
Darren menggertakan giginya. Ia terpojok dan dihadapkan dengan dua pilihan. Menyerah, atau terus melawan.
Darren menundukkan wajahnya dengan frustasi. Ia tak bisa berpikir dengan jernih. Setiap kali ia dihadapkan dengan keadaan seperti ini, ia selalu mengambil jalan yang salah.
"Raja Iblis itu mengincar ku. Seharusnya ia tak punya alasan untuk melukai Shiro dan Tora," Batin Darren.
Darren segera mengangkat wajahnya. Ia melihat teman-temannya yang hampir gugur dalam pertarungan.
Tomatsu, Katherine, dan Rendi sedang tidak sadarkan diri. Shiro mengalami patah tulang di lengan kanannya, dan pria itu sedang menyanderanya. Begitu juga Tora. Mereka berdua bisa dibunuh kapan saja.
Darren langsung berseru. "Raja Iblis Kegelapan, akulah yang kau kejar, bukan?" Teriaknya. "Lepaskan mereka berdua! Mereka tidak ada hubungannya dengan ini semua."
Raja Iblis itu bahkan tidak menjawab. Ia hanya merespon dengan keheningan yang membuat Darren semakin tertekan.
"D-Darren-sama..." Shiro berusaha memanggil Darren, tapi tenggorokannya terus di tekan oleh pria itu.
Tora yang masih terdiam, dengan leher yang sudah teracung pisau, berkata, "Darren-sama. Aku memang tidak layak mengikuti mu lagi. Jadi, jangan pikirkan aku. Lebih baik kau pergi."
Darren hanya jadi semakin frustasi. Raja Iblis itu pun tidak memberikan tanggapan apa-apa. Darren jadi semakin sulit membaca pikirannya.
"Apa yang harus ku lakukan?" Batin Darren sambil terus memegangi kepalanya. "Aku tidak mau kehilangan seseorang yang berharga lagi. Yuzuna, Rolf, Hayate..."
Pria itu tiba-tiba bergerak. Ia menggerakkan tangannya dan hendak mengarahkannya kepada Shiro.
"Kita akhiri ini di sini," Ucapnya.
Darren melihat itu sebagai ancaman. Raja Iblis itu benar-benar akan membunuh Shiro. Dan mungkin saja setelah itu Tora akan jadi yang selanjutnya.
"Cukup Darren. Berhentilah jadi pengecut," Ucap Darren pada dirinya sendiri. "Aku telah bersumpah. Kejadian itu... takkan terulang lagi."
Darren langsung mengeluarkan pedangnya dan bersiap. Tatapannya jadi tajam dan mengintimidasi, ditambah lagi ekspresinya terlihat mengeras.
Raja Iblis itu hampir menyentuh Shiro dengan tangannya, namun tiba-tiba...
Srung! Darren berteleportasi dan muncul diantara Shiro dan pria itu. Ia segera menebaskan pedangnya dan berhasil melukai tangan pria itu.
"Darren-sama!" Ucap Shiro. Ia kemudian melihat jubah pemberian Darren yang ia pakai. "Ah, aku mengerti. Sebelumnya ia memasang segel Recall pada jubah ini. Awalnya ia berencana menggunakannya untuk kabur, namun sekarang ia menggunakannya untuk menyerang. Sungguh hebat, Darren-sama."
Pria itu segera menjaga jarak dan berteriak kepada rekannya yang sedang menyandera Tora.
"Cepat, lakukan!" Teriaknya.
Darren langsung berbalik dan berkata, "Takkan kubiarkan."
Dalam sekejap, Darren kembali berteleportasi ke belakang makhluk itu dan menebasnya. Tora pun berhasil lepas dari cengkraman musuh.
Makhluk itu sempat jatuh ke tanah, namun ia segera menghilang. Kelihatannya ia bisa masuk kedalam benda padat.
"Darren-sama... kau berteleportasi?" Ucap Tora menganga.
Darren tak menyahutnya. Matanya masih fokus kepada pria itu. Pria itupun mengibaskan jubahnya juga dan berdiri tegak. Bersiap untuk bertarung.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain," Ucap pria itu sambil meregangkan lengannya.
Kedua orang itu langsung bergerak cepat. Darren dengan cepat dan tajam, mengayunkan pedang hijaunya untuk menyerang si Raja Iblis.
Pria itu membalas serangan pedang Darren dengan anggun dan lihai. Ia seperti mahir dalam seni berpedang. Dan juga ia terlihat profesional.
Kedua senjata mereka saling berhantaman. Darren terus menyerang dengan cepat, namun pria itu bisa terus mengimbangi kecepatannya.
Shiro dan Tora hanya menyaksikan pertarungan sengit itu sambil memeriksa yang lain. Luka Katherine dan Rendi sudah diobati, namun mereka belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
"Apa kita harus menolong Darren-sama?" Ujar Shiro sambil menatap pertarungan Darren.
"Tidak usah," Sahut Tora. "Level bertarung mereka berada di level yang berbeda. Jika kita menolong, kita tidak akan bisa apa-apa selain jadi beban."
Tora memperhatikan setiap gerak-gerik Darren dan pria itu. "Pergerakan mereka sangat cepat," Gumam Tora. "Gaya bertarung Darren-sama juga unik. Belum pernah ku lihat seni berpedang seperti itu."
Shiro jadi semakin khawatir. Ia terus berharap Darren akan memenangkan pertarungan ini-- Tidak, ia berharap Darren selamat. Baik menang atau kalah, yang penting Darren baik-baik saja.
Pertarungan Darren dan Raja Iblis jadi semakin sengit saat Darren mulai menggunakan sihir teleportasi barunya.
"Akan ku bunuh kau!"
Darren terus berpindah-pindah tempat sambil terus mengirimkan serangan kepada pria itu. Pria itu akhirnya tidak bisa melawan, selain diam dan bertahan.
Dalam waktu singkat, Darren berhasil membuat luka yang cukup parah di sekujur tubuh pria itu. Bahkan suara nafas yang berat mulai terdengar dari balik topeng pria itu.
"Kecepatan ini--" Pria itu hanya bisa berbicara sedikit di tengah sambaran pedang Darren yang bertubi-tubi.
Disaat Darren mengayunkan pedangnya untuk kesekian kalinya, tiba-tiba tepat dihadapannya, muncul makhluk aneh dari bawah tanah.
Makhluk itu berupa skeleton aneh yang memancarkan aura negatif, dan juga ia berpakaian layaknya manusia. Ia mengenakan jubah, dan juga kerudung panjang yang hampir menutupi seluruh kepalanya.
Skeleton itu langsung mengeluarkan tongkat hitam yang panjang, dan menepis tebasan pedang Darren.
"Tuanku, pergilah," Ucap skeleton itu pada Raja Iblis itu. "Anda sudah hampir kehabisan Mana. Sebaiknya anda gunakan Mana terakhir anda untuk membuat portal dari sini."
Pria itu awalnya terdiam, namun tak lama kemudian ia segera memunculkan portal dan masuk ke dalamnya. Dalam sekejap pun, pria itu telah lolos kabur.
Melihat itu, Darren jadi sangat marah. Ia segera mengayunkan pedangnya lebih kuat hingga membuat Skeleton itu terlempar ke tanah.
"Kau... kau pasti pemimpin para undead itu, kan!?" Teriak Darren dengan keras.
Skeleton itu tak menjawab. Ia bangkit berdiri dan mengacungkan tongkatnya.
"Non-Elemental Spell: S--" Tapi sebelum ia menyelesaikan mantranya, Darren sudah terlebih dahulu menghampirinya dan mematahkan tulang lengan kanannya. Membuatnya melepaskan tongkatnya dan gagal mengucapkan mantra.
"Kau pasti bawahannya, kan?" Ucap Darren sambil menodongkan pedangnya. "Kemana bos mu pergi?"
Skeleton itu tidak merespon seperti dugaan Darren dan malah mengeluarkan suara seperti tawa.
"Jika kau ingin jawabannya, kalahkan aku terlebih dahulu," Ucapnya. Perlahan ia masuk ke dalam tanah dan menghilang.
Darren segera kembali mengambil posisi bersiaga. Skeleton itu pasti akan muncul lagi dan menyerangnya dari arah yang tak diduga-duga.
"Aku bisa menciumnya, bau kebencian yang mulai melahapmu hidup-hidup. Betapa indahnya," Suara itu terdengar berjalan di dalam tanah.
Darren jadi semakin kebingungan. Ia mencoba menggunakan mantra Thermography, namun makhluk undead tidak memancarkan suhu panas. Mereka tidak berbeda jauh dengan mayat hidup.
Skeleton itu diuntungkan dalam pertarungan ini. Ia bisa bergerak bebas di dalam tanah tanpa terdeteksi. Bagi Darren, ini sama saja seperti melawan ikan hiu di dalam air.
Tak lama kemudian, Skeleton itu mengambil langkah pertamanya. Ia mengeluarkan segerombolan skeleton dari dalam tanah dan memerintahkan mereka untuk menyerang Darren.
"Ini gawat, lama-lama mereka akan mengepung ku," Batin Darren. "Aku harus gunakan sihir juga."
"Heaven's Light!" Darren merapal mantranya. Ini adalah sihir cahay yang pernah Michael gunakan saat bertarung dengannya. "Sihir cahaya tingkat S yang bisa membumihanguskan sebuah desa kecil. Namun, bila aku memfokuskannya ke satu titik saja, maka daya merusak kerusakannya akan jadi lebih besar."
Dari langit, sebuah cahaya terang bersinar mengelilingi area sekitar Darren. Dalam sekejap, cahaya itu telah menyentuh tanah dan siap digunakan untuk menghancurkan segalanya yang ada dalam cakupannya.
Darren mulai berseru dengan teriakan kencang. Di saat yang sama, sebuah ledakan yang kuat merusak semua yang ada di dekat Darren. Baik itu tanah, bangunan, hingga semua skeleton yang ada disitu hangus sampai tak menyisakan tulang sedikitpun.
Darren berdiri di tengah cahaya terang itu. Ia tidak terluka, karena sihir itu takkan menyentuh penggunanya. Namun, ia mulai merasakan dirinya kehabisan Mana.
Sihir itu terlalu berat baginya. Ia belum bisa sepenuhnya mengendalikannya dan stok Mana-nya terkuras dengan cepat.
Tanah-tanah mulai hancur, begitu juga beberapa bagian gedung. Ledakan kuat itu menghancurkan semuanya, namun ledakannya tidak sampai kepada Shiro dan Tora.
Mereka berdua hanya menatap dengan kagum sekaligus khawatir.
"Darren-sama..." Ucap Shiro pelan. Tanpa disadarinya, tubuhnya mulai bergerak setelah melihat ledakan itu. Ia merasa Darren butuh bantuannya dan ia segera berlari.
Tora yang menyaksikan itu mulai berteriak. "Shiro, apa yang kau lakukan!? Jangan pergi ke sana!"
Tapi Shiro tidak menghiraukannya. Ia terus berlari dan ia mulai meneriakkan nama Darren dengan histeris.
Sementara itu, keadaan mulai tenang. Efek ledakan dari mantra itu mulai padam dan debu asap memenuhi tempat itu.
Shiro melihat sekeliling. Yang ia lihat hanyalah gedung-gedung yang rusah, tanah yang porak-poranda, dan juga ia melihat Darren yang kelelahan di tengah-tengah area pertempuran.
Saat ia hendak menghampirinya, skeleton tadi muncul dan berdiri di hadapan Darren.
"Sungguh sihir yang kuat sekali. Kau bahkan bisa melukai ku," Ucapnya. Terlihat beberapa bagian tubuhnya sudah hancur.
Darren berusaha mengangkat tubuhnya dan kembali bersiap bertarung, namun ia terlalu lelah. Pedang pun tak kuat ia angkat.
Skeleton itu melanjutkan, "Nampaknya aku harus mengakhiri ini sekarang." Skeleton itu mulai mengangkat tangan kirinya dan mengarahkannya pada Darren.
"Non-Elemental Spell: S--" Tapi, lagi-lagi di saat seperti ini. Mantranya kembali di interupsi.
Shiro muncul dari balik asap. Dengan cepat ia berlari ke arah Darren dan melompat sambil mengayunkan kakinya hingga menendang skeleton itu menjauh.
"Darren-sama!" Ucap Shiro cemas. Ia langsung berjongkok dan memeriksa kondisi Darren.
"Aku tidak apa-apa, Shiro. Hanya sedikit kelelahan," Ucap Darren.
"Tidak, Darren-sama. Kau tidak baik-baik saja," Balas Shiro. "Kau beristirahatlah. Akan ku urus sisanya."
"Tapi Shiro-- Agh," Darren berusaha mencegahnya, namun ia sendiri sudah terlalu lemah.
Shiro memalingkan wajahnya menghadap Darren. Ia kemudian tersenyum, "Tidak perlu khawatir, Darren-sama. Akan ku selesaikan apa yang telah kau mulai."
Skeleton itu mulai menatap Shiro. "Nampaknya sang gadis akan mulai menunjukkan sisi ganasnya," Ucapnya. "Majulah! Buktikan kalau kau layak berada di sisi tuan mu!"
Shiro maju dengan cepat. Dengan gerakannya yang cukup lincah, ia mulai mengirimkan beberapa pukulan kepada skeleton itu.
"Agh," Shiro sedikit kesakitan saat memukul tulang belulang itu dengan telapak tangannya. Namun tekadnya untuk menyelesaikan ini membuat luka itu tak terasa.
Skeleton itu membalas serangan Shiro dengan tangan kirinya.
"Non-Elemental Spell: Channeling, Sharpness," Seketika, tangan kiri skeleton itu pun bercahaya. Ia melapisi tangannya sendiri dengan sihir sehingga membuatnya jadi lebih mematikan.
Shiro menghindarinya dengan lihai. Gerak-gerik Shiro terlihat seperti orang yang telah menguasai bela diri tangan kosong.
Setelah berhasil menghindari serangan itu, Shiro meluncurkan serangan balasan.
"Rasakan ini, dasar tulang!" Shiro mulai merapal mantranya. "Ice Elemental: Froze!"
Skeleton itu membeku.
"Aku membeku-- Tunggu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau takkan bisa memukul es ini dengan kepalan tangan mu," Ucap Skeleton itu.
Shiro tersenyum. "Itulah kenapa aku sudah menyiapkan ini."
Shiro mengeluarkan sebuah tombak es dari tangannya. Ia menciptakan tombak yang ia buat dari sihir es miliknya.
Skeleton yang tidak bisa bergerak itu pun kepanikan. Ia mencoba meloloskan diri dengan menembus es yang membekukannya, namun terlambat.
Shiro segera menancapkan tombaknya di tengkorak skeleton itu. Skeleton itu pun berteriak. Tengkoraknya mulai remuk dan tak lama kemudian hancur.
Setelah tengkoraknya hancur, bagian tulang lainnya mulai rontok dan terpisah satu sama lain. Skeleton itu telah mati.
Shiro bernafas lega. Ia segera kembali kepada Darren dan membantunya.
"Darren-sama, aku akan membantu mu berjalan," Shiro meletakkan salah satu lengan Darren di pundaknya. Ia pun menuntun Darren kembali kepada Tora untuk diobati.
Tora segera berdiri saat melihat mereka tiba.
"Darren-sama," Ucapnya khawatir. Ia segera memeriksa Darren dan tidak menemukan luka fatal. Ia bilang bahwa Darren hanya kehabisan Mana.
"Kita harus pergi dulu dari sini. Tempat ini berbahaya," Ucap Darren. "Musuh mungkin akan kembali muncul. Dan aku sudah tidak bisa melawan mereka."
"Baiklah," Jawab Shiro dan Tora bersamaan.
Saat mereka hendak bergerak, tiba-tiba segerombolan tentara berkuda mengepung jalan keluar mereka. Di depan mereka ada seorang perempuan yang merupakan pemimpin pasukan.
"Berhenti di sana, Raja Iblis!" Teriak perempuan itu.
Darren dan yang lainnya terkejut. Darren segera menyiapkan pedangnya untuk berjaga-jaga, walau ia sudah tidak bisa betempur.
Tiba-tiba dari antara para tentara itu terdengar suara yang familiar.
"Tunggu, tunggu, itu bukan Raja Iblisnya," Robert tiba-tiba muncul dari tengah-tengah pasukan. Disusul oleh Mia, Sella, dan Selly.
"Robert? Semuanya?" Darren menyimpan pedangnya. "Apa yang terjadi?"
Perempuan itu segera menyahut. "Seharusnya kami yang bertanya," Ucapnya. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
.
.
.