
Keesokan harinya...
Musim gugur telah tiba. Keadaan terasa lebih tenang dari biasanya. Tapi tidak dengan suasana hati Ari.
Dengan wajah yang geram, ia memakan sarapannya. Ia mengunyah makanannya dengan ganas, seraya menatap Michael yang juga sedang sarapan di depannya.
"Menjengkelkan sekali," Batinnya dengan mulut yang penuh. "Sebenarnya kemarin ada apa? Mereka tiba-tiba jadi lebih dekat seperti ini. Apa mereka melakukan sesuatu selagi aku tidak ada?"
Tak lama kemudian Riana datang dengan membawa teh. Ia menyuguhkannya di depan mereka. Hal itu membuat Ari sedikit lebih tenang pada awalnya. Namun...
"Riana, terimakasih atas yang kemarin," Ucap Michael tiba-tiba.
Riana pun menyahut. "Ah iya. Aku juga senang melakukannya kok."
Emosi Ari kembali memuncak. Pikirannya kacau dipenuhi perasaan kesal yang meluap-luap.
"Benar dugaan ku. Mereka pasti melakukan sesuatu. Apakah itu sesuatu yang... Agh! Aku tak mau memikirkannya!" Ari menggerutu dalam hati.
Namun ia segera menggeleng-gelengkan wajahnya dan berusaha membuang pikiran anehnya. "Ah, tidak mungkin. Adikku yang manis takkan melakukan hal-hal seperti itu. Mungkin hanya aku yang salah tanggap. Lagipula, manusia itu tak mungkin mampu mencuri adikku dari ku--"
"Buka mulutnya, aaaah..." Riana memasukkan sendok ke dalam mulut Michael. "Imutnya."
Mata Ari seakan terbakar melihat pemandangan itu. Jiwanya seakan lepas meninggalkan tubuhnya untuk sesaat. Sungguh sebuah mimpi buruk baginya.
Michael mengernyitkan matanya sambil berusaha menjauhkan tangan Riana. "Hentikan. Aku bisa makan sendiri."
"Yah... sekali lagi dong," Ucap Riana sambil terus menyodorkan sendoknya. "Anggap saja ini sebagai bayaran untuk yang kemarin."
Michael tak bisa melawan. Ia menghela nafas panjang. "Baiklah. Sekali lagi saja ya."
Riana tersenyum puas. Ia pun kembali menjulurkan sendok itu layaknya menyuapi anak kecil.
"Aaaah... pesawatnya datang," Ucap Riana, sementara Michael menatapnya dengan datar.
Hap... Sendok itu masuk ke dalam mulut Michael. Ia mengunyah makanannya sembari diperhatikan oleh Riana yang berseri-seri.
Namun di sisi lain, Ari juga memperhatikan kedekatan Michael dan Riana dengan tatapan seperti orang mati. Dilihat dari rautnya saja, ia kelihatan seperti sudah tak bernyawa.
"R-Riana... adikku..." Ia kemudian merangkak mendekat, seperti mayat hidup. "Suapin kakak juga dong."
Riana tersenyum manis. "Kakak makan sendiri saja. Kakak kan sudah besar," Ucapnya sementara Michael menatapnya seakan berkata: "Lalu kau anggap aku apa?"
Ari membalas. "Tapi..." Namun ia tak mampu melawan adiknya.
Ari menyerah. Ia hanya bisa melanjutkan sarapannya dengan rasa kekalahan yang menusuk hatinya. Baru kali ini merasa kalah telak.
"Sialan. Kalau begini, adikku bisa lepas dari genggaman ku," Batinnya sambil melirik ke arah Riana yang masih berusaha menyuapi Michael. "Tidak boleh. Aku takkan membiarkan itu terjadi. Apapun asalkan bukan itu."
Sementara Michael merasakan hawa membunuh dan melirik ke arah Ari. "Ada yang tidak beres dengan orang ini."
Tiba-tiba Riana memanggil Michael. "Michael-san," Ucapnya.
Michael menoleh. "Huh, ada apa?"
"Aku sudah bulatkan tekad ku. Aku ingin belajar bela diri!" Sambung Riana.
Mendengar itu, membangkitkan semangat harapan dalam hati Ari. Ini adalah kesempatan emas baginya. Jika ia bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, maka ia bisa mendapatkan Riana kembali ke tangannya. Itulah yang ia pikirkan.
"Aku bisa menjadi guru baginya!" Ia berteriak dalam hati.
Tapi ia langsung menyadari bahwa ia bukan satu-satunya dengan ide tersebut. Ia tahu bahwa Michael takkan tinggal diam. Ia berasumsi bahwa Michael akan mencoba merayu Riana dengan menjadi gurunya juga.
"Tch, orang itu merepotkan sekali," Gerutu Ari sambil menggigit ujung sendoknya. "Kalau ia menggunakan ide yang sama. Maka aku tak punya pilihan lain. Aku akan menantangnya!"
Ari langsung menggebrak meja, mengejutkan Riana dan Michael. Ia langsung mengacungkan sendoknya sambil menunjukkan ekspresi berapi-api.
"Riana, wahai adikku. Kau barusan bilang ingin berlatih bela diri? Hoho, maka hari ini hari keberuntungan mu. Aku, kakakmu ini, akan dengan senang hati mengajari mu caranya," Ucapnya dengan nada bersemangat.
Riana menyahut. "Kakak juga mau ikutan?" Ucapnya dengan wajah antusias. "Bagus kalau begitu. Lebih ramai lebih asik."
Ari membusungkan dadanya dengan bangga. Ia dengan sengaja menatap Michael dengan pandangan percaya dirinya.
"Michael, aku takkan kalah dari mu," Ucapnya.
"Eh, ada apa ini?" Michael mulai bingung dengan kelakuan dua bersaudara tersebut. "Aku bahkan belum bilang mau iku-- Ehh!"
Tanpa basa-basi Riana langsung mendorong kursi Michael dan membawanya keluar, diikuti oleh Ari yang dipenuhi tekad untuk menang.
Mereka pun pergi ke sebuah lapangan yang agak luas. Di sana tidak ada pohon maupun semak, jadi tak akan ada yang bisa mengganggu kegiatan mereka.
Ari melenturkan badannya sebagai bentuk pemanasan. Di sampingnya, Riana mengikuti apa yang kakaknya lakukan. Ia hanya meregangkan badan karena ia berpikir kakaknya bisa jadi contoh yang baik.
Sementara Michael hanya duduk di atas kursi rodanya, meratapi pilihannya karena mengikuti kegiatan latihan ini.
"Apa hal semacam ini lumrah di kehidupan normal?" Michael bertanya-tanya dalam hati. "Huff, ikut-ikut saja lah."
Riana meminta Michael untuk diajarkan menggunakan senjata. Namun mengingat kondisi Michael sekarang, ia berpikir akan sulit untuk mewujudkannya.
Namun Ari melihat ini sebagai kesempatan. Ia bisa mengajari Riana dan menjadi lebih dekat lagi dengannya. Ia sudah bisa membayangkan wajah Michael yang suram karena melihat aksinya, padahal sebenarnya Michael tak peduli sama sekali.
"Riana, aku bisa mengajari mu," Ucap Ari sambil maju ke depan.
"Sungguhan?" Riana tersenyum. "Tapi, apa kakak bisa menggunakan pedang? Setahu ku kakak hanya pandai menggunakan busur."
Ari tertawa. "Jangan remehkan kakak mu ini. Menggunakan pedang pasti tak beda jauh dengan menggunakan panah."
Riana mulai ragu dengan ucapan kakaknya, namun hanya mengangguk mengikuti alurnya. "E-Eh, beneran begitu?"
Ari mengambil sepasang pedang kayu dengan sisi yang tumpul. Ia memberikan salah satunya pada Riana.
Riana mengangguk. Tanpa basa-basi, ia mengangkat pedangnya dan berlari ke arah Ari. Ia kemudian mengayunkannya dengan ritme yang berantakan.
Ari memegang pedangnya dengan satu tangan. Namun dengan mudah menangkis setiap serangan Riana yang datang kepadanya.
"Pola bertarungnya benar-benar menunjukkan kalau ia tak pernah memegang senjata sama sekali. Bahkan aku yang tak pernah menggunakan pedang bisa melihatnya," Ucap Ari dalam hati.
Setelah beberapa menit, Riana mulai kewalahan. Nafasnya terengah-engah, diiringi dengan gerakan tangannya yang mulai melambat.
"Sepertinya sudah cukup. Kau bisa istirahat sekarang, Riana," Ucap Ari.
Riana menjatuhkan badannya ke tanah sambil mengelap keringat yang jatuh di pipinya. "Bagaimana kak? Aku dapat nilai berapa?"
Ari tersenyum. "Kau cukup hebat. Kau bisa bertahan selama ini melawan ku."
Namun tiba-tiba Michael menyela. "Tidak. Apa yang dikatakannya tidak benar."
Kedua kakak beradik itu langsung menoleh kepada Michael. Tampang Michael seakan berubah menjadi tajam dan serius. Kelihatannya, sesi latihan ini membangkitkan sifat tegas Michael sewaktu pelatihan militer dulu.
Ari membalas Michael. "Apa maksud mu? Adikku sudah melakukan yang terbaik. Dan menurut ku ia lumaya--"
"Kau mengatakan itu hanya demi menyenangkan adikmu, bukan?" Potong Michael.
Ari terdiam. Ia merasa tersindir saat mendengar Michael mengatakan itu. Tapi ia tak membuka mulut.
Michael menoleh kepada Riana dan melanjutkan perkataannya. "Posisi kuda-kuda mu salah. Kau terlalu merapatkan kedua kaki mu, sehingga memperbesar kemungkinan kau akan tersandung kakimu sendiri," Jelas Michael.
"Ditambah, bentuk telapak tangan mu saat memegang gagang pedang, tidak efisien," Sambungnya. "Walau nampak sepele, namun itu dapat membuatmu menggerakkan pedang lebih cepat saat menangkis serangan mendadak."
Riana mendengar setiap perkataan Michael dengan sungguh-sungguh. Tapi Ari malah merasa kesal karena adiknya terus di kritik.
"Hey kau. Apa kau bisa berhenti?" Ucap Ari dengan jengkel. "Adikku kan masih pemula. Setidaknya bisa kah kau memakluminya?"
"Dalam militer, ilmu seperti ini adalah materi yang umum," Balas Michael. Ia tidak sadar bahwa dirinya terbawa suasana.
"Tch, menyebalkan. Lagipula, apa kau benar-benar pengguna pedang? Jangan-jangan kau sebenarnya tidak bisa menggunakan pedang," Ucap Ari. "Atau mungkin, kau cuma berlagak keren dengan melontarkan kata-kata sok militer mu itu."
"Aku adalah pengguna pedang besar. Aku memang tidak banyak berpengalaman menggunakan pedang pipih."
"Nah, benarkan," Ari mencuatkan kekesalannya. "Lebih baik kau diam saja deh."
"Tapi teman ku adalah pengguna pedang terbaik di Erobernesia. Taiji Kuroba--" Michael memberi jeda kemudian melanjutkan. "Ia pernah mengajakku latihan bersama dan menunjukkan teknik bertarungnya pada ku."
"Apa buktinya?" Ucap Ari.
"Kakak, cukup," Riana menarik lengan baju kakaknya.
Ari menoleh dan sadar kalau dirinya mungkin sudah berlebihan. Tapi ia masih merasa jengkel dengan sikap Michael yang seperti itu.
Ia menghela nafas. "Huff, baiklah. Aku takkan menanyai--"
"Bagaimana kalau kita bertarung?" Tiba-tiba Michael memotong.
Sontak hal itu membuat Ari dan Riana terkejut. Awalnya mereka mengira mereka salah dengar. Namun Michael mengulangi ucapannya sekali lagi.
"Bertarunglah dengan ku. Kalahkan aku dalam tiga menit, dan aku akan melakukan apapun untuk mu," Ucap Michael.
Ari meneguk salivanya. Kepercayaan dirinya menghilang begitu melihat wajah serius Michael. Pria itu tidak bercanda sama sekali.
"Bila aku gagal?" Tanya Ari.
"Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Karena aku tahu, pria seperti mu punya ego yang besar. Kau takkan sanggup menerima kekalahan ini, dan akan hidup menanggung rasa malu yang akan terus menghantuimu."
Ari mengepalkan tangannya. "Sial, apa dia mengejekku?"
Ari pun membalas tatapan serius Michael. "Baiklah. Aku terima."
"Kakak?" Riana begitu terkejut mendengar balasan Ari. "Kau tidak benar-benar akan bertarung, kan?"
"Tidak, Riana. Aku harus memberinya pelajaran," Ucap Ari kemudian berjalan menghampiri Michael dengan dua pedang kayu di tangannya.
"Kakak..."
Ari menyerahkan satu pedangnya pada Michael. Michael mengambil pedang tersebut dan mengambil posisi bertarung di atas kursi roda.
"Bersiaplah!"
To be Continued...
.
.
.
Note from Author:
Terimakasih sudah membaca episode kali ini. By the way, author ingin ngasih tau, bahwa author merilis novel baru. Judulnya, Isekai no Gakusei: Fueled by Hatred.
Novel ini merupakan novel spin-off dari cerita utama Isekai no Gakusei, yang berfokus kepada kisah perjalanan Katherine Doppleschwert pasca pertempuran berdarah di Vertrag.
Jangan lupa dicek ya!
[Ilustrasi Katherine]