
Tora memasuki tenda dengan nafas sedikit terengah-engah. Shiro yang sedang memasak pun menyambutnya.
"Ah, kau sudah kembali," Sambut Shiro.
"Bagaimana? Apa ada kabar bagus?" Tanya Shiro lagi sambil meletakkan sepiring makanan di atas meja.
"Entahlah. Aku tak tahu ini dibilang kabar bagus atau bukan," Jawab Tora sambil memakan makanannya. "Aku tak mengerti apa yang dipikirkan Esema-sama. Ia meminta ku untuk memantau pergerakan pasukan bantuan dari Friedlich, dan sekarang ia pergi tanpa memberitahu ku apa-apa. Dia adalah orang yang unik"
"Aku juga sempat berpikir begitu," Ucap Shiro. "Esema-sama adalah orang yang misterius."
"Tapi di sisi lain, ia sangat baik," Sambung Tora. "Caranya memperlakukan ku sangat berbeda dari Tuan-ku yang dulu. Dia selalu berbagi hal-hal yang baru ia pelajari, tanpa memikirkannya sedikitpun."
"Ya. Sikapnya kepadaku juga jauh berbeda dengan manusia-manusia yang pernah kutemui sebelumnya," Balas Shiro. "Ia bahkan rela membiarkan ku tidur di atas kasur, sementara ia sendiri tidur di lantai."
"Uhuk... uhuk..," Tora tiba-tiba terbatuk-batuk mendengar itu. "B-benarkah?"
Shiro mengangguk. "Aku tahu itu mungkin lancang bagi ku. Manusia hewan tidak sepatutnya diperlakukan manja seperti itu."
Tora menggeleng. "Tidak, itu tidak benar," Ucapnya. "Kau ingat saat pelatihan pertama kita?"
"Esema-sama bilang: Selama kita masih bekerja sebagai bawahannya, kita semua sama rata. Tak peduli dari ras dan suku apa kita," Sambung Tora.
"Ya, aku tahu. Tapi, aku merasa tidak enak padanya," Sambung Shiro. "Dibandingkan sebagai bawahannya, aku malah merasa bahwa ini lebih merujuk ke arah ia merawat kita."
"Iya, benar juga sih. Aku bahkan tak banyak melakukan pekerjaan untuknya. Tapi ia merawat dan melatih kita tanpa meminta balasan."
"Sebenarnya apa tujuan dia merawat kita?" Sambung Tora. "Tidak- Untuk sekarang, aku lebih penasaran dengan rencananya untuk mengejar tentara Friedlich. Apa dia berencana menyerang mereka?"
"Apa? Tidak mungkin," Sahut Shiro. "Dia tak mungkin menyerang orang tanpa alasan."
"Sepertinya kau benar. Esema-sama bukanlah tipe orang yang suka bertarung hanya untuk bersenang-senang. Apalagi saat ia mengetahui bahwa Si Hijau Zamrud adalah pemimpin pasukannya," Ucap Tora sambil merengutkan dagunya. "Ia pasti punya rencana yang lebih luas lagi."
"Apa maksud mu, yang diincarnya bukanlah tentara Friedlich?" Tanya Shiro.
"Benar. Tentara Friedlich sedang dalam perjalanan menuju Erobernesia. Mungkin hal itu yang mendorong Esema-sama untuk bergerak," Sambung Tora. "Jika aku boleh tahu, apakah Esema-sama memiliki hubungan dengan Kerajaan Erobernesia?"
Shiro terkejut. Ia ingat kalau Darren pernah memberitahunya tentang serangan Erobernesia di desanya. Dimana semua teman-temannya meninggal ditangan Jenderal Erobernesia, Michael.
Dia mulai merasa mengerti apa tujuan Darren, tapi ia harus tetap menjaga identitas tuannya. Apalagi dari orang jenius seperti Tora.
"Ah... aku tak tahu juga," Jawab Shiro dengan sedikit ragu.
"Hm... begitu ya," Balas Tora sambil menarik nafas. "Aku sebenarnya sempat berpikir bahwa, mungkin tujuan Esema-sama bukanlah pasukan Friedlich. Melainkan tempat yang dituju oleh mereka."
Shiro tersentak saat mendengar itu. Bahkan dengan sedikit informasi saja, Tora bisa membuat kesimpulan yang akurat seperti itu. Dia pasti sangat pintar.
"Tora-kun... dia sangat pintar. Aku harus lebih berhati-hati saat membicarakan Darren-sama di depannya. Salah kata sedikit saja bisa membuatnya curiga." Pikir Shiro dalam hati.
.
.
.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Tora dan Shiro pergi keluar tenda untuk duduk di dekat api unggun. Di situ, mereka membicarakan tentang pendapat mereka masing-masing terhadap Darren.
"Pendapat ku?" Ucap Shiro. "Menurut ku, Esema-sama sama sangatlah baik. Ia menyelamatkan ku dari tangan para perampok dan merawat ku tanpa meminta imbalan"
"Dia membelikan ku pakaian baru, mengajarkan ku sihir, dan memberikan ku tempat tinggal yang layak," Sambung Shiro. "Lalu, menurut mu, seperti apa Esema-sama itu?"
"Awalnya aku berpikir kalau Esema-sama hanyalah orang yang baik di awal. Ia menawarkan ku kesepakatan, yang awalnya kupikir itu hanyalah akal-akalan untuk meperalat ku, seperti orang-orang," Jawab Tora. "Tapi sekarang aku yakin kalau ia bukanlah orang seperti itu. Sama seperti mu, aku juga dirawat dengan baik. Bahkan ia menjamin keamanan ku dari tangan mantan Tuan-ku."
"Dia itu orang yang unik, ya?" Ucap Shiro.
"Ya, benar," Jawab Tora. "Ia mau membicarakan hal-hal sepele dengan bawahannya, yang dimana hal seperti itu jarang sekali di temukan di tempat lain."
"Aku bahkan seringkali merasa kalau ia tidak menganggap kita sebagai bawahannya. Melainkan, temannya," Ucap Tora.
"Teman... ya?" Ucap Shiro pelan.
"Ada apa? Apa kau tidak suka dianggap teman?"
"Tidak, bukan itu. Aku hanya berharap semoga aku takkan mengecewakannya sebagai bawahan, ataupun teman."
Tora tersenyum mendengar itu. Di lubuk hatinya sendiri, Darren seperti penyelamatnya. Tentu saja ia juga tak ingin mengecewakannya.
"Ya, aku juga. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya puas," Ucap Tora penuh semangat. "Ayo kita ikut berjuang bersama!"
.
.
.
Sementara itu, Darren sedang dalam perjalanan bersama para tentara Friedlich. Ia tiba-tiba bersin tanpa sebab.
"Ada apa Esema-kun? Apa kau pilek?" Tanya Akira.
"Ah, bukan apa-apa," Jawab Darren sambil mengusap hidungnya. "Sepertinya ada orang yang membicarakan ku."
"Aku tak mengerti apa maksud mu, tapi sepertinya kau baik-baik saja," Balas Akira. "Sebentar lagi kita akan keluar dari Pegunungan. Sebaiknya kau mempersiapkan senjata mu, karena kita akan melalui Hutan Albtraum."
"Baiklah," Ucap Darren. "Hutan Albtraum. Dimana desa Lizardmen berada. Aku mungkin bisa mampir kesana sebentar."