Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Negeri Batu yang Permai


Dedaunan merah berterbangan di udara, terbawa angin musim gugur yang berhembus lembut. Beberapa jenis burung mulai bermigrasi. Terbang melalui langit yang luas, membentuk formasi berjejer seperti huruf V.


Di bawah langit itu, berdirilah sebuah negri damai nan makmur. Inilah Steinfen. Kerajaan yang terkenal dengan julukan 'Negeri Batu'. Nama tersebut diambil dari bentuk geografis wilayahnya yang kebanyakan berupa bukit berbatu yang terjal.


Negara ini dibagi menjadi tiga provinsi besar. Di bagian utara, terdapat provinsi Felsig. Pusat formasi pegunungan Steinfen berkumpul di tempat ini. Menciptakan bentang darat berupa pegunungan terjal yang menjulang ke langit bagaikan tombak batu yang terhunus menembus ke inti bumi.


Di bagian tenggara, terdapat provinsi Meer. Perbukitan batu masih bisa ditemukan di wilayah ini, namun tidak sebanyak seperti di daerah lain. Provinsi ini berdiri di tepian laut. Kebanyakan orang-orang yang tinggal di sana pun berprofesi sebagai nelayan atau peternak ikat laut.


Dan terakhir. Di bagian barat daya, terdapat provinsi Haufig. Di sinilah letak ibu kota negara Steinfen terletak. Provinsi ini memiliki geografi paling ramah dibanding dua provinsi lainnya. Karena hal tersebut, pembangunan jadi lebih mudah dilakukan dan membuatnya berkembang paling pesat dari provinsi lain.


Seperti mayoritas negara-negara manusia pada umumnya, tentu saja Steinfen dihuni oleh manusia sebagai ras utamanya. Namun, manusia bukanlah satu-satunya ras yanh resmi menghuni daratan tersebut. Terdapat juga ras elf yang terkenal juga tinggal di negeri batu tersebut.


Ras elf adalah ras yang mirip seperti manusia, namun memiliki daun telinga meruncing. Mereka juga dikenal memiliki umur panjang dan paras mereka yang luar biasa cantik.


Menurut legenda, pada zaman dahulu, ras elf pernah menjadi sekutu dekat Dewa Cahaya. Pada era Perang para Dewa, ras elf dipilih khusus oleh Dewa Cahaya untuk menjadi sekutunya. Mereka memiliki bakat istimewa yang dapat memanipulasi Mana dengan luar biasa. Menjadikan mereka pengguna sihir yang sangat hebat.


Pasca perang usai, ras elf pun mendapatkan reputasi sebagai ras yang tinggi. Di atas manusia bahkan. Hal ini menyebabkan mereka memiliki harga diri yang tinggi dan selalu dihormati di mana-mana. Mereka juga dianggap sebagai ras suci.


Steinfen juga terkenal akan kualitas pendidikannya. Di tanah itu, berdiri akademi petualang yang telah terkenal hingga ke setiap penjuru dunia. Banyak nama tokoh-tokoh petualang terkenal yang lahir dari akademi itu.


Saking hebatnya, orang-orang pun merumorkan bahwa di akademi itu akan terpanggil seorang pahlawan yang ditakdirkan untuk mengubah dunia. Tapi semua rumor itu hanya didasari oleh fakta kualitas pendidikannya yang tak tertandingi. Mereka bisa dikatakan terlalu membangga-banggakan akademi tersebut. Selebihnya, kebanyakan hanyalah kisah yang didramatisir.


Tapi bagaimana jika itu bukanlah sekedar gosip, melainkan sebuah ramalan yang akan terwujud suatu hari nanti? Siapa yang tahu, kan? Bisa saja takdir memang sudah menghendaki demikian. Dan jika benar begitu, akan seperti apa pahlawan tersebut? Apakah ia memang layak mendapatkan gelar sakral tersebut? Tidak, mungkin pertanyaan yang sesungguhnya adalah: Apa pahlawan itu akan menerima takdirnya sendiri sebagai penyelamat dunia?


"Kedengaran seperti dongeng," Cetus Darren setelah mendengar kisah singkat tersebut.


"Memang. Lagian, cerita itu cuma buatan orang-orang lokal. Mereka terlalu bangga dengan negeri mereka sendiri sampai membuat cerita yang mengada-ada," Balas Ravenna.


Saat ini mereka sedang dalam perjalanan ke Steinfen menggunakan kereta kuda. Jalan tanah yang berbatu kadang membuat kondisi perjalanan jadi sedikit berguncang.


"Hey, lihatlah. Kita sudah mau sampai." Ravenna menunjuk ke luar jendela.


Darren dan Shiro menengokkan kepala mereka ke luar. Pemandangan perbukitan yang hijau menyambut mata mereka. Beberapa juga menunjukkan formasi bebatuan khas yang hanya bisa ditemukan di Steinfen. Di kejauhan, nampak sebuah kota kecil berdiri di antara perbukitan. Kota itulah tujuan perjalanan mereka.


"Indahnya." Seperti biasa, Shiro selalu mengapresiasi setiap keindahan dunia ini. Pikirannya yang polos selalu membuat Darren kagum, mengingat kekejian dunia pernah menimpanya sebelumnya sebagai budak.


"Memang keputusan yang benar untuk membawamu bersama kami, Ravenna," Ujar Darren. "Tapi sayang, Tora jadi tidak bisa ikut dalam perjalanan kali ini. Ia juga pasti akan senang ketika melihat pemandangan spektakuler ini."


Ravenna melipat tangannya. "Jujur, aku merasa agak bersalah menyerahkan semua tugasku padanya. Menjadi pimpinan negara bukanlah hal yang mudah."


"Tenang saja. Tora bisa diandalkan. Walau ia belum berpengalaman, tapi ia adalah orang yang jenius. Hanya perlu belajar sedikit, ia pasti bisa langsung melakukannya seolah ini adalah kegiatannya sehari-hari," Sahut Darren. "Lagipula, ia juga ditemani banyak orang. Orang-orang di sana juga pasti membantunya."


"Kau benar. Mungkin aku terlalu memikirkannya."


.


.


.


Beberapa hari sebelumnya. Lebih tepatnya sebelum mereka memulai perjalanan mereka menuju Steinfen. Darren berpikir untuk membawa Ravenna dalam perjalanan kali ini. Ia punya sejarah dengan tempat itu, jadi Darren berpikir bahwa ia bisa jadi pemandu di sana.


Ravenna pun berpikir demikian. Ia ingin ikut bersama Darren. Tapi pekerjaannya di kota mengharuskannya untuk tinggal. Jika ia meninggalkan pekerjaannya begitu saja, bisa-bisa kota bisa kacau.


"Aku bisa menggantikanmu." Tiba-tiba Tora mengusulkan.


Lantas itu membuat Darren terkejut. "Kau yakin?"


"Tenang saja. Aku bisa mengurusnya. Aku hanya perlu mempelajari beberapa hal dan membiasakan diri. Selanjutnya, aku yakin ini tak lebih sulit dari mengalahkan raja iblis api."


"Kenapa kau membandingkannya dengan hal semacam itu?!" Darren menghela nafas. "Maksudku, apa kau yakin tidak ikut? Kita mungkin takkan bertemu untuk waktu yang cukup lama."


Tora tersenyum. "Aku tahu alasan perjalananmu ke Steinfen adalah untuk menginvestigasi perihal undead itu. Ini adalah hal penting. Aku sadar posisiku dalam tim takkan berguna kali ini. Di sisi lain, Ravenna-san bisa membantu dalam banyak hal."


Tora melanjutkan. "Maka dari itu, aku tetap ingin berguna walau tidak secara langsung. Dan yang bisa kulakukan hanyalah menggantikan posisi Ravenna-san."


Ravenna maju dan menatapnya. "Tora-kun, ini bukan masalah sepele. Mengurus sebuah negara tidak seperti bermain permainan papan monopoli. Banyak hal yang harus kau lakukan. Jika lalai sekali saja, bisa-bisa seisi kota kena imbasnya."


Lagi-lagi Tora tersenyum. Kali ini wajahnya nampak percaya diri. "Tidak perlu khawatir. Seperti yang kubilang tadi, aku ini cepat beradaptasi. Lagipula, Hain bisa membantuku."


"Tapi..." Ravenna nampak risau. Ia bukannya tak mempercayai Tora. Tapi ia khawatir jika Tora akan kelelahan dengan semua pekerjaan ini.


Tiba-tiba Darren memegang pundak Ravenna. Ia menganggukkan kepalanya padanya. "Serahkan saja padanya."


Akhirnya dengan berat hati, Ravenna mengiyakan. Sebelum pergi pun, ia memberikan Riuku dan Garu pada Tora untuk bekerja secara langsung dibawah perintahnya. Ia tidak mau Tora kesulitan, jadi sebisa mungkin ia membantunya dengan cara lain.


.


.


.


Perjalanan mereka memakan waktu cukup lama. Sekitar satu minggu mereka tempuh dengan terus berjalan dengan kereta kuda. Jarak dari kota lizardmen menuju Steinfen memang dikatakan sangat jauh. Mereka bahkan harus melewati beberapa negara lain untuk tiba di sana.


Ketika tiba di ibukota, Darren dikejutkan sekaligus terpukau dengan bentuk arsitektur Steinfen yang sangat berbeda dari negara-negara yang pernah ia kunjungi sebelumnya. Bangunan-bangunan di sana memiliki kesan eropa yang di mana membuat Darren sedikit bernostalgia.


Cara berpakaian orang-orang pun cukup modern. Kebanyakan berpakaian seperti aristokrat dengan jas hitam dan dasi yang elegan. Melihat itu, Darren bisa langsung menebak bahwa kota ini pasti di isi oleh orang kaya dan bermartabat tinggi.


"Kita sampai." Kereta berhenti seraya delman membiarkan Darren dan teman-temannya turun dari kereta.


Menginjakkan kaki di tanah orang kaya ini, membuat Darren merasa kagum. Sungguhan, semua di sini terasa seperti di bumi lamanya. Ia tak bisa membuang pikiran bahwa saat ini ia sedang berlibur ke Eropa.


"Darren-kun, ada apa?" Tanya Ravenna, melihat Darren diam tertegun.


"Sebaiknya kau jangan menatap terlalu lama. Orang-orang bisa mengira kau orang aneh."


"Ah, benar juga." Darren memalingkan wajahnya dan melanjutkan perjalanan dengan kaki.


Berjalan di antara tengah kota besar ini membuat Darren cukup kebingungan. Ia bahkan hampir terpisah dengan mereka di beberapa kesempatan. Namun untung Shiro tak pernah melepaskan pengawasannya pada Darren.


Keikutsertaan Ravenna pun banyak mempermudah perjalanan. Denah kota ini sudah dihafalnya di dalam kepala, sehingga ia tak pernah salah dalam mengambil jalan.


"Kita sampai."


Mereka berdiri di depan sebuah bangunan yang penuh lampu. Dari luar, nampak kalau bangunan itu adalah sebuah penginapan.


Mereka pun masuk dan memesan kamar. Mereka mendapat satu kamar berukuran besar yang dilengkapi tiga ranjang terpisah.


"Ngomong-ngomong, setelah ini kita ke mana?" Tanya Darren sambil menyusun barang-barangnya di lemari. Di sampingnya, Shiro juga ikut membantunya.


Ravenna menyahut. "Aku akan pergi ke akademi."


"Kau? Sendirian?" Darren mengernyitkan alis. "Apa ada urusan di sana?"


"Aku akan mendaftarkanmu ke sana."


Bruk... barang-barang Darren berhamburan jatuh dari lemari, seraya Darren tergemap menatap Ravenna dengan tatapan mau mati.


"Eh... sekolah...?"


"Iya, sekolah. Kupikir ini akan mempermudah misi kita."


"Misi apa woy?!" Darren berteriak. "Kau tidak bilang sama sekali tentang rencana 'sekolah' mu ini. Kukira kita hanya perlu menginvestigasi masalah undead itu."


"Shh... tenanglah! Apa aku lupa mengatakannya padamu? Aku punya seorang kenalan di akademi. Ia adalah seorang apoteker hebat. Mungkin saja ia bisa membantu masalah pengobatan penyakit terkutuk itu."


"Kau tidak bilang sama sekali!" Darren kemudian diam. Mungkin seharusnya ia tidak teriak-teriak tadi. "Akhem~ Maaf, karena teriak-teriak. Hanya saja, aku punya kenangan buruk tentang sekolah."


Sekolah... hal yang paling Darren benci dalam hidupnya. Bukan karena ia harus belajar atau menghafal banyak hal. Tapi karena 'sekolah' adalah medan perang psikologi yang selalu merusak pikirannya.


Kehidupan sekolahnya dulu bukanlah sebuah kenangan indah yang layak untuk dikenang. Melainkan mimpi buruk yang selalu menghantuinya setiap kali ia mengingatnya. Ia masih ingat betul bagaimana sosok wajah-wajah iblis bertopeng manusia itu, yang setiap hari selalu memojokkannya tanpa merasa bersalah.


Di sekolah itu, manusia bagaikan hewan. Mereka hanyalah penjilat. Ketika melihat sosok yang mereka pikir dapat memberi mereka keuntungan, mereka tak ragu untuk menjadi pengikutnya. Bagai anjing yang takluk hanya karena diberi tulang sisa oleh majikannya.


Tapi kali ini situasinya berbeda. Lagi-lagi, ia harus dihadapkan dengan hal yang ia takuti demi keselamatan orang-orang. Jika apa yang dikatakan Ravenna tentang orang itu benar, maka ini akan menjadi kesempatan emas untuk menemukan seseorang yang bisa membantunya.


Ravenna menghela nafas. "Yah, jika kau tidak mau. Kurasa kita bisa cari jalan lain--"


"Tidak. Kita lanjutkan rencananya," Potong Darren. "Jika Tora bisa memimpin sebuah negeri dalam satu malam. Maka seharusnya sekolah bukanlah hal rumit, kan?"


Mendengar itu, Ravenna tersenyum. "Ya, tentu saja," Balasnya. "Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Besok bersiaplah untuk berangkat ke akademi. Pagi-pagi betul aku akan menjemputmu."


Kemudian Ravenna beranjak dan pergi.


"Hati-hati di jalan, Ravenna-san." Tak lupa, Shiro memberinya ucapan selamat jalan. Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya merapihkan benda-benda yang berceceran tadi.


Darren berdiri dan berjalan menuju kasur. Ia pun merebahkan badannya ke atasnya. Dengan posisi telentang, ia meregangkan kedua lengannya hingga bisa mencapai kedua ujung ranjang. Untuk sesaat, ia bisa merasakan sejuknya seprei lembut itu.


"Sekolah, ya..." Ia bergumam.


Melihat wajah Darren yang risau, Shiro pun menghampirinya sejenak. "Darren-sama. Apa sesuatu mengganggumu?"


Tanpa sadar, mulut Darren bergerak. Padahal ia tak berniat menjawabnya sama sekali.


"Sekolah. Itu hanya mengingatkanku bahwa aku hanyalah sebuah kegagalan. Aku gagal membela kebenaran. Aku gagal... melindungi sahabatku."


Nada bicaranya seolah menceritakan sebuah tragedi yang tak terlupakan dalam hidupnya. Sebuah tragedi yang mengubah cara pandangnya pada dunia.


"Jika saja aku tidak keras kepala. Semuanya seharusnya baik-baik saja," sambung Darren. "Semuanya salahku. Aku selalu membuat kesalahan. Jika aku terus begini, bagaimana nasib semua orang ke depannya? Orang-orang bisa dalam bahaya jika aku tidak mengubah sikapku."


Shiro tidak begitu mengerti apa maksud kesah Darren. Tapi ia bisa merasakan hatinya seperti sedang terbakar. Bagai api yang sempat padam kembali berkobar disulut minyak.


"Tidak, Darren-sama. Satu-satunya kesalahanmu adalah melihat ke belakang, dan melihat ke depan."


Perlahan Shiro memeluk Darren dari samping. Ia membenamkan wajahnya ke pundak Darren sambil mendekapnya erat-erat. Ia bahkan bisa mendengar suara detak jantung Darren. Suaranya sangat dekat. Inilah suara hati Darren.


"Menyalahkan diri sendiri itu tidak apa. Tapi kau harus segera kembali maju," sambung Shiro. "Masa lalu hanya akan membuatmu ingin mati karena penyesalan. Dan masa depan hanya akan membuatmu depresi karena kekhawatiran. Berhentilah berpikir terlalu jauh, dan fokus melakukan yang terbaik untuk hari ini. Tak perlu takut, karena aku selalu ada bersamamu."


Dekapan hangat dan penghiburan dari seorang yang selalu ada di sisinya. Sudah lama ia ingin meluapkan semua yang ada dalam hatinya. Perasaan ini... entah kenapa membuat Darren menitiskan air mata.


"Shiro..."


Isak kecil mulai terdengar. Shiro pun mengelus rambut Darren perlahan.


"Keluarkan saja. Jangan menahan apapun dariku. Sebab..."


"...kita ini kan keluarga."


.


.


.


To be continued...