
Tomatsu dan Katherine akhirnya kembali. Wajah mereka begitu senang daat melihat Darren sudah bangun dan sedang duduk di kursi dekat Rendi. Ia bahkan terlihat sedang bercakap-cakap dengan Remi dan wajahnya terlihat senang. Entah apa yang mereka bicarakan selama mereka pergi.
"Yo, Darren-kun. Akhirnya kau sadar juga," Ucap Tomatsu sambil menghampirinya. Ia meletakkan makanan yang ia bawa di meja dekat Darren. "Ini makanlah."
"Wah, terimakasih, Tomatsu," Darren segera membuka makanan itu dan menyantapnya. Ia sudah lapar daritadi.
Katherine dengan cepat menghampirinya dan mulai membungkukkan badan. Ia sudah tak tahan ingin mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Darren-sama, terimakasih banyak," Ucapnya dengan wajah menghadap lantai. "Berkat mu, aku mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup. Kau orang yang sangat baik. Sejujurnya, aku tidak tahu harus membalas dengan apa."
"Oh, ah, tidak masalah," Balas Darren sambil melahap makanan.
Katherine mengangkat kepalanya. "H-Hanya itu saja?" Ucapnya. "Maksud ku. Kau mengobati ku dengan sekuat tenaga, dan bahkan sampai kehabisan Mana dan pingsan. Apa kau tidak menuntut sesuatu dari ku?"
Darren membalas. "Ku dengar dari Remi kalau kau itu suka tersenyum ya," Ucapnya. "Sosok yang periang, ramah, dan selalu membuat keadaan menjadi lebih meriah. Aku pikir alasan itu saja sudah cukup untuk membuatku berpikir bahwa akan sangat disayangkan jika membiarkan mu mati."
Darren menoleh ke arah Remi. "Lagipula, sepertinya kau sangat berharga di mata teman-teman mu," Sambung Darren. "Benar kan, Remi?"
Remi tersentak mendengarnya. Kenapa harus ia yang di panggil?
Ia membalas sambil sedikit tersipu, "I-Iya, benar sekali."
Ia kemudian menatap Darren dengan wajah memerah. "Kenapa harus begitu sih, Darren-sama," Ucapnya pelan.
"Habis, kau dari tadi membicarakan Katherine terus," Balas Darren sambil sedikit cekikikan.
Katherine malah tersenyum manis. Sepertinya Remi tidak mengada-ngada soal ini. Senyumannya sangat cerah dan pastinya bisa membuat siapa pun yang melihatnya diabetes.
Darren bahkan jadi sedikit terlena dan hampir lupa kalau Katherine itu seorang iblis. Ia baru sadar saat tak sengaja melihat tanduk kecil di kepalanya.
"Oh ya, Katherine-san, apa kau sudah benar-benar sehat?" Tanya Darren.
"Aku sudah sangat sehat. Dan ini berkat mu, Darren-sama," Balas Katherine sambil tersenyum.
Darren menyambung. "Lalu, sebenarnya darimana kau bisa mendapat penyakit itu?"
Katherine hanya membalas, "Aku tidak tahu benar. Penyakit ini rasanya muncul begitu saja. Dann saat aku sadar, penyakit ini sudah menggerogoti tubuhku."
"Apa kau merasakan sesuatu?"
Katherine mengangguk. "Ya. Rasanya sangat sakit, sakit sekali," Balasnya. "Bahkan sebenarnya aku sempat berpikir kalau mati lebih baik, tapi aku ingat dengan Rem-- teman-teman ku. Aku tidak mau membuat mereka sedih."
Darren menarik nafas panjang. Ia bersyukur Katherine punya pemikiran seperti itu. Tapi ia jadi sedikit gelisah karena tidak mendapat informasi tentang penyakit itu.
Penyakit itu mungkin sudah menyebar. Seperti penyakit batuk dan flu, yang awalnya terlihat sepele, tapi ternyata merupakan gejala awal dari penyakit yang lebih mematikan.
"Apa kau punya gejala awal seperti batuk-batuk?" Darren melontarkan pertanyaan lagi.
Katherine mengangguk-angguk. "Ya. Aku merasa nafas ku sangat sesak."
Darren berasumsi kalau sesak nafas Katherine mungkin disebabkan karena paru-parunya yang sudah rusak. Efek wither itu pastinya sudah merusak organ dalam lainnya juga, sehingga cukup untuk membuatnya terkapar dan lumpuh.
"Darren-sama, kalau bicara seperti itu kau terlihat seperti dokter," Ucap Shiro.
"Iya, benar juga. Apa Darren-sama adalah orang berpendidikan tinggi?" Sambung Remi.
Darren tersenyum sambil melambai-lambaikan tangan. "Tidak, tidak. Aku hanya sekedar tahu saja. Lagipula, penyakit ini akan sangat berbahaya jika dibiarkan. Bisa-bisa akan merenggut lebih banyak nyawa lagi."
"Jika bisa, aku ingin sekali membantu orang-orang yang menjadi korban penyakit ini," Sambung Darren.
Tomatsu tiba-tiba menepuk pundak Darren. "Darren-kun," Ia menatap mata Darren dengan serius. Mata Darren juga menatapnya.
"Apa kau lupa alasan kita pergi sejauh ini?" Sambungnya. "Aku harap kau tidak lupa."
Ah benar, Darren hampir saja lupa kalau ia harus mencari Tora. Ia juga ingin memastikan kalau Tora aman dan jika ia tetap ingin pergi, maka setidaknya Darren akan memberikannya sedikit balasan atas bantuannya selama ini.
Ditambah lagi, Darren tidak boleh lupa kalau nyawanya sendiri juga dalam ancaman. Raja Iblis kegelapan mengincarnya. Walau ada Tomatsu di pihaknya, tapi tetap saja akan jadi masalah besar kalau mereka sampai bertemu.
Pertempuran mungkin akan terjadi, dan ia tentunya tak bisa terus mengandalkan Tomatsu untuk melindunginya. Kalau dipikirkan terus, pikiran Darren rasanya jadi berat dan penuh beban.
"Darren-sama, apa kau tidak apa-apa?" Shiro melihat Darren menggaruk-garuk kepalanya sendiri dengan brutal. Wajahnya pun terlihat frustasi.
"Ah, aku tidak apa-apa," Sahut Darren menurunkan tangannya.
Tiba-tiba pintu terbuka dan dua orang perempuan masuk secara bersamaan.
"Remi-san, kami mendapa-- Woah, Darren-sama!" Ternyata itu Sella dan Selly.
"Darren-sama sudah bangun!" Sella terlihat antusias.
Darren melambaikan tangan sambil sedikit tersenyum.
"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan sesuatu?" Sahut Remi.
Selly mengangguk. Ia kemudian menghampiri Remi dan mulai menceritakan apa yang mereka lihat sepanjang pengintaian.
"Selama mengintai, kami mendengar beberapa obrolan Tora-san dengan orang asing itu," Selly mulai menceritakan semuanya. "Kalau tidak salah, orang itu ingin membawa Tora-san ke kastil."
Darren membungkukkan badannya sembari masih duduk di kursi. Ia mendengarkan mereka dengan serius.
"Kami tidak banyak mendengar percakapan mereka karena jarak kami yang terlalu jauh. Kami tidak berani mendekat karena rasanya orang itu punya kekuatan sihir yang besar. Salah langkah sedikit saja kami bisa ketahuan dan tertangkap," Sambung Selly.
Sella menambahkan. "Oh ya, dan kami juga menemukan ini," Ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
"Ini!?" Shiro bahkan terkejut melihatnya.
"Ya. Kami melihat Tora-san melempar ini ke pinggir jalan," Ucap Sella.
Darren langsung beranjak dari kursi dan menghampiri mereka untuk melihat boneka itu.
"Jangan-jangan..." Darren mengambil boneka itu. "Tora... ia bermaksud untuk meminta bantuan kita!"
Semua orang langsung menatap Darren.
"Ia pasti sengaja meninggalkan boneka ini sebagai jejak!" Sambung Darren. "Orang itu pasti berniat buruk padanya dan Tora sudah menyadarinya. Sesuai kata Selly, orang itu punya kekuatan sihir yang hebat, jadi Tora tidak berani melawannya sendirian. Jadi ia meninggalkan boneka ini berharap kita bisa menemukannya."
"Berarti ini kode?" Ucap Remi.
"Pasti!" Balas Darren.
Kini ia semakin khawatir dan tidak sabar untuk mencari Tora, tapi Tomatsu mengedipkan mata untuk memberi kode agar ia tetap tenang.
Darren menarik nafas dan menghembuskannya. "Kita harus mencarinya sebelum terlambat," Ucap Darren tenang. "Sella, Selly, di mana terakhir kali kalian melihat Tora?"
Sella dan Selly memjawab bersamaan, "Di toko baju agak jauh dari restoran."
Darren segera memanggil Shiro dan Tomatsu. Mereka berdua menghampirinya dan Darren berkata, "Aku tak mau menunda-nunda ini lagi. Tora mungkin dalam bahaya."
Tomatsu segera menyautnya, "Benar, tapi ada baiknya kau berhati-hati."
Darren menoleh heran.
"Apapun bisa terjadi, bahkan hal yang luar ekspetasi kita," Sambung Tomatsu. "Tipu muslihat, kelicikan, dan trik. Orang-orang mungkin sengaja menggunakan Tora untuk menangkap mu."
Darren paham dengan maksud Tomatsu. Ia kemudian mengangguk dengan wajah masih serius. "Aku tahu apa yang aku lakukan," Ucapnya.
Darren kemudian berbalik menghadap Remi dan teman-temannya. "Semuanya, terimakasih ya. Aku akan pergi sekarang. Jaga diri kalian baik-baik."
Sebelum Remi sempat membalas, Darren dan yang lainnya sudah pergi.
Remi perlahan menurunkan wajahnya. Rasanya ia sedikit paham dengan perkataan Tomatsu, tapi ini tetap saja janggal.
"Jika orang itu memang hendak menangkap Tora-san, kenapa ia membawanya ke restoran?" Gumamnya. "Sesuatu ada yang tidak beres."
Agak lama setelah Darren pergi, Mia dan Robert tiba-tiba muncul. Mereka nampak terburu-buru.
"Remi, ada yang harus kau dengarkan!" Ucap Robert dengan nafas terengah-engah.
"Ada apa?" Remi langsung menyaut cemas.
Ekspresi Mia dan Robert semakin keras saat melihat Darren sudah tidak ada di situ.
"Dimana Darren-sama?" Tanya Robert.
"Dia baru saja pergi," Jawab Katherine muncul dari belakang Remi.
"Gawat!" Robert langsung terlihat frustasi. "Ini semua jebakan. Tora... berkhianat!"
Remi tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "B-Berkhianat?"
Mia menyahut. "Iya. Kami mendengarnya sendiri," Ucapnya. "Jika Darren-sama sampai ke sana, ia akan dikepung oleh pasukan Kerajaan."
"Dan juga, seorang utusan dari Erobernesia ikut datang," Robert menambahkan. "Si ahli sihir, Accel. Ia lah yang merencanakan ini semua."
Remi langsung percaya setelah mendengar nama Accel. Itu menjelaskan alasan Sella dan Selly tentang orang dengan energi sihir besar yang mereka temui.
"Ini bahaya," Katherine menyaut maju kedepan. "Kita harus melakukan sesuatu untuk Darren-sama!"
Rendi yang daritadi duduk di kursi langsung beranjak dan membuka suara. "Tapi apa yang bisa kita lakukan?" Ucapnya. "Kita ini hanya monster lemah-- cukup lemah sampai kita ditangkap dan dijadikan budak. Kalau kita mau menolong Darren-sama, kita harus memikirkan cara lain selain bertempur."
Remi mengangkat kepala. "Siapa bilang kita harus bertempur?" Ucapnya. "Kita masih punya kesempatan. Kita cari Darren-sama san peringatkan dia! Seharusnya ia belum jauh dari sini."
"Akan memakan waktu lama jika kita mencarinya bersama-sama. Lebih baik kita berpencar," Sambung Remi. "Sella dan Selly, kalian cari Darren sama di jalan bagian timur. Robert dan Mia, kalian cari di jalan bagian barat. Aku dan Rendi akan cari di jalan tengah."
Katherine menarik lengan baju Remi. "Aku bagaimana?"
Remi membalasnya dengan tatapan lembut. "Lebih baik kau tinggal di sini," Ucapnya.
"Tapi aku ingin membantu."
Remi membalas, "Kau baru sehat kemarin. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada mu." Remi kemudian berpaling dan berjalan bersama yang lain menuju pintu keluar gedung.
Katherine hanya menatap mereka dari belakang, berharap bisa ikut juga. Ia sempat berpikir untuk pergi sendiri, tapi tatapan dan ucapan Remi yang lembut benar-benar menyentuh hatinya.
Ia jadi teringat. Selama ia sakit dan tak bisa bergerak, hanya Remi yang selalu merawatnya. Remi sering mengobrol dengannya, walau ia tahu kalau Katherine tidak bisa menjawabnya.
Bahkan sebelum ia sakit separah itu, Rendi selalu menanyakan keadaannya dan terlihat khawatir. Tapi Katherine selalu membalasnya dengan senyuman palsu dan menjawab, "Aku baik-baik saja." Padahal ia menahan sakit yang luar biasa.
.
.
.
"Baiklah, aku akan tinggal. Ini demi Remi yang mengkhawatirkan ku."