
Tadi malam, di restoran...
"Jadi dia benar-benar disini?" Tora menatap Accel dengan serius. Sejujurnya ia masih tidak percaya sepenuhnya pada orang ini.
"Ya, aku sudah membuntutinya sepanjang waktu," Balas Accel. "Dia sudah tiba di kota ini. Ia mungkin memang sedang mengejar mu."
Tora meneguk segelas air dan meletakkannya di meja.
"Lalu, apa kau sudah punya rencana?" Ucap Tora. "Aku ingatkan ya, Darren-sama itu bukanlah orang yang mudah dikelabui. Ia adalah orang yang cerdas dan teliti. Ia selalu berpikir dua kali dan tak pernah meninggalkan kesempatan kecil sekalipun."
Accel hanya tertawa kecil dengan memasang wajah percaya diri. "Jangan remehkan aku, ya. Aku ini ahli sihir Erobernesia, tentu saja aku sudah punya rencana," Sambungnya. "Kau sendiri malah terdengar seakan memuji kehebatannya. Apa jangan-jangan kau masih mengaguminya?"
Tora hanya membalikkan bola matanya. Ia hampir muak dengan kelakuan Accel yang terlalu banyak bacot.
"Cepat katakan saja apa rencana mu!" Tora menghentak meja.
Accel kembali tertawa dan akhirnya ia mulai membuka mulut. "Aku butuh kau untuk jadi umpan," Ucapnya.
Tora hampir terjatuh dari kursi saat mendengarnya. "Apa kau gila!? Aku berusaha untuk pergi menjauh darinya, dan kau meminta ku untuk kembali!?" Teriaknya. "Jika ia sampai menemukan ku lagi, ia mungkin sudah tahu rencana ku dan aku pasti akan dibunuhnya!"
"Itulah yang aku inginkan," Ucap Accel. "Ia pastinya takkan menolak untuk mengejar mu."
Tora mulai merasa resah dengan rencana Accel. Memang sih Accel itu orang yang hebat dan cerdas, tapi Tora menganggapnya tak lebih dari sekedar orang yang akan melakukan apapun demi tujuannya.
"Jika kau berhasil memancingnya keluar, maka bagian mu sudah selesai. Sisanya akan ku urus beserta para tentara kerajaan Vertrag," Sambung Accel.
Tora agak menggerutu, tapi jika bayarannya setimpal maka hal ini bukanlah masalah.
"Sesuai janji, kan?" Ucap Tora. "Seribu keping koin emas dan rumah mewah. Aku akan melakukannya jika kau memberikannya padaku."
Accel hanya meringis sedikit. "Iya, iya. Itu bukan masalah besar."
Akhirnya Accel mengulurkan tangan dan Tora menyambar tangannya itu. Mereka berjabatan dan telah membuat kesepakatan, walau Tora agak sedikit berat melakukannya.
"Yah, seribu koin emas dan rumah mewah. Tidak terlalu buruk untuk sebuah tugas simpel."
Mereka keluar dari restoran dan berjalan menuju pusat kota, dimana raja Vertrag tinggal.
"Setelah aku mendapatkan kepala Darren, aku akan meletakkannya di atas piring perak dan mempersembahkannya kepada yang mulia Axel," Accel mulai senyum-senyum sendiri. "Maka ia akan memberikan penghargaan yang besar kepada ku. Apakah emas? Atau mungkin jabatan yang lebih tinggi lagi? Aku sudah tidak sabar menantinya."
Sementara Accel bergumam yang tidak-tidak, Tora lebih memikirkan rencana untuk kedepannya.
"Bagaimana caraku menjebak Darren-sama? Dia itu orang yang cerdik. Cara-cara murah pasti tidak akan mempan padanya," Batin Tora. "Jika aku hanya mengandalkan bertemu dan lari, aku pasti tidak akan sanggup. Kecepatan larinya sangat gesit, ia pasti akan dengan mudah menangkap ku sebelum aku bisa apa-apa."
"Jika aku mengandalkan pertarungan-- Ah, tidak usah berpikir ke situ. Sudah pasti aku kalah telak."
Tora menengadah ke langit. Di sampingnya, Accel masih asik dengan pikirannya sendiri. Ia mulai berjalan dengan mata terfokus ke bulan yang terang.
"Apa yang harus ku lakukan?" Gumam Tora.
Tiba-tiba sebuah kalimat terlewat di benaknya.
"Kau harus memahami kekuatan mu dan kekuatan musuh. Jika musuh lebih kuat, ciptakanlah beberapa skenario. Rencanakan aksi mu dan bersiaga untuk mengantisipasi aksi musuh."
Ya, kalimat itu berasal dari tokoh bersejarah Sun Tzu. Walau Tora tak tahu siapa itu, tapi intinya ia mengetahui kalimat itu dari Darren.
"Aku tidak tahu sihir apa saja yang Darren-sama bisa gunakan. Tapi sejauh ini, aku melihatnya menggunakan segala jenis sihir dengan leluasa. Lebih baik kalau aku berspekulasi kalau ia bisa menggunakan semua jenis sihir."
"Dibandingkan dengan sihir ku, aku hanya bisa menggunakan elemen angin dan beberapa mantra non-elemental."
"Aku tidak perlu bertarung. Yang perlu kulakukan hanyalah memancingnya. Jadi aku bisa gunakan mantra speed untuk memperbesar kemungkinan kabur."
"Darren-sama pasti akan menggunakan mantra yang sama untuk mengejar ku, jadi aku perlu menyiapkan beberapa jebakan."
"Aku mungkin bisa menghafal denah kota ini, dan juga memanfaatkan beberapa kondisi lingkungan seperti keramaian kota."
"Dan pada akhirnya, ini akan menjadi pertarungan otak. Kekuatan tidak lagi diperlukan."
Saat Tora sibuk dengan lamunannya, tak disangka mereka di hadang oleh polisi kerajaan. Tora sempat kaget, tapi Accel maju ke depan.
"Oh, anda pasti Accel-sama," Ucap polisi itu.
Accel membalasnya dengan tatapan sinis. "Kau, dasar polisi tidak tahu diri. Dimana tata krama mu?" Ucapnya. "Aku ini tamu kerajaan. Seharusnya kau menyambutku dengan lebih sopan! Dan juga, kau seharusnya membungkuk!"
Polisi itu langsung membungkuk hormat. "Tolong maafkan kelancangan ku, Accel-sama." Ia pun minggir untuk membuka jalan.
Accel hanya membuang wajah dengan arogan. "Lebih baik kau sadari posisi mu lain kali." Tora dan Accel pun kembali berjalan.
Tora yang melihat sikap Accel tersebut, secara tak sadar membandingkan sikapnya dengan Darren. Darren adalah kriminal yang lembut, dan sikapnya bahkan lebih baik daripada kebanyakan bangsawan-bangsawan kerajaan.
Walau masih muda, ia mempunyai sifat yang dewasa dan selalu mencoba membuat orang-orang menyukainya. Entah itu untuk menutup identitasnya atau memang gayanya berbaur.
Tapi Tora kembali ke pikirannya. Ia membuang jauh-jauh pikiran tentang Darren dan bersumpah dalam hati untuk tidak kembali lagi ke kriminal itu.
Ia mengerutkan wajahnya. Sulit baginya untuk membuang kenangan tentang Darren. Tapi ada sesuatu yang menggantung di tas-nya.
"Ini..." Ia mengambil benda itu. "Aku ingat benda ini."
Boneka kayu dengan ukiran indah. Yang membuatnya lebih spesial adalah boneka ini merupakan pemberian dari Darren. Tunggu, tidak-- Ini bukanlah benda spesial!
Tora menggeleng-geleng. Ia berusaha kembali membuang pikiran itu. Ia bahkan mengangkat tangannya, berniat untuk melempar boneka itu. Berharap benda itu tak muncul kembali.
Swoosh... Dengan ragu ia membuang boneka tersebut hingga masuk ke dalam semak-semak di pinggir jalan.
"Ada apa, Tora-kun?" Accel menengok saat mendengar suara di belakangnya.
Tora langsung membalik menghadap Accel. "Tidak, bukan apa-apa." Ia mengucapkan itu dengan wajah murung.
Accel bisa melihat wajah Tora, tapi ia hanya memalingkan wajahnya dan kembali berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan tidak berkata
Tora kembali berjalan dengan sedikit sempoyongan. Entah kenapa, tapi pikirannya langsung kacau setelah ia membuang boneka itu.
"Aku harus berjalan terus. Tidak perlu memikirkannya lagi."
.
.
.