Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Setelah Rapat


"Perkenalkan, nama ku Bagus," Pria itu meletakkan tangannya di dada sambil membungkuk sopan.


"Bagus? Tunggu, nama mu memang Bagus?" Sahut Darren.


Simson pun memperkenalkan Bagus kepada mereka. "Bagus adalah manusia yang pernah menyelamatkan ku saat aku terkepung oleh tentara pemerintah. Saat itu aku hampir pingsan, tapi aku sempat melihat Bagus bertarung melawan para pasukan itu," Ucapnya. "Tanpa pertolongannya, mungkin sekarang aku sudah berada di penjara bawah tanah."


Lalu Simson memberi perintah pada Bagus. "Bagus, tolong periksa apakah mereka berdua berbohong atau tidak."


"Baiklah," Bagus berjalan perlahan menghampiri Shiro.


Ia kemudian mengeluarkan sihir dan menempelkan tangannya ke dahi Shiro. "Sepertinya apa yang dikatakannya benar," Ucapnya. "Jiwa nya tak menunjukkan kebohongan."


"Hey, bagaimana dengan si manusia itu?" Marvin si ogre menunjuk Darren.


"Hey, hey, Marvin. Aku tahu kau benci manusia, tapi bisakah kita mengenyampingkan itu dulu," Clara mambalas dengan nada jengkel. "Kita sudah tahu kalau mereka tidak bersalah. Apa itu belum cukup bagi mu?"


"Cih, manusia itu bisa saja menggunakan sihir untuk memanipulasi pikiran majikannya," Jawab Marvin sambil memberikan tatapan benci pada Darren.


"Sudah, sudah. Aku akan memeriksanya juga," Ucap Bagus. Ia pun menghampiri Darren.


Darren hanya diam dan menatapnya saat Bagus berdiri di hadapannya.


"Memeriksa kebohongan melalui jiwa, ya? Ini seperti sihir cahaya yang Lionna gunakan," Batin Darren.


Bagus meletakkan tangannya di dahi Darren. Ia mulai menyalurkan sihirnya dan untuk beberapa saat ia memejamkan mata, seperti sedang membaca keadaannya.


"Aku tak menemukan hal yang salah. Apa yang mereka katakan adalah kebenaran," Bagus melepaskan tangannya. "Aku bisa menjamin seratus persen."


Walau Bagus telah memberitahu mereka jawabannya, namun semua orang masih terlihat gelisah. Sepertinya fakta bahwa batu sihir itu ada di sini lebih mengejutkan daripada pengkhianatan yang terjadi.


"Sebenarnya, apa kegunaan batu sihir kegelapan ini?" Tanya Darren.


"Batu sihir bisa digunakan untuk memanipulasi sihir sesuai elemen yang terkandung dalam batu itu. Saking kuatnya, bahkan orang yang tidak bisa menguasai sihir pun jadi bisa menggunakannya," Jawab Bagus. "Tapi beda lagi jika digunakan oleh orang yang bisa menggunakan sihir. Jika digunakan, maka kekuatan sihir orang tersebut akan meningkat berkali-kali lipat."


Seorang iblis perempuan memukul mejanya beberapa kali, membuat semua orang menatapnya. Ia adalah perempuan yang berbicara pada Dyland sebelumnya.


"Semuanya, tenanglah," Ucapnya. "Setidaknya, kita harus mendengar tanggapan Simson terlebih dahulu."


Simson masih mengelus dagu. "Sebaiknya kita segera mengamankan batu itu. Si penyusup pastinya punya alasan untuk menyembunyikannya," Ucap Simson. "Kemungkinan, ia baru saja mendapatkan batu itu dan hendak menggunakannya di masa mendatang. Namun ia tidak tahu harus meletakkannya di mana."


"Dan ia pun memilih kamar itu. Karena sepengetahuannya, kamar itu kosong," Sambung Dyland. "Bagiku cukup masuk akal. Namun bukan berarti aku meyakininya."


Ia kemudian berdiri dan berjalan pergi. "Aku akan coba mencari tahu."


"Aku ikut," Clara berjalan menyusul.


Setelah mereka berdua meninggalkan ruangan, Simson segera membubarkan pertemuan itu. Tapi ia meminta Darren dan Shiro untuk tinggal, bersama dengan Bagus.


"Batu ini berkualitas sedang. Kekuatannya tidak terlalu kuat," Simson mengambil batu itu dan mengamatinya. "Namun kita masih belum tahu jelas batasan sihir kegelapan, jadi lebih baik tetap waspada."


"Tapi, siapa yang membuat batu sihir ini, ya?" Sahut Bagus. "Karena setahu ku, pengguna sihir kegelapan sangat jarang ditemui."


"Kau sepertinya tahu banyak tentang hal ini," Ucap Darren pada Bagus.


"Aku hanya belajar dari pengalaman-pengalaman ku sebelumnya."


Simson berdiri dan berjalan menghampiri Bagus. Ia menyerahkan batu itu ke telapak tangan Bagus.


"Bagus, aku ingin kau menyimpan batu ini di brankas," Ucapnya. "Kerahkan orang-orang terpercaya untuk menjaga brankas itu. Jangan sampai lengah. Penyusup itu pasti akan kembali untuk mengambilnya."


"Baiklah," Bagus mengangguk paham. Ia kemudian menambahkan. "Bolehkah aku mengajak mereka berdua?" Ucapnya sambil menunjuk Darren dan Shiro.


Simson menatap mereka sebentar, dan kemudian mengangguk. "Baiklah. Izin diberikan."


Setelah itu, Bagus pun pergi dari situ sambil mengajak Darren dan Shiro.


Darren dan Shiro hanya menuruti permintaannya. Lagipula, Darren malah jadi penasaran dengan asal usul bagus. Ia mungkin akan menanyakannya nanti.


"Shiro-sama," Tora tiba-tiba muncul dari sebuah belokan. Ia berjalan bersama seorang iblis yang mereka temui di pintu masuk kemarin.


"Tora-kun, darimana saja kau?" Sahut Shiro.


Tora menghampirinya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Shiro. "Bagaimana? Apa ada sesuatu terjadi pagi ini?" Bisiknya dengan wajah meledek.


"Tora-kun! Kau benar-benar kelewatan," Shiro menyahut. Wajahnya memerah setiap kali ia mengingat kejadian tadi pagi.


Tora hanya membalas dengan tawa kecil yang usil.


"Oh ya, Tora. Sebenarnya kemana kau tadi?" Darren menyahut pembicaraan mereka.


"Oh, Esema-san. Aku tadi berpikir untuk mengakrabkan diri dengan orang-orang di sini. Dan nampaknya berhasil," Ucapnya sambil menunjukkan Iblis itu.


"Halo, nama ku Hain. Kita pernah bertemu sebelumnya, kan," Ucap iblis itu. Ia nampaknya orang yang mudah diajak bicara.


"Kebetulan sekali. Hain, aku ingin minta tolong," Bagus menyahut. Ia kemudian menunjukkan batu sihir itu kepadanya.


"I-Ini..." Hain terkejut melihatnya.


"Batu sihir hitam. Batu sihir yang mengandung elemen kegelapan," Tora menyambung kalimat Hain. "Sepertinya sesuatu memang terjadi pagi ini."


Bagus melanjutkan. "Kau adalah salah satu orang yang ku percaya. Dan kau juga punya kunci brankas."


"Emangnya ada perlu apa?"


"Baiklah. Jika itu perintah ketua. Tapi aku akan minta penjelasan setelah semuanya selesai."


.


.


.


Batu sihir telah disimpan dalam brankas. Dengan teknik spiritnya, Hain menyegel pintu masuk brankas dan menguncinya agar tak sembarang orang bisa masuk.


"Teknik spirit? Apa itu?" Tanya Darren. "Apa ini seperti milik Ravenna?"


"Ah, teknik spirit adalah sihir yang dilancarkan dengan perantara makhluk spirit. Sihir ini berbeda dengan sihir elemental yang lebih berfokus pada manipulasi elemen. Melainkan, sihir ini lebih berfokus kepada kemampuan unik setiap Spirit," Jelas Hain. "Spirit umumnya tidak memiliki bentuk. Namun jika cukup kuat, maka Spirit bisa memiliki bentuk fisik. Namun mereka hanya akan muncul saat dipanggil oleh majikannya melalui mantra Summon."


"Ah benar, ini seperti milik Ravenna."


Hain kemudian berpaling pada Bagus. "Sekarang, bisa tolong jelaskan keadaannya?"


Bagus menceritakan semuanya. Mulai dari Darren yang menemukan batu sihir itu hingga keputusan Simson untuk mencegah penyusup kembali memilikinya.


"Ternyata ada yang sudah mengetahui lokasi kita, ya," Hain memegangi dagunya. "Kalau begini terus, solidaritas sesama anggota akan meregang. Mereka akan saling mencurigai satu sama lain."


"Benarkan. Aku juga berpikir begitu," Sahut Bagus. "Pilihan terbaik adalah segera menangkap penyusup itu. Namun kita masih belum punya cukup petunjuk."


"Yah, kalau begitu bakal susah sih," Balas Hain.


Tiba-tiba ia melirik ke arah Darren dan teman-temannya. Ia memandangi mereka dan tiba-tiba berbicara kepada Bagus, tapi ia menggunakan bahasa iblis.


"Ora duwe niat gawe fitnah. Nanging, kepiye yen dheweke dadi pelaku? (Bukan bermaksud memfitnah. Tapi, bagaimana kalau ternyata ia pelakunya?)" Ucap Hain sambil melirik ke arah Darren.


"Ora, dheweke dudu pelaku. Aku wis mesthekake. (Tidak, dia bukan pelakunya. Aku sudah memastikannya.)" Balas Bagus yang ternyata fasih berbahasa iblis.


Darren paham betul apa yang mereka bicarakan, namun ia berpura-pura bodoh. Lebih baik kalau ia menyembunyikan fakta bahwa ia fasih berbahasa iblis, atau lebih tepatnya berbahasa jawa.


"Maafkan dia ya. Dia memang tidak punya sopan santun bicara bahasa asing di depan mu," Ucap Bagus kepada Darren.


"Ah, iya. Tidak apa-apa," Balas Darren. "Kalau boleh, aku ingin diajari. Bagus-sama, Hain-sama."


"Hey, hey, jangan memanggil kami begitu," Ucap Hain. "Panggil kami dengan nama saja. Aku lebih nyaman begitu."


"Baiklah. Hain-san, Bagus-san," Jawab Darren.


Seseorang tiba-tiba datang saat mereka berbincang. Ia adalah salah seorang dari anggota pemberontak, dan juga nampaknya Bagus mengenalinya.


"Bagus, ini saatnya kita patroli siang," Ucap orang itu.


"Baik, baik, aku akan menyusul nanti," Balas Bagus seraya orang itu pergi meninggalkannya. "Maaf ya. Nanti kita sambung lagi obrolannya."


Melihat Bagus pergi, Darren pun berpikir kalau ini kesempatan yang bagus untuk mencari asal usul Bagus.


"Bagus-san sepertinya punya banyak teman di sini. Aku penasaran bagaimana ceritanya ia bisa bergabung," Ucap Darren sambil menoleh kepada Hain.


"Ia pernah menolong ketua di saat sulit, dan semenjak itu ketua sangat mempercayainya. Ia pun bergabung kemari dan mendapatkan kepercayaan dari seluruh anggota," Jawab Hain dengan nada seperti ia sangat mengenal Bagus.


"Oh, ternyata begitu," Balas Darren. "Hain-san sepertinya sangat mengenalnya. Apa kau tahu darimana asalnya? Maksud ku, di mana kampung halamannya?"


"Ia tak pernah menceritakan itu kepadaku. Setiap ku tanya, ia hanya menjawab kalau ia datang dari jauh," Balas Hain. "Tapi, aku pernah sempat mendengar ia berbicara sendiri di kamarnya."


Darren langsung memasang telinga tajam-tajam.


"Nenek, maafkan aku. Aku belum bisa pulang untuk melihat mu hari ini. Tapi aku janji aku akan kembali, setidaknya untuk memastikan keadaan mu; Itulah yang ia katakan," Ucap Hain.


"Apa yang ia maksud nenek adalah neneknya di dunia sebelumnya?" Batin Darren.


"Sudah dulu ya, aku mau pergi mencari orang untuk menjaga brankas. Kita lanjut obrolannya lain kali," Ucap Hain sambil melambai.


"Tunggu," Ucap Tora tiba-tiba. Ucapannya membuat Hain terhenti sejenak. "Aku mungkin bisa membantu menjaga brankas itu."


"Ide bagus. Kau juga hebat dalam menggunakan sihir angin. Tolong bantuannya, ya," Sahut Hain.


Setelah itu, Hain pun pergi diikuti oleh Tora di belakangnya.


Darren menarik nafas berat. "Aku benar-benar penasaran dengan si Bagus," Ucapnya pada Shiro di sampingnya.


"Apa ada yang mengganggu mu, Esema-sama?"


"Ya, cukup mengganggu," Balas Darren. "Ini berhubungan dengan kampung halaman ku. Apa aku satu-satunya orang dari sana."


Shiro menatapnya dengan heran. Ia tak mengerti apa yang diucapkan Darren.


Darren sedikit menyeringai sambil memejamkan mata. "Sepertinya cukup untuk hari ini. Aku akan mencoba menyelidikinya lagi besok," Kata Darren sambil berbalik dan berjalan menuju kamar. "Raja Iblis bisa dikesampingkan. Namun fakta aku tidak sendirian, itu adalah prioritas ku saat ini."


.


.


.


Note from Author: Sorry ya kalo bahasa Jawa nya gk akurat. Aku ngerti bahasa Jawa, tapi gk ngerti nulisnya. Jadinya pake gugel translet. Mohon maaf kalau ada kesalahan kata. Terimakasih :)