
Setelah perjalanan dua minggu, Darren akhirnya tiba di Noordoos. Di sana ia tidak singgah terlalu lama karena ia ingin cepat-cepat pergi ke Avon.
Tapi, sesuai usul dari Lionna, Darren menyempatkan diri untuk pergi ke guild petualang. Di sana, ia mendaftarkan diri dengan nama Esema, sama seperti yang ia pakai di Friedlich.
Karena nama Esema masih baru di dalam daftar para petualang, Darren pun di beri peringkat perunggu dan dianggap sebagai petualang amatir. Ini sesuai dengan rencana Darren.
Setelah mendaftarkan diri, Darren pun segera melanjutkan perjalanannya menuju benua iblis.
Karena perjalanannya terhalang laut, maka Darren harus menggunakan kapal dan berlayar mengarungi lautan.
.
.
.
Di kapal...
Tora terlihat sedang berdiri di balkon kapal sambil menikmati pemandangan laut yang tenang. Matahari bersinar terik, namun tidak terasa panas karena angin yang bertiup terasa sejuk.
Shiro muncul dari belakang dan menghampiri Tora. Ia sepertinya punya sesuatu untuk dikatakan.
"Oh, Shiro-sama," Sambut Tora sembari membungkuk.
Shiro masih berusaha membiasakan diri dengan situasi ini. Jadi, ia terkadang bicara dengan nada aneh sesaat setelah di panggil dengan panggilan Shiro-sama.
"Darren-sama memberi perintah baru," Ucap Shiro. "Kita harus memanggilnya Esema mulai sekarang."
Tora menyahut. "Untuk menyembunyikan identitas, ya. Darren-sama memang hebat."
Shiro kemudian berjalan ke pinggir kapal dan menyenderkan badannya di pagar pembatas.
"Tora-kun, apa kau merasa seperti ada sesuatu yang Esema-sama sembunyikan dari kita?" Tanya Shiro tiba-tiba.
Tora tersenyum. "Aku tidak tahu. Dan juga aku tidak lagi penasaran. Tapi, jika memang benar begitu, aku cukup yakin kalau itu untuk alasan yang bagus."
"Tapi, aku takut kalau ia terlalu memaksakan diri," Sambung Shiro. "Seperti tentang Raja Iblis kemarin. Ia bilang kalau Raja Iblis itu mengincarnya. Tapi, tidak mungkin kan kalau Raja Iblis mau mengincar seseorang yang biasa-biasa saja."
Tora mengangguk. "Mungkin benar. Tapi, nyatanya Raja Iblis itu tetap tidak menangkap Esema-sama."
"Itu karena Esema-sama mengalahkannya," Balas Shiro. "Esema-sama memang kuat, luar biasa kuat. Namun, aku tetap mengkhawatirkannya."
Shiro melanjutkan. "Menyimpan suatu masalah untuk diri sendiri, dan berniat untuk tidak menyulitkan orang-orang. Aku takut ia kelelahan," Ucapnya. "Setidaknya, aku ingin ia membagi sedikit masalahnya."
Tora tersenyum. "Shiro-sama sangat mempedulikan Esema-sama. Apa Shiro-sama menyukainya?"
"Ya-- Eh, ya aku hanya k-khawatir. Dia kan atasan ku. Sebagai bawahannya, sudah tugas ku untuk memperhatikan keadaannya," Balas Shiro terbata-bata.
Tora tertawa kecil. Ia pun melanjutkan," Baiklah, baiklah. Mungkin aku bisa membantu Shiro-sama," Ucapnya. Ia kemudian mulai menjelaskan. "Pada dasarnya, manusia tidak akan membuka rahasianya kepada orang-orang yang mereka tidak percaya. Mereka adalah orang yang waspada dan berpikir dua kali tentang akibat yang akan ditimbulkan, baik itu bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain."
Shiro menyentuh dagunya sendiri. "Jadi, maksud mu, Esema-sama belum percaya kepada ku?"
"Mungkin iya, mungkin juga tidak. Kita semua tahu kalau Darren sama akan melindungi orang-orang terdekatnya, walau itu merugikan dirinya sendiri," Sahut Tora. "Namun, itu tidak menutup kemungkinan kalau ia hanya memang belum mempercayai kita."
Shiro merengut. "Lalu, apa yang harus ku lakukan?" Tanya-nya lagi.
"Sesuai penjelasan ku. Maka aku sarankan agar Shiro-sama mencoba untuk lebih dekat dengan Esema-sama."
Shiro terdiam sejenak dengan wajah bingung.
"Bagaimana caranya?" Tanya-nya.
"Mungkin, Shiro-sama bisa mencoba memanggilnya dengan cara berbeda. Seperti misalnya, Darren-san, atau... Darren."
Mendengar itu, wajah Shiro langsung memerah. Tangannya yang memegang pagar pembatas mulai gemetar dan raut mukanya tidak karuan.
"D-D-- Da-Darrrr-- Darren-ssan--," Ucapnya grogi. "Huwaa, aku tidak bisa. Ini terlalu lancang. Ia bisa-bisa marah kepadaku."
"Kau pasti bisa, Shiro-sama," Ucap Tora.
Wajah Shiro semakin merah. Semakin lama ia membayangkannya, ia semakin merasa aneh. "T-Tapi, apa menurut mu ini tidak terlalu berlebihan. Aku takut Esema-sama akan merasa terganggu," Ucapnya.
"Aku yakin ia takkan keberatan. Aku yakin itu," Ucap Tora meyakinkan.
Pikiran Shiro jadi kacau. Ia ingin sekali lebih dekat dengan Darren, tapi ia takut dan ragu. Selama ini, ia hanya bisa membayangkan dirinya memanggil Darren seperti teman dekat, namun ia tidak berani mewujudkannya.
"Ughh... kepala ku pusing. Aku akan kembali ke dalam," Ucap Shiro sambil berjalan sempoyongan meninggalkan Tora.
.
.
.
Mereka semua akhirnya tiba di daratan. Yup, mereka telah menginjakkan kaki di benua iblis dengan selamat. Perjalan mereka selama di kapal pun lancar tanpa ada hambatan.
Darren melangkahkan kakinya keluar dari kapal. Ia begitu terpukau ketika melihat pemandangan di depan matanya. Pelabuhan Avon yang benar-benar jauh berbeda dari ekspetasinya.
Ia mengira kerajaan Iblis akan terlihat menyeramkan atau terasa dark. Namun, pelabuhan itu terlihat berbanding terbalik dengan apa yang dibayangkan.
Banyak bangunan-bangunan kayu berdiri di dekat pelabuhan. Kapal-kapal terparkir rapih saling berjejeran dan banyak orang-orang berdagang.
Pemandangan ini tidak jauh berbeda dengan kota-kota yang ditinggali manusia.
Tapi, pelabuhan ini sangat sepi orang. Karena pelabuhan ini menghubungkan benua iblis dan benua manusia, maka sangat jarang untuk bisa melihat manusia di sini.
Selain itu, mungkin hanya ada barang-barang muatan dan beberapa iblis yang bekerja di sana.
"Hey kau! Manusia di sana," Inspektur itu tiba-tiba memanggil Darren.
Darren sempat terkejut. Ia pun berjalan menghampiri inspektur itu.
"Iya?" Sahut Darren.
Inspektur itu pun memperhatikan Darren dari kepala hingga kaki. Ia kemudian menatap Darren dengan tajam. "Kau manusia, apa yang kau mau di tempat ini?"
Darren terdiam sejenak, sementara si inspektur meneruskan peringatannya.
"Kau tidak tahu kalau tempat ini sedang di tutup? Kalau kau mau wisata, sebaiknya kapan-kapan saja," Ucap inspektur tersebut. "Jika kau berniat untuk bertualang, maaf ya, tapi para polisi tidak akan membiarkan mu. Keadaan sedang genting sekarang. Sebaiknya kau pulang saja."
Darren menjawab dengan tenang. "Maaf, tapi aku di sini hanya untuk mengikuti majikan ku," Tiba-tiba Darren menunjuk ke arah Shiro. "Majikan ku sedang pulang kampung, jadi aku mengikutinya. Jika kau tidak percaya, kau bisa tanya langsung padanya."
Shiro terkejut mendengarnya.
"Apa benar?" Inspektur itu melirik ke arah Shiro.
"I-Iya, benar," Jawab Shiro. "A-Aku adalah majikannya."
Inspektur itu merengut curiga. Ia mengawasi Darren dan Shiro secara serius.
Ini benar-benar berbahaya. Mereka sudah terlanjur membohongi inspektur itu. Jika inspektur itu tahu kalau mereka bohong, maka mereka mungkin akan ditahan.
Tiba-tiba, Tora maju ke depan. Dengan terang-terangan ia menunjukkan kalung budaknya pada inspektur itu.
"Inspektur, jika anda masih belum percaya. Maka, periksalah kalung ini," Ucap Tora.
Inspektur itu segera memeriksanya. Ia bisa mendeteksi kalau kalung budak itu memang benar-benar asli dan terhubung dengan sihir Shiro.
"Oke, baiklah. Tapi sebelum kalian lewat, apa aku boleh menanyakan nama kalian semua?" Tanya inspektur itu yang kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil.
"Aku Shiro, dan mereka berdua adalah Tora dan E-Esema--" Jawab Shiro sambil grogi.
"Baiklah, sudah aku tulis. Silahkan lewat," Sambung inspektur sambil membuka jalan.
Mereka bertiga pun diizinkan lewat. Mereka segera berjalan secepatnya pergi dari situ.
"Sepertinya kita sudah jauh," Ucap Darren sambil menoleh ke belakang. "Kerja bagus, Tora, Shiro."
Mereka berhenti di sebuah pohon untuk beristirahat sejenak. Nafas mereka terengah-engah karena hal tadi.
"Esema-sama, kemana kita akan pergi sekarang?" Tanya Tora.
"Sesuai ingatan Lionna yang diberikan pada ku, kota masih cukup jauh dari sini. Kita mungkin akan sampai di sana setelah perjalanan empat hari," Jawab Darren. "Di sekitar sini mungkin ada desa atau semacamnya untuk bermalam. Tapi, kita tidak bisa terus berekspektasi mulus. Orang-orang mungkin tidak akan menerima kita."
"Tapi kesempatan itu bisa ditingkatkan," Sambung Darren lagi. "Kita bisa berpura-pura kalau Shiro adalah majikan kita berdua."
"Ide bagus, Esema-sama," Balas Tora. "Itu brilian bukan, Shiro?"
Shiro membalas sambil terpatah-patah. "A-Apa itu berarti aku harus memanggil Esema-sama dengan panggilan akrab?"
"Ya. Agar mengurangi kecurigaan mereka," Jawab Darren. "Kau bisa memanggil ku: Esema-kun."
Mata Shiro terbelalak. Pikirannya amburadul antara senang dan juga grogi. Ia pun mulai membuka mulutnya perlahan.
"E-E... Es-Esema...-kun..." Wajahnya memerah dan ekspresinya penuh dengan rasa malu.
"Bagus. Kau hanya perlu membiasakannya, Shiro," Ucap Darren. "Sepertinya kita harus terus berakting seperti ini sampai kedepannya."
Darren menoleh kepada Tora. "Tora, kau juga harus memanggil ku dengan nama akrab. Panggil saja aku: Esema."
"Siap," Jawab Tora sambil mengubah nada bicaranya.
Darren melayangkan pandangannya ke langit sore. Matahari sudah berada di ufuk barat dan akan tenggelam sebentar lagi.
"Kota ada di arah tenggara. Perkiraan sampai adalah sekitar empat hari. Tapi, jika kita terus jalan non-stop, kita mungkin bisa sampai di sana dua hari," Sambung Darren.
Mereka bertiga hendak melangkahkan kaki, saat tiba-tiba seorang iblis muncul dari atas pohon tempat mereka beristirahat.
Iblis itu mendarat di tengah-tengah mereka dan langsung menyerang Darren secara tiba-tiba dengan pedang.
Darren dengan reflek mengeluarkan pedangnya dan menangkis serangan itu.
Cklang! Pedang mereka saling beradu. Tapi tenaga iblis itu lebih kuat dari Darren, sehingga ia berhasil membuat Darren terhempas sedikit.
Shiro muncul dengan tombaknya dan menyerang iblis itu dari arah berlawanan. Tapi iblis itu menyadarinya dan mengayunkan pedangnya tepat ke arah tombak Shiro. Membuatnya kehilangan genggaman atas tombaknya.
"Ku peringatkan kau sekarang untuk pergi dari sini," Ucap iblis itu sambil menodongkan pedangnya ke arah Darren.
"Siapa kau?" Balas Darren.
Iblis itu tak menjawab. Tapi ia kembali memperingati Darren. "Ini kesempatan terakhir mu," Ucapnya sambil bersiap kembali menerjang. "Pergi! Kalau tidak, aku tak bisa menjamin keselamatan mu."
Darren tidak berniat mundur. Ia pun menggenggam pedangnya lebih erat dan mengambil posisi bertarung.
"Aku takkan mundur dari sini."
.
.
.