
Pagi-pagi sekali, Darren sudah mengemasi barang-barangnya dan turun ke lantai bawah penginapan. Di sana, Clara dan Bagus sudah berdiri menunggunya.
Darren merasa lega melihat mereka berdua. Mereka sepertinya sudah melupakan pembicaraan tadi malam, dan tidak ada perasaan canggung di antara keduanya. Bisa dilihat dari cara bicara Clara yang penuh candaan.
"Hai semuanya," Darren menghampiri mereka.
Mereka berdua menoleh bersamaan. "Akhirnya kau tiba juga," Sambut Clara, sementara Bagus hanya tersenyum kecil.
Tanpa bicara banyak, mereka segera meninggalkan penginapan dan pergi ke utara kota.
Kota Fueno adalah kota yang cukup besar. Luasnya mungkin hampir menyerupai sebuah provinsi. Untuk pergi ke sisi lain kota pun memakan waktu yang cukup lama.
Terlepas dari luas kotanya, Fueno tetap menjadi kota aman yang memiliki angka kriminal kecil. Selain perbudakan, hal seperti pencurian dan perampokan jarang terjadi.
Ini dikarenakan kepolisian di kota tersebut memiliki hubungan langsung dengan militer pemerintah. Siapapun yang tertangkap melakukan kejahatan, akan langsung di bawa kepada Raja dan di hukum.
Namun akhir-akhir ini, pemandangan kota agak terasa berbeda. Clara sendiri mengerutkan mata ketika melihat banyak sekali gelandangan yang berkeliaran di trotoar.
"Mereka..." Ucap Darren, melihat pemandangan itu.
"Ya. Mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan segalanya. Rumah, harta, dan bahkan orang-orang yang mereka sayangi," Sambung Clara. "Mereka yang tidak sanggup membayar pajak, akhirnya kehilangan rumah dan hidup menggelandang. Harta mereka habis, dan untuk hidup pun sulit. Mungkin sudah ada korban dari kejadian itu."
"Ternyata kebijakan baru itu benar-benar membuat rakyat sengsara, ya," Sambung Darren.
Empat jam perjalanan menggunakan kaki, Darren dan teman-temannya tiba di bagian utara Fueno. Pemandangan di sana pun tidak banyak berubah. Banyak gelandangan yang duduk di pinggir jalan, dengan tangan terbuka meminta belas kasihan.
"Kasihannya," Ucap Darren. Ia kemudian mengambil sebuah roti dan hendak memberikannya pada salah satu orang di sana. Namun Clara cepat-cepat menghentikannya.
"Hentikan, Esema," Ucapnya sambil menarik Darren. "Jangan asal memberi makan dengan tangan mu. Kau mungkin akan dianggap melecehkan mereka."
"Melecehkan bagaimana? Aku jelas-jelas hanya ingin memberi mereka makan."
"Orang yang kau beri mungkin akan merasa senang, namun orang-orang yang melihat akan menganggap kau merendahkan mereka," Sambung Clara. "Itu sama saja kau meninggikan diri dan menganggap para iblis hanyalah makhluk lemah yang butuh pertolongan."
Darren agak terkejut mendengar penjelasan itu. Tapi sekarang ia tahu kenapa Dyland sangat marah sebelumnya saat melihat Shiro bersamanya.
Ternyata di sini pun, jabatan dan hakikat sangat di jaga. Manusia seperti Darren yang merupakan orang luar harus benar-benar menjaga sikapnya. Bahkan berbuat baik pun ada konsekuensinya.
"Clara-san," Bagus memanggil, sambil menunjuk ke sebuah toko di seberang jalan. "Ini toko obatnya."
Mereka segera masuk. Tak jauh berbeda dengan toko sebelumnya, toko itu dipenuhi orang ramai. Antrean menjulur panjang hingga keluar bangunan.
"Kenapa setiap toko obat yang kita kunjungi selalu ramai?" Ucap Darren.
"Mungkin karena efek kebijakan baru itu. Banyak orang tak mampu membeli bahan makanan yang sehat, dan berakhir jatuh sakit," Balas Clara. "Esema-kun, apa kau bisa menggunakan sihir cuaca mu lagi?"
"Tentu bisa."
Darren merapal mantranya pelan. "Weather Modification."
Hujan pun turun dan membubarkan keramaian itu. Darren dan teman-temannya segera pergi ke toko tersebut dan menerobos antrean yang tersisa.
Beberapa orang di sana menatap mereka bertiga dengan jengkel karena menyerobot, namun seorang pemuda yang berjaga di kasir hanya tersenyum dan menyambut mereka.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ucap pemuda itu.
Clara mengeluarkan pecahan kaca itu dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
"Apa anda pernah merasa menjual botol ini?" Tanya Clara.
Pemuda itu membungkuk dan mengamati pecahan kaca di atas mejanya. Sesekali ia mengenduskan hidungnya dan mengangguk-angguk seakan ia melihat bentuk botol dari pecahan kaca itu.
"Maafkan daku, tapi aku tidak pernah menjual ini," Ucap pemuda itu. "Tapi, aku tahu siapa yang menjualnya."
"Benarkah?!" Balas Clara antusias.
"Ya. Aku tahu jelas dari baunya. Dan juga, dari bentuk pecahannya, botol ini memang di rancang untuk di pecahkan," Sambung pemuda itu.
"Dipecahkan?"
"Ya. Botol ini didesain dengan bagian agak lonjong di ujungnya, berfungsi untuk meningkatkan presisi saat dilempar. Bagian lonjong itu juga bekerja sebagai gagang. Sehingga, saat dilempar, akan terasa seperti melempar pisau. Selain itu, kacanya juga dibuat tidak terlalu tebal, sehingga bisa langsung pecah begitu menghantam sesuatu."
Clara mengangguk-angguk.
Pemuda itu melanjutkan, "Dan dari bau obatnya, efeknya seharusnya sudah hilang sejak lama. Tapi, aku masih bisa mengenalinya. Obat tidur ini punya dosis yang sangat tinggi. Tanpa harus mengonsumsinya, bau dari obat ini pun mampu membuat orang yang menghirupnya tertidur lelap."
Setelah mendengar itu, Darren langsung menebak apa yang terjadi. "Jadi kemungkinannya, penyusup itu membuat semua orang tertidur sebelum membunuh mereka. Ya, itu pasti caranya," Batin Darren. "Tapi, ini masih belum cukup untuk menjelaskan kenapa ia menyisakan Tora dan Hain."
Clara melanjutkan. "Lalu, siapa yang menjual ramuan ini?"
Pemuda itu menjawab. "Sebuah toko di timur kota, yang dikelola oleh seorang wanita tua. Di sana kau bisa menemukan banyak jenis obat dan ramuan. Tapi menurutku, kalian harus hati-hati kalau ke sana."
Mereka bertiga mengernyit heran. "Emang kenapa?"
Pemuda itu berbisik pelan. "Toko itu menjual banyak obat-obatan ilegal. Jika kalian beli sesuatu di sana, kalian mungkin akan dicurigai membeli hal-hal aneh."
Clara mengangguk. "Baiklah, aku paham. Terimakasih informasinya."
Mereka bertiga pun pergi dan meninggalkan toko tersebut dengan perasaan puas sekaligus penasaran dengan apa yang menunggu mereka di toko selanjutnya.
"Apa kita bisa benar-benar mempercayainya?" Tanya Bagus.
"Mungkin bisa. Setidaknya kita mendapatkan petunjuk," Balas Clara. "Benar kan, Esema-kun?"
Darren membalas. "Y-Ya."
Clara menoleh pada Darren. Ia melihat wajah Darren yang sedikit ruwet dan penuh tanda tanya.
"Ada apa, Esema-kun? Kau terlihat kebingungan," Tanya Clara.
"Ya, sebenarnya ada sesuatu yang agak mengganggu ku," Kata Darren.
"Apa itu?"
"Ramuan tidur yang kuat, dan botol yang dirancang untuk dilempar. Apa kalian tidak merasa ini merujuk pada sesuatu?"
"Benar juga. Sepertinya ada yang tidak beres," Kata Clara.
Bagus menyahut, "Jadi maksudmu, penyusup itu menggunakan obat tersebut untuk membuat semua orang pingsan, lalu membunuh mereka?"
Darren mengangguk. "Ya, tapi bukan itu saja."
Bagus dan Clara menatapnya dengan serius sambil terus berjalan.
"Agak tidak masuk akal kenapa Tora dan Hain dibiarkan hidup. Tak ada keuntungannya bagi pelaku tersebut," Kata Darren menjelaskan opininya. "Sejauh ini kita berpikir kalau penyusup itu sudah menyelesaikan tugasnya. Yaitu mengambil kembali batu sihir itu. Namun, dengan dibiarkannya Hain dan Tora tetap hidup, pasti ada maksud dibalik itu semua."
"Benar juga. Aku rasa aku mulai mengerti maksud mu," Sahut Clara. "Jadi kemungkinan, penyusup itu masih punya tujuan lain di organisasi. Dan ia sengaja menggunakan Tora dan Hain untuk tujuannya. Tapi, apa tujuannya itu?"
"Untuk tujuannya di organisasi, aku masih belum paham. Tapi meninggalkan Tora dan Hain, aku yakin ia ingin memanfaatkan mereka berdua untuk sesuatu. Contohnya seperti, untuk menutupi jejaknya."
"Menutupi jejaknya? Mana mungkin bisa?" Bagus membalas. "Jika ia ingin menghapus jejaknya, bukankah lebih baik untuk membunuh semua orang?"
"Itu memang salah satu caranya. Namun, membunuh semua orang hanya akan menutupi jejaknya. Tapi tidak mempermudah tugasnya," Balas Darren.
"Jangan-jangan, maksud mu--" Ucap Clara.
Darren mengangguk. "Ya. Mereka berdua mungkin akan jadi korban fitnah, atau menjadi saksi palsu."
Clara merengut. Mendengar kabar ini sangat mengganggunya.
"Pokoknya begitu kita kembali kita harus melihat keadaan mereka berdua," Ucap Clara, jalannya pun jadi lebih cepat.
"Baik," Jawab Darren.
Sesudah itu, mereka segera mempercepat langkah mereka untuk mencari penginapan terdekat. Namun, sesuatu menarik perhatian mereka di tengan jalan.
"Gawat. Cepat tutup wajah kalian dengan syal!" Clara tiba-tiba panik.
Darren cepat-cepat menutupi wajahnya, begitu juga dengan Bagus. Saat ia melihat ke arah jalan, ternyata segerombolan kereta kuda sedang berjalan di bawah hujan.
"Apa mereka pasukan kerajaan?" Tanya Darren. "Entah kenapa kelihatan sangat familiar."
"Ya. Pokoknya, tetaplah tenang. Jangan membuat gerak-gerik yang mencurigakan," Balas Clara. "Berjalanlah seperti biasa. Jangan menatap ke arah mereka terlalu lama. Anggap kita tidak melihat apa-apa."
"Baik," Balas Darren.
Mereka segera memalingkan wajah dan menatap lurus ke depan. Darren berusaha berjalan senatural mungkin, namun rasa gugup membuatnya terlihat seperti patung yang berjalan. Sangat kaku.
Tapi, Clara malah terlihat yang paling panik di antara mereka. Entah kenapa ia terus berjalan sambil menundukkan kepalanya, dan juga sekujur lengannya gemetaran.
Keadaan menjadi semakin runyam saat tiba-tiba kereta kuda itu berhenti tepat di samping mereka.
"Kalian di sana," Seseorang turun dari kereta dan memanggil mereka.
Darren dan teman-temannya terus berjalan tanpa menoleh, berpura-pura seakan mereka tak mendengar apa-apa. Tapi orang tersebut mendekati mereka dan menarik pundak Darren dengan kasar.
"Aku bicara dengan kalian," Ucapnya sambil berusaha melihat wajah Darren.
Tapi, pria itu langsung terdiam. Begitu juga dengan Darren. Kedua orang itu saling bertatapan satu sama lain.
"K-Kau--" Mereka berdua mengucapkan kalimat yang sama bersamaan.
"Michael!?" Darren terkejut.
"Kau!" Michael juga berteriak terkejut.
Spontan, Clara dan Bagus segera menarik Darren dari situ. "Esema-kun, ayo ikut aku!"
Mereka lari kabur dari situ. Namun Michael segera memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka.
Sambil berlari, Darren kepikiran bagaimana Michael bisa di sini. Ini adalah tanah iblis, dan tentunya jarang sekali ada manusia di sini.
"Kau mengenali orang tadi?" Tanya Clara sambil berlari.
"Ya, sedikit. Kami punya sejarah," Balas Darren.
"Ceritanya nanti saja. Yang penting kita harus kabur terlebih dahulu," Sahut Bagus.
Sementara mereka berlari, Michael tidak ikut mengejar mereka. Ia tetap berdiri di dekat kereta sambil mengepalkan telapak tangannya dengan geram.
"Tak kusangka ia ada di sini," Ucapnya jengkel. "Dasar manusia rendahan."
Dari kereta, keluar pula seorang yang lain. Seorang berpakaian putih dengan tongkat mengkilap di tangan kirinya.
"Michael-dono, ada apa?" Ucap orang itu sambil menutupi kepalanya dari air hujan.
Michael segera membungkukkan badan. "Maafkan hamba, Pendeta Suci. Tapi, hamba bertemu dengan-nya."
"Dengan-nya? Ah, dia ya?" Balas pendeta.
"Ya. Hamba telah memerintahkan beberapa orang untuk mengejarnya. Tapi, ia nampaknya membawa beberapa teman."
"Teman, ya? Menarik."
Melihat Pendeta Suci berdiri di bawah hujan, Michael segera memintanya untuk kembali masuk ke kereta.
"Pendeta Suci, tolong kembalilah ke kereta mu. Hamba tidak bisa melindungi anda dari hujan. Jika sesuatu terjadi pada anda, hamba mungkin akan diamuk oleh Raja Hamba."
"Ya, ya. Aku akan kembali," Ucap Pendeta itu kembali masuk ke keretanya, disusul oleh Michael di belakangnya.
.
.
.
"Aku merasakan sesuatu yang unik di antara mereka bertiga."