
Hari masih malam. Bulan juga masih bersinar dengan samar tertutup awan. Di tengah gelapnya kamar, Darren tiba-tiba terbangun dari tidurnya.
"Huwaahh..." Darren menguap sambil beranjak. Ia memegangi lehernya dan berjalan menuju sebuah meja untuk mengambil air. "Ugh... hausnya. Tenggorokan ku sangat kering."
Ia melangkah perlahan. Tapi ia dikejutkan oleh sesuatu di lantai yang tiba-tiba menyentuh kakinya. Ia langsung melompat mundur dan menyalakan lampu.
"Shiro?" Darren terkejut. Ia memperhatikan wajahnya yang imut, sedang tertidur lelap di lantai. "Ia masih tertidur. Tapi kenapa ia bisa disini?"
"Kasihan kalau dia tidur di lantai. Nanti dia bisa masuk angin," Sambung Darren pelan. "Lebih baik aku gendong ia ke atas kasur."
Darren perlahan memegang tubuh Shiro dengan lembut. Ia memastikan agar Shiro tidak terbangun. Setelah itu, ia mengangkatnya dengan pelan dan sabar, dan memindahkannya ke atas kasur tanpa membuatnya merasa terganggu.
"Walau sedikit berat, tapi aku masih sanggup," Darren bernafas lega.
Setelah minum segelas air, Darren pergi keluar kamar. Ia berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Berjalan perlahan melewati lorong kastil yang gelap. Mata Darren tertuju kepada setiap lukisan-lukisan yang terpaku di dinding tembok.
Lukisan-lukisan itu terlihat mewah dengan bingkai emas yang mengilap, memantulkan cahaya lentera-lentera minyak yang samar.
Setelah buang air kecil, Darren segera kembali ke kamar. Di jalan, ia tiba-tiba teringat tentang dojo di belakang kastil kemarin.
"Aku harus jadi lebih kuat," Ucap Darren pelan. "Apa aku sebaiknya ke dojo saja ya, untuk latihan. Lagipula aku sudah tidak mengantuk."
"Tapi aku harus kembali ke kamar terlebih dahulu, untuk mengecek Shiro."
Saat ia kembali, ternyata Shiro sudah terbangun. Ia duduk dengan tegak di atas kasur sambil menatap Darren dengan wajah tak karuan.
"Oh, Shiro. Kau bangun, ya. Maaf ya karena mengganggu," Ucap Darren sambil berjalan mendekati. "Ini masih malam, kau boleh lanjut tidur."
Wajah Shiro memerah. "Darren-sama, apa kau yang melakukan ini?"
"Melakukan? Ah, maksudmu mengangkat mu ke kasur. Iya," Jawab Darren. "Maaf ya, karena aku tak bilang-bilang dulu."
Shiro menggeleng. "Kau hanya memindahkan ku saja?" Ucap Shiro lagi. "Kau, tidak melakukan hal itu?" Sambung Shiro dengan suara kecil.
"Ha? Apa? Aku tidak dengar," Ucap Darren. "Kau bicara apa tadi?"
"Aah, bukan apa-apa. Aku hanya bilang terimakasih," Shiro menggoyang-goyangkan tangannya.
Darren hanya merengut dengan wajah sedikit penasaran. "Hm... ya, sama-sama. Sekarang, tidurlah kembali," Ucapnya sambil kembali ke pintu. "Aku takkan mengganggu."
"Kau mau kemana, Darren-sama?" Tanya Shiro melihat Darren hendak pergi. "Apa kau merasa terganggu karena aku?"
Tiba-tiba Shiro melompat dari kasur dan langsung berujud di lantai, tepat dihadapan Darren.
"Maafkan aku, Darren-sama. Ini memang salah ku karena masuk tanpa izin. Aku siap menerima hukuman," Ucapnya terus meminta maaf.
"Hey, hey, aku tidak bilang kau mengganggu. Aku hanya ingin ke dojo," Ucap Darren sambil menenangkan.
"Ke dojo? Malam-malam begini?" Shiro mengangkat kepalanya.
"Ya. Aku tiba-tiba ingin melakukan sesuatu disana," Jawab Darren.
Tiba-tiba Shiro berdiri dan menghampiri Darren. Ia begitu dekat sampai-sampai membuat Darren terkejut.
"Bolehkah aku ikut?" Ucapnya sambil memegang tangan Darren dan segera melepaskannya. "M-Maaf. Aku lagi-lagi bersikap lancang."
Darren tersenyum. "Sudahlah santai saja. Kalau kau mau ikut, ikut saja. Tidak ada yang melarang kok."
Senyuman lebar melintas di wajah Shiro. Mereka berdua pun berjalan ke dojo dengan Shiro mengikuti Darren dari belakang.
Berjalan perlahan di sunyinya lorong. Suara tapak kaki mereka pun bisa terdengar cukup jelas. Saat mendekati pintu belakang, mereka memperlambat langkah mereka.
Darren membuka pintu dan disambut oleh semilir angin malam yang menyejukkan. Cahaya bulan menerangi rerumputan dan bunga-bunga terlihat indah di bawahnya.
"Indah sekali," Shiro melayangkan pandangannya.
"Ya, benar. Ini sangat indah," Sambung Darren. "Sangat disayangkan kalau kita melewatkan momen seperti ini."
Darren tiba-tiba berlari menuju sebuah pohon yang tumbuh di tengah-tengah taman. Pohon itu cukup rimbun dengan beberapa sinar rembulan yang menembus melalui rongga dedaunan.
"Shiro, kemarilah," Panggil Darren sambil merebahkan tubuhnya di bawah pohon.
Shiro menghampirinya.
"Ke sini lah. Ini sangat nyaman," Darren mengarahkan tangannya ke rerumputan. "Berbaringlah. Ini sangat nyaman."
Shiro pun mencobanya.
Seketika ia langsung terbawa suasana nyamannya malam itu. Suara dedaunan yang bergesek satu sama lain bercampur dengan kesunyian yang benar-benar menenangkan hati.
Darren perlahan memejamkan matanya. Sudah lama ia tak merasakan hal seperti ini, bahkan sejak ia masih di kehidupan sebelumnya.
"Rasa nyaman ini," Ucap Darren pelan. "Shiro, apa kau senang?"
Shiro mengangguk sambil menoleh. "Aku sangat senang, Darren-sama," Jawabnya. "Aku jadi teringat dengan masa kecil ku di desa."
"Baguslah kalau kau senang," Sambung Darren sambil melayangkan pandangannya ke langit penuh bintang.
"Shiro, apa kau tahu?" Sambung Darren. "Bintang-bintang di langit terkadang memiliki pola?"
"Pola?"
"Yup. Di kampung halaman ku, kami menyebutnya rasi bintang," Sambung Darren. "Mereka memiliki berbagai bentuk. Ada yang berbentuk seperti seorang pemanah, dan juga ada yang mirip seperti seekor anjing."
"Woah... aku baru tahu tentang itu," Ucap Shiro. "Tapi, sebenarnya seperti apa bentuk bintang itu sendiri?"
"Menurut penelitian, ada yang bilang bahwa bintang adalah bola energi yang menyala-nyala di angkasa. Bola itu sama seperti matahari," Jawab Darren.
"M-Matahari? Tapi kenapa bintang sangat kecil?" Sambung Shiro.
"Karena bintang terletak sangat jauh. Saking jauhnya, sampai-sampai hanya terlihat seperti sebuah titik," Balas Darren.
"Eehh... ternyata Darren-sama tahu banyak hal, ya," Ucap Shiro. "Aku tidak terlalu mengerti, tapi akan ku ingat."
Kemudian mereka berdua kembali menikmati pemandangan. Keadaan menjadi sunyi di antara mereka berdua.
"Darren-sama," Suara lembut Shiro memecah suasana damai itu.
"Ada apa?" Sahut Darren tanpa menoleh. Matanya masih tertuju pada langit.
"Aku ingin selalu mengikuti mu. Kemanapun kau pergi," Sambung Shiro sambil tersenyum.
Kali ini Darren memiringkan kepalanya, menghadap ke arah Shiro dengan badan masih telentang. Ia membalasnya dengan senyuman simpel, tapi berarti bagi Shiro.
"Ya, dan aku akan melindungi mu."
.
.
.
Kreeek... Suara ngilu terdengar ketika pintu dojo terbuka. Darren dan Shiro memasuki dojo tanpa berpikir tentang apa yang mungkin ada di sana.
Dojo itu sangat gelap, jadi Darren mengeluarkan sebuah api yang kecil dari ujung jarinya. Walau tidak terlalu terang, tapi cahaya api itu cukup untuk melihat dalam kegelapan.
Shiro mengambil sebuah lilin kecil yang tersimpan di lemari dan menyalakannya dengan api milik Darren.
"Shiro, apa kau yakin ingin menemani ku di sini?" Ucap Darren sambil mengambjl sebilah pedang. "Ini masih malam. Kalau kau lelah, kau bisa kembali dan lanjut tidur. Lagipula, aku hanya ingin melatih tangan ku."
Shiro menggeleng dengan yakin. "Tidak apa-apa, Darren-sama. Aku akan melihat kau berlatih."
"Mm... baiklah."
Darren menggenggam pedang itu dengan kedua tangannya. Ia kemudian mengayunkan pedang itu, ke depan dan ke belakang secara berulang-ulang.
"Satu... dua... tiga... empat..." Setiap ayunan yang ia lakukan, ia selalu menghitungnya, "lima... enam... tujuh..."
Darren mengulangi latihan itu sampai beberapa kali. Ia kadang lupa dengan jumlah ayunan yang ia hitung, jadi ia terpaksa mengulangnya lagi dari awal.
"Darren-sama, kau terlihat lelah. Apa tidak sebaiknya kau istirahat dulu?" Ucap Shiro melihat Darren berkeringat.
"Aku akan istirahat saat aku sudah mencapai ayunan ke seratus," Balas Darren sambil fokus dengan ayunannya. "Agh, sial. Aku lupa lagi!"
"Darren-sama," Sambung Shiro, "Bagaimana kalau aku bantu menghitung?"
Darren menoleh. "Ah! Ide bagus!"
Latihan Darren berjalan lebih lancar dengan bantuan Shiro. Ia tak lagi lupa dengan jumalh ayunan yang ia hitung karena Shiro selalu membantunya mengingat.
Sekitar lima belas menit kemudian, Darren hampir mencapai ayunan ke seratus.
Tapi Darren terlihat tidak puas. "Seratus ayunan dalam lima belas menit? Betapa menyedihkannya aku," Gerutu Darren. "Mungkin orang-orang bisa melakukannya dalam semenit."
"Tapi waktu itu, kalau tidak salah, aku pernah melihat mu melakukan seratus tebasan dalam beberapa detik," Ucap Shiro.
"Itu karena aku menggunakan sihir. Tanpa sihir aku bukan apa-apa," Balas Darren. "Agh, ini mengecewakan."
Shiro tiba-tiba menghampirinya dengan wajah berbinar. Ia kemudian menatap Darren dengan matanya yang serius.
"Aku percaya Darren-sama pasti bisa melakukannya," Ucapnya. "Mungkin tidak sekarang. Tapi pasti, di masa depan, Darren-sama bisa melakukan gerakan seratus tebasan-- tidak, atau bahkan mungkin, seribu tebasan!"
Darreb tersenyum senang. "Terimakasih, Shiro. Kau membuat suasana hati ku lebih baik," Ucapnya sambil mengusap-usap rambut Shiro yang lembut.
Shiro memejamkan mata sambil memasang muka imut. Ia terlihat menikmati usapan tangan Darren.
"Eh, kau suka di elus-elus ya," Ucap Darren begitu melihat ekspresi Shiro.
"T-Tidak! Aku hanya s-senang karena Darren-sama merasa senang..." Balasnya sambil tersipu.
"Ha, ha, gak usah alasan," Darren pun terus mengelus rambut Shiro.
Wajah Shiro menjadi memerah. Ia menikmati elusan tangan Darren yang begitu nyaman.
"Benar juga. Shiro kan manusia hewan ras serigala. Serigala juga gak jauh beda sama anjing. gak heran kalau dia suka kepalanya di elus." Ucap Darren dalam hati.
"Darren-sama, hentikan. Ini memalukan," Ucap Shiro perlahan, tapi ekspresinya berkata lain. "Bersikap seperti ini di hadapan mu. Aku tidak bisa."
"Yosh, yosh, tidak apa-apa," Balas Darren dengan tangan masih terus mengelus. "Tapi kau menyukainya kan?"
Pipi Shiro memerah. Ia diam sejenak dan melanjutkan, "Ya, aku suka," Ucapnya dengan pelan.
Darren tersenyum. Melihat wajah Shiro yang memerah dengan ekspresi bahagia sudah membuat dirinya senang.
Darren kemudian menghentikan tangannya. Ia berdiri dan mengambil sebuah senjata.
"Shiro, terimakasih karena sudah menyemangati ku," Ucapnya. "Apa kau mau mencoba berlatih dengan ku?"
Wajah Shiro bersinar. "Aku mau! Aku akan sangat senang jika Darren-sama mau mengajar ku."
Darren pun memberinya tiga pilihan senjata pada Shiro. Pedang, kapak, atau tombak.
"Aku akan memilih ini," Shiro mengambil tombak dan mulai memainkannya. "Waktu aku di desa, aku pernah bermain dengan senjata ini. Kakak ku juga pernah mengajariku cara memakainya."
Darren mengambil sebuah pedang. Ia segera membuat jarak antara dirinya dengan Shiro dan siap untuk bertarung.
"Kita akan coba berduel, Shiro," Ucap Darren sambil mengacungkan pedangnya.
"Tapi, Darren-sama. Aku tidak bisa memukul mu," Balas Shiro. "Aku tak ingin melukai mu."
Darren menyeringai. "Tidak apa-apa. Hajar aku sekuat yang kau bisa. Jika kau melakukannya, maka aku akan sangat terbantu," Ucap Darren. "Jangan menahan diri, oke. Kau juga boleh gunakan sihir."
Shiro menajamkan matanya sambil mengangguk. "Baiklah, Darren-sama. Sesuai perintah mu."
Shiro mengambil posisi kuda-kuda yang cukup berbeda dari kebanyakan yang orang-orang lakukan. Kuda-kuda ini terasa tidak asing bagi Darren.
"Kuda-kuda ini..."
Tapi sebelum Darren selesai berpikir, Shiro telah mengayunkan tombaknya secara menyamping dan hampir saja mengenai wajah Darren.
Darren langsung bereaksi. Ia melenturkan pinggangnya, dan menghindari serangan langsung itu.
"D-Dia cepat?" Darren terkejut.
Sebelum Darren mengangkat kepalanya lagi, tombak Shiro telah kembali bergerak. Kali ini, Shiro menyerang kaki Darren.
Gubrakk! Darren tak bisa menghindar dan ia terjatuh di lantai.
Lagi-lagi, tombak Shiro meluncur secara lurus menuju ke arahnya.
Darren langsung mengayunkan pedangnya dan menangkis serangan Shiro.
"Dia gak main-main. Kecepatannya memang di bawah Tomatsu, tapi ia cepat."
"Dan kuda-kuda tadi... itu kuda-kuda yang sama seperti gaya Tomatsu!"
Darren segera melompat langsung dari posisi tidurnya. Ia berdiri dan menyiapkan pedangnya untuk serangan selanjutnya.
"Aku terlalu meremehkan Shiro. Tak kusangka ia begitu handal bermain dengan tombak."
Shiro menarik tombaknya hingga membelakangi punggungnya sendiri. Ia menarik nafas panjang dan kemudian melancarkan serangan menusuk secara cepat.
"Gerakan ini!?" Darren melotot. "Sama persis seperti gerakannya Tomatsu!"
"Jika ia benar-benar meniru semua gerakan Tomatsu, maka ia pasti memiliki rencana lain. Seperti contohnya..."
Darren mengulangi gerakan yang sama seperti latihannya kemarin.
Serangan menusuk bertubi-tubi yang tak bisa ditangkis, dan bagaimana gaya bertarung Shiro. Jika ini benar-benar mirip, maka akan ada satu celah bagi Darren.
Seett! Darren menghindar dan melompat ke tembok di sisi kiri. Ia memosisikan pedangnya dan bersiap untuk sesuatu yang akan datang.
Benar saja. Shiro langsung membaca pergerakan Darren. Matanya menoleh seketika dan ia menyiapkan tangannya untuk menangkap Darren.
"Benar dugaanku. Ia menggunakan gerakan yang sama."
Darren pun melompat.
Grabb! Kedua tangan Shiro menangkap kedua pundak Darren. Tapi, kali ini Darren telah menyiapkan gerakan tambahan.
Ia memutar tubuhnya di udara dan membuat tangan Shiro terlepas.
"Darren-sama, dia sadar dengan strategi ku!?" Shiro terkejut.
Darren langsung bersiap melancarkan serangannya. Ia mengayunkan tangannya dengan cepat.
Swoop! Tangannya mengayun dan terdengar suara hentakan besi di lantai.
"T-Tunggu... dimana pedang ku!?" Darren terkejut saat menyadari pedangnya tak sengaja terlepas dari genggamannya. "Gawat! Ini di luar rencana!"
Gubrakk!!
Darren dan Shiro bertabrakan. Mereka berdua terguling-guling di lantai dan akhirnya berhenti saat punggung Darren menabrak lantai.
"Aduh, duh, duh," Darren menggerutu kesakitan sambil kembali membuka matanya.
Di depan matanya tepat, mata Shiro menatap matanya juga. Mata mereka berdua begitu dekat, bahkan Darren bisa melihat refleksi bayangannya sendiri.
Mata Shiro yang biru begitu indah saat di lihat sedekat ini. Nafas Shiro yang terengah-engah, juga terasa berhembus menyentuh kulit wajahnya.
"Shiro..." Ucap Darren pelan dengan posisi badannya di timpa oleh tubuh Shiro.
Mata mereka berdua saling bertatapan. Keadaan menjadi hening untuk sesaat.
"Hwaaa! Maafkan aku Darren-sama!" Shiro langsung terbelalak.
Ia segera mencoba mengangkat tubuhnya untuk menyingkir dari posisi memalukan itu. Tapi, kakinya tak sengaja terpeleset dan malah membuatnya jatuh kembali.
Kini wajah mereka sangat dekat. Satu langkah lagi, maka bibir mereka bisa saja bersentuhan.
Darren memejamkan matanya. Ia tak tahan melihat wajah perempuan dengan sedekat itu. Ia belum terbiasa dan takut kalau sesuatu yang aneh akan terjadi.
"S-Shiro, apa kau bisa bergerak?" Ucap Darren tanpa melihat.
Shiro langsung menggunakan tangannya untuk menahan tubuhnya. Ia kemudian beranjak dan menyingkir dari atas tubuh Darren.
"Aku minta maaf, Darren-sama," Ucap Shiro sambil membungkuk. "Aku sangat ceroboh. Aku pantas di hukum."
Darren mengangkat badannya. Ia kemudian duduk dilantai sambil menoleh ke arah Shiro.
"Ini bukan salah mu," Ucap Darren. "Akulah yang ceroboh dengan gerakan ku tadi."
"Anggap saja ini kecelakaan," Sambung Darren. "Kau tidak akan di hukum."
Shiro menoleh ke arah Darren.
"Darren-sama..." Ucapnya pelan.
Tak lama kemudian, matahari mulai bersinar. Cahayanya masuk melewati beberapa dinding dojo yang berlubang.
"Sudah pagi ya. Gak kerasa," Darren berdiri. "Ayo kita sarapan dulu. Lalu, kita lanjut lagi latihan kita. Kali ini, aku akan minta Tomatsu melatih mu juga."
Shiro senang mendengar itu. Wajahnya bersinar. "Baik, Darren-sama!"