
"Darren-sama?" Ucap perempuan itu, "Darimana anda tahu?"
Darren menundukkan wajahnya. Apa yang harus ia lakukan?
"Apa aku harus menceritakan segalanya? Bahkan tentang kakaknya?"
Dengan berat, Darren menjawabnya, "Aku tahu dari kakak mu," Ucapnya.
"Kakak ku? Ah, Hayate?" Ucap perempuan itu.
Darren mengangguk. "Ya," Jawabnya, "Beberapa minggu yang lalu, pasukan Erobernesia menyerang desa. Aku dan Hayate, berserta kedua temanku, bertarung melindungi desa."
Ekspresi wajah perempuan itu pun langsung menjadi tegang.
"Lalu, apa yang terjadi?" Ucapnya.
"Awalnya kami berhasil melumpuhkan seluruh pasukan," Darren meneruskan, "Tapi, jenderal mereka, Michael. Ia adalah seorang yang sangat kuat. Saat hendak melawannya, kami salah memperkirakan kekuatannya. Ia berhasil memukul mundur kami dan hampir saja membunuh ku."
Perempuan itu semakin tegang.
"Tapi, temanku, Yuzuna dan Rolf, mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan ku," Sambung Darren. "Kakakmu juga telah memperingati ku untuk lari, tapi ia berakhir terbunuh sebelum sempat menyadarinya. Tapi berkat pengorbanan mereka, desa Serigala Putih berhasil selamat dari serangan mereka."
Air mata perlahan menetes di pipi perempuan itu. Ekspresinya berubah menjadi kosong. Ia tak menyangka kakaknya telah pergi saat ia tidak ada di sampingnya.
"Aku minta maaf. Aku tak bisa menyelamatkannya," Tambah Darren lagi. "Andaikan aku lebih kuat. Hal itu mungkin takkan terjadi." Ucap Darren penuh penyesalan.
Perempuan itu menggeleng sambil tersenyum. "Tidak apa. Itu bukan salah mu, Darren-sama," Ucapnya. "Aku yakin, kakak ku pasti merasa terhormat bisa bertarung bersama dengan orang baik seperti anda."
Seketika tangisan perempuan itu berubah menjadi wajah penuh ceria. Entah itu ekspresi palsu atau jujur.
Darren membalasnya dengan senyuman. Tapi sebenarnya ia merasa tidak enak kepadanya.
"Apakah ia tidak merasa sedih? Tidak- kurasa ia hanya berusaha terlihat baik-baik saja."
"Lalu, bagaimana dengan mereka?" Tanya perempuan itu sambil menunjuk para manusia hewan itu.
Darren berpikir untuk membawa mereka ke desa Lizardmen. Ia dan para Lizardmen memiliki hubungan yang cukup baik, jadi mereka pasti mengerti dengan keadaan ini.
Tapi disaat yang bersamaan, ia harus segera pergi ke kota Friedlich, untuk melanjutkan perjalanannya. Jadi ia memutuskan untuk mengirim mereka kesana tanpa harus ikut.
"Ada sebuah desa di hutan Albtraum. Desa berpenghuni Lizardmen. Kurasa kalian akan aman disana," Ucap Darren.
"Maaf, tapi manusia hewan dan lizardmen tidak begitu akur. Apa anda yakin?" Balas perempuan itu.
"Tak apa. Aku yakin mereka paham dengan situasi ini," Jawab Darren. "Lagipula, aku cukup dekat dengan para Lizardmen. Aku akan menulis surat untuk kalian bawa kesana."
"Anda sangat hebat ya, Darren-sama. Anda mau berteman dengan monster," Puji perempuan itu. "Padahal manusia sangatlah membenci kami."
Darren pun mengumumkan rencananya itu, untuk mengirim para manusia hewan ke desa Lizardmen. Ia menulis surat dan memberikan sedikit mantra pada surat itu.
"Jika dalam perjalanan kalian mengalami hambatan seperti diserang atau semacamnya, jangan ragu untuk menggunakan sihir yang telah aku ajarkan," Ucap Darren. "Kalian dilarang untuk menyerang manusia. Kecuali mereka menyerang kalian terlebih dulu."
Para manusia hewan itu mengangguk.
"Darren-sama, jika anda berkehendak, izinkanlah aku mengikuti mu," Ucap perempuan tadi secara tiba-tiba.
"Kenapa tiba-tiba?"
Perempuan itu pun menjawab, "Tujuan ku mengembara adalah untuk mendapatkan kekuatan. Dan berkat bantuan anda tadi, aku berhasil menguasai sedikit sihir."
Darren ingat dengan wasiat Hayate.
"Adik ku, tolong beritahu dia bahwa dia harus menjadi lebih kuat."
"Mungkin aku bisa menolongnya. Melihat dari cepatnya ia menguasai sihir, ia mempunyai potensi yang besar," Gumam Darren.
"Baiklah, aku mengizinkannya," Jawab Darren.
Perempuan itu pun tersenyum senang. "Terimakasih banyak, Darren-sama!" Ucapnya antusias.
Dan untuk yang lainnya, Darren memerintahkan mereka untuk memulai perjalanan mereka.
"Semoga kalian selamat sampai tujuan," Ucap Darren.
Para manusia hewan itu pergi dengan senyuman di wajah mereka. Baru kali ini mereka mendapatkan perlakuan baik dari seorang manusia.
.
.
.
Setelah mereka pergi, Darren melanjutkan perjalanannya memasuki kota, diikuti oleh perempuan itu dibelakangnya.
"Oh ya, kau," Panggil Darren pada perempuan itu, "Apa tidak sebaiknya aku memberi mu nama? Agar mudah saat kita mengobrol."
"M-mengobrol?" Balas perempuan itu kaget. "B-boleh saja. Asal itu keinginan mu, Darren-sama."
Darren pun merungutkan dagunya. Ia memikirkan nama yang bagus untuk perempuan itu.
"Dari perawakannya, ia punya kulit dan rambut yang serba putih."
"Putih kalau dalam bahasa jepang apa ya?"
"Gimana kalau aku panggil kau Shiro?" Ujar Darren.
"Shiro?" Ucap perempuan itu.
"Ya. Kalau di tempat asal ku, Shiro artinya putih. Cocok sekali dengan mu," Ucap Darren.
Perempuan itu tersipu malu. "Cocok.., ya?" Ucapnya malu-malu. "Aku tak keberatan."
"Yosha! Mulai sekarang nama mu adalah Shiro," Kata Darren sambil tersenyum. "Senang berkenalan dengan mu, Shiro."
Wajah perempuan itu memerah. Baru kali ini ia melihat manusia yang mau berhubungan dengan manusia hewan layaknya teman.
"T-terimakasih, Darren-sama."
.
.
.
Begitu memasuki kota, Darren terus mengawasi sekitarnya. Walaupun Erobernesia sedang ditimpa kecelakaan, bukan berarti mereka akan diam saja tentang dirinya.
Tujuan utama Darren sekarang adalah toko baju. Menurutnya, pakaian Shiro terlalu usang. Ia harus mendapatkan baju baru.
"Darren-sama, sebenarnya kau tidak perlu melakukan ini," Ucap Shiro setelah mengenakan pakaian barunya. "Ini hanya membuang-buang uang mu."
"Tidak apa. Pakaian lama mu terlihat usang. Aku tak keberatan membelikan mu yang baru," Balas Darren. "Setelah dilihat-lihat, kau cocok dengan pakaian itu!"
Shiro hanya tersipu malu.
Tak terasa hari sudah kembali sore. Sepertinya Darren harus segera mencari penginapan walau statusnya adalah seorang buronan.
"Dari tadi siang gak ada tanda-tanda Erobernesia di sini. Sepertinya tempat ini masih aman dari berita itu."
Setelah berkeliling cukup lama, Darren akhirnya menemukan satu-satunya penginapan di kota ini. Penginapan itu terkesan cukup mahal, mengingat kota ini adalah kota yang cukup maju.
"Permisi. Saya ingin memesan dua kamar," Ucap Darren pada kasir penginapan. "Satu untukku dan satu untuknya," Sambil menunjuk Shiro.
"Maaf, tapi budak tidak diperbolehkan memiliki kamar sendiri," Balas kasir.
"Tapi dia bukan budak- Agh, apa tidak boleh? Aku akan membayar lebih," Ucap Darren memohon.
"Maaf, tapi itu sudah peraturan yang diberikan," Sambung orang itu lagi. "Jika anda mau, ada kandang kuda disebelah. Ia bisa tinggal di sana."
Darren sempat kesal dengan perkataan itu, tapi ia harus meredam emosinya. Ia tak boleh membuat keributan demi menjaga identitasnya.
"Darren-sama, aku tak keberatan tidur di kandang kuda. Aku sudah terbiasa," Ucap Shiro.
Darren menggertakan giginya karena kesal.
"Baiklah, aku pesan satu kamar!" Ucapnya. "Shiro, kau akan tidur di kamar ku!"
Shiro terkejut.
Sang kasir pun menerima uang Darren dan mengantar mereka ke kamar yang sudah dipesan.
"Darren-sama, kau tidak perlu melakukan ini," Ucap Shiro merasa bersalah. "Tidur satu ruangan dengan manusia hewan itu hina. Apa anda tidak peduli dengan reputasi anda?"
"Jangan katakan hal itu padaku," Balas Darren sambil menggelar sebuah karpet. "Aku punya standar sendiri soal reputasi. Reputasi yang dikatakan oleh orang-orang hanyalah keegoisan."
"Tapi..." Ucap Shiro.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi," Ucap Darren memotong. "Kau tidur dikasur. Aku akan tidur di lantai saja."
"Tapi, Darren-sama, aku..." Ucap Shiro lagi.
"Sudahlah! Itu perintah!" Balas Darren. "Jangan pikirkan aku. Pikirkanlah dirimu sendiri! Apakah salah kalau kau memanjakan dirimu sendiri sekali-kali?"
Shiro hanya terdiam.
"Maaf, aku terbawa emosi," Darren meneruskan. "Aku hanya kesal melihat orang-orang memperlakukan manusia hewan dengan begitu rendah."
"Darren-sama?"
"Aku telah melihat kebusukan manusia. Mereka menganggap diri mereka sebagai makhluk paling tinggi. Tapi sikap mereka sendiri seperti binatang," Sambung Darren. "Keinginan ku adalah untuk memperbaiki hal itu."
Darren kemudian menoleh kepada Shiro dengan senyuman di wajahnya.
"Aku telah kehilangan teman-teman yang berharga karena sifat buruk manusia. Oleh karena itu, aku tak ingin kejadian serupa terjadi pada orang lain, termasuk kalian para manusia hewan," Ucapnya. "Sekarang tidurlah. Besok ada hal yang harus ku lakukan."
Shiro membalasnya dengan senyuman sayup, "Baik, Darren-sama."
.
.
.
"Orang bertopeng itu, aku harus tahu siapa dia."