
[Hutan Albtraum. Beberapa Hari sebelum Musim Gugur]
Burung-burung mengepakkan sayapnya, terbang melintasi langit di atas hutan yang maha lebat. Mereka terbang dengan bebasnya, hingga tak sengaja menjatuhkan salah satu bulu mereka. Perlahan jatuh, ditengah hembusan angin yang membawa mereka ke sebuah pemandangan lain di balik pepohonan rindang.
Sebuah kota kecil yang dipenuhi orang-orang dari seluruh penjuru negeri. Para manusia dan monster berkumpul dan bersenang-senang bersama. Beberapa kereta kuda terparkir di pinggiran jalan tanah berbatu. Nampak juga sekelompok petualang beristirahat di kedai-kedai makan.
"Tempat ini jauh berbeda dari terakhir kali aku berkunjung," Ucap sesosok orang dengan topeng yang menutupi wajahnya. Namun rambut hijau gelapnya masih terurai bebas di belakang kepalanya.
"Katakan padaku, Ravenna-dono. Apa kau tertarik untuk bekerja di Badan Pengembangan Infrastruktur Friedlich? Raja kami pasti akan sangat menyukai kinerja mu," Ucapnya lagi.
Di sisinya, terdapat seorang wanita yang berjalan dengan langkah yang tegas. Ia tersenyum sambil menjawab, "Maaf, Akira-dono. Aku harus menolak tawaran tersebut."
"Huh, sudah ku duga. Kesetiaan mu pada Esema-kun memang sekuat baja," Sahut Akira sambil sedikit terkekeh. "Tapi aku tak bohong soal kinerja mu. Semua yang kau lakukan benar-benar luar biasa."
"Terimakasih, tapi aku tidak melakukan semuanya sendiri. Kota ini adalah hasil dari kerja keras semua orang." Balas Ravenna.
Mereka berjalan menyusuri jalanan kota dengan kedua sisi jalan yang dipenuhi kedamaian. Beberapa lizardmen dan goblin terlihat sedang sibuk melayani pembeli-pembeli di toko mereka. Dan beberapa nampak mengendarai gerobak dengan membawa hasil panen mereka.
"Aku sangat senang kau bisa datang hari ini, Akira-dono. Kami sudah menyiapkan jamuan spesial untuk mu di balai desa," Ucap Ravenna.
"Oh benarkah? Aku akan sangat senang bisa mencicipinya," Sahut Akira.
Ketika mereka berdua berbincang di sepanjang perjalanan, tiba-tiba seorang pria tinggi besar dengan beberapa bagian kulitnya yang kasar bagai sisik, datang berlari menemui Ravenna.
"Ravenna-san," Panggilnya sambil terengah-engah. "Maaf mengganggu perbincangan kalian."
"Oh, ada apa?" Sahut Ravenna.
"Ada situasi gawat. Di luar kota, ada portal aneh yang muncul tiba-tiba," Lapornya.
"Portal? Mungkinkah itu musuh?"
"Kami belum memastikannya. Portal itu muncul begitu saja sewaktu kami berpatroli. Namun aura yang dipancarkannya, terasa seperti sihir kegelapan," Tambahnya. "Kami telah menempatkan beberapa tentara di sana untuk berjaga-jaga."
Akira segera menyahut percakapan mereka. "Sihir kegelapan ya. Mungkin apa yang di balik portal itu adalah makhluk yang kuat," Ujarnya. "Lebih baik kita segera periksa. Kita mungkin bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus merusak kota."
"Baiklah. Tolong tunggu di sini saja, Akira-dono. Kami akan segera kembali," Ucap Ravenna hendak pergi. Namun Akira mendadak menarik lengannya.
"Aku akan ikut," Ucapnya.
Ravenna tersentak. "Tidak bisa. Sudah kewajiban kami untuk melindungi tamu terhormat. Jika sesuatu terjadi pada mu, maka--"
"Sudahlah. Aku tak selemah yang kau pikir. Bakatku bisa jadi senjata pelindung yang bagus," Potong Akira.
Ravenna menyerah. Ia akhirnya mengangguk dan membiarkan Akira ikut bersamanya. Mereka pun pergi ke tempat dimana pria itu menunjukkan lokasinya.
.
.
.
"Selamat datang, di Desa Lizardmen," Darren membuka portalnya.
Ia pun perlahan melangkahkan kakinya, menembus ruang yang terpotong, menginjakkan kakinya di tanah hutan yang hanya berjarak beberapa sentimeter di balik portal tersebut.
"Itu dia! Semuanya, angkat senjata kalian!" Mendadak suara sorakan tempur berdengung.
Darren lantas terkejut. Ia melihat kumpulan goblin dan lizardmen yang hendak mengayunkan senjata mereka ke arahnya.
Cklangg! Dengan gesit, Shiro melesat dari balik portal. Ia mengulurkan tombaknya demi menangkis sebuah pedang yang melesat ke arah Darren.
"Darren-sama, kau tidak apa-apa?" Shiro dan yang lainnya melangkahkan keluar dari portal. Berdiri berjejer di sisi Darren.
"Semuanya, hati-hati! Dia tidak sendirian," Ucap satu tentara pada yang lain.
Beberapa goblin pemanah menarik busur mereka. Dalam beberapa detik, panah-panah berjatuhan dari langit.
"Wind Elemental: Wind Blade!" Tora mengulurkan tangannya dan menebas potong anak panah di udara.
Para tentara itu mulai panik.
"Mereka bukan orang biasa. Kita tidak boleh membiarkan mereka masuk ke kota," Ucap mereka.
"Eh, kota?" Darren mengangkat sebelah alisnya.
"Semuanya, bergerak!"
Kerumunan itu mulai bergerak menerjang ke depan. Namun secara serempak dan mendadak, mereka terjatuh tersungkur ke tanah. Kelihatan di ekspresi mereka yang kebingungan dan heran.
"Ada apa ini?" Salah satu goblin menoleh melihat kakinya. "Kaki ku... kenapa menyatu dengan tanah?!"
Para tentara yang lain juga menunjukkan ekspresi yang sama. Wajah mereka jadi tegang saat melihat bahwa mereka terjebak dan tak bisa bergerak.
"Kerja bagus, Hain," Tora melirik dengan sebelah mata, ke arah Hain yang membungkuk menyentuh tanah.
Mereka menggerutu sembari berusaha melepaskan diri. Namun cengkraman teknik spirit Hain bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilepas.
"Jadi, kita apakan mereka, Darren-sama?" Bisik Tora.
"Jangan diapa-apakan! Mereka adalah salah satu orang-orang di sini," Balas Darren.
Darren mengeluarkan pedangnya untuk berjaga-jaga. Perlahan, ia berjalan mendekati salah satu tentara dengan tenang.
"Kau dari desa Lizardmen, bukan?" Tanya Darren.
"Siapa kau?" Lizardmen itu meronta. "Apa yang kau inginkan di kota kami?"
"Hey hey. Kau tidak tahu siapa aku?" Ucap Darren.
Lizardmen itu terdiam sejenak. Ia pun mulai membuka matanya lebar-lebar dan mengamati penampilan Darren. Perlahan, ekspresi wajahnya berubah.
"Tunggu sebentar. Kalau dilihat-lihat..." Alisnya seakan bekedut penuh ketidakpercayaan, "Mungkinkah... kau..."
"Water Elemental: Water Cutter!"
Lesatan energi air mencuat di antara Darren dan Lizardmen itu. Menyadari bahwa serangan berbahaya itu bisa mengenainya, Darren segera mengambil langkah mundur dan bersiaga.
"Sihir air ini..." Darren menolehkan wajahnya.
Tiba-tiba muncul tiga orang yang berdiri berjejer dengan latar cahaya yang membelah langit hutan. Mereka berdiri dengan gagahnya dibalik siluet yang hampir sepenuhnya menutupi rupa mereka.
"Eh, kalian. Ravenna, Akira, dan... siapa pria itu?" Batin Darren.
"Wahai tamu asing yang tidak diundang," Ucap Ravenna yang tentu saja suaranya benar-benar familiar di telinga Darren. "Tolong jawablah pertanyaan ku ini. Kalian datang dengan niat baik atau buruk?"
Sepertinya mereka masih belum menyadari bahwa yang berdiri di depan mereka adalah Darren. Darren pun berdiri tegak. Separuh wajahnya tertutup bayangan dari dedauan rimbun yang bergoyang.
"Wahai yang terhormat, Ravenna dan Akira," Sahutnya. Namun nada bicaranya meniru perkataan Ravenna, yang sebenarnya ia hanya berniat untuk bermain-main. "Kami datang dengan damai. Tanpa niatan jahat apapun."
"Eh, dia tahu nama ku?" Akira berbisik di telinga Ravenna
Ravenna menyahut dengan kencang. "Maafkan aku sebelumnya, tapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Oh, tentu saja pernah. Aku bahkan pernah menginap di rumah mu," Jawab Darren sambil berusaha menahan tawanya.
"Eh, rumahku?" Ravenna jadi kebingungan. Wajahnya yang serius, mulai setengah-setengah jadi linglung.
Darren pun beralih pada Akira. "Dan Akira. Apa kau lupa kalau kita teman akrab? Sampai-sampai kau dengan senang hati menunjukkan wajah mu yang selalu kau sembunyikan itu."
"E-Eh?! Aku tidak pernah melakukan itu! Tak ada yang pernah melihat wajahku. Kecuali..." Perlahan Akira mengais kembali ingatannya di masa lalu. "Huh, tunggu sebentar. Kalau dilihat-lihat, pedang hijau mu itu sedikit familiar. Dan juga orang-orang yang bersama dengan mu..."
Darren tersenyum. Sebenarnya ia ingin tertawa, tapi ia menahannya agar tidak merusak suasana. Ia perlahan melangkah keluar dari balik bayang-bayang dan mengangkat wajahnya.
"Yo," Ucapnya sambil mengangkat tangan kanannya.
"Darren-kun?!"
"Esema-kun?!"
"Darren-sama?!"
.
.
.