkal kelopak matanya.
"Kamu suka dengan Shiro?" tanya Darren lagi. Kali ini dengan nada serius.
Ronald mengangguk. "Benar. Aku menyukainya." Nada bicaranya yang flamboyan masih bisa terdengar.
"Cuma karena sekali pandang? Apa aku bisa mempercayai cintamu itu?" ucap Darren. "Bisa saja kau menyukainya karena nafsu. Kalau memang itu alasannya, aku takkan menyerahkannya padamu."
Ronald tersenyum. "Aku mencintai kepribadiannya."
"Dan menganggapnya sebagai budak?"
"Sebagai belahan jiwaku."
Darren tersentak. Baru kali ini ia melihat seseorang yang jatuh cinta sebegitu besarnya. Ia terbiasa melihat adegan serupa di anime, namun melihatnya secara langsung di dunia nyata rasanya agak sedikit... menjijikkan.
Dengan ragu Darren kembali melontarkan pertanyaan. "Apa kau sungguh bisa menganggapnya sebagai pasangan dan menyetarakan dirimu dengannya? Bukan menganggapnya sebagai manusia hewan yang rendah melainkan mengasihinya dengan segenap jiwamu."
Ronald terdiam. Ucapan Darren seolah telah menunjukkan jawaban yang ia butuhkan. Ia pun menyeringai kecil sambil menepuk pundak Darren.
"Ah, aku paham. Kau seorang saudara yang baik, Esema," ucap Ronald. "Kau tak mau ikut campur urusan percintaan Shiro-chan, bukan? Kau ingin ia bebas untuk memutuskannya sendiri. Aku mengerti. Aku akan menyatakan perasaanku secara langsung sendiri."
"Eh? Kau... seriusan?"
"Tentu saja." Ronald tersenyum. "Nah, tapi jangan lupakan tujuan kita jalan jauh-jauh ke sini."
Ronald berjalan melewati Darren dan berhenti di sebuah bangunan yang tak jauh dari situ. "Kita telah sampai."
Darren melihat bangunan itu. Di depannya, terdapat papan kayu dengan ukiran indah. Tertulis di atasnya, "Tempa Besi Rezkya".
Mereka berdua pun masuk dan segera disambut oleh koleksi senjata yang berkilauan memenuhi dinding. Kilauannya sangat megah, bahkan petualang amatir pun bisa langsung tahu kalau senjata-senjata ini dibuat dengan kualitas luar biasa.
"Selamat datang—" Seorang pemuda menyambut mereka. Namun ketika melihat Ronald, rautnya berubah seolah berkata: "Dia lagi, dia lagi."
Ronald melambaikan sebelah tangannya. "Yo, Rezkya. Bagaimana bisnis akhir-akhir ini?"
"Huff... Lumayan. Akhir-akhir ini banyak petualang yang kehilangan senjatanya. Jadi banyak pesanan yang harus dipenuhi."
Pemuda itu melihat Darren masuk bersama Ronald.
"Kau pasti kawannya Ronald, ya. Perkenalkan, aku Rezkya. Aku adalah pemilik pandai besi ini," ucapnya. Untuk sesaat, ia nampak seperti mengamati Darren.
"Kau nampak normal untuk seukuran kawannya Ronald. Kau tidak dipaksa untuk berteman dengannya, kan?" ucapnya.
"Eh... apa?" Darren mengangkat alis keheranan. Apa semua orang telah mengecap Ronald sebagai orang aneh?
"Oh, Rezkya. Begini begini aku juga bisa cari teman lho," potong Ronald.
"Iya, iya. Aku percaya," balas Rezkya dengan nada sarkas. Ia kembali menoleh kepada Darren. "Lalu, siapa namamu?"
"Aku Esema. Aku murid baru di akademi petualang," jawab Darren.
Ronald maju, kemudian bersender di meja kasir tempat Rezkya berjaga. "Itu tandanya aku ahli dalam menganalisis seseorang. Jadi, kuanggap kata-kata barusan sebagai pujian."
"Terserahlah." Rezkya membuang wajah. Saat itu pula, Darren segera mengetahui bahwa Rezkya adalah seorang elf. Kelihatan dari kuping runcingnya yang tertutup rambut panjang.
"Ngomong-ngomong, kedatangan kalian ke sini bukan hanya untuk berkenalan, kan?" Tanya Rezkya lagi. "Katakan. Apa kalian membutuhkan sesuatu?"
Ronald berdiri sambil menunjuk Darren. "Petualang muda ini membutuhkan senjata baru untuk merintis karirnya. Jadi, apakah—"
"Apa ada tipe senjata tertentu yang kau inginkan?" Ronald langsung berpaling pada Darren, mengabaikan Ronald sepenuhnya.
Darren terdiam sejenak. Ia melirik ke sekeliling dan melihat banyak sekali jenis senjata yang keren. Ada panah, tombak, kapak berbilah dua, hingga pisau sihir berbalut emas. Walau demikian, hal pertama yang ada di pikirannya adalah pedang.
"Apa ada pedang?"
Ronald segera melangkah keluar dari kasir dan menarik pundak Darren.
"Kemari. Akan kutunjukkan beberapa yang terbaik."
Ia pun menarik Darren, membawanya ke dinding yang luas di mana puluhan pedang terpampang di sana. Besi, perunggu, emas. Macam-macam jenis pedang bisa ditemukan dalam sekali lihat. Mata Darren seolah dipenuhi kemewahan melihat pemandangan itu.
"Ini adalah pedang-pedang terbaik yang pernah kubuat. Dibuat dengan logam kualitas tinggi dan ditempa dengan penuh kasih sayang seperti anak sendiri." Rezkya dengan bangga menunjukkan karya-karyanya.
"Hee... kau ternyata maniak pedang, ya," Komentar Darren.
"Kau bilang apa?"
"Bukan apa-apa. Lupakan."
Mereka bertiga berjalan menyusuri pedang-pedang yang terpajang. Sesekali mereka berhenti agar Darren bisa mencoba pedang yang ada satu per satu. Namun tak peduli seberapa banyak ia mencobanya, ia tetap tak menemukan pedang yang sesuai dengan keinginannya.
"Apa tidak bisa aku buat pesanan khusus?" Tanya Darren sambil meletakkan sebuah pedang emas kembali ke tempatnya.
Rezkya menggeleng lesu. "Sayangnya saat ini tidak bisa. Banyak sekali pesanan yang menumpuk akhir-akhir ini."
"Huh? Apa ada alasan tertentu?" Darren bertanya heran.
"Kabar yang berterbangan bilang kalau banyak petualang yang kehilangan senjata mereka. Entah karena alasan apa."
Senjata hilang? Maksud hilang di sini cukup ambigu. Kehilangan karena hilang secara harfiah? Atau kehilangan karena rusak atau hancur? Darren belum mempunyai cukup informasi untuk menyimpulkan apa yang kira-kira terjadi.
"Sebenarnya pedang macam apa yang kau inginkan?" Tanya Rezkya.
Darren merenung sejenak. Kemudian ia mulai mengayun-ayunkan lengannya. Memperagakan gerakan seolah sedang mengayunkan pedang.
"Pedang yang ringan dan agak melengkung. Lebih cocok untuk menebas daripada menghunus," ujar Darren.
Mendengar deskripsi dari Darren, Rezkya lantas mengangguk. "Sepertinya aku punya beberapa yang seperti itu. Tunggulah, aku akan mengambilnya."
Rezkya pun pergi dari situ dan menghilang ke ruangan belakang, meninggalkan Darren dan Ronald berdua.
Tapi pikiran Darren masih tertuju pada kabar burung barusan. Apa mungkin itu ulah Raja Iblis Kegelapan? Apa ini adalah jebakan yang telah disiapkan untuknya?
.
.
.