
"Sudah hampir sore. Tapi hujan tak kunjung berhenti juga," Ucap Riana sambil menatap keluar jendela. "Apa kakak baik-baik saja?"
Bruak! Tiba-tiba suara keras terdengar dari arah kamar. Kedengaran seperti suara benda yang jatuh menghantam tanah. Mendengar itu, Riana langsung berlari menghampirinya.
"Ada apa?" Riana membuka pintu kamar tempat Michael berada.
Michael tergeletak di lantai. Ia meringkuk dengan satu tangan memegangi perutnya.
Riana cepat-cepat menghampirinya. Ia lalu menggendongnya ke atas kasur dan langsung menyodorkannya makanan.
"Makanlah," Ucap Riana.
Walau dalam keadaan kritis seperti ini, Michael tetap saja enggan. Dengan keras kepala ia menolak makanan itu, walau jelas-jelas perutnya berbunyi keras.
"Jangan bandel lah!" Riana langsung menarik wajah Michael, membuka paksa mulutnya, dan memasukkan makanan ke dalamnya.
Michael hendak membuang makanan di mulutnya. Tapi mulutnya mulai bergerak sendiri. Ia mengunyah makanan itu dan kemudian menelannya.
"Kenapa aku ini?" Tanya-nya pada dirinya sendiri. "Apa mungkin karena aku kelaparan? Tidak mungkin! Aku harus menolak makanan iblis ini. Aku tidak su... Ahh, sedapnya."
Tanpa disadari, makanan tersebut telah habis. Michael memakannya dengan lahap melalui suapan Riana.
"Akhirnya kau makan juga," Ucap Riana tersenyum. Ia kemudian mengambil segelas air dan memberikannya pada Michael.
Michael segera meneguknya habis. Setelah makan dan minum, ia merasakan tubuhnya terasa jauh lebih segar. Walau tetap saja kakinya masih mati rasa.
"Ahh..." Michael nampak puas. Ia tak bisa menyangkal lagi kalau ia tadi kelaparan.
Riana terus menatapnya dengan wajah gembira. Ia merasa senang karena akhirnya Michael menerima kebaikannya, walau hanya sekali.
Michael meletakkan gelasnya. Ia melirik Riana dan menyadari bahwa perempuan itu terus menatapnya tanpa henti sedari tadi.
"Dia ini..." Michael berucap dalam hati. "Makanannya memang tidak ada racunnya. Tapi, kenapa ia tersenyum seperti itu? Apa ada yang membuatnya senang?"
Yang dipikirkan Michael tentang iblis hanyalah hal-hal negatif. Bahkan hanya karena melihat Riana tersenyum tanpa alasan, bisa membuatnya curiga.
"Pasti ada sesuatu. Ia tidak mungkin senang tanpa alasan. Ia pasti telah melakukan sesuatu pada ku. Itu sebabnya ia merasa senang."
Riana tiba-tiba berbicara. "Bagaimana masakan ku?"
Michael merasa ragu untuk menjawab. "B-Biasa saja," Jawabnya singkat.
"Tapi kau sangat lahap memakannya," Terus Riana. "Tidak apa-apa deh. Yang penting kau mau makan."
Michael mengepalkan tangannya. "Katakan pada ku sebenarnya! Apa rencana mu? Apa yang sudah kau lakukan pada ku?"
Riana terkejut. "Aku? Aku hanya memberi mu makan."
"Tidak mungkin kau melakukannya tanpa alasan. Kau pasti punya niat jahat. Apa kau mau memanfaatkan ku untuk menyerbu benua manusia?"
Riana memiringkan wajahnya. "Huh?" Ekspresi bingungnya sangat polos.
Melihat itu Michael langsung menarik kembali tuduhannya. Ia menundukkan wajahnya sambil terheran-heran apa motif sebenarnya iblis ini.
"Dia seperti tidak berbohong. Ekspresinya berbeda dengan iblis-iblis yang pernah aku interogasi. Tapi ia ini, tidak menunjukkan tanda takut ataupun bersalah apapun."
Riana beranjak berdiri. Ia berjalan menuju jendela yang terbuka. Angin kencang menerjang dari luar dan meniup tirai secara brutal. Ia segera menutupnya dan berjalan kembali kepada Michael.
"Apa diluar hujan?" Tanya Michael spontan.
Riana agak terkejut awalnya karena Michael mau berbicara. Ia pun segera membalasnya. "Iya. Sudah dari tadi."
"Begitu ya," Ucap Michael pelan. Sementara itu, dalam pikirannya, "Hujan. Aku bisa memanfaatkan suara bising hujan untuk kabur tanpa ketahuan. Sekarang aku juga sudah makan, maka seharusnya tenaga dan kekuatan ku akan pulih perlahan."
Tapi tiba-tiba perhatian Michael tertuju pada ekspresi Riana. Mukanya nampak gelisah dan cemas. Awalnya Michael berpikir, apa mungkin iblis tidak suka hujan?
"Kau kenapa?" Tanya Michael. Baginya setiap informasi bisa jadi senjata bagus. Ia pun berpikir untuk mengais informasi sebanyak-banyaknya.
"Kakak ku," Jawab Riana dengan lesu. "Ia belum pulang."
"Kakak? Kau punya kakak?"
"Ya. Dia kakakku satu-satunya. Dia sekarang sedang menjaga perbatasan desa dengan hutan."
"Hutan? Mungkin itu bisa jadi tempat pelarian ku."
Michael meneruskan. "Akhem... Lalu dimana hutan itu berada?"
Riana menjawab. "Di sebelah selatan. Kakak ku juga sedang di sana bersama dua temannya. Tapi entah kenapa aku merasa sesuatu sedang terjadi."
Michael bersorak dalam hati. "Akhirnya, aku mungkin bisa pergi dari sini."
Hujan terdengar turun semakin deras. Angin bertiup sangat kencang hingga tiba-tiba menghempaskan jendela yang tertutup. Kini air hujan masuk ke dalam dan membasahi seisi ruangan.
Riana terkejut bukan kepalang. Ia cepat-cepat berlari menuju jendela untuk menutupnya, namun sesosok seseorang di luar menarik perhatiannya.
"K-Kakak!?" Riana terkejut. Ia langsung menutup jendela dan pergi dari situ.
Ia pun segera berlari keluar dengan payung dan menghampiri kakaknya yang nampak kelelahan.
Michael hanya menyaksikan mereka dari jendela kamar. Baru kali ini Michael melihat kakaknya Riana. Tapi gerak-gerik yang dipancarkannya membuat Michael sedikit gelisah.
Ari kelihatan sangat letih. Ia bahkan langsung jatuh dalam dekapan Riana ketika adiknya itu menghampirinya dengan payung. Lalu nampak Ari membisikkan sesuatu di telinga Riana.
Ekspresi Ariana selanjutnya membuat Michael yakin bahwa sesuatu pasti telah terjadi.
"Sebenarnya ada apa? Bahkan bisa membuat para iblis itu panik," Batin Michael.
Riana nampak berlari kembali ke rumah, sementara Ari pergi menuju ke rumah-rumah. Pemuda itu terus mengunjungi satu-persatu rumah dan berteriak sekuat tenaga memperingati mereka sesuatu.
"Ada apa ini?" Tanya Michael saat Riana datang menghampirinya.
"Para monster, mereka datang," Jawab Riana seraya mengemas beberapa benda-benda miliknya.
Michael tersenyum kecil. "Heh, ada-ada saja. Monster takut dengan monster," Ucap Michael kecil.
"Tentu saja kami takut. Mereka adalah undead. Tidak ada yang bisa memahami gerak-gerik para undead."
"Undead, ya."
Riana kemudian mengeluarkan sepasang tongkat kayu yang beberapa bagiannya sudah dimodifikasi. Di bagian ujungnya, sebuah kain agak tebal ditempatkan sebagai penyangga lengan.
"Kau masih belum bisa jalan kan. Gunakan ini!" Ucap Riana seraya memberi tongkat kayu itu.
"Cih, buat apa aku kabur. Sudah selayaknya bagi seorang ksatria untuk tidak lari dari pertarungan," Balas Michael dengan arogan.
"Sudahlah, gunakan saja. Buang dulu pemikiran ksatria mu itu," Ucap Riana membalas. "Lagian, kau kan sedang tidak bisa bertarung. Jadi, lebih baik kabur daripada mati sia-sia."
Riana langsung membawa tas-nya dan berjalan menuju pintu. Di sana ia berbalik dan menunggu Michael berjalan.
"Ayo cepat!"
Michael menatap sepanjang tongkat ditangannya. Ia pun menghela nafas.
"Baiklah. Kali ini saja."
Ia mencoba berdiri dengan bertumpu pada kedua tongkat itu. Setelah berhasil menyeimbangkan diri, ia pun mencoba berjalan perlahan-lahan hingga akhirnya dapat berjalan sedikit lebih baik.
Michael dan Riana pun berjalan dari rumah, di tengah hujan lebat dengan guntur yang menyambar di mana-mana. Badai berkecamuk makin ganas, namun Riana tetap meneguhkan pandangannya untuk maju bersama Michael.
Dari kejauhan, mereka berdua melihat para penduduk mulai berkumpul dengan Ari yang mengarahkan mereka. Mereka semua berkumpul di tengah-tengah perempatan desa dan siap untuk pergi.
"Kakak," Panggil Riana begitu melihat Ari.
Ari menoleh dan menyahut, "Riana." Ia kemudian terdiam sejenak sambil melirik Michael. "Kau membawa dia?"
Ari sempat mengerutkan wajah sedikit. Namun ia langsung membuangnya. "Ah, sudahlah. Yang penting kita pergi dulu dari sini."
Mereka hendak bersiap-siap pergi. Ari nampak mendata setiap warga desa, dibantu oleh adiknya. Mereka ingin memastikan tidak ada seorangpun tertinggal.
Michael hanya menyaksikannya, sambil berdiri canggung dengan tongkatnya. Ditengah hujan deras, pandangannya sempat tertegun pada warga desa itu.
"Mereka, ketakutan..." Ucap Michael dalam hati. "Mereka gemetar. Mereka ragu. Mereka putus asa."
Michael kemudian menggelengkan wajahnya. "Ah tidak. Mereka hanya iblis. Mereka adalah makhluk jahat. Hanya karena sekarang hampir semua Raja Iblis telah mati, mereka tidak punya pelindung lagi. Aku tidak boleh melupakan apa yang telah mereka lakukan pada masa lalu, hingga membuat Manusia menderita."
Saat Michael sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba sesuatu menarik ujung celananya. Michael tersentak dengan langsung menengok.
"Om Kesatyiya," Seorang iblis cilik dengan mata yang polos, memeluk pergelangan kakinya dengan wajah yang muram. "Om kesatyiya kuwat kan?"
Michael hanya terdiam, tertegun pada pemandangan yang tak pernah ia rasakan itu.
Iblis kecil itu meneruskan. "Kayau om kuwat, om sehayusya bisa yawan monsey."
Michael diam seribu kata. Ia tak tahu mau bicara apa. Entah kenapa, iblis cilik itu seperti mengingatkannya akan sesuatu. Sesuatu yang telah lama ia lupakan.
"Rio, jangan jauh-jauh, nak!" Seorang ibu iblis datang dan langsung merangkul anak itu. "Jangan dekat-dekat dengan om ksatria itu. Ia berbahaya."
Anak itu ditarik ibunya menjauh. Walau begitu, bocah cilik itu terus menoleh ke belakang sambil menatap Michael yang merenung dibawah derasnya air hujan.
"Apa semuanya sudah bersiap?" Tanya Ari sambil mengecek para warga. "Kita harus pergi sekarang. Tembok kecil yang menahan mereka takkan ***--"
"Ari, lihat!" Salah seorang warga berteriak. "Mereka sudah datang."
Benar saja. Saat Ari berbalik, nampak di tengah hujan para gerombolan zombie itu sudah muncul. Mereka tiba lebih cepat dari yang diduga.
"S-Sial, mereka cepat sekali," Ucap Ari seraya menarik busur panahnya. "Semua orang yang bisa bertarung, bersiaplah! Kita harus lindungi anak-anak dan orang tua!"
Beberapa pemuda dan bapak-bapak, yang kebanyakan berprofesi sebagai pemburu dan penebang kayu, pun maju dengan senjata mereka. Mereka menggunakan panah dan kapak.
"Riana, kau bisa menggunakan sihir pemulih, kan? Tolong gunakan saat ada yang terluka!" Perintah Ari.
"Baik, dimengerti," Sahut Riana.
Para zombie semakin mendekat. Para warga desa pun tak tinggal diam. Mereka mulai meluncurkan serangan. Para pemanah berdiri di barisan belakang, sementara pengguna kapak maju menerjang.
Ari memimpin pasukan tersebut dengan gagah. Walau didalam hatinya ia tahu bahwa hampir tak ada kesempatan bagi mereka untuk menang.
"Sial, jumlah kami kalah telak. Walau para undead itu tak memiliki strategi dan taktik, namun jumlah mereka mendorong kami ke ujung tanduk."
"Kalau begini aku jadi ragu, apakah lebih baik bertarung atau kabur? Aku juga tidak yakin kami bisa lolos dari kejaran mereka."
Slashh! Pertarungan terjadi sangat sengit. Banyak petarung yang mulai terluka dan kewalahan. Tidak peduli seberapa banyak mereka mengayun senjata mereka, para undead itu seakan tak berkurang.
"Non-Elemental Spell: Heal!" Riana merapal mantranya.
Ia pun menyembuhkan para petarung dalam jangkauan skala luas. Luka-luka yang mereka terima pun perlahan menutup. Namun walau begitu, sihir penyembuh tidak akan memulihkan tenaga mereka.
Beberapa petarung telah tewas. Mayat-mayat pun bergelimpangan di tanah. Darah mereka mengalir melalui genangan air yang menutupi tanah menjadi merah.
"Para warga nampaknya kelelahan. Tapi, jumlah musuh masih banyak," Batin Ari. "Ini hanya masalah waktu, sampai akhirnya kami kelelahan dan tak mampu melawan lagi."
Ari melirik ke arah adiknya. Kepulan uap kecil bisa terlihat seraya Riana bernafas. Dilihat dari irama nafasnya, Riana sangat kelelahan.
"Gawat, Riana juga kelelahan. Kalau begini tak ada lagi yang mendukung kami dari belakang."
Untuk sesaat, Ari melirik ke arah Michael. Manusia itu hanya berdiri dengan kedua tongkatnya, tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa.
Awalnya Ari ingin berteriak: "Hey, manusia. Kalau kau ingin hidup, bantulah kami!" Tapi setelah melihat ekspresi kosong Michael, ia langsung mengurungkannya.
"Ia juga pasti sudah putus asa. Lagian juga, tentara kerajaan sepertinya apa mau menolong kami."
Nafas Riana semakin berat. Ia pada akhirnya jatuh ke tanah dan berlutut dengan lemas.
"Riana!" Teriak Ari sambil menoleh.
"A-Aku tidak apa-apa. Hanya kehabisan Mana cukup banyak," Jawab Riana.
Ari nampak frustasi sekarang. Keadaan benar-benar menyudutkannya. Ditambah lagi, kekalahan sudah dapat dikonfirmasi. Tinggal menunggu waktu untuk berdetik.
Satu persatu para petarung pun mulai dihabisi. Dan yang mengejutkannya lagi, mayat para petarung yang berserakan mulai bangkit dan berubah menjadi zombie.
"M-Mereka jadi tambah banyak," Ari terus menembakkan anak panahnya.
"Bagaimana ini, Ari?" Salah seorang petarung bertanya dengan nada panik.
Ari terus berpikir keras seraya terus menyerang. Namun, tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh sesuatu ditengah kerumunan undead itu.
"Y-Yanu? R-Ren?" Matanya melotot lebar, tidak percaya dengan yang dilihatnya.
Kedua temannya tadi, Yanu dan Ren, kini telah berubah menjadi undead. Sepertinya zombie-zombie itu memiliki kemampuan untuk menginfeksi makhluk hidup dan merubahnya.
Ari langsung menarik anak panahnya dan membidik ke arah Yanu dan Ren. Namun tangannya bergetar dan tegang. Matanya terus melotot dan giginya bergemeretak.
"K-Kalian..." Ucapnya. Ia kemudian menutup matanya. "Maafkan aku."
Swoosh! Anak panah terbang ke kepala Yanu dan Ren. Ari terus memejamkan mata, tidak mau menyaksikan pemandangan itu.
Di sisi lain, jumlah undead yang meningkat mulai memaksa para warga untuk mundur. Para zombie semakin mendekat dan mulai menginfeksi beberapa penduduk yang tak berdaya.
Riana mencoba bangkit berdiri. Tenaganya masih belum puluh, namun sudah dihadapkan dengan kondisi yang memaksanya untuk segera bergerak.
Seorang ibu nampak lari dengan menggandeng anaknya. Mereka hendak menuju sebuah rumah dan berniat bersembunyi di sana.
Namun, tiba-tiba sebuah zombie muncul dan mencengkram ibu tersebut.
"Rio, larilah!" Teriak ibu tersebut pada anaknya.
Anak iblis itu hanya menatap ketakutan. Di depan matanya, para zombie mulai menggerogoti daging ibunya. Kekejian semacam itu, membuat anak tersebut terpaku diam dalam ketakutan hebat.
"I-Ibu..." Anak itu hanya berharap ibunya untuk kembali. "Ibu!"
Ibu tersebut merintih dalam kesakitan, namun ia terus meminta anaknya untuk kabur. "Pergilah, Rio! Ibu akan baik-baik saja."
Anak itu mulai menangis. Tiba-tiba, zombie yang lain mulai berlari ke arahnya.
Riana yang menyaksikan hal tersebut, tidak bisa tinggal diam. Ia langsung berlari, namun tak lama kemudian jatuh karena kakinya terlalu lemas.
Ia tersungkur ke tanah, seraya matanya masih tertuju pada anak itu. Ia dengan keras berteriak sekuat tenaga.
"H-Hentikan... hentikan!"
Zombie itu hanya perlu selangkah lagi untuk menangkap anak itu dan memakannya. Sampai tiba-tiba...
"Fire Elemental: Fire Ball!"
Sebuah bola api meluncur, mengenai zombie itu dan membunuhnya. Anak itu pun selamat. Riana keheranan sekaligus bingung, dari mana arah bola api tersebut berasal?
Kemudian ia berbalik dan melihat sesosok ksatria yang ia kenali, berdiri dengan satu tangannya memegang tongkat dan yang satu lagi mengulurkan tangannya ke depan.
"Kau melakukannya."
.
.
.