Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Di Luar Perkiraan


Beberapa menit lalu...


Darren masih memikirkan cara yang bagus untuk mengatasi hal ini.


Raja Iblis itu memang kuat. Ia juga nampaknya tahu banyak tentang Darren dan asal usulnya. Bertarung bukanlah pilihan terbaik.


Karena selain kekuatan Darren yang mustahil untuk mengalahkannya, Darren juga tidak tahu berapa banyak sihir yang bisa di gunakan oleh Raja Iblis itu.


Ia pun menyimpulkan kalau Raja Iblis itu bisa menguasai segala jenis elemen kegelapan. Tapi ia sendiri masih belum terlalu paham apa saja yang bisa dilakukan dengan sihir kegelapan.


Sejauh ini, ia sudah melihat betapa berbahayanya mantra Non-Eucledian. Mantra itu sangat cocok untuk membuat jalan kabur. Tapi jika digunakan dengan maksimal, itu bisa cukup merepotkan dalam pertarungan.


Darren memegangi dagunya dengan wajah serius. "Dia tentunya bisa menggunakan mantra Non-Eucledian. Itu berarti mungkin baginya untuk menguasai sihir teleportasi lainnya," Batinnya. "Ia mungkin bisa memunculkan portal di permukaan benda atau bahkan di tengah udara."


"Kalau ia menggunakan teleportasi sejenis itu, maka pergerakannya akan jadi mudah terlihat. Tapi, aku yakin ia bisa melakukan sesuatu lebih dari itu. Ia pasti punya kartu As yang ia sembunyikan."


Darren menoleh ke arah teman-temannya. "Bagaimana dengan mereka?," Pikir Darren. "Aku tak mau mereka terluka karena terlibat masalah ku. Mereka tak bersalah."


Darren kembali merenung. "Jika Raja Iblis itu memang mengincar ku, maka mereka seharusnya akan baik-baik saja. Yang aku harus lakukan adalah menjauhkannya," Batinnya. "Aku tidak berniat menyerahkan diri. Tapi, aku bisa jadi umpan yang bagus untuk mengeluarkan mereka dari keadaan ini."


Darren segera mengumpulkan teman-temannya dan mulai mengumumkan rencananya.


"Semuanya," Panggil Darren, seraya semua orang berdiri di dekatnya. Darren pun melanjutkan, "Aku punya rencana untuk mengeluarkan kita dari keadaan ini."


Mereka menatap Darren sambil menunggunya memberitahu rencana itu.


"Aku akan jadi umpan," Ucap Darren. Yang lainnya jadi terkejut. Darren menyambung, "Untuk suatu alasan, Raja Iblis itu sebenarnya sedang mengejar ku. Tapi aku tidak bisa memberi tahu alasannya sekarang. Jadi aku ingin kalian kabur sembari aku mengulur waktu."


"Darren-sama!" Ucap Shiro khawatir.


"Tidak apa-apa. Aku tidak bermaksud menyerahkan diri. Jadi aku sudah menyiapkan rencana."


Darren kemudian melepaskan jubahnya dan memberikannya pada Shiro. Shiro jadi agak terkejut dan ia menatap Darren dengan kebingungan.


"Shiro, aku ingin kau membawa ini," Ucap Darren. "Pada jubah ini, sudah terpasang segel Recall untuk teleportasi. Jadi kemanapun kau pergi, asalkan jubah ini ada bersama mu, aku bisa kembali kepada kalian."


Shiro tiba-tiba membuka mulut. "Aku tidak mau," Ucapnya.


Darren menoleh kepadanya.


"Aku akan ikut bersama mu, Darren-sama," Sambung Shiro.


Darren menggeleng. "Tidak bisa, Shiro. Kau harus pergi bersama mereka," Ucap Darren.


Shiro hanya memelas di hadapan Darren. Walaupun ia tak mengatakannya, tapi terlihat jelas kalau ia cemas.


Darren hanya menatapnya sebentar. Ia tahu kalau Shiro khawatir akan keselamatannya, tapi ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan itu.


Darren mengangkat tangannya dan menaruhnya di atas kepala Shiro. Perlahan ia mengelus rambut Shiro sambil tersenyum.


"Tenang saja. Aku pasti akan kembali," Ucap Darren lembut. "Aku janji."


Mata Shiro kembali cerah. Ia memutuskan untuk percaya pada Darren dan memegang janjinya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Shiro.


"Aku ingin kau membawa Tomatsu keluar dari kerajaan ini. Itu saja," Jawab Darren. Ia kemudian menoleh kepada Tora dan menyuruhnya untuk ikut. "Kau juga ikut, Tora."


Setelah itu, Darren berpaling kepada Remi dan Rendi. Ini saatnya untuk mengatur strategi dengan mereka.


"Aku tidak melihat Sella dan Selly, dan juga Katherine. Dimana mereka?" Tanya Darren.


Remi menyahut. "Sella dan Selly sedang berada di timur kota. Sedangkan Katherine berada di markas."


"Hmm... kalau begitu, kita harus mencari Sella dan Selly," Balas Darren. Ia kemudian berpaling pada Mia, Robert, Remi, dan Rendi.


"Aku punya rencana. Remi dan Rendi akan menjemput Katherine. Sedangkan Mia dan Robert akan mencari Sella dan Selly," Sambung Darren. "Setelah kalian menyelesaikan tugas kalian, kita akan bertemu lagi di luar kota bagian utara."


Semua orang mengangguk.


Darren meneguhkan pikirannya dan mulai memikirkan cara yang bagus untuk menghalau Raja Iblis itu.


"Langkah pertama, adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang lawan."


.


.


.


"Hey, Raja Iblis!" Darren berteriak seraya menghampiri Raja Iblis itu dengan cepat. "Akan ku kalahkan kau di sini!"


Darren menembakkan sebuah bola air dari ujung jarinya. Tapi Raja Iblis itu langsung mencengkram pedangnya dan menebas bola air itu hingga terbelah menjadi dua.


"Akhirnya kau keluar juga," Ucapnya.


Raja Iblis itu segera mengejarnya. Ia hendak memotong kaki Darren agar ia lumpuh, tapi Darren menghindarinya dan malah menyerang balik dengan melemparkan bola air ke wajahnya.


Cipratt! Topeng Raja Iblis itu menahan airnya, tapi itu cukup untuk membuatnya sedikit lengah. Sekarang Raja Iblis itu mencoba mengelap topengnya agar ia bisa kembali melihat dengan jelas.


Darren merapal mantra dengan cepat. "Water Elemental: Water Shot!"


Tanpa melihat, Raja Iblis itu menggerakkan pedangnya dan menebas peluru air dengan gesit.


Tak sampai di situ saja, Raja Iblis itu langsung bergerak dengan cepat dan menerjang ke arah Darren dalam kecepatan tinggi.


Darren mencoba menahannya. Ia pun mengeluarkan mantra api. "Fire Elemental: Extermination Fire!"


"Wind Elemental: Hurricane!"


Angin topan dengan api yang berkobar bercampur menjadi satu dan menghasilkan badai merah yang berkobar. Dengan suhu setinggi itu, makhluk hidup biasa takkan bisa bertahan.


Darren tahu kalau ini takkan mempan terhadap Raja Iblis itu, tapi memang bukan itu tujuannya. Ia hanya mencoba mencari informasi dari pertarungan ini.


"Kau pikir api ini cukup untuk melelehkan ku?" Raja Iblis itu muncul di tengah kobaran api. Ia berjalan dengan santai mengarah kepada Darren sambil memain-mainkan pedangnya.


Darren memperketat kewaspadaannya. Raja Iblis itu semakin mendekat dan tak terlihat luka sama sekali padanya. Bahkan pakaiannya sedikitpun tak hangus.


Tunggu... sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian Darren.


"Kobaran api di sekitarnya... menghilang!" Batin Darren. "Ia terlihat seakan membuat jalan keluar dengan membelah api itu. Tapi aku melihat sesuatu yang lain."


Darren menyipitkan matanya. Ia menatap ke arah Raja Iblis iti dan memutuskan untuk mencoba hal yang sama sekali lagi.


"Fire Elemental: Extermination Fire!" Darren meluncurkan mantra yang sama lagi.


Pria itu hanya menatapnya seakan sudah tahu apa yang akan terjadi. Ia tak bergerak sedikitpun.


Fuuarr!!! Api yang besar melahap sang pria. Tapi lagi-lagi, pria itu terlihat baik-baik saja. Dan juga, api yang diluncurkan Darren seakan menghilang dalam kedipan mata.


"Aku tahu!" Darren jadi semakin yakin. "Api itu tidak ia pantulkan, ataupun ia tangkis. Melainkan ia serap!"


"Itu pasti bakatnya. Ia bisa menyerap elemen sihir untuk melindungi dirinya! Tapi, seberapa banyak yang ia bisa tampung? Dan juga, apa ia bisa menyerap energi sihir selain api?"


Darren mencoba merapal mantra lain. Kali ini, ia berpikir kalau elemen petir akan jadi bahan uji coba yang bagus.


"Thunder Elemental: Ligh--"


Sebelum Darren sempat menyelesaikan rapalannya, tiba-tiba suara logam besi terdengar dengan nyaring.


Swuung! Sebuah pedang meluncur ke arahnya secara tiba-tiba dan menghantam kepalanya.


"Sudah ku duga," Ucap Raja Iblis itu saat melihat tubuh Darren berubah jadi air. "Hydro Mimic. Kau membuat salinan diri mu sendiri dari air, kan."


"Dari tadi kau meluncurkan mantra yang langsung menyerang kepada target mu. Kau menggunakan Extermination Fire dan bukan Fire Ball karena itu bisa menunjukkan trik mu dan malah mengekspos keberadaan mu."


Pria itu mengambil kembali pedangnya dan menatap ke sekeliling. "Cepat tunjukkan diri mu!"


Darren yang dari tadi bersembunyi di balik tembok agak jauh dari sana, jadi sedikit gemetar. Ia tak menyangka kalau triknya akan terbongkar secepat ini.


"Sial. Aku harus cepat pergi," Ucap Darren pelan. "Tapi ini baru beberapa menit. Shiro dan yang lainnya pasti belum keluar. Aku harus mengulur waktu lebih lama lagi."


Ia mengintip sedikit. Pria itu terlihat sedikit aneh dibandingkan sebelumnya. Apa sesuatu terjadi padanya?


Pria itu menjadi semakin liar. Ia mengangkat pedangnya dan membunuh tentara-tentara Vertrag di dekatnya secara membabi buta.


"Cepat tunjukkan diri mu!" Teriaknya dengan keras.


Darren menyaksikan para tentara itu mati. Tentara-tentara yang lain dengan panik ingin melarikan diri, tapi mereka sudah terkepung oleh undead.


"Aku ingin menolong mereka, tapi keadaan ku sendiri terpojok. Salah langkah sedikit saja maka keadaan bisa kacau," Ucap Darren pelan.


Tiba-tiba pria itu menoleh dengan tajam tepat ke arah Darren bersembunyi.


Darren yang sedang memunculkan kepalanya untuk mengintip, segera menariknya dan panik.


"Sial! Bagaimana ia bisa tahu?" Darren mulai bernafas dengan cepat. "Apa ia mendengar suara ku?"


Pria itu segera menghampiri ke tempat Darren bersembunyi. Ia membawa pedangnya dan berjalan dengan cepat.


"Dia mendekat," Darren mencoba memikirkan cara untuk kabur, tapi ia tidak punya pilihan. Jika ia menggunakan Recall sekarang, mungkin Raja Iblis itu akan kembali melacaknya dan mengejarnya lagi.


"Aku harus bertarung!" Darren meneguhkan pilihannya. "Aku harus mengalahkannya di sini!"


Darren melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Kini ia saling bertatapan dengan Raja Iblis itu. Tapi ia merasa kalau perhatian Raja Iblis itu ada di tempat lain.


Raja Iblis itu menoleh ke sekitar sementara Darren berada di hadapannya. Ia seakan mencari sesuatu yang lain.


"Dimana mereka?" Ucapnya.


Darren tidak menghiraukannya dan bersiap untuk bertarung. "Aku adalah lawan mu. Jangan lepaskan pandangan mu begitu saja, brengsek!"


Darren melancarkan serangan ke arahnya. Ia mengeluarkan pedang hijau dari tangannya dan menerjang dengan sekuat tenaga.


Raja Iblis itu seakan tak memperhatikannya dan malah melayangkan pandangannya ke tempat lain. Tapi ia berhasil memblokir serangan Darren dan menghempaskannya ke tanah.


Saat Darren tersungkur, Raja Iblis itu tiba-tiba pergi terbang meninggalkannya. Terlihat kalau ia bergerak ke tengah pusat kota.


"Keparat. Mau kemana dia?" Gerutu Darren sambil berusaha berdiri. "Satu-satunya orang di pusat kota adalah Remi dan Robert. Mereka sedang menjemput Katherine. Apa ia mengincar mereka?"


Darren berusaha menyusulnya, tapi kakinya terkilir dan ia kesulitan untuk berjalan. Ia juga sudah terlalu banyak menggunakan Mana-nya dan tak bisa memunculkan portal Non-Eucledian lagi.


Dengan putus asa, ia pun bergerak dengan kakinya yang pincang. Walau lambat, tapi ia tetap ingin mengejarnya dan memastikan Raja Iblis itu tak sampai menyentuh teman-temannya.


"Takkan kubiarkan!" Ucapnya pelan sembari memaksakan kakinya. "Pasti ada sesuatu. Aku harus memastikannya."


.


.


.