Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Petualang Veronheim, Esema-sama


Darren dan Shiro sedang dalam perjalanan menuju Guild petualang di kota itu.


"Sesuai info yang kudapat dari perpustakaan kota, Pria Bertopeng itu adalah mantan petualang," Ucap Darren. "Mungkin aku bisa tahu lebih banyak jika aku langsung bertanya ke Guild-nya."


"Darren-sama, apa yang membuatmu begitu penasaran tentangnya?" Tanya Shiro.


"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya penasaran saja," Jawab Darren. "Apalagi setelah mengetahui bahwa ia punya bakat yang sama seperti Rolf."


Sesampainya di Guild, Darren langsung menuju ke meja resepsionis. Disana ia mendaftarkan diri sebagai petualang.


"Jika aku datang cuma untuk menanyakan Pria Bertopeng itu, mereka bisa saja menganggapku sebagai penguntit. Lebih baik jika aku berbaur dengan keadaan," Pikirnya. "Lagipula, aku juga membutuhkan uang. Penghasilan sebagai petualang juga gak terlalu buruk."


"Selamat datang di Guild Veronheim. Ada yang bisa aku bantu?" Sambut sang resepsionis.


"Aku kemari untuk mendaftar menjadi petualang Veronheim," Balas Darren.


"Dilihat dari perlengkapan mu, sepertinya anda pernah menjadi petualang sebelumnya," Ucap resepsionis. "Apa itu benar?"


"Ya," Jawab Darren sambil mengangguk.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang, tolong letakan tangan mu diatas bola sihir ini," Ucap resepsionis.


Gulp, Darren menelan ludahnya. Bola sihir itu terlihat sama persis seperti yang ia dulu gunakan pertama kali di guild sebelumnya. Apakah kejadian yang sama akan terulang?


"Eh... anu," Ucap Darren terbata-bata, "Saya sebenarnya cuma petualang tingkat perunggu. Gak usah di ukur juga gapapa, kan?"


"Eh... jadi kau petualang pemula?" Balas sang resepsionis, "Padahal peralatan mu terlihat bagus. Aku tak menduganya."


"Tapi apa salahnya mengukur kekuatan mu?" Sambung resepsionis itu lagi. "Bisa jadi kali ini kekuatan anda telah meningkat."


Darren panik. Ia takut kalau-kalau bola sihir itu rusak lagi dan ia akan terkena denda. Padahal keuangannya bentar lagi menipis.


"Maaf, tapi saya tidak masalah dengan tingkat perunggu," Ucap Darren.


Resepsionis itu terdiam sejenak, tapi akhirnya ia membiarkan Darren.


"Lalu, bagaimana dengan dia?" Ucap sang resepsionis sambil menunjuk Shiro. "Apa dia budak mu?"


"Jika ia ingin bergabung dengan mu, maka ia harus ikut mendaftar," Sambungnya lagi.


"Dia..." Ucap Darren, "Dia adalah partner ku. Jangan anggap dia dengan rendah sebagai budak."


"Oh, begitu," Balas resepsionis dengan ekspresi tidak peduli, "Kalau begitu, siapa nama mu?"


Darren telah memikirkan ini sebelumnya. Ia tak mungkin menggunakan nama aslinya untuk sementara ini. Bisa-bisa orang yang memburunya akan mengetahui keberadaannya.


"Nama ku Esema," Jawab Darren. "Dan dia Shiro," Ucapnya sambil menunjuk Shiro.


"*Ya sebenarnya Esema itu ku ambil dari nama sekolah sih. SMA, ku plesetin jadi Esema*."


"Baiklah, Esema-kun. Mulai sekarang kau dah bawahan mu sudah resmi menjadi petualang Veronheim," Ucap resepsionis. "Kalian adalah petualang perunggu, jadi pastikan kalian tidak asal-asalan dalam mengambil quest. Jangan ambil quest yang terlalu sulit, karena nyawa kalian bukanlah tanggung jawab Guild."


Darren dan Shiro mengangguk. "Ya, terimakasih kerjasamanya," Ucap Darren.


Setelah mendaftarkan diri, Darren dan Shiro pun pergi keluar dari Guild.


"Darren-sama, maaf jika aku lancang," Tanya Shiro tiba-tiba, "Kenapa anda mengganti nama anda?"


"Ah, itu. Aku kan seorang buronan. Akan berbahaya kalau orang-orang yang memburuku tahu keberadaan ku," Jawab Darren. "Mulai sekarang, panggil aku dengan nama itu, ya."


"Baiklah, Darr- Maaf.., Esema-sama," Balas Shiro.


"Nah, bagus. Sekarang sudah siang. Apa kau lapar?" Ucap Darren. "Ayo kita makan siang dulu."


Setelah pergi meninggalkan Guild, Darren dan Shiro berjalan mengelilingi kota untuk mencari tempat makan yang murah.


"Sesuai yang ku baca di perpustakaan kota, Veronheim adalah kota terluar kerajaan Friedlich. Kota ini dipenuhi oleh pedagang-pedagang karena merupakan salah satu pusat perdagangan dunia."


"Untuk 'Dunia' itu sendiri, aku masih belum tahu banyak. Dunia yang kutinggali ini sekarang benar-benar memiliki sistem kerja yang berbeda."


"Perbudakan dan kerja paksa adalah hal yang umum disini. Begitu juga dengan rasisme dan pelecehan, dua hal itu seakan-akan sudah jadi bagian hidup manusia disini."


Sesaat setelah Darren berhasil menerobos sebuah kerumunan, Darren merasa lelah terus-terusan berada di keramaian. Bagaimana pun, dia dulunya adalah seorang introvert nolep. Berada di keramaian membuatnya tak nyaman.


Ia melihat sebuah gang kecil yang nampak sepi. Itu mungkin akan jadi tempat beristirahat yang bagus untuk sementara.


"Shiro, ayo kita beristirahat dulu disana," Ucap Darren sambil menarik tangan Shiro.


Darren terengah-engah, begitu juga Shiro. Keramaian kota memaksa Darren untuk beristirahat. Setelah masuk ke sebuah gang kecil, Darren pun duduk dipinggiran tembok sambil melihati banyak orang yang tak berhenti berlalu lalang.


"Aku gak menduga bakal seramai ini," Gerutu Darren sambil mengatur nafasnya. "Dari dulu aku memang gak cocok sama keramaian sih."


Shiro yang masih berdiri sambil sedikit membungkukkan badannya karena lelah, terus-menerus mengeluarkan suara nafas yang kasar. Ia juga terengah-engah kelelahan.


"Maaf ya, Shiro. Karena aku salah mengambil jalan, kita jadi terjebak disini," Ucap Darren.


"Jangan bilang begitu, Esema-sama. Ini tidak sepenuhnya salah anda," Balas Shiro.


"Ah... iya," Jawab Darren canggung mendengar jawaban Shiro.


"Menurutku, gaya bicara Shiro itu terlalu formal. Aku terkadang malah merasa aneh mendengarnya."


Saat mereka berdua mengobrol, tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah sebuah tumpukan tong yang ada tak jauh dari situ.


Darren dan Shiro terkejut. Darren segera melompat ke depan Shiro, bermaksud untuk melindunginya.


"Shiro, waspadalah!" Ucap Darren. "Tetaplah dibelakang ku!"


Tak lama, terdengar suara rintihan. Darren yang penasaran mencoba untuk mengeceknya. Ia berjalan perlahan dengan pedang ditangannya.


Tiba-tiba...


Gubrakk! Tong-tong itu berjatuhan menimpa seseorang yang tengah tergeletak di tanah.


Darren segera lari menghampirinya.


"Kau! Apa kau tidak apa?" Ucapnya sambil membongkar tumpukan tong yang berat.


Saat berhasil dibongkar, ternyata itu adalah seorang laki-laki muda. Ia ditemukan telah pingsan dengan keadaan tangannya memegang perut.


Tapi ada hal lain yang membuat Darren terkejut. Saat melihat wajahnya, Darren merasa pernah bertemu dengannya sebelumnya.


"Orang ini, aku rasa pernah melihatnya sebelumnya," Ucap Darren dalam hati. "Bukankah ia orang waktu itu!?"


"Yang pas itu mau melawan perampok, tapi malah tumbang sebelum bertarung!"


"Iya bener. Mukanya sama!"


Saat Darren mencoba menariknya dari timbunan tong, ia tak sengaja merasakan sesuatu pada pergelangan tangan pemuda itu.


Darren segera menyipitkan matanya. Pergelangan tangannya merah padam. Sepertinya itu disebabkan oleh luka gesek yang parah.


"Tangannya luka. Tapi karena apa?" Gumam Darren.


Darren segera menggendongnya.


"Shiro, sepertinya makan siangnya kita tunda dulu," Ucap Darren sambil mengerang keberatan. "Kita harus kembali ke penginapan."


"Baik, Esema-sama!" Jawab Shiro.