Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Si Iblis yang Tidak Beruntung


Katherine sedang menunggu dengan khawatir. Ini sudah hampir dua jam sejak teman-temannya pergi meninggalkannya.


"Apa sesuatu terjadi, ya?" Ucapnya pelan. Ia cemas kalau-kalau terjadi apa-apa. "Apa Remi baik-baik saja?"


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Katherine tersentak dari lamunannya dan segera bersiaga. Ia tak tahu siapa yang akan datang.


Pintu terbuka dan seseorang muncul. Ternyata itu Remi dan Rendi.


Wajah Katherine begitu senang saat melihat mereka berdua selamat. Ia segera menghampiri mereka dan memeluk Remi dengan erat.


"Remi, akhirnya kau kembali juga," Ucap Katherine melepaskan rindunya.


Remi membalas pelukan Katherine. Ini pertama kalinya Katherine memeluknya. Ia merasa senang, tapi ini bukanlah saat yang tepat untuk itu.


"Katherine," Ucap Remi sambil menatapnya. "Kita harus pergi dari sini sekarang."


Katherine membalasnya. "Kenapa? Ada apa?"


Rendi menyahut sembari mencoba menghadang pintu masuk yang tak lama kemudian di dobrak oleh para undead. "Keadaannya sedang kacau. Kita harus pergi sekarang," Ucapnya.


Katherine melirik ke arah jendela dan benar saja, segerombolan skeleton sedang berjalan ke arah tempat mereka.


"Earth Elemental: Stone Wall!" Rendi memblokir pintu masuk gedung dengan tembok batu. Dengan begitu, para undead tidak akan bisa menerobos masuk.


"Ayo cepat ke atas. Kita bisa kabur lewat atap bangunan," Ucap Rendi sambil membentuk susunan tembok batu membentuk tangga.


Mereka mulai memanjat naik ke atap, berharap para undead tak bisa meraih mereka.


Saat giliran Remu untuk memanjat, tiba-tiba tembok batu yang menghalangi pintu runtuh. Para undead pun masuk menerobos bangunan dan memenuhi tempat itu.


"Remi, cepat naik!" Teriak Rendi.


Tapi saat Rendi hendak memanjat tangga batu itu, seorang undead melemparkan sebuah kapak ke arah Remi secara tiba-tiba.


Remi yang menyadarinya langsung reflek menghindar. Ia selamat, tapi kapak itu membuat tangga batu yang dibuat Rendi jadi hancur.


"Rendi, cepat buat tangga lagi!" Ucap Katherine di samping Rendi.


Rendi mencoba merapal mantra, tapi ia tidak bisa. Mana-nya sudah habis terkuras sejak pertarungan tadi.


"Aku tidak bisa. Mana-ku habis," Ucap Rendi. "Kita harus cari jalan lain!"


Tiba-tiba Remi berteriak. "Sudah, tidak usah pikirkan aku," Ucapnya. "Kalian cepatlah pergi. Darren-sama sudah menunggu kalian."


"Tapi, Remi--" Rendi hendak menolak, tapi Remi tetap bersikeras memintanya untuk pergi meninggalkannya.


"Bawa Katherine keluar dari sini. Aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka," Ucap Remi.


Remi memejamkan matanya. "Tak kusangka aku akan menggunakan ini lagi," Ucapnya dalam hati. Ia kemudian membuka matanya dan mengarahkan tangannya ke arah pada skeleton.


"Water Elemental: Shimmering Waves!"


Gelombang-gelombang ombak air mulai menyapu para skeleton. Skeleton-skeleton itu hancur karena tekanan air yang kuat hingga membuat tulang belulang memenuhi tempat itu.


Ini adalah pertama kalinya sejak terakhir kali Remi menggunakan sihir ini. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk tidak pernah menggunakannya lagi. Tapi keadaan saat ini berbeda. Ia harus melindungi Katherine dan Rendi.


"Ah, aku ingat waktu itu," Batin Remi sambil menyerang para skeleton. "Kapan ya? Sepertinya beberapa tahun lalu."


.


.


.


Dulunya, Remi adalah iblis yang punya kehidupan normal. Bersama kedua orang tuanya, ia hidup tenang di kawasan barat laut benua iblis. Tepatnya di kerajaan iblis bernama Avon.


Kehidupannya tidak mewah dan juga tidak kekurangan. Ia hidup secara pas-pasan. Walau begitu, ia tidak pernah mengeluh dan menikmati hidup dengan caranya sendiri.


"Ayo mancing!" Ya, memancing adalah hobi Remi. Dulu ia sering pergi ke danau dan memancing bersama teman-teman seumurannya.


Karena sifatnya yang mudah bergaul, Remi punya banyak teman. Orang-orang menyukai sifatnya yang sopan dan juga dewasa.


Tak jarang, kedua orang tuanya selalu mendapatkan pujian baik dari para tetangga karena telah mendidik ana dengan baik.


"Anak sampeyan duwe tata krama sing apik," Puji orang-orang.


Singkat cerita, orang tua Remi meminta tolong kepadanya untuk mencari kayu bakar di hutan. Dengan sigap, Remi pun melaksanakannya.


Perjalanan ke hutan tidak memakan waktu banyak. Jaraknya dari desa kurang dari dua kilometer, dan ia juga sering bermain di sana bersama teman-temannya jadi ia sudah hafal setiap sudut hutan.


Cahaya matahari masuk melalui sela-sela dedaunan. Kondisi hutan begitu teduh dan rimbun. Berbagai semak tumbuh dengan lebat dan dedaunan pohon bisa sampai menyentuh tanah.


Sangat tidak disarankan bagi orang biasa untuk masuk ke sini, karena bernavigasi sangatlah sulit. Mereka mungkin bisa tersesat. Tapi bagi Remi, itu semua hanyalah tempat bermainnya sehari-hari.


Setelah mendapat kayu bakar, Remi mengikatnya dengan akar gantung yang lentur dan menentengnya sambil berjalan pulang. Tapi apa yang ditemukannya sangat mengejutkan.


Dalam perjalanannya kembali, ia melihat beberapa manusia sedang berjalan berkeliling dengan kuda. Jumlah mereka sangat banyak, dan mereka terlihat membawa senjata.


Orang tua Remi pernah bercerita kepadanya bahwa manusia sangat berbahaya. Mereka suka membunuh iblis dan memperbudak mereka.


Insting pertama Remi adalah bersembunyi. Dengan begitu, ia mungkin bisa luput dari perhatian mereka. Dengan senyap, Remi berjalan dan bersembunyi di balik semak-semak.


Setelah hampir setengah jam bersembunyi, Remi kembali mengecek dan menemukan kalau para manusia itu sudah pergi.


Ia bernafas lega dan kembali secepatnya ke desa. Ia tak sabar ingin menceritakan pengalaman menegangkan ini kepada teman-temannya.


"Dheweke mesthi gumun," Pikir Remi sambil berlari secepatnya kenbali.


Begitu keluar dari hutan, Remi memandang ke langit yang berwarna jingga. Tidak terasa hari sudah sore. Ia sepertinya terlalu lama menghabiskan waktu di hutan.


"Aku kudu cepet-cepet mulih," Ucap Remi pelan. Ia kemudian menapakkan kakinya dengan cepat.


Hari sudah semakin gelap dan bulan mulai bersinar terang. Tapi perhatian Remi mengarah pada hal lain.


Matanya terpaku manatap desanya yang sudah dilahap api. Mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan, dan banyak rumah runtuh terbakar.


Remi menjatuhkan kayu bakarnya. Wajahnya pucat menyaksikan hal itu.


Siapa yang membakar desa nya? Kepala Remi dipenuhi pertanyaan itu. Tapi kemudian sekelompok manusia muncul dari balik kobaran api dengan tawa di wajah mereka.


"Dengan begini, akan tercipta celah. Kita bisa menyerang lebih jauh," Ucap mereka satu sama lain.


Wajah Remi menjadi terkejut saat melihat seorang dari mereka membawa ibunya dengan kasar. Mereka menjambak rambutnya dan membiarkannya hidup.


"Wanita iblis ini memancarkan aura sihir yang kuat. Tapi ia tak menggunakannya untuk melawan kita," Ucap orang itu. "Apa mungkin ia tak bisa menggunakannya?"


"Mungkin. Tapi kalau memang benar, maka ia pasti akan laku di pasar budak," Sahut manusia lain. "Bawa saja dia. Walau ini di luar rencana, tapi lumayan jadi uang tambahan."


Mendengar itu, Remi langsung dipenuhi amarah. Ia berlari tepat ke arah mereka dan menyerang mereka dengan kapak yang ia bawa dari hutan.


Ia berteriak dengan perasaan amarah memenuhi pikirannya. Sambil berlari dengan kapak mengayun ke arah mereka, ia berniat membunuh mereka yang telah menangkap orang tuanya.


"Hey bos, lihat!" Ucap salah satu manusia saat menyadari Remi berlari ke arah mereka. "Ada yang lain lagi."


Remi mengayunkan kapaknya, tapi mereka menangkis menggunakan pedang dengan mudah.


"Woah, yang ini cukup galak," Ucap manusia itu dengan nada mengejek.


Orang itu menendangkan kakinya dan membuat Remi tersungkur ke tanah dengan mudah. Remi terjatuh dan kapaknya terlepas dari tangannya.


"Remi, mlayu!" Ucap ibu Remi. "Cepet lunga saka kene!"


Remi kembali berdiri. Ia tak menghiraukan perintah ibunya. Ini pertama kalinya ia melakukan hal yang sebaliknya dari apa yang diperintahkan orang tuanya.


Dengan wajah yang sudah merah padam karena kesal, Remi mengulurkan tangannya secara tidak sadar ke arah mereka.


"Eh, apa yang ia lakukan?" Ucap orang itu.


"Water Elemental: Shimmering Waves!"


Gelombang ombak keluar dari tangannya dan meluncur ke arah orang-orang itu. Orang yang berdiri di paling depan seketika tewas karena tekanan air itu yang kuat hingga memecah anggota tubuhnya.


Teman-teman dari orang itu langsung terkejut. Mereka telah menganggap remeh iblis ini dan mereka langsung mengangkat senjata mereka.


"Sialan. Dia ternyata bisa menguasai elemen air," Ucap seorang dengan nada menggerutu. "Cepat tangkap dia!"


Orang-orang itu langsung mengepungnya. Remi mencoba merapal mantra yang sama lagi, tapi ini pertama kalinya ia menggunakan sihir. Ia belum terbiasa dan juga ia masih terlalu kaku dalam merapal mantra.


Salah seorang dari mereka mengayunkan tangannya dan menghantam kepala Remi dengan kuat. Remi hampir kehilangan kesadarannya, tapi ia berhasil bertahan.


"Water Elemental: Shimmering Wave!" Remi melemparkan ombak yang sama kepada orang itu.


Tapi seorang temannya muncul dengan tameng dan melindungi orang itu.


Saat perhatian Remi terarah pada pria itu, seorang yang lain bergantian memukulnya dari arah yang berbeda. Remi kembali hampir pingsan. Matanya mulai berkunang-kunang, tapi ia berusaha tetap bangun.


Remi mengirimkan pukulan fisik ke perut orang itu hingga membuatnya kesakitan. Tapi ia tetap saja kalah jumlah.


"Aku harus menyerang dengan efisien," Pikir Remi sambil menatap orang-orang di sekelilingnya. "Sebisa mungkin menyerang mereka semua secara bersamaan menggunakan satu serangan."


Saat orang-orang itu berniat menyerangnya secara bersamaan, Remi segera merapal mantranya.


"Water Elemental: Shimmering Wave!"


Ia berhasil menghempaskan mereka, tapi dampak serangannya lebih lemah dari sebelumnya. Ia bahkan tak bisa membunuh mereka. Apa itu karena sebelumnya ia sedang marah?


Sepertinya tidak. Ini karena ia sudah pusing. Kepalanya terasa berat dan matanya seakan rabun karena pukulan di kepala tadi. Ia harus cepat menyelesaikan ini sekarang.


"Aku harus menyelesaikan ini secepatnya!" Batin Remi sambil memfokuskan tenaganya.


Amarah dan tekat Remi yang lepas kendali secara ajaib mengambil alih tubuhnya. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan ia bisa menggunakan sihir, tapi sekarang aliran sihir yang kuat sedang mengalir dalam dirinya secara otomatis.


Seorang dari orang-orang itu mulai panik saat merasakan energi kuat yang terkumpul pada tubuh Remi.


"Bos, ia memancarkan aura yang kuat. Bagaimana ini?" Ucapnya. "Kemungkinan ia akan mengeluarkan ombak yang sama-- Atau mungkin lebih kuat."


Seorang yang lain membalas. "Sial, kita harus cari cara lain," Ucapnya. Ia kemudian menoleh ke arah ibu Remi yang ditahan. "Atau mungkin kita bisa mengelabuinya."


Orang itu menarik ibu Remi, menyeretnya ke hadapan Remi dan menyanderanya. Ia bahkan menodongkan pisaunya ke arah leher ibu Remi.


Perhatian Remi langsung teralih. Ia melepaskan konsentrasinya dan pikirannya langsung tertuju untuk menyelamatkan ibunya.


Ia berpaling dan hendak menyerang. Tapi saat ia lengah, seseorang sudah bersiap menyerangnya dari belakang. Orang itu mengangkat pedangnya dan berniat membunuhnya.


Remi sadar akan rencana mereka. Ia kembali berbalik dan menyerang orang yang hendak menyerangnya dari belakang.


"Water Elemental: Shimmering Wave!"


Serangannya tidak terlalu kuat, tapi itu cukup untuk menghempaskan manusia itu cukup jauh.


Orang yang menyandera ibu Remi langsung bergerak maju saat melihat perhatian Remi tertuju ke arah lain. Ia mengayunkan pedangnya, tapi ibu Remi berteriak.


"Remi, awas!" Teriaknya.


Remi langsung berbalik dan melihat orang itu sudah berada di depannya.


"Kau sudah tamat! Kau tidak akan sempat merapal mantra," Ucap orang itu dengan senyuman bangga diwajahnya.


Memang Remi takkan bisa merapal secepat itu, tapi ia masih punya senjata lain.


Buakk! Ia meluncurkan pukulan kuat tepat ke dada orang itu. Membuatnya kesakitan dan terjatuh ke tanah.


"Bos!" Teriak temannya.


Pria itu langsung memerintahkan, "Cepat, bunuh ibunya!" Teriaknya. "Ia punya tekat yang kuat, itu karena ibunya!"


Seorang yang lain segera mengeluarkan pisaunya dan berlari ke arah sang ibu yang masih berusaha memperingatkan Remi untuk segera pergi.


Remi langsung berlari hendak menyelamatkan ibunya. Tapi matanya yang sudah berkunang-kunang dan juga kesadarannya yang mulai redup, membuat Remi jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan benar.


Ia segera meraih ibunya dan mendorongnya menjauh, sementara tangan kanannya bergerak menodong ke arah lain.


"Water Elemental: Shimmering Wave!" Kali ini Remi mengerahkan semua tenaganya untuk membunuh pria itu.


Gelombang air yang kuat keluar dari pergelangan tangan Remi. Dengan matanya yang rabun, Remi melihat tubuh orang di depannya terpecah berkeping-keping.


"Dasar payah," Tiba-tiba ada suara yang berbisik di telinganya. Itu bukan suara ibunya, dan ia menjadi panik saat mendengarnya.


Seharusnya ibunya ada di dekatnya sekarang. Tapi malah suara orang lain yang terdengar.


"Aku nyerang sapa?" Batin Remi. Ia mengucak matanya dan melihat pria yang seharusnya ia bunuh berdiri di sampingnya.


Ia menoleh ke arah lain, ke arah ia melihat kepingan tubuh tadi.


"I-Ibu--" Remi tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Tapi kepala Remi semakin berat. Ia sudah menggunakan semua tenaganya untuk serangan terakhir yang sia-sia itu. Matanya lama-kelamaan semakin rabun dan akhirnya ia pingsan.


Setelah itu, hidup Remi yang tenang dan penuh ceria berubah. Ia ditangkap oleh orang-orang itu dan dijual sebagai budak.


Sejak saat itu pula, Remi berusaha menerima kenyataan bahwa ibunya mati di tangannya sendiri. Dan ia pun bersumpah untuk tidak menggunakan sihir yang telah merenggut nyawa ibunya.


Dalam kehidupan barunya sebagai budak, Remi seringkali berpindah-pindah majikan. Baginya, semua majikan terlihat sama di matanya. Mereka hanyalah manusia yang suka memanfaatkan makhluk-makhluk lemah.


Karena perlakuan buruk mereka, Remi mulai berpikir kalau semua manusia sama saja. Mereka adalah makhluk jahat yang suka melihat penderitaan makhluk lain. Mereka egois, serakah, dan selalu dipenuhi hawa nafsu.


Terkadang, Remi suka memberontak pada majikannya. Tapi pada akhirnya, ia ditahan dan disiksa. Walau ia bisa menguasai sihir air, tapi Remi tak pernah berniat menggunakannya.


Tapi dalam sejarah hidup Remi, ada satu majikan yang paling berkesan baginya. Ia adalah satu-satunya manusia yang memperlakukan Remi dengan baik.


Beberapa tahun lalu, ia dibeli oleh seorang pemuda saat ia berada di Aergium. Pemuda itu berpakaian modis dan aneh. Awalnya Remi mengira kalau ia akan memperlakukan dirinya sama seperti majikan lainnya.


"Tuan, apa anda ingin memasangkan kalung budak padanya?" Tanya penjual pada pemuda itu.


Pemuda itu menoleh sebentar pada Remi dan menatapnya. "Sepertinya tidak usah," Jawabnya.


Penjual itu memperingatkannya kalau Remi sering memberontak pada majikan-majikan yang sebelumnya. Tapi pemuda itu terlihat tidak mempermasalahkannya.


"Aku tidak masalah dengan itu," Ucapnya.


Setelah pemuda itu membayar dengan beberapa koin emas, ia menghampiri Remi dan mengulurkan tangannya.


"Kau Remi, ya?" Bahkan pemuda itu tersenyum kepadanya.


Remi tak menghiraukan tangan pemuda itu yang terulur. Ia hanya menatapnya dengan tatapan muak.


"Kau mungkin tidak mengerti bahasa ku, ya," Ucap pemuda itu. Ia kemudian menyerakkan tenggorokannya dan mulai melanjutkan, "Aku Johan. Seneng ketemu sampeyan."


Remi sedikit terkejut saat mendengarnya. Ini pertama kalinya ia bertemu manusia yang fasih berbicara bahasa iblis. Bahkan logatnya terasa sangat kental.


"Opo kowe gelem dadi kancaku?" Sambung pemuda itu dengan tangan masih terulur kepada Remi.


Remi menatapnya, tapi ia masih tidak sepenuhnya percaya dengannya. Tapi disaat yang bersamaan, tatapan mata pemuda itu mengingatkannya sesuatu. Sesuatu yang rasanya sudah hilang dari diri Remi.


"Aku ini Remi. Tapi apa aku masih sama seperti Remi yang dulu?" Gumamnya. "Apa Remi yang baik dan ramah sudah tiada? Apa aku sudah lupa jati diri ku?"


Tanpa disadari, Remi mengangguk pada pertanyaan Johan. Ia bahkan meraih tangannya dan bangkit berdiri.


"Aku pengin. Lan yen sampeyan pengin uga, apa aku uga bisa dadi kancamu?" Sahut Remi.


Johan mengangguk dengan wajah tersenyum.


Sejak saat itu, Remi mengikuti Johan kemanapun ia pergi.