
Beberapa minggu lalu...
Michael keluar dari tendanya di pinggir kota. Ia menoleh ke langit dan melihat bulan purnama bercahaya dengan terang.
Kekacauan yang disebabkan oleh serangan Raja Iblis waktu itu memang masih meninggalkan bekas. Kota porak-poranda, dan banyak warga kehilangan rumah.
Namun, semua itu mulai mereda sejak beberapa minggu terakhir. Walau tidak bisa dibilang begitu bagus, tapi setidaknya keadaan jadi lebih baik dari sebelumnya.
Kebutuhan pangan rakyat tercukupi dan kebutuhan lainnya juga masih terkendali. Pembangunan mulai kembali berjalan walau pelan.
Michael menatap ke langit malam yang gemerlap dengan wajah yang runyam. Tidak biasanya ia akan ditugaskan berpatroli seperti ini. Namun karena keadaan, Raja memerintahkan semua tentara kerajaan untuk bersiaga.
Raja merasa was-was akan serangan kedua, begitu pula seisi kerajaan. Teror mengerikan itu masih menghantui pikiran mereka.
Tapi, bukan itu yang membuat raut Michael muram.
Saat pertempuran antara Taiji dan Raja Iblis tersebut, Michael juga ikut bertempur di sisi sahabatnya itu. Ia bahkan sempat saling beradu pedang dengan Raja Iblis tersebut.
Tapi, hanya ada satu hal yang paling diingat oleh Michael. Yaitu saat kematian Taiji dihadapannya.
"Kematian mu, sudah ditakdirkan di tangan orang lain," Kalimat itu diucapkan oleh Raja Iblis itu, tepat setelah menghunuskan pedangnya ke jantung Taiji. Dari perkataannya, kalimat itu diarahkan kepada Michael, dan sekarang ia merasa terhantui olehnya.
Michael menjadi gusar. Hampir setiap hari ia tak bisa tidur nyenyak. Dan sekalinya ia tertidur, mimpi buruk selalu merusak malamnya.
"Sial. Kenapa aku harus percaya perkataannya?" Michael menampar pipinya sendiri, melepaskannya dari lamunan kelam yang mengisi kepalanya. "Palingan dia itu hanya mengancam. Tak ada benarnya."
Ia meringkuk sambil memeluk lututnya sendiri. Sambil menatap bintang-bintang, dengan perasaan khawatir sekaligus jengkel, ia terus berusaha melupakannya.
Saat ia sudah merasa tenang, ia beranjak berdiri dan hendak masuk kembali ke tenda. Namun ia melihat seseorang datang dari kejauhan.
Ia mempersiapkan senjatanya, namun kembali menyimpannya saat sadar kalau itu adalah salah satu tentara kerajaan.
"Ada apa?" Tanya Michael.
"Jenderal. Aku mendapatkan sebuah kabar," Ucap orang itu. "Ini mungkin berkaitan dengan Raja Iblis itu."
Michael mengubah raut mukanya. Ia merasa tertarik untuk mendengarkannya, tapi juga merasa merinding di saat yang bersamaan.
"Kerajaan Vertrag, baru saja diserang oleh Raja Iblis itu," Kata orang itu.
"Benarkah? Hanya itu saja?"
Orang itu meneruskan. "Dan ada satu lagi. Accel-sama telah tewas."
Berita itu terdengar seperti sebuah bom bagi Michael. Berapa banyak lagi anggota kerajaan yang akan terbunuh? Itulah yang ia pikirkan.
"Sial!" Michael menghantamkan tangannya ke tiang tenda sambil menunduk emosi.
Ia terdiam sejenak dalam hening, dan kemudian meminta rincian kejadiannya.
Orang itu pun menjelaskan semuanya. Tentang bagaimana Accel gagal menangkap Darren dan tidak kembali ke kerajaan untuk melapor. Sebaliknya, ia malah pergi dengan tekad untuk menangkap Darren.
Ia akhirnya menemukan keberadaan Darren dan mengikutinya hingga ke Vertrag. Di sana pula ia mengaku sebagai utusan Raja dan meminta pemimpin Vertrag untuk membantunya menangkap Darren.
Tapi Raja Iblis itu malah muncul dan mengacaukan segalanya.
"Dasar sialan. Ia berhasil membunuh orang kita lagi," Geram Michael. "Lagipula, Accel juga sangat bodoh. Walau sudah mengorbankan banyak pasukan, tapi ia masih gagal menjalankan tugasnya."
Michael memerintahkan orang itu untuk pergi melaporkan apa yang ia katakan pada Raja. Setelah itu, Michael segera masuk ke tendanya dan beristirahat.
Keesokan harinya, sebuah rapat dadakan dilaksanakan. Rajalah yang menyelenggarakannya. Nampaknya ada sesuatu yang harus dibicarakan.
Benar saja, ternyata ini tentang kematian Accel. Dan juga, ada yang ingin Raja sampaikan pada seluruh petinggi kerajaan.
Berita tentang kematian Accel telah memberi sebuah kepanikan di antara para pendiri. Beberapa dari mereka bahkan mulai ketakutan dan hendak turun dari jabatan mereka.
"Raja Iblis itu pasti akan membunuh kita semua. Lebih baik kita coba lakukan pembicaraan damai dengan-nya. Setidaknya untuk menjamin keamanan kami."
Tapi Raja menolak usul itu mentah-mentah. Bagi-nya, hal itu sama saja mengaku kalah. Dan ia benci kekalahan.
Tapi, ia malah memberi kabar lain yang membuat semua orang tercengang.
"Sekutu kita, Kerajaan Aergium, menawarkan kita bantuan," Ucap Raja. "Tawaran untuk menjamin keamanan kerajaan kita dan membantu pembangunan ulang kerajaan."
"Sungguh!?" Semua orang di sana tersenyum gembira. Tapi, apa yang akan mereka dengar selanjutnya akan membiat senyuman itu berubah jadi kekhawatiran.
Raja melanjutkan. "Tapi, yang membantu kita sebenarnya adalah Gereja Suci Timur. Dan mereka tak menawarkan bantuan itu secara percuma."
Semua hadirin meneguk ludah. Sudah tak asing di telinga semua orang kalau Gereja Suci Timur sering melakukan hal-hal gila untuk menyebarkan ajaran mereka.
Raja meneruskan kalimat-nya, "Pendeta Suci menginginkan seseorang dari tim kita untuk membantunya dalam sebuah ekspedisi."
Mendengar itu saja sudah membuat mereka cukup tahu apa yang akan terjadi. Pendeta Suci memang terkenal suka melakukan sesuatu yang gila. Demi untuk mencapai keinginannya, ia bahkan tak ragu untuk turun langsung ke lapangan.
"Apa Yang Mulia yakin?" Tanya seorang.
Raja mengangguk.
"Lalu, siapa yang akan kita kirim?"
Raja menjawab. "Raja menginginkan orang paling kuat yang ada di antara kita. Sayangnya Taiji sudah tiada, dan satu-satunya yang tersisa adalah Michael."
Semua orang langsung menoleh ke arah Michael. Tatapan mereka seakan bercampur antara mengatakan, "Mampus kau. Pendeta itu akan membuat hidupmu semakin sulit." Dan satu lagi berkata, "Kasihan sekali Michael. Tapi yang penting aku tidak terpilih. Dan aku tak usah ikut campur."
Michael tak punya pilihan lain selain menerimanya. Seumur hidupnya ia mengabdi pada Raja, tak mungkin ia akan menolah perintahnya di sini.
"Baiklah, Yang Mulia. Aku akan melaksanakan perintah anda."
Keesokannya, Michael di jemput oleh konvoi Gereja Suci di tendanya. Ia tak menduga kalau ia yang akan dijemput seperti ini.
Begitu rombongan kereta itu berhenti, Michael segera berlutut dengan rendah. Pendeta suci itupun keluar.
Michael sudah menyiapkan mental dan fisiknya sehari sebelumnya. Karena rumor tentang Pendeta Suci yang terus terdengar di telinganya, ia harus bersiap dengan apapun yang akan terjadi walau sebenarnya yang ia takutkan adalah Pendeta itu sendiri.
Tapi, pendeta suci itu langsung menyuruh Michael berdiri. Sifatnya tidak nampak segila yang orang-orang katakan. Mungkin itu hanya gosip belaka.
Michael berdiri, tapi ia masih tetap membungkukkan badannya. Ia harus tetap merendah, karena itu adalah etika yang benar.
"Kau pasti Michael, kan?" Tanya pendeta itu, dijawab dengab sebuah anggukan oleh Michael. "Angkat kepala mu. Kita tak akan bisa akrab kalau tidak saling mengenal. Setidaknya, lihatlah dulu wajahku."
Michael mengangkat kepalanya. "Terimakasih telah mengizinkan saya mengikuti ekspedisi anda, Pak Pendeta," Ucapnya dengan hormat.
Michael duduk di kereta yang sama dengan Pendeta suci. Kereta itu pun kembali bergerak.
"Pak Pendeta, sebenarnya kemana kita akan pergi?" Tanya Michael dengan sopan. Ia masih ingin memastikan semuanya berada dalam jangkauannya.
Pendeta suci itu menjawab, "Ke benua iblis, tepatnya ke Kerajaan Avon."
Michael meneguk ludah dengan kasar. Apa yang didengarnya membuat ia hampir tersedak ludahnya sendiri.
"B-Benua Iblis!?" Ia tak menyangka akan pergi ke tempat itu.
Pendeta itu mengangguk sambil tersenyum, sementara Michael tenggelam dalam kepanikan yang tak terlukis.
Tiba-tiba Pendeta itu menyentuh pundak Michael yang bergetar.
"Tak perlu panik. Aku sudah menyiapkan segalanya di sana," Ucap Pendeta itu dengan kalem.
Michael menengok. Entah kenapa rasa takutnya mulai hilang dan tubuhnya berhenti gemetar.
"Persiapannya sudah selesai. Kita hanya perlu menunggu hasilnya."
.
.
.
Present Day, di Markas Pemberontak...
Ini sudah lima hari sejak kepergian regu Darren ke kota.
Shiro berjalan di lorong-lorong markas sambil merenung dengan tatapan kosong.
"Darren-sama, apa yang sedang ia lakukan ya?" Gumamnya.
Disaat ia melamun, tiba-tiba suara dentuman keras menggelegar ke seluruh pojok lorong. Mengejutkan Shiro dan membuatnya terbangun dari lamunannya.
"Apa itu tadi?" Ia mempersiapkan dirinya, takut kalau itu adalah gempa.
Tapi tak lama, ia melihat orang-orang berlarian menuju kafetaria. Di sana, terlihat dua orang sedang bertengkar dengan hebatnya.
"Seseorang hentikan mereka!" Ucap keramaian itu, menandakan betapa berbahaya pertengkaran itu.
Dua orang itu tak lain adalah Marvin si ogre dan Rosemary si wanita iblis. Entah kenapa mereka berdua bisa saling baku hantam hingga menggunakan sihir berskala besar.
Shiro menerobos keramaian dan menemukan Tora juga sedang menyaksikan pertengkaran itu.
"Tora-kun, ada apa?" Tanya Shiro pada Tora.
"Aku juga tidak tahu. Tadi aku sedang makan di sini, dan tiba-tiba mereka berdua saling pukul tanpa alasan jelas," Jawab Tora.
Marvin mengangkat tangan kanannya dan menunjuk kepada Rosemary. "Aku tahu semuanya. Kau lah yang meletakkan batu sihir itu!"
Di hadapannya, Rosemary melawan dengan argumen yang sama. "Bisa-bisanya kau menuduhku. Padahal kau lah yang pelakunya. Aku melihatmu meletakkan batu itu di kamar manusia itu!"
Marvin yang tak sabaran mulai jengkel. Ia mengepalkan tangannya dan meninju ke udara. "Kita sedang disaksikan banyak orang. Penjahatnya sudah terlihat dengan jelas!" Teriaknya. "Earth Elemental: Boulder Smash!"
Dinding-dinding ruangan yang terbuat dari batu mulai mengelupas dan berterbangan ke arah Rosemary.
"Lucu sekali mendengar itu dari pelakunya sendiri," Balas Rosemary. "Wind Elemental: Wind Current!"
Tekanan udara yang tajam membelah dua serangan batu Marvin dan membuatnya meleset hingga menghantam dinding di belakang Rosemary.
"Sialan," Geram Marvin sambil bersiap meluncurkan serangan keduanya. "Earth Elemental: Earth Wrath!"
Getaran kuat bagaikan gempa mengguncang seisi ruangan. Para anggota yang menyaksikan dari jarak agak jauh pun mulai kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.
Sementara lantai di bawah kaki Rosemary berguncang lebih kuat dan menyebabkan keretakan yang membelah tanah.
Grabb! Krakk!
Retakan tanah itu menjepit kaki Rosemary dan memberinya guncangan brutal. Cukup kuat hingga membuat tulang kaki Rosemary patah dan tak bisa bergerak.
"Sialan kau!" Rosemary berteriak sambil merintih. "Wind Elemental: Wind Slash!"
Ia melemparkan gelombang angin yang tajam dengan bertubi-tubi ke arah Marvin. Marvin yang masih sibuk mempertahankan sihir tanahnya untuk menahan Rosemary, malah membuatnya tak bisa menghindar dan berakhir mendapatkan kedua telinganya terpotong.
"Gwahh!" Marvin melepaskan mantranya dan berteriak kesakitan. Ia memegangi telinganya dan darah bercucuran dengan deras.
Sementara Rosemary tergeletak sambil merintih kesakitan dengan kaki yang bengkok di pergelangan betisnya. Bahkan kelihatan tulang kakinya yang patah menembus keluar kulitnya.
Walau keadaan mereka berdua yang sudah babak belur, mereka masih nampak ingin melancarkan serangan selanjutnya.
"Ini sangat berbahaya. Apa tak ada yang akan menghentikan mereka?" Tanya Shiro.
Seseorang dari kerumunan menjawab. "Kekuatan mereka berada di level yang jauh berbeda dengan kami. Kami tak bisa menghentikan mereka."
Keadaan makin runyam saat Marvin dan Rosemary merapal mantra mereka bersamaan. Walau nampak jelas mereka sudah kelelahan.
"Wind Elemental: Wind Current."
"Earth Elemental: Boulder Smash."
Bola tanah dan Tekanan udara saling meluncur untuk menghantam satu sama lain. Tapi, tiba-tiba...
"Water Elemental: Hydro Mimic!" Dyland muncul dan melemparkan bayangan air ke tengah pertempuran.
Dua banyangan air itu berdiri saling menghadapi satu serangan. Ketika serangan itu hampir menyentuh mereka, Dyland melanjutkan mantra-nya.
"Water Elemental: Water Blob!"
Bayangan-bayangan air itu mengembung dengan ukuran berkali-kali lipat. Dan dengan tubuh mereka, serangan udara dan tanah itu dinetralisir.
"Kapten Dyland!" Semua orang bersorak.
Rosemary dan Marvin menatap ke arah Dyland.
"D-Dyland," Ucap Marvin terpatah. Namun, ia segera melanjutkan kalimatnya. "Dyland, aku sudah menemukan siapa penyusup itu." Ucapnya sambil menunjuk ke arah Rosemary.
"Tidak, Dyland-kun. Jangan dengarkan dia! Dia adalah penyusupnya. Ia hanya berusaha menuduh ku!" Bantah Rosemary sambil berusaha duduk dengan kaki yang patah.
"Kalian berdua, hentikan!" Dyland berteriak dengan tegas, membuat suasana jadi hening secara tiba-tiba.
Ia menoleh kepada Marvin dan Rosemary. Tatapannya penuh dengan keterkejutan dan syok, seakan berkata, "Tidak mungkin. Mereka berdua..."
"Dyland! Kau harus percaya pada ku!" Marvin kembali berteriak, memecah keheningan. "Wanita itu, ia adalah dalangnya."
Rosemary membalas sambil merintih. "Tidak! Kau lah pelakunya. Aku melihat mu meletakkan batu itu di kamar!"
"Melihat?" Dyland menoleh dengan wajah heran.
"Aku tidak melakukan-nya. Kau lah!" Marvin membalas dengan keras.
Tora dan Shiro menyaksikan perdebatan verbal itu. Tapi, hanya Shiro yang bisa melihat rasa frustasi di mata Dyland. Ia seakan kebingungan dengan apa yang terjadi.
Rasa frustasi yang bercampur dengan putus asa. Apa ini sangat menekan bagi Dyland, hingga membuatnya seperti ini?
.
.
.
To be continued...