Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Di Kastil


Kegiatan sehari-hari Darren menjadi sibuk semenjak kepindahannya ke kastil. Setelah seminggu disana, ia bekerja sebagai penasihat pribadi Schlaff.


Saat pertama kali Darren bertemu dengan raja, raja langsung tertarik dengannya. Karena setelah di uji, Darren ternyata memiliki wawasan luas dalam strategi dan pertarungan. Jadi Raja berpikir untuk meletakkan Darren dalam posisi penasihat Jenderal.


Schlaff juga tak terlihat keberatan dengan itu. Malahan, ia banyak belajar dari pengalaman-pengalaman Darren. Ya walau sebenarnya semua yang Darren ketahui hanyalah beberapa referensi yang pernah ia baca dari buku di dunia sebelumnya.


"Perang adalah hal yang serius. Dampaknya tergantung pada apakah itu hanya sekedar perang dan apakah ada kepemimpinan militer yang bijaksana di dalamnya," Darren memberitahu Schlaff salah satu pengetahuan yang ia miliki. Pengetahuan dari salah satu buku terkenal karangan Sun Tzu, The Art of War.


"Perang juga tergantung pada kondisi geografis dan cuaca, jarak dan jangkauan medan perang. Pengorganisasian, logistik, dan komunikasi juga memegang peranan penting."


Schlaff hanya mengangguk-angguk. Ia benar-benar belajar giat di bawah ajaran Darren. Tapi itu kadang malah membuat Darren merasa aneh.


"Masa orang tua kayak dia diajarin oleh anak SMA sepertiku?"


Walau ia sibuk, Darren tetap mencoba menyisihkan waktunya untuk urusan pribadi juga. Contohnya seperti mencari ilmu dan intel. Terlebih intel tentang Erobernesia.


Di kastil, ada sebuah perpustakaan yang sangat besar. Isi buku-buku disana menyediakan hampir segala pengetahuan yang ada di dunia ini. Hal ini benar-benar membantu Darren memahami kondisi dunia.


Terkadang ia kesana untuk membaca sendiri, dan terkadang ia mengajak Tora dan Shiro. Diselingi dengan minum teh bersama bawahannya dan membaca sambil menikmati ilmu pengetahuan yang telah disediakan.


Sruput teh yang segar, dengan perasaan damai di hatinya. Darren terkadang hampir lupa dengan balas dendam yang ia kejar selama ini. Tapi setiap malam, sebuah mimpi selalu memperingati nya. Seakan ia memang sudah harus membalas dendam itu.


Ia ingin selamanya hidup bahagia seperti ini, tapi ia ingat dengan filosofi dalam anime-anime yang pernah ia tonton.


"Langit takkan selalu biru. Akan ada saatnya dimana badai menerpa. Dan saat kebahagiaan itu mulai pudar, maka bau darah akan tercium."


Tap! Darren menutup bukunya dengan keras.


"Ada apa Esema-sama? Apa kau sudah mau pergi?" Tora meliriknya sambil membaca.


"Tidak biasanya kau selesai secepat ini," Sambung Shiro. "Kau tidak enak badan?"


"Ah, tidak-tidak," Darren berdiri dari kursinya sambil meregangkan ototnya. "Aku hanya lelah duduk di kursi terus. Aku akan mencari udara segar."


Di balkon kastil, Darren melihat betapa luasnya Kerajaan Friedlich. Pemandangan rumah-rumah yang tersusun rapi dan cahaya matahari terbenam yang menerpa setiap bangunan dengan anggun.


"Hangat," Darren berbicara pelan. "Seandainya orang tua ku ada disisi ku sekarang. Mereka pasti akan bangga."


Saat menikmati pemandangan itu, tiba-tiba Shiro menghampirinya dari belakang.


"Esema-sama, apa kau baik-baik saja?" Tanya nya, "Akhir-akhir ini aku sering melihatmu melamun. Apa kau memikirkan sesuatu?"


Darren menggeleng, yang pastinya itu adalah kebohongan. "Tidak, bukan apa-apa. Aku baik-baik saja."


Shiro merengutkan wajahnya, seakan sadar kalau Darren sedang berbohong.


"Kau bohong, kan?"


Darren kaget. "Ah, ketahuan. Ya."


"Aku sudah cukup lama bersama mu. Tentu saja aku memperhatikan mu," Balas Shiro.


Darren tersenyum sambil melayangkan pandangan. "Kau perhatian juga," Pujinya.


Keadaan menjadi canggung untuk sesaat. Tak ada perbincangan lagi di antara mereka. Sampai Shiro kembali membuka pembicaraan.


Darren menoleh, menunggu pertanyaan itu keluar dari mulut Shiro.


"Tentang kakak ku," Sambung Shiro. "Apakah dia bertarung dengan bangga di sisi mu?"


Darren mengernyitkan matanya. "Apa maksud mu?"


Shiro menatap Darren dengan tatapan berkaca-kaca. "Seorang manusia hewan takkan bertarung bersama manusia, kecuali dia adalah Tuannya," Balas Shiro. "Sebenarnya, apa hubungan mu dengan kakak ku?"


Darren membalas. "Kami hanya teman."


"Bukan Tuan dan Budak?" Ulang Shiro.


Darren menggeleng.


Shiro menarik nafas lega. "Syukurlah kalau begitu," Ucapnya lembut, sambil beberapa tetes air mata mengalir di pipinya.


"Shiro..." Ucap Darren pelan.


"Kematian kakak bukanlah sesuatu yang harus ditangisi. Jika ia mati dengan bangga, maka itu memang sudah pilihannya sendiri," Sambung Shiro. "Aku yakin kakak tak punya penyesalan."


Darren menunduk. "Apa kau yakin kau tidak sedih?" Tanya Darren. "Kau menangis loh."


"Eh?" Shiro cepat-cepat mengusap air matanya. "T-tidak kok. Aku tidak menangis."


Darren tersenyum sedikit melihat tingkah Shiro. "Kau sangat tegar ya. Shiro," Puji Darren. "Aku yakin kau bisa menjadi lebih kuat. Seperti yang kakak mu inginkan."


Shiro tersenyum, tapi disaat bersamaan, ia tak kuasa lagi menahan tangisnya. Darren segera memeluknya dan itu membuatnya merasa lebih baik.


"Keluarkan saja. Jangan tahan tangisan mu," Ucap Darren sambil mengelus-elus rambut Shiro.


Shiro menangis di pundah Darren. Ini memang memalukan baginya, tapi ia sudah tak tahan. Sudah lama ia tak menangis seperti ini.


Walau dulu ia disiksa, diperalat, dan juga diperlakukan seperti sampah, tapi tak ada satupun hal diatas yang bisa membuatnya menangis.


"Esema-sama," Ucap Shiro pelan. "Terimakasih."


Darren tersenyum. "Ya, sama-sama. Jika kau ada masalah, datang saja kepadaku."


Sementara Tora di perpustakaan, ia memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Wajahnya tersenyum kecil, melihat Tuannya yang memiliki sikap unik.


"Esema-sama, kau sangat berbeda," Ucapnya pelan.


Saat Darren dan Shiro hendak kembali dari balkon ke perpustakaan, tiba-tiba seseorang masuk dengan terengah-engah. Ternyata itu adalah Fak.


"Ada apa Fak?" Tanya Darren, sambil Shiro dan Tora segera berdiri kaget.


"Veronheim!" Fak masih terengah-engah.


"Ada apa dengan Veronheim? Ada apa dengan Akira?" Tanya Darren panik.


"Veronheim diserang!"