
Keesokannya, pagi-pagi sekali, Darren sudah meninggalkan penginapan dan kembali ke kastil secepatnya.
Begitu ia sampai disana, ia langsung melapor kepada Schlaff tentang keputusannya untuk pergi.
"Kau mau mengundurkan diri?" Schlaff terkejut mendengar Darren mengatakan itu. "T-Tapi kenapa?"
Darren mendengus. "Aku memiliki sebuah pelatihan khusus, dan guruku sudah menetapkan tempatnya," Ucap Darren beralasan.
Schlaff terlihat murung. "Kau tahu kan, kau itu buronan?" Ucapnya. "Begitu kau keluar dari kerajaan ini, kami sudah melepas tangan kami dari mu. Jika kau sampai terjerat masalah, maka kami takkan bisa banyak menolong."
Darren mengangguk. "Aku tahu itu. Aku juga sudah memikirkannya."
Semua alasan ini Darren ucapkan agar Schlaff tidak ikut campur dalam masalahnya. Walau ia adalah seorang Jenderal yang tidak memiliki bakat khusus, tapi ia adalah orang yang memiliki simpati besar.
Ia bisa saja menjadi ceroboh dan memerintahkan orang-orangnya untuk memburu Raja Iblis itu. Yang fimana Darren tak mau hal itu terjadi.
"Lalu, kemana kau akan pergi?" Tanya Schlaff, meminta kepastian.
"Ke Kerajaan di sebelah timur laut, Kerajaan Noordoos," Jawab Darren, sesuai yang Tomatsu telah katakan kepadanya.
"Noordoos? Jangan-jangan--" Schlaff terkejut, "Kau berencana pergi ke benua Iblis!?"
Darren mengangguk. "Ya, benar sekali."
Wajah Schlaff langsung muram untuk sesaat, tapi kemudian ia melanjutkan, "Baiklah. Pergilah dengan selamat," Ucapnya. "Bagaimanapun, aku tak bisa melarang seseorang untuk menjadi lebih baik, kan."
Darren tersenyum simpul. "Terimakasih, Schlaff."
Setelah itu Darren berpaling dan hendak keluar dari ruangan, sampai tiba-tiba seorang wanita bertopeng muncul di depan pintu.
"Kau mau pergi?" Ternyata itu Akira.
Darren sedikit terkejut, tapi ia tetap menjawab. "Ya, aku ada kepentingan," Jawab Darren.
"Raja Iblis, kan?" Ucap Akira berbisik. "Ini pasti soal Tomatsu."
Darren menggeleng. Ia berpikir mungkin tidak masalah jika Akira tahu tentang ini. "Sebenarnya, ini soal Raja Iblis yang lain."
Akira tersentak kaget. Walau topengnya masih terpasang, terlihat jelas kalau ekspresinya langsung tegang.
"Raja Iblis lain? Apa maksud mu?"
"Salah satu dari tujuh Raja Iblis Sejati sedang mengincar ku," Jelas Darren. "Untuk suatu alasan, ia mengincar kekuatan yang terdapat dalam diriku."
Akira langsung melepaskan topengnya. "Tidak mungkin," Ucapnya. "Apa kau sudah ada rencana untuk hal ini? Apa kau sudah memikirkan hal ini matang-matang?"
Darren menatapnya sambil mengangguk pelan. "Sudah," Jawabnya singkat.
"Lalu kenapa kau tidak tinggal saja. Kami, segenap Kerajaan Friedlich, bisa membantu mu!" Ucap Akira. "Aku, dan pasukan ku, kami bisa memberikan mu perlindungan!"
Darren kembali menggeleng. "Tidak, tidak, aku tidak bisa membiarkan mu terlibat hal ini," Balasnya. "Ini adalah masalah hidup dan mati."
"Jika aku tinggal di sini terlalu lama, tempat ini bisa jadi zona perang. Terlalu banyak nyawa yang dipertaruhkan, dan aku tidak mau hal itu terjadi," Sambung Darren.
Akira hendak membalas tapi tiba-tiba ia terdiam. Ia menunduk menatap lantai dengan wajah muram.
"Tapi--" Ia berusaha berbicara tapi tidak bisa, seakan mulutnya sudah terkunci.
"Tidak apa-apa," Ucap Darren tiba-tiba. "Aku akan baik-baik saja. Begitu juga kau dan semua orang."
Akira mengangkat wajahnya dan melihat Darren menatapnya.
"Esema-kun..." Ucapnya pelan. "Kalau begitu, izinkan--"
Darren langsung menegakkan badan, bersiap untuk pergi. "Jika kau berpikir untuk ikut. Maaf, tapi aku takkan mengizinkannya," Ucap Darren. "Kerajaan ini membutuhkan mu. Orang-orang di sini, mereka semua bisa saja dalam bahaya."
Akira merengut.
"Aku ingin kau tetap waspada untuk beberapa hari kedepan, karena Raja Iblis itu mungkin akan muncul," Sambung Darren. "Perintahkan semua bawahan mu untuk mengecek setiap sudut kota. Pastikan tidak ada orang yang mencurigakan, karena itu bisa saja mata-mata musuh."
"Dan juga," Ucap Darren lagi, "Jika kau melihat Succubus berbadan kecil, cobalah untuk menghindari pertempuran dengannya."
"Emang kenapa?" Balas Akira.
"Dia, sangat kuat," Jawab Darren.
Akira jelas terlihat khawatir. "Lalu, kemana kau akan pergi?" Tanya Akira.
"Noordoos, kerajaan di timur laut benua," Jawab Darren.
"N-Noordoos!?" Akira terkejut. "Jangan-jangan--"
Darren langsung mengangguk. "Ya, benar. Benua Iblis," Ucapnya.
"Tapi kenapa? Kenapa harus benua iblis?"
Darren menjawab. "Tomatsu menganjurkannya padaku. Ia bilang disana mungkin akan jadi tempat aman."
Wajah Akira jadi semakin khawatir. "Tapi dia itu kan-- Agh! Apa dia benar-benar bisa dipercaya?" Ujar Akira. "Bisa saja ia sengaja melakukan itu untuk menjebak mu."
Darren sedikit tersentak mendengarnya. Benar apa yang dikatakan Akira. Ia sendiri bahkan lupa untuk memikirkan hal itu.
Tapi, Darren cukup yakin untuk mempercayai Tomatsu. Tatapan mata Tomatsu waktu itu, dia masik ingin balas dendam. Dan selama niat itu masih ada, ia pasti masih membutuhkan pertolongan Darren.
"Tidak apa-apa," Balas Darren sambil tersenyum. "Aku yakin dia tidak akan melakukan itu. Lagipula, jika ia sampai berkhianat, maka akan ku hajar dia."
Darren mengucapkan itu semua dengan nada candaan, tapi itu masih belum cukup untuk membuat hati Akira merasa tenang. Rasa khawatir ini, kapan Akira terakhir kali merasakannya?
"Tidak perlu khawatir, Akira. Darren itu kuat. Kau harus percaya padanya!" Ucap Akira dalam hati. Berteriak pada dirinya sendiri.
Setelah itu Darren berpaling dan berjalan menuju pintu keluar kastil.
"Tolong simpan hal ini sebagai rahasia kita. Aku tak ingin pihak Kerajaan mendengar hal ini," Ucap Darren sebelum pergi dan melambaikan tangan.
Akira hanya menatap kepergiannya. Bersama tiga kawannya, Darren berjalan menjauh dari pandangannya hingga menghilang di antara keramaian di luar kastil.
"Akan ku simpan kepercayaan mu, Darren," Ucap Akira pelan.
.
.
.
"Apa ini?" Ucap Darren.
"Aku adalah utusan dari Raja. Ia telah mendengar pengajuan undur diri dari anda, jadi ia ingin memberi kalian sedikit bantuan," Jawabnya. "Kuda-kuda ini adalah kuda dengan kualitas paling bagus di peternakan. Ia ingin kalian memilikinya. Semoga bisa membantu banyak dalam perjalanan."
Darren berterimakasih pada orang itu, dan orang itu kemudian pergi.
"Padahal aku tidak tahu cara naik kuda," Ucap Darren sambil tersenyum canggung. "Tapi lumayanlah, buat membawa barang-barang kita."
Setelah menaruh barang-barang di atas kuda, Darren dan teman-temannya menarik kuda itu dengan tali. Perjalanan mereka akhirnya di mulai.
Setelah keluar dari Veronheim, kota terluar Friedlich, Darren melihat pemandangan yang sangat indah. Sebuah pemandangan yang akan ia lihat sepanjang perjalanan.
Sembari berjalan menarik tali kuda, Darren menoleh ke arah Tomatsu. Hari ini ia terlihat sudah kembali seperti normal. Tidak lagi ada hal aneh.
Tapi saat ia memperhatikan Tora, ia masih terlihat dingin dan murung. Darren bertanya-tanya apa yang terjadi padanya.
"Tora, ada apa?" Darren menghampiri Tora yang sedang melamun.
Tora tersentak kaget. Ia melihat Darren sudah berada di sampingnya.
"Sial, apa yang harus ku lakukan?" Gumamnya.
Sejauh ini, Tora dan Shiro masih belum mengetahui tentang alasan sebenarnya Darren untuk meninggalkan Friedlich. Darren hanya bilang bahwa ia pergi ke sana untuk meningkatkan kualitas pelatihannya.
Saat pertama kali mendengarnya, Shiro jadi bersemangat. Ia juga ingin ikut berlatih dan menjadi lebih kuat bersama Darren.
Sementara Tora tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Ia tak terkejut maupun senang. Wajahnya hanya datar dan teleihat melayangkan pandangan saat mendengar hal itu.
Sekarang, Tora jadi ketakutan. Melihat Darren berada sangat dekat dengannya dan menanyakan keadaannya. Ia tak pernah berpikir kalau Darren akan sebegitu perhatiannya.
Tora berpikir kalau diam saja bukanlah tanggapan yang bagus. Darren bisa semakin curiga kepadanya. Tapi, jika ia ingin menjawab, ia harus memikirkan kata-kata dengan lebih matang.
"Tidak apa-apa," Jawab Tora dengan nada dingin. Ia masih merasa berat hati untuk menjawabnya.
Darren hanya menanggapi dengan raut khawatir. Ia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Tora.
"Hm, baiklah. Jika kau tidak mau mengatakannya," Balas Darren. Yang penting, tetap jaga kesehatan mu. Kalau ada apa-apa, kau bisa bilang."
Setelah itu Darren pergi ke barisan depan untuk menemui Shiro. Tora bernafas lega karena Darren tidak menanyakan hal itu lebih lanjut.
"Shiro," Panggil Darren sambil muncul dari belakang.
Shiro menoleh. "Oh, Esema-sama," Ia terlihat senang hari ini. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengecek. Takut-takut kalau kau tidak enak badan atau semacamnya. Tapi kau terlihat sehat," Ucap Darren.
Shiro tersenyum senang mendengarnya.
"Ngomong-ngomong, apa Tora bicara sesuatu kepada mu?" Tanya Darren dengan pelan. Sehingga tidak kedengaran sampai kebelakang.
Shiro menggeleng pelan. "Tidak. Ia hanya diam sejak kemarin. Dia tidak mengatakan apa-apa," Bisik Shiro.
Darren sudah habis pikir tentang masalah ini. Jika Tora memang bersikap aneh karena peristiwa kemarin, maka terus mendesaknya akan malah membuat keadaan menjadi buruk.
"Aku tahu rasanya trauma. Itu sangat buruk. Jika memang peristiwa itu membuatnya trauma, mungkin lebih baik aku tidak mengungkitnya secara langsung," Gumam Darren. "Membicarakan hal itu di depannya malah akan membuatnya terasa tersudut."
Tiba-tiba Tomatsu menepuk pundak Darren.
"Esema-kun, apa yang kau bicarakan dengan Akira tadi?" Tanya-nya langsung.
Darren sedikit terkejut. "B-Bagaimana kau bisa-- Ah, kau pasti mengintip ku ya," Darren langsung menebak, di susul dengan tawa kecil dari Tomatsu.
"Apa kau memberitahu alasan kita pergi?" Sambung Tomatsu.
Darren membalas. "Ya, dan dia awalnya ingin ikut. Tapi aku melarangnya."
"Lalu jenderal?"
"Aku tidak memberitahunya," Ucap Darren.
Tomatsu mengangguk paham. Setelah itu ia kembali berbisik kepada Darren.
"Sebaiknya kau jauhi orang-orang yang kau sayangi dari masalah ini," Bisiknya. "Aku tidak lagi mengerti apa arti cinta. Tapi jika ada orang yang kau cintai, maka sebaiknya kau menjauh darinya."
Darren tertawa kecil, sekaligus merasa sedih.
"Cinta... ya," Darren merunduk. Ia tersenyum tapi di dalam pikirannya ia merasa teringat sesuatu. "Yuzuna-san..."
"Ada apa? Apa kau teringat pacar mu?" Tomatsu memecahkan lamunan Darren.
"Ah, tidak. Lagian aku juga tidak punya pacar," Balas Darren tergesa-gesa. "Ngomong-ngomong, sebenarnya apa yang akan kita lakukan setelah tiba di benua iblis?"
"Aku tidak membawa mu ke sana tanpa alasan tahu," Balas Tomatsu. "Di sana, kita akan bersembunyi untuk sementara. Dan sementara kita bersembunyi, aku ingin kau membantu ku memecahkan masalah tentang kerajaan ku."
"Ternyata kau punya motif sendiri ya," Ucap Darren.
"Walau sepertinya mustahil untuk memecahkan masalah ini, tapi aku masih ingat beberapa kejadian sebelum aku pingsan waktu itu," Sambung Tomatsu. "Mungkin kau bisa menggunakannya untuk menyimpulkan sedikit dari apa yang sebenarnya terjadi."
Darren mengangguk malas.
"Baiklah, baiklah," Ucapnya. "Anggap saja kita sudah impas."
Perjalanan mereka pun berlanjut. Darren masih merasa khawatir dengan masalah Raja Iblis itu. Ditambah masalah dari Tomatsu, dan juga Tora.
Shiro merasa senang bisa mengembara bersama Darren. Baginya, Darren adalah majikan terbaik, dan ia akan sangat menikmati perjalan mereka ini.
Bagi Tomatsu, perjalanan ini bukan hanya sekedar sebuah pelarian, namun juga perjalanan untuk menemukan kebenaran dari Kerajaannya.
Dan Tora, ia masih murung. Memikirkan bagaimana caranya pergi dari Darren tanpa membuatnya curiga. Namun di balik semua itu, ia masih ragu dengan pilihannya.
.
.
.
"Kabur... atau tidak?" Tora masih bergumul dalam pikirannya.