Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Selamat Datang di Kelompok Pemberontak


"Sepertinya mereka sudah menjauh," Ucap Dyland sambil membuka sedikit celah di semak-semak.


"Tunggu, apa mereka tadi itu polisi?" Tanya Darren. "Kenapa kalian lari dari polisi? Apa kalian buronan?"


"Sstt... Jangan bicara keras-keras, nanti mereka tahu," Clara berdesis. "Kami bukan penjahat kok, hanya saja..."


"Hanya... saja?" Sambung Darren.


"Yah, mungkin kau benar. Bisa dibilang kami ini buronan," Ucap Clara dengan berat, sementara Dyland berada di belakangnya menepuk dahi.


"Clara, bukankah sudah kubilang untuk tidak membeberkan semuanya?" Ucap Dyland dengan nada kecewa. "Yah sudahlah. Sudah terlanjur."


"Tunggu, sebenarnya siapa kalian?" Tanya Darren lagi.


Clara dan Dyland hanya menatapnya sebentar dengan tatapan tajam.


"Kau... mau tahu?" Ucap Clara dengan wajah serius.


Darren mengangguk perlahan, walau ia sendiri menjadi ragu setelah melihat ekspresi wajah mereka.


"Kami sebenarnya adalah..." Ucap Clara dengan perlahan. Nada bicaranya jadi dramatis.


"Kami adalah tentara dari pasukan pemberontak," Tiba-tiba Dyland meneruskan dengan nada datar.


"Hey, kak. Ini seharusnya diucapkan dengan lebih dramatis! Agar plot-twist ceritanya kerasa!" Clara memukul Dyland pelan, namun Dyland tak menghiraukannya.


"Pemberontak?" Darren menatap bingung.


"Ya, pasukan pemberontak yang melawan tirani yang memerintah di negara ini," Balas Dyland.


"T-Tirani? Apa negeri ini sedang di jajah?"


"Tidak tepat bila disebut 'dijajah', namun tidak ada bedanya juga," Balas Dyland. "Negeri ini sedang dipimpin oleh seorang Raja Iblis bernama Han. Semenjak kepemimpinannya, negara ini jadi semakin hancur dan secara perlahan runtuh."


"Raja Iblis? Apa ia salah satu dari Raja Iblis sejati?" Batin Darren.


"Warga dipaksa membayar pajak yang ditingkatkan sepuluh kali lipat dari biasanya. Beberapa tidak sanggup membayar dan terpaksa menjual harta mereka. Bahkan korban meninggal karena kelaparan meningkat drastis," Sambung Dyland.


"Apa tidak ada semacam protes dari masyarakat? Atau mungkin unjuk rasa?"


Clara menjawab. "Masyarakat yang protes dan mengecam peraturan tersebut akan dikirim ke tambang untuk dijadikan buruh. Parahnya, mereka akan dipekerjakan seumur hidup dan tidak dibayar sama sekali."


"Orang-orang pun tak punya pilihan lain selain menuruti peraturan tersebut. Mereka sekarang hidup dibawah ketakutan atas tirani ini," Sambung Dyland. "Namun, tetap ada orang-orang yang berani menentang hal tersebut. Mereka bertekat untuk menghapus ketidakadilan ini dan akhirnya membentuk pasukan pemberontak."


"Seperti kalian berdua?" Ucap Darren menatap mereka.


"Ya, kami salah satunya."


Darren merenung sejenak. Sepertinya peringatan dari Lionna bukan hanya perkataan semata. Negara ini memang sedang mengalami kehancuran dari dalam dan nampaknya akan sangat sulit untuk mencoba bertahan di sini.


Namun, Darren jadi memikirkan hal lain. Tentang Raja Iblis yang memimpin di sini. Ia ingin sekali bertemu dengannya. Berharap ia bisa memberitahu Darren sedikit informasi tentang Raja Iblis kegelapan.


"Bolehkah kami bergabung?" Ujar Darren tiba-tiba.


Clara dan Dyland tersentak mendengarnya.


"Bergabung, katamu?" Kau pikir ini organisasi masyarakat?" Sahut Dyland. "Orang luar seperti mu sebaiknya menghindari masalah, jangan mencarinya."


Clara menyahut dengan mengangguk. "Benar. Apalagi kau seorang manusia. Hak mu di negeri ini benar-benar dipertaruhkan," Ucapnya. "Sebelum itu. Apa kau tidak bisa izin kepada majikan mu sebelum berbicara?"


"Tidak apa. Ia bebas memutuskan," Ucap Shiro menyahut. "Bawahan ku ini adalah tangan kanan ku. Ia adalah manusia yang sangat aku percaya. Kalian harus memperlakukannya dengan layak."


Clara menghembuskan nafas berat. "Huff, bukankah kalian tadi bilangnya mau pergi mengunjungi keluarga. Kenapa jadi ingin bergabung pasukan pemberontak."


Dengan santai Shiro menjawab. "Karena itulah aku jadi semakin ingin bergabung. Banyak orang menderita dan tewas. Mungkin orang tua ku akan jadi yang selanjutnya."


Clara dan Dyland terdiam.


"Hm, itu alasan yang masuk akal. Sejujurnya, aku tidak akan bertanya lagi. Jika itu memang alasan kalian, aku tidak keberatan," Ucap Dyland dengan nada datar. Ia kemudian beranjak berdiri dan kembali memperhatikan ke sekitar.


"Aku juga setuju dengan kakak," Sambung Clara. "Kalian nampaknya orang baik. Jika kalian ingin bergabung, maka kalian harus bertemu ketua terlebih dahulu."


Dyland tiba-tiba menggerakkan tangannya. "Sepertinya mereka sudah pergi. Kita bisa kembali ke markas sekarang." Ia kemudian menoleh kepada Darren dan teman-temannya. "Ikutilah kami jika kalian memang serius ingin bergabung."


Darren mengangguk. Mereka pun mulai melangkahkan kaki dari situ.


Darren sempat bersyukur karena Shiro bisa berakting sangat bagus. Dengan sedikit petunjuk saja, Shiro bisa dengan sempurna memahami maksud Darren untuk bergabung dengan grup pemberontak ini.


Tapi Darren yakin kalau suatu saat, pasti rahasia ini akan terbongkar. Baik kebohongan tentang keluarga Shiro, maupun status palsu mereka.


Itulah kenapa Darren berniat untuk menyelesaikan tujuannya sebelum terlambat, yaitu menemui Raja Iblis yang memimpin tanah ini. Ia mungkin tahu sesuatu tentang Raja Iblis kegelapan.


Namun, sepertinya rencana ini takkan semudah seperti yang ia bayangkan. Dilihat dari keadaan yang begitu tegang, Darren yakin kalau pasti ada sesuatu dibalik ini semua.


Tentang kenaikkan pajak yang tinggi, bahkan membuat rakyat sengsara. Hngga memperkerjakan orang-orang dengan paksa tanpa imbalan.


Semakin Darren memikirkannya, ia semakin merasa kalau masalah ini sangat berbelit. Kemungkinan yang ia temukan jadi beragam.


Darren dan teman-temannya bergerak lebih jauh masuk ke dalam Avon. Namun mereka tidak berjalan ke kota pusat, melainkan ke hutan-hutan lebat yang sepertinya tempat dimana markas para pemberontak terletak.


Setelah masuk ke hutan-hutan, Darren tersadar kalau jalan yang Dyland tunjukan berputar-putar. Mereka melewati tempat yang sama beberapa kali hingga akhirnya kembali bergerak menuju jalan yang seharusnya.


Ini bukanlah jebakan, melainkan salah satu cara untuk menghapus jejak seandainya ada mata-mata yang mengikuti mereka.


"Mereka waspada juga," Ucap Darren dalam hati.


Setelah berputar-putar beberapa kali, Dyland tiba-tiba berhenti di sebuah gundukan batu yang menjulang. Di sampingnya nampak ada lubang kecil, namun tertutup oleh batu bulat yang besar.


Dyland mengetuk batu yang menjulang itu beberapa kali. Tok, tok, tok, tok... Sekitar empat kali. Dan tak lama kemudian, batu bulat yang menutup goa itu terbuka.


"Woah, Kapten Dyland, kau sudah ke-- Eh, siapa mereka?" Ucap seorang iblis yang membukakan jalan. Mereka menatap Darren dan yang lainnya dengan waspada.


"Mereka ingin bergabung. Biarkan mereka masuk," Ucap Dyland tanpa basa-basi.


"Baiklah, jika itu perintah mu," Orang itu pun membiarkan mereka masuk.


Markas mereka terletak di bawah tanah di tengah hutan. Melihat dari lokasinya, sepertinya mereka berusaha untuk tetap tersembunyi dari jangkauan luar. Darren dan teman-temannya beruntung bisa berpapasan dengan Dyland dan Clara. Kalau tidak, mereka mungkin takkan pernah tahu tempat ini.


Shiro segera dibawa oleh Dyland untuk menghadap ketua sendirian, namun Shiro bersikeras untuk membawa Darren ikut dalam pertemuan ini.


"Baik, baik. Bawalah bawahan mu. Tapi kau hanya boleh membawa satu saja," Ucap Dyland sambil berjalan ke sebuah ruangan.


Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan Tora dibawah penjagaan Clara, dan mengikuti Dyland.


"Permisi," Ucap Dyland sembari membuka pintu.


Terlihat seseorang sudah duduk di seberang meja kayu yang usang. Orang itu tak lain adalah seorang iblis. Rambut coklat yang mengilap, sepasang tanduk yang runcing, dan mata yang hitam dengan tajam menatap Darren. Tampangnya tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda.


Tak lama setelah Darren masuk, pria itu berdiri dan membungkuk salam. "Selamat datang," Ucapnya menyambut.


Darren dan Shiro membalas membungkuk.


"Sepertinya Dyland kembali membawa orang berbakat ke sini, ya," Ucapnya sambil kembali duduk.


"Bukan aku yang membawa mereka, tapi mereka yang ingin ikut," Balas Dyland.


"Ho, benarkah? Baguslah."


"Kenapa aku harus keberatan? Aku juga punya rekan seorang manusia," Balas pria itu. "Oh ya, betapa tidak sopannya aku. Perkenalkan, nama ku Simson. Ketua dari organisasi pemberontak."


Darren meniup telinga Shiro pelan.


"N-Namaku Shiro. Dan ia adalah bawahan ku, Esema. Di luar juga masih ada seorang bawahan ku yang lain, namanya Tora," Ucap Shiro terbelalak. "Salam kenal."


"Jadi, Shiro. Apa yang membuatmu ingin bergabung dengan kami?" Simson tiba-tiba melontarkan pertanyaan. "Kau tak mungkin bergabung tanpa alasan kuat, kan?"


Shiro segera menjawab, "Aku awalnya kemari untuk mengunjungi orang tua ku. Namun, aku mendengar bahwa sedang ada kekacauan di sini. Tentunya aku tak mau bahaya di tanah ini sampai melukai orang tua ku."


"Hanya itu?" Sahut Simson. Ia kemudian melipat tangannya dan bersender di meja. "Walau kita sesama monster, namun kau harus tetap sadar dengan status mu."


Darren dan Shiro tersentak.


"Kau sedang berada di negeri iblis. Manusia hewan seperti mu hanyalah tamu di tanah ini. Apa kau pikir aku akan membiarkan mu bergabung begitu saja?" Sambung Simson.


Shiro menelan ludahnya. Tanggapan ini tak sesuai dengan apa yang diharapkannya.


Sementara Darren jadi panik. Ia terlihat tenang, namun sebenarnya ia takut kalau kebohongan mereka akan terbongkar.


"Shiro, jawablah! Aku percaya kau bisa melewati masalah ini," Ucap Darren dalam hati.


Shiro menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. "Aku memang tak punya hak. Namun, aku melakukan ini bukan hanya untuk orang tua ku," Ucapnya. "Setelah mendengar penjelasan Dyland dan Clara, aku tahu kalau semua orang di sini sedang menderita. Mereka tidak punya kekuatan untuk melawan dan hanya bisa menerima nasib yang sudah ditentukan."


"Lalu, apa hubungannya dengan mu?" Ucap Simson mengintimidasi.


"Tidak ada," Jawab Shiro singkat. Jawaban itu sempat membuat semua orang di sana terkejut.


"Tapi, apa begitu cara kerja keadilan?" Shiro tiba-tiba meneruskan. Wajahnya jadi serius dan tajam.


Darren yang melihat itu menyadari sesuatu. Yang Shiro akan ucapkan selanjutnya bukanlah sebuah akting lagi, melainkan curahan isi hatinya.


"Apa hanya karena sebuah perbedaan, kita tidak bisa meraih keadilan bersama-sama?" Sambung Shiro. "Aku percaya bahwa keadilan lebih tinggi dari perbedaan apapun. Semua orang, semua ras, berhak menerima keadilan."


"Aku sendiri pernah diselamatkan dari ketidakadilan, oleh seorang manusia," Shiro terus melanjutkan. Wajahnya jadi bercahaya. "Walau aku adalah seorang manusia hewan dan merupakan seorang budak rendahan, namun ia rela melepaskan kami dari tangan orang-orang jahat. Ia rela bertarung demi menegakkan keadilan yang ia percayai selama ini."


"Oleh karena itu, kau percaya kalau keadilan tidak akan dibatasi oleh apapun?" Sambung Simson. Ia kemudian menyeringai kecil sambil bertepuk tangan. "Selamat, kau lulus dari tes-ku."


Simson beranjak dari kursinya dan menghampiri Shiro. "Aku suka pemikiran mu. Aku juga percaya kalau keadilan tidak dibatasi apapun," Ucapnya. "Aku akan sangat bersedia menerima anggota seperti mu, dan juga bawahan-bawahan mu."


Shiro tersenyum senang.


"Namun, aku jadi tertarik pada cerita mu," Simson menyambung. "Manusia yang menyelamatkan mu. Apa mungkin bagiku untuk bertemu dengannya?"


Shiro terkejut. Tentu saja, karena sebenarnya orang yang ada di dalam cerita itu adalah orang yang ia kagumi selama ini, dan juga orang terdekatnya.


"Aku yakin Shiro-sama bisa membantu anda menemuinya," Darren menyahut tiba-tiba.


Simson menoleh ke arah Darren dan tersenyum. "Dyland," Panggilnya. "Bawa mereka ke kamar di bagian pojok. Biarkan mereka bermalam di sana. Mulai sekarang, mereka adalah bagian dari organisasi."


"Baiklah," Jawab Dyland. "Kalian berdua, ikuti aku."


Sebelum meninggalkan ruangan, Darren dan Shiro menyempatkan diri untuk memberi salam.


"Terimakasih, Simson-sama," Ucap Darren membungkuk.


"Tolong, panggil saja aku Simson. Aku tak biasa dipanggil begitu," Ucap Simson. "Dan besok, temui lagi aku di sini. Ada yang harus ku jelaskan."


Darren tersenyum. "Dimengerti, Simson."


Mereka pun meninggalkan ruangan itu dan menyusul Tora dan Clara untuk pergi ke kamar yang sudah di sediakan.


"Tidak biasanya ketua memberi kamar khusus untuk seseorang. Sepertinya ia menyukai kalian," Ucap Clara sembari berjalan. "Aku benar-benar terkejut mendengarnya."


"Benarkah? Lagipula, aku juga menyukainya. Ia seperti orang yang menyenangkan untuk diajak bicara," Balas Darren.


"Dia memang seperti itu. Periang dan mudah akrab, namun juga bisa keras dan tegas di keadaan serius," Ucap Dyland sambil menunjukkan sebuah pintu. "Ini adalah kamar kalian. Gunakanlah sesuka hati, karena ini perintah ketua."


"Baiklah, terimakasih," Darren, Shiro, dan Tora membungkuk.


Mereka bertiga memasuki kamar itu, sementara Dyland dan Clara kembali mengerjakan tugas mereka.


Kamar itu tidak terlalu bagus, namun masih mencakup kata standar untuk bisa ditinggali. Ada sebuah kasur dan karpet tipis di bawahnya. Di pojok ruangan, juga ada lemari kayu yang berdebu.


Darren merobek beberapa jaring laba-laba yang menggantung di langit-langit. "Sebaiknya kita bersihkan dahulu tempat ini."


Tora dan Shiro mengangguk setuju.


Mereka mulai bekerja. Darren membersihkan beberapa bagian dengan sihir air, sementara Tora meniup debu-debu yang tebal dengan sihir anginnya. Di sisi lain, Shiro mencoba menyusun barang-barang mereka serapih mungkin.


"Shiro," Panggil Darren tiba-tiba. Ia menghentikan pekerjaannya dan terdiam sejenak.


"Ada apa, Esema-sama?" Jawab Shiro menoleh.


"Tentang cerita mu tadi," Sambung Darren.


"M-Maafkan aku, Esema-sama. Aku tadi benar-benar terbawa suasana. Aku mungkin sudah mengatakan hal aneh--"


"Tidak. Tidak apa-apa," Ucap Darren. Ia menoleh kepada Shiro dan tersenyum kepadanya. "Kerja bagus, Shiro."


Melihat Darren tersenyum kepadanya, hati Shiro merasa berbunga-bunga. Ia jadi senang, sekaligus mulai gemetaran.


"T-Terimakasih, Esema-sama," Ia kembali menyusun barang-barang dengan tangan yang bergoyang.


.


.


.


Sekarang sudah malam, dan saatnya tidur. Mata mereka bertiga menatap sebuah kasur yang terletak di tengah-tengah ruangan.


"Aku akan tidur di karpet," Tora tiba-tiba langsung merebah di karpet tanpa basa-basi. "Shiro-sama dan Esema-sama bisa tidur di kasur."


"T-T-Tora-kun!" Wajah Shiro terbelalak sambil memerah.


"Ya, mau bagaimana lagi, kan?" Balas Tora dengan wajah menggoda. Ia melirik Shiro seakan berbisik, "Ayo, Shiro-sama. Ini kesempatan mu."


Wajah Shiro jadi semakin tidak karuan. Ekspresinya jadi semakin kacau saat Darren tiba-tiba membuka mulut.


"Benar kata Tora. Walau kasurnya cuma satu, tapi cukup lebar. Kita bisa membaginya," Ucap Darren. "


Shiro hampir pingsan mendengarnya. "*-*-*-Tapi... Esema-sama--"


"Sudahlah, lagipula kita kan tidak melakukan apa-apa," Darren memotong. "Selamat malam."


Akhirnya Darren dan Shiro membagi kasur, sementara Tora sedikit cekikikan menyaksikan mereka.


.


.


.


"Sumpah, aku sedang gemeteran sekarang," -Darren