Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Sehabis Badai


Waktu itu, hari sedang cerah seperti biasanya. Dengan kawalan Ravenna, Darren melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya.


"Woah!!! Darren-sama!" Kerumunan Lizardmen dan Manusia hewan langsung ribut meneriakkan namanya.


Darren sedikit menunduk. Ia berkedip pada Ravenna, dengan maksud memberi tanda.


"Kalian mundurlah sedikit. Darren ada keperluan," Ravenna langsung memotong kerumunan, membuka jalan hingga sampai ke balai desa.


"Kita sudah sampai, Darren," Ucap Ravenna sambil membuka pintu.


Darren masuk, di ikuti oleh Ravenna di belakangnya.


Di dalam, bayak orang sudah menunggunya. Kaido, Raja Goblin, dan juga Akira beserta seluruh pasukannya.


"Akira, kau sudah baikan?" Tanya Darren khawatir.


Akira hanya mengangguk sambil menggerakkan tangannya, bermaksud memberi tanda bahwa Darren dipersilahkan duduk.


"Darren-sama, apa kau mengingat ku?" Tugo langsung berbicara.


Darren sempat kebingungan awalnya, tapi kemudian ia ingat.


"Kau itu Raja Goblin waktu itu, kan!" Darren langsung berbicara nyaring sambil menunjuknya.


Tugo tersenyum lega. "Aha, untungnya kau ingat aku," Ucapnya. "Waktu itu aku belum memperkenalkan diri. Namaku Tugo, ketua desa Goblin hutan Albtraum."


"Lalu, ada apa?" Darren menanyakan tujuan dari rapat ini.


Kaido membuka pembicaraan. "Pertama-tama. Aku, mewakili seluruh Lizardmen, ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada anda, Darren-sama," Ucapnya sambil berdiri dan membungkuk.


"Ah, iya. Tak masalah. Lagipula, Tugo dan teman-temannya juga banyak membantu."


Tugo langsung tersipu.


Kaido melanjutkan pembicaraan. "Dan, jika anda tak keberatan, Darren-sama," Sambungnya, "Kami ingin anda menjadi tuan kami."


"Oh. Eh... EH!?" Darren langsung terbelalak. "T-Tuan!?"


"Sebenernya, aku sendiri udah ngerasa gak enak sama para manusia hewan. Aku gak banyak ngapa-ngapain buat mereka. Dan sekarang, Lizardmen juga pingin jadi bawahan ku!?"


Darren menepuk pipinya sendiri, seakan berkata, "Jangan loyo dulu! Semangat dikit napa!" Ia kemudian kembali membalas permintaan Kaido.


"Kau yakin?"


"Aku yakin, Darren-sama. Aku dan segenap Lizardmen, telah membicarakan hal ini."


Darren sedikit terkejut. Tapi ia berusaha bersikap santai, walau sebenarnya ia sedang mengalami mental breakdown.


"B-baiklah. Kalau iti keinginan kalian."


Kaido tersenyum lega. Ia menghampiri Darren dan berlutut di hadapannya.


"Terimakasih banyak, Darren-sama. Kami takkan mengecewakan mu," Ucapnya.


Darren menyentuh pundak Kaido yang sedang tersungkur. "Ya, sama-sama. Aku senang jika kalian senang," Balasnya. "Tolong kerjasamanya."


Akira yang menyaksikan kejadian itu, semakin terus menundukkan kepalanya. Ia terlihat menggenggam kepalan tangannya sendiri dengan keras. Teman-temannya merasa khawatir, tapi ia bilang bahwa ia tidak apa-apa.


"Oh iya, Darren," Saut Ravenna. "Apa yang akan kau lakukan pada wanita ini?" Ia menunjuk Akira.


"Friedlich tidak ada hubungannya dengan ini semua. Mereka juga hanya korban dalam rencana licik Accel," Jawab Darren. "Biarkan mereka memutuskan keinginan mereka sendiri."


Ravenna kembali menoleh kepada Akira, dan melihatnya terus mengeraskan kepalan tangannya.


"Apa dia marah?" Gumam Ravenna, "Tidak. Itu lebih terlihat seperti merasa bersalah."


Darren pun kembali menoleh ke arah Tugo. "Lalu, Tugo-san. Kemarin aku melihatmu datang bersamaan dengan Ravenna. Bagaimana ceritanya kalian bisa bertemu? Dan, Ravenna, bagaimana kau bisa tahu tentang penyerangan ini?"


Ravenna pun menjelaskan semuanya. Tentang bagaimana ia melihat para pasukan Erobernesia di kota, menguping rencana mereka dan membuntuti sampai akhirnya ia tak sengaja berpapasan dengan Ogre aneh.


"Ogre aneh?" Darren tersentak.


Ravenna mengangguk. "Ya. Dia memberi ku apel, dan juga senjata ini." Ia pun menunjukkan tombak hitam barunya.


"Bagaimana perawakannya? Apa ia berkulit coklat dan bertanduk dua, dengan mata merah menyala?" Sambung Darren.


"Tepat sekali."


Darren mengerutkan dahinya. "Apa dia Hioni? Ya, sepertinya iya. Ciri-cirinya sudah tak salah lagi. Dan juga, ia memberikan Ravenna apel, sama seperti yang ia lakukan kepadaku."


"Aku terkejut kau bisa tahu dengan spesifik, Darren. Apa kau adalah temannya?" Tanya Ravenna.


"Um... tidak. Aku hanya pernah berpapasan juga dengannya."


"Jadi begitu," Ucap Ravenna. "Ia benar-benar baik. Ia juga lah yang membuatku bertemu dengan para Goblin."


"Hm... entah kenapa ia seperti sudah tahu ini akan terjadi," Darren terus mengerutkan dahinya. Ia merasa curiga, sekaligus ragu.


"Iya juga sih. Ia seakan sudah tahu seluk beluk ini semua," Ravenna ikut merengutkan dahi. "Apa jangan-jangan, dia itu peramal, ya?"


Darren masih terus berpikir. Tidak mungkin kalau itu terjadi secara kebetulan. Pasti ada sesuatu, sesuatu yang tersembunyi dan bahkan mungkin tak masuk akal.


Darren menoleh ke tombak yang Ravenna pegang. Kalau di perhatikan, tombak itu terlihat jelas terbuat dari logam yang sama seperti pedang miliknya.


"Aku semakin yakin kalau yang Ravenna temui adalah Hioni. Tapi, pertanyaan sebenarnya adalah. Apa yang ia inginkan?"


Berpikir terlalu keras takkan menghasilkan apa-apa bila informasi yang dijadikan landasan tidaklah banyak. Jadi Darren memutuskan untuk mengenyampingkan masalah itu dulu.


Yang ada di pikirannya sekarang adalah Shiro dan Tora. Ia sudah pergi terlalu lama dari yang ia janjikan. Ia khawatir kalau-kalau sesuatu terjadi pada mereka.


"Dan, anu... Darren-sama. Aku juga ingin mengatakan sesuatu," Ucap Tugo. "Aku yakin kerajaan takkan terus tinggal diam. Mereka pasti akan menyerang lagi."


"Lalu?"


"Aku mengusulkan untuk membuat aliansi," Ujar Tugo.


"Aliansi?"


"Ya. Aliansi antara Lizardmen dan Goblin," Sambung Tugo. "Jika kita menyatukan kekuatan. Kemungkinan kita menang akan meningkat."


Darren mengiyakan. Walaupun ia tahu kalau Kerajaan pasti takkan menyerang mereka untuk waktu lama. Karena sepertiga dari tenaga militer mereka telah dimusnahkannya. Tapi ia tidak memberitahukan hal itu pada mereka.


"Baiklah. Itu ide yang tidak buruk," Ucap Darren. "Tolong kerjasamanya."


Ia berkemas dan berjalan ke pintu keluar desa di sebelah utara.


"Kak Darren, apa kau sudah mau pergi?" Takara tiba-tiba datang dan menarik lengan bajunya.


Darren berhenti melangkah. Ia berbalik melihat Takara, Riuku, dan juga Ravenna yang sudah di belakangnya. Ia jongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Takara dan mengelus kepalanya.


"Ya," Jawabnya singkat.


Takara langsung terlihat sedih. Riuku berusaha menghiburnya, tapi tak berhasil.


"Jangan khawatir Takara," Ucap Ravenna. "Darren pasti akan kembali ke sini lagi untuk bermain dengan mu."


Wajah Takara langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tersenyum ceria. "Sungguh?"


"Iya. Tentu saja," Sambung Ravenna sambil melotot ke arah Darren. "Benar kan, Darren?"


"I-iya, benar apa yang Ravenna katakan. Aku pasti akan kembali lagi," Ucap Darren terpatah-patah.


"Yay!" Takara langsung melompat kegirangan. "Dengar Onee-san? Kak Darren akan kembali lagi, jadi kau tak perlu khawatir."


Riuku tersentak dan langsung menutup mulut Takara dengan jarinya.


"Jangan keras-keras, Takara!" Ucapnya pelan pada adiknya.


Ravenna berbalik ke arah Darren. Ia melihat tangan Darren yang kosong. Seharusnya ia membawa pedang, tapi ia ingat kalau pedangnya telah hancur oleh tangannya sendiri.


"Darren, pedang mu?"


"Ah, iya. Aku menghancurkannya," Balas Darren.


"Bukan! Bukan itu maksud ku," Ucap Ravenna. "Apa kau akan pergi tanpa senjata?"


"Ah, itu bukan masalah besar. Walau tanpa senjata, aku masih punya sihir," Ucap Darren percaya diri.


Darren pun melanjutkan rencananya untuk pergi. Ia melambaikan tangannya pada Riuku, Takara, dan Ravenna sembari berjalan menjauh dari desa.


"Aku tunggu ya, Kak Darren!" Teriak Takara dari kejauhan.


.


.


.


Sendirian... Lagi-lagi Darren sendirian.


Ia menghembuskan nafas dengan lembut sambil menggumam dalam kesendiriannya.


"Ah, bagaimana keadaan Shiro dan Tora, ya? Apa mereka akur?" Gumamnya. "Aku harap mereka bisa saling mengerti."


"Aku sebenarnya kasihan dengan Shiro. Kakaknya meninggal saat ia tak berada di sampingnya."


"Kalau aku jadi dia, mungkin aku bakal ngurung diri di kamar sampe beberapa bulan. Ngehabisin waktu dengan main game dan baca komik."


"Kalo dipikir-pikir, ternyata hidupku itu menyedihkan juga, ya."


Saat berjalan dan fokus pada gumamannya, tiba-tiba sekelompok orang muncul dari atas. Mereka melompat dari atas pohon dan mendarat tepat di hadapan Darren.


Dengan cepat Darren langsung masuk ke dalam mode bertarung. Ia menyiapkan kuda-kuda nya dan mengulurkan tangannya, bersiap meluncurkan sihir.


"Darren, tenanglah. Ini aku," Ternyata itu Akira sambil menunjukkan wajahnya.


Darren merasa lega. "Ah. Ku kira siapa. Aku masih belum terbiasa melihatmu tanpa topeng."


"Kau mau kembali ke Friedlich, kan? Maka, biarkan kami ikut bersama mu," Sambung Akira. "Kami juga ingin pulang."


Darren mengiyakan, walau sebenarnya ia merasa sedikit ragu dengan kehadiran mereka.


"Baiklah," Ucapnya.


Mereka pun berjalan bersama, sama seperti sebelumnya.


"Akira," Ucap Darren. "Dalam pertarungan kita sebelumnya. Apa kau menahan diri?"


Akira tersentak. Ia tetap diam tak menjawab, dan hanya menundukkan kepala.


"Aku tahu kau menahan diri," Sambung Darren. "Sihir spesial mu sangat hebat. Jika kau memang tak menahan diri, maka aku seharusnya sudah kalah oleh mu."


"Kau tahu apa tentang sihir ku?" Ucap Akira.


"Tidak banyak. Tapi aku pernah menggunakannya," Balas Darren sambil mengeluarkan pedang dari tangannya, layaknya yang Akira lakukan sebelumnya.


Akira terkejut melihat pedang itu. Itu sangat mirip dengan sihir yang ia miliki. "Darren, apa ini? Bagaimana bisa kau menggunakan sihir ini?"


"Aku punya bakat untuk meniru sihir seseorang," Balas Darren. "Seperti Copy-Paste."


"Aku telah menggunakan sihir spesial mu. Dan itu sangat kuat," Sambung Darren sambil kembali menghilangkan pedangnya. "Aku bahkan kehabisan cukup banyak Mana."


"Huff... jadi sudah ketahuan, ya," Gerutu Akira. "Entah kenapa, aku tak bisa mengeluarkan seluruh kekuatan ku saat melawan mu."


"Kenapa? Apa kau memang sudah lelah waktu itu?"


"Bukan. Aku memang tak bisa melawan mu," Balas Akira. "Kau memanglah buronan. Tapi disisi lain, tanpa kehadiran mu, aku dan pasukan ku mungkin sudah mati beku karena makhluk itu."


"Ah, Tomatsu?"


"Ya. Dan itu mungkin alasan kenapa aku tak bisa melawan mu," Ucap Akira. "Aku tak bisa melawan orang yang sudah menyelamatkan nyawa ku."


Darren menarik nafas lega. Itu artinya kehadiran Akira disini hanya untuk ikut pulang menuju kampung halamannya, tanpa ada rencana tersembunyi.


"Ah, syukurlah. Ku kira kau datang tiba-tiba hanya untuk menangkap ku," Darren menghembuskan nafas.


"Aku sudah tak berniat menangkap mu lagi. Meskipun kau telah membunuh banyak pasukan Erobernesia," Balas Akira. "Urusan mereka biarkan tetap menjadi urusan mereka. Tak ada hubungannya dengan Friedlich."


"Jika mereka berusaha mati-matian untuk menangkap mu. Maka ingatlah, bahwa Friedlich masih terbuka lebar untuk menyambut kedatangan mu," Sambung Akira.


Darren mengangguk senang. Ia tersenyum sambil membalas, "Terimakasih. Aku akan berjuang untuk melindungi Friedlich juga."


Akira sempat kaget dan tak paham dengan ucapan Darren. Tapi ia membalasnya dengan senyuman juga.


"Ya, mohon kerjasamanya."