
"Kau bukan dari dunia ini, kan?"
Darren masih menatap Tomatsu dengan tidak percaya. Rahasia yang ia coba sembunyikan selama ini, dibongkar dalam sekejap.
Ia mencoba memikirkan bagaimana Tomatsu mengetahui hal ini, tapi sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkannya.
"Kau bicara apa sih, Tomatsu?" Darren berusaha mengelak. "Dunia lain? Apa ada hal semacam itu?"
Raut wajah Tomatsu langsung berubah. Ia menghampiri Darren lebih dekat lagi dan menyentuh pipinya dengan jarinya.
"Tidak usah berbohong," Ucap Tomatsu dengan nada rendah. "Aku sudah tahu. Tidak ada gunanya mengelak."
Darren menjadi berkeringat. Sekarang pikirannya teralih ke arah hal yang mungkin terjadi setelah ini.
Apa statusnya sebagai seorang dari dunia lain akan mengancam nyawanya? Atau bahkan bisa menimbulkan bahaya yang lebih besar dari perkiraannya?
Setelah diam cukup lama, Darren meneguk ludah. Jari Tomatsu perlahan bergerak menuju dagunya dan mengelusnya perlahan.
"Katakanlah. Apa mau mu ke dunia ini?" Tanya Tomatsu dengan nada mengintimidasi.
Darren semakin ketakutan. Tapi ia tahu, semakin ia diam, maka semakin terpojok dirinya. Ia harus melawan, walau hanya dalam bentuk lisan.
"Hentikanlah!" Darren menyingkirkan tangan Tomatsu dari wajahnya. "Yang seharusnya bertanya di sini adalah aku. Apa mau mu? Dan, apa hal ini begitu penting?"
Tomatsu menarik tangannya sambil tertawa kecil.
"Akhirnya kau mengakuinya," Ucapnya sambil tersenyum. "Pantas saja aku selalu merasakan aura yang aneh setiap kali berada di sekitar mu."
Darren mengernyitkan dahi. "Jadi kau tahu karena aura ku?" Tanya-nya.
Tomatsu mengangguk. "Sebenarnya bukan hanya itu saja. Memang aura mu sedikit aneh, tapi itu belum cukup untuk membuat diriku sendiri yakin," Balas Tomatsu sambil duduk di atas kasur. "Karena terus penasaran, aku akhirnya tak bisa diam saja. Dan setelah melihat aksi mu di Dungeon itu, aku jadi yakin."
"Jadi latihan ini memang sudah rencana mu?" Darren beranjak dari kursinya.
"Yup, betul sekali. Melihat mu mengendalikan elemen kegelapan saja sudah membuat ku puas," Jawab Tomatsu.
"Monster tak bisa mengendalikan elemen cahaya. Sebaliknya, manusia juga tidak bisa mengendalikan elemen kegelapan." sambung Tomatsu, "Tapi dalam kasus ini, kau bukanlah manusia biasa yang mungkin tidak terpaku oleh aturan-aturan itu."
Darren hanya terdiam. Ternyata Tomatsu sudah melangkah lebih jauh dalam hal ini dan berada di luar perkiraan Darren.
"Aku tidak tahu kalau kau ternyata orang yang bisa serius dalam menghadapi suatu hal," Ucap Darren berusaha santai. "Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Apa kau akan membunuh ku karena bisa membahayakan dunia ini?"
Tomatsu menggeleng. "Tidak. Malah kau lah yang dalam bahaya," Ucapnya.
Darren mengernyit. Ia tak mengerti dengan apa yang Tomatsu katakan. Apa manusia dari dunia lain tidak bisa hidup lama di dunia ini? Seperti semacam perbedaan hukum alam?
"Maksud mu?" Ucap Darren. "Apa umur ku akan pendek?"
Tomatsu menarik nafas. "Tidak, bukan itu," Jawabnya. "Raja Iblis ke tujuh, Raja Iblis kegelapan. Ia akan menjadi masalah bagi mu."
Darren melotot kaget. "R-Raja Iblis?" Mendengarnya saja sudah cukup untuk membuat Darren sedikit bergetar.
Tomatsu melanjutkan. "Ya. Dia adalah Raja Iblis termuda dari enam lainnya. Ia juga memiliki pemikiran yang berbeda dari kami," Ucapnya. "Kami para Raja Iblis memiliki tujuan untuk memimpin suatu kelompok dan membuatnya menjadi terkuat di dunia. Tapi ia berbeda."
Darren meneguk ludah. "Tujuan? Jangan-jangan..."
Tomatsu mengangguk. "Ya. Kau, dan para Outlander lainnya. Ia sedang memburu manusia-manusia seperti mu."
Berita ini bagaikan sebuah bom bagi Darren. Lagi-lagi, nyawanya secara tidak langsung sudah terancam, dan bisa saja orang-orang di sekitarnya akan terlibat.
Tapi di sisi lain, ia juga menemukan hal baru yang membuatnya sedikit penasaran.
"Tunggu. Outlander?" Ucap Darren sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Tadi kau bilang 'Para Outlander'. Apa itu berarti aku bukanlah satu-satunya orang dari dunia lain?"
"Ya, benar. Setidaknya itu lah yang dikatakannya," Balas Tomatsu. "Sudah banyak orang-orang dari dunia lain yang sudah ia tangkap. Tapi, aku sendiri tidak terlalu paham apa yang ia lakukan kepada mereka. Ia adalah Raja Iblis dengan kepribadian yang tertutup."
Darren merengut. Wajahnya jadi suram.
"Aku senang sih, akhirnya aku tahu kalau aku gak sendirian di dunia ini. Masih ada manusia-manusia lain yang nyasar juga," Pikir Darren. "Tapi tetap aja. Aku gak bisa terus hidup damai kalau kayak gini. Aku harus mencoba mencari cara untuk menghindarinya."
Sebenarnya, berapa kuat sih si Raja Iblis ke tujuh itu?" Darren menoleh ke arah Tomatsu.
"Kau sudah lihat Succubus tadi. Maka kekuatannya bisa dibilang jauh berpuluh-puluh kali lipat lebih dahsyat," Jawab Tomatsu. "Jangan coba berpikir untuk melawannya."
Darren langsung berkeringat mendengarnya. Kalau sudah begini, ia tak punya pilihan lain selain kabur atau bersembunyi selama mungkin.
"Tapi, Tomatsu..." Ucap Darren pelan. "Kenapa kau memberitahu semua ini kepada ku?"
Tomatsu mengangkat kepalanya dan menatap Darren.
"Kau masih punya janji untuk membantu ku menangkap pelaku atas kehancuran kerajaan ku, kan?" Balasnya. "Takkan ku biarkan kau mati sebelum menuntaskan janji itu."
Darren sedikit tersenyum. Entah ia harus senang atau tidak mendengarnya.
"Yah. Seenggaknya aku masih punya Tomatsu di sisi ku, walau mungkin gak lama."
Tomatsu beranjak dari atas kasur dan berjalan mendekati Darren. Ia menatap Darren dengan penuh keyakinan.
"Kau harus lari," Ucapnya tiba-tiba.
"Eh?" Darren terkejut.
Tomatsu kemudian berjalan ke pintu. "Succubus itu mungkin sudah memberitahukan keberadaan mu kepada Tuan-nya. Kita harus pergi atau kota ini mungkin bisa jadi tempat bertempur besok."
Ia berjalan keluar sambil melambaikan tangannya.
"Cepat tidur. Besok kita sudah harus berkemas dan pergi."
Darren hanya melihati Tomatsu berjalan kembali ke kamarnya. Dirinya merasa sedikit tenang setelah mengetahui kalau Tomatsu berusah melindunginya.
"Aku harus pergi besok," Gumamnya. "Aku tak mau membiarkan kota ini ikut terlibat masalah ku."
Setelah itu Darren pergi tidur.