Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Harapan dalam Genggaman Takdir


Sesuai instruksi dari Ogre itu, Ravenna mulai membelokkan arah jalannya sedikit ke timur. Walau tak mengerti pasti apa yang direncanakan Ogre itu, tapi ia mempercayainya.


"Tenang saja, Tuan ku. Ogre itu adalah makhluk yang baik," Raiko, hewan panggilan Ravenna, berbisik melalui telepati yang sudah mereka bangun selama ini. "Aku mencium bau kebahagiaan dan kejujuran yang pekat dari Ogre itu."


"Apa kau mencium bau lainnya?"


"Ya, satu bau yang spesial. Yang tak biasanya ku temukan dari monster-monster biasa," Sambung Raiko. "Bau hati yang tulus, seakan mencari mangsa sebagai pelampiasan sikap baik yang telah ia terima."


"Hmph... jadi begitu. Sepertinya aku mulai mengerti. Pasti ada seseorang yang telah mengubah isi hati Ogre itu," Balas Ravenna sambil berlari.


Dalam perjalanannya menuju arah timur. Cukup jauh dari situ, Ravenna tak sengaja berpapasan dengan seorang goblin. Mereka bertabrakan dan mengakibatkan mereka berdua tergeletak ke tanah.


"Goblin!?" Ravenna langsung berusaha berdiri dan mempersiapkan tombaknya untuk bertarung.


"M-maaf, aku tak melihatmu," Goblin itu juga berusaha berdiri sambil mengusap-usap kepalanya. Ia kemudian panik saat melihat Ravenna memegang tombak yang sudah ditodongkan ke arahnya.


"Ehh!!!" Goblin itu kepanikan. "K-ku mohon, ampunilah aku."


Ravenna menarik kembali tombaknya. Ia ingat tujuan sebelumnya. Ia harus mencari monster yang bisa ia mintai tolong untuk bertarung.


"Huff... aku tak punya waktu untuk ini," Ravenna kembali menaruh tombaknya. "Aku harus menolong Darren."


Goblin itu sedikit tersentak saat mendengar nama itu keluar dari mulut Ravenna.


"Anda temannya Darren-sama?" Tanya Goblin itu.


"Eh? Kau mengenalinya juga?"


"Ya. Dia adalah petualang baik yang mengampuni nyawa ku," Ucap Darren. "Ceritanya panjang, tapi intinya, aku juga temannya."


Seorang goblin lain tiba-tiba muncul sambil teriak-teriak.


"Garu! Garu! Dimana kau?" Kemudian goblin itu terkejut saat menemukan Ravenna sedang berbicara dengan goblin lain.


"G-Garu!?" Ucap goblin itu.


"Oh, hey. Tak apa," Ucap goblin di depan Ravenna yang namanya adalah Garu. "Dia temannya Darren-sama."


"Woah! Darren-sama!" Goblin itu tiba-tiba berubah jadi antusias begitu mendengar nama Darren. "Yang waktu itu kita tak sengaja bertemu, kan?"


Ravenna mengusap-usap matanya sendiri. Ia tak percaya kalau Darren bisa berteman dengan banyak sekali monster. Tapi sebenarnya ia tak masalah dengan itu sih. Yang ia pikirkan hanyalah mencari monster yang Ogre itu maksud.


"Jangan-jangan, kalian?" Ravenna mulai menyadari sesuatu. "Kalian yang dimaksud oleh ogre itu!?"


Ravenna langsung berlutut di depan mereka. Sambil penuh pengharapan, ia berkata, "Ku mohon, ikutlah aku!"


Sontak kedua goblin itu terbelalak.


"Ikut anda?"


"Darren, dia dalam bahaya," Kata Ravenna.


Para goblin terkejut.


"Dalam bahaya!?" Ulang Garu sambil menunjukkan wajah keras. "Bagaimana bisa orang sekuat Darren-sama bisa dalam bahaya?"


Ravenna pun menjelaskan bagaimana tentara Erobernesia yang menginvasi Desa Lizardmen dimana Darren berada. Ia juga tak lupa memberi tahu mereka tentang bagaimana Darren membunuh banyak sekali pasukan Erobernesia hanya untuk melindungi desa Manusia Hewan dan statusnya sebagai buronan kerajaan.


"Dia gila sekali," Kata Garu yang sebenarnya merasa syok. "Dia rela melakukan itu semua walau itu membuang kemanusiaannya."


Garu menawarkan suatu ide. Ia membawa Ravenna masuk ke desa untuk bertemu pemimpin mereka dan membicarakan hal ini. Semoga ketua mereka bersedia membantu.


"Darren? Si anak brengsek yang mengalahkan ku waktu itu?" Ucap Ketua, yang merupakan Raja Goblin yang pernah Darren kalahkan sebelumnya.


Ruangan yang dipenuhi goblin itu menjadi hening, termasuk Ravenna yang tengah ketakutan karena salah bicara sekali saja, ia bisa dalam bahaya.


"Anak itu benar-benar sudah kehilangan akal. Apa dia tidak sadar kalau dirinya itu manusia?" Sambung ketua.


Garu pun mulai membuka mulut. " Tugo-san," Panggilnya pada Ketua, "Aku tahu kalau ia memang manusia, tapi bukank--"


"Iya-iya, sudah diam! Aku tahu apa yang harus ku lakukan," Tugo menyela. "Dasar manusia bodoh. Mau-mau nya ia menolong monster."


Ravenna terdiam. Ia merasa sudah tidak ada harapan. Ia kemudian hendak berdiri dan melanjutkan perjalanannya sampai tiba-tiba Tugo kembali melontarkan kalimat.


"Itu lah yang membuatku menyukai nya," Tugo kemudian bangkit berdiri dari singgasana nya. "Dia adalah manusia paling bodoh yang ku temui. Cukup bodoh hingga bisa membuat Raja Goblin merasa berhutang budi." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Ekspresi Ravenna berubah seketika mendengarnya. Ia bisa merasakan harapan. Harapan yang serasa-rasa memang sudah menjadi takdir.


"Semua rakyat ku!" Tugo mulai berteriak mengumumkan. "Ambil senjata kalian! Kita akan membalas budi kita dan membuktikan bahwa Goblin adalah ras yang kuat!"


Pengumuman Tugo disusul dengan sorakan semangat dari para Goblin yang hadir di situ. Mereka mulai bergerak. Dibawah komando Ravenna, mereka pun berjalan menuju Desa Lizardmen dengan semangat yang berkobar-kobar.


"Semoga aku masih sempat."