Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Informan Koran


"Agh... dimana aku?" Gerutu pemuda itu sambil membuka matanya. Ia kemudian melihat dua orang yang berdiri di samping tempat tidurnya.


"Siapa kalian?" Ucapnya lagi.


"Ah, jadi kau sudah bangun," Ucap Darren sambil menyodorkannya segelas air. "Minumlah ini dulu."


Setelah minum air dan menjadi sedikit lebih segar, pemuda itu diberi beberapa pertanyaan oleh Darren.


"Siapa namamu?" Tanya Darren.


"Tora," Jawabnya singkat.


"Namaku Esema dan dia Shiro. Senang berkenalan dengan mu," Balas Darren.


Tora sempat terdiam saat melihat Shiro di situ. Ia terkejut melihatnya disini. Tapi ia tetap menutup mulutnya.


"Sekarang sudah siang, bagaimana kalau kita mengobrol sambil makan di bar?" Sambung Darren lagi.


Mereka pun pergi dari penginapan dan pergi ke bar.


Sesampainya disana, Tora merasa tubuhnya merasa lebih baik, apalagi bagian pergelangan tangannya. Seingatnya, ia memiliki luka pada tangannya.


"Luka ku..." Ucap Tora sambil mengangkat pergelangan tangannya.


"Ah, tangan mu sudah aku obati. Lukanya tidak terlalu berbahaya, tapi pasti terasa sakit, kan," Ucap Darren. "Sebenarnya, apa yang terjadi? Tangan mu terluka, dan punggung mu robek cukup lebar."


"Ah iya, luka punggung ku juga hilang," Sambung Tora. "Aku bahkan hampir lupa dengan luka punggung ku."


Darren menunggu jawaban dari Tora yang masih takjub dengan kejadian ini.


"Sebenarnya, ini karena hukuman," Ucapnya. "Beberapa hari lalu, sekelompok perampok menjarah dagangan tuanku. Aku gagal menghalau mereka, jadi tuanku marah. Ia menghukum ku dengan hukuman cambuk."


"Ia mengikatku di tangan dan menggantung ku. Lalu ia mulai mencambukki ku," Sambung Tora lagi, "Tapi saat cambukan ke dua puluh lima, cambuknya rusak. Jadi ia berhenti untuk sesaat untuk mencari cambuk baru. Disitulah aku melepaskan ikatan tanganku dengan paksa dan melarikan diri."


Darren terkejut mendengar itu. Padahal ia jelas-jelas melihat kalau Tora memang sudah kelelahan waktu itu.


"Itu salah ku sendiri karena tak bisa melindungi barang dagangan tuan ku," Ucap Tora lagi. "Aku pantas mendapatkannya."


"Itu bukanlah salah mu, tapi itu adalah salah tuan mu sendiri karena tidak menjaga bawahannya dengan benar!" Ucap Darren tegas. "Aku ada disana waktu perampok itu datang. Aku melihat mu berusaha melawan, tapi kau pingsan ditengah pertarungan."


Tora ternganga.


"Sekarang jawab pertanyaan ku!" Ucap Darren lagi. "Sudah berapa lama kau tidak makan?"


Tora terkejut. Ia terdiam seribu kata. Ia tak menyangka kalau lawan bicaranya bisa menebak kelakuan tuan nya. "L-lima hari," Jawabnya pelan.


"Huff... sesuai dugaanku," Ucap Darren. "Orang itu memang tak punya hati. Mau-mau saja kau melayaninya."


Tora hanya diam sambil terus menundukkan kepalanya. Ia merasa bersalah dan bodoh secara bersamaan.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Darren lagi. "Aku yakin tuan mu itu takkan tinggal diam saat mengetahui bahwa kau kabur."


"Aku akan lari," Jawab Tora pelan.


"Kau takkan bisa terus lari," Ucap Darren menasehati. "Lari terus lari, apa hanya itu yang bisa kau lakukan?"


"Jika kau terus lari, maka suatu saat nanti kau akan kehabisan tempat untuk kabur. Disaat itulah, masalah itu akan datang menyusulmu dan menarik mu kembali ke tempat dimana semua itu terjadi," Sambung Darren lagi.


"Aku tak pernah bicara sebanyak ini sebelumnya. Tapi aku merasa kesal. Melihat orang-orang pasrah dengan takdir mereka dan memilih untuk lari tanpa tujuan."


"Aku juga dulu begitu sih. Aku memilih untuk lari dari masa lalu ku. Mengurung diri dan menjauh dari masyarakat."


"Hingga akhirnya aku jadi nolep, dan gak tahu lagi cara bersosialisasi dengan benar."


Saat Darren merenungkan masa lalunya, Tora tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan padanya.


"Lalu, Esema-san, bagaimana manusia hewan ini bisa bersamamu?" Tanyanya sambil menunjuk Shiro. "Dia kan manusia hewan yang kami serahkan pada para perampok."


Shiro hanya diam sambil melirik kearah Darren.


"Aku mengambilnya kembali," Jawab Darren. "Tapi aku tak bermaksud untuk mengembalikannya pada kalian."


"Lalu, untuk apa?' Tanya Tora lagi. "Apa itu hanya untuk bersenang-senang, atau kau memang seorang pencuri? Tolong beritahu aku alasannya."


Darren menarik nafasnya dengan berat. Ia tidak niat menjawab pertanyaan ini, tapi ia harus.


"Aku tidak suka melihat cara mereka memperlakukan Shiro," Ucap Darren. "Jadi aku beri mereka pelajaran dan membawa Shiro kembali."


"Sendirian?" Tora terkejut.


Darren hanya mengangguk.


"Cerita mu mengingatkan ku pada seseorang," Ucap Tora. "Kau pernah dengar tentang buronan Erobernesia?"


Darren terkejut. Ia sempat tersentak dan hampir lompat dari duduknya. Tapi ia berusaha bersikap tenang dan memikirkan segala kemungkinan di kepalanya.


"Ah... belum. Aku belum pernah mendengarnya," Balas Darren. "Emangnya apa yang terjadi?"


"Namanya Darren. Ia adalah pengguna sihir tingkat tinggi," Sambung Tora menjelaskan, "Ia membantai habis satu pasukan hanya untuk melindungi sebuah desa manusia hewan."


Darren terkejut. Ia tak menduga kalau Tora bisa tahu sebanyak itu. Apa dia itu seorang intel? Sepertinya bukan sih.


"Dia membantai habis satu pasukan sendirian!?" Tiba-tiba Shiro antusias.


"Shiro, kendalikan dirimu," Ucap Darren berlagak tegas.


"B-baiklah, Esema-sama."


Kemudian Darren mulai menyenderkan tangannya di meja. Ia kembali mendengarkan cerita Tora dengan serius.


"Tolong lanjutkan," Ucap Darren.


"Jenderal Erobernesia, Michael, bahkan tak sanggup melawan kekuatannya," Sambung Tora, "Katanya, buronan itu bisa meniru sihir orang lain dan bahkan bisa menggunakannya dengan sempurna. Kalau kekuatannya di ukur, kemungkinan buronan itu setara dengan petualang tingkat Adamantite."


"Apakah ia sekuat itu?" Tanya Darren.


"Buktinya, petarung terbaik Erobernesia, Taiji Kuroba, berhasil dikalahkan olehnya," Jawab Tora. "Tapi sayangnya Taiji telah meninggal. Jadi kemungkinan mengalahkan buronan itu sangat rendah."


"Tapi, apa jadinya kalau ternyata buronan itu baik?" Ucap Darren tiba-tiba.


"Apa maksud mu?"


"Ya... kau tahu, bisa saja ia melakukan itu semua dengan maksud baik dibelakang," Ucap Darren lagi. "Setiap orang pasti punya rencana dalam hidup mereka, kan."


Tora hanya terdiam tak mengerti apa maksud perkataan Darren.


"Aku tak tahu pasti," Balas Tora. "Tapi seorang buronan tetaplah buronan. Tak peduli apa yang masyarakat katakan, jika pemerintah telah menetapkan begitu maka tak bisa terbantahkan."


"Tapi sepertinya berita itu belum tersebar luas," Sambung Tora lagi. "Apalagi setelah insiden penyerangan Kerajaan Erobernesia. Mereka terlalu sibuk menyelidiki pelaku penyerangan dan menelantarkan kasus buronan itu."


"Benarkah?" Ucap Darren dengan wajah cerah. "Ah... syukurlah. Kalau begitu aku bisa merasa lebih tenang."


Tora mengangguk. "Ku dengar juga kalau Kerajaan Friedlich akan mengirim seorang polisi berpengalaman untuk membantu Erobernesia," Sambung Tora.


"Polisi berpengalaman?" Ucap Darren.


"Ya. Ada seorang polisi yang cukup terkenal di kota, karena prestasinya dalam menangani kasus," Jelas Tora, "Ia berbakat dalam ilmu sihir dan berpedang. Julukannya yang terkenal adalah 'Si Hijau Zamrud'. Dan yang paling membuatnya dikenali adalah penampilannya yang selalu memakai topeng."


"Topeng?" Ucap Darren. "Apa jangan-jangan dia adalah orang waktu itu?"


"Apa menurut mu aku bisa menemuinya?" Tanya Darren tiba-tiba.


"Eh, kalau soal itu sepertinya tidak bisa," Jawab Tora. "Ia sudah pergi sejak kemarin. Tapi kalau kau berniat menyusul mungkin akan sempat."


"Orang ini..." Ucap Darren dalam hati, "Walau dia seorang budak manusia, tapi wawasannya sangat luas. Bahkan dalam keterbatasannya dalam berkomunikasi, ia bisa mendapat banyak sekali informasi."


"Sebenarnya darimana ia mendapat semua informasi ini? Apa jangan-jangan dia itu agen rahasia?"


"Wawasan mu luas juga, ya," Sanjung Darren. "Darimana kau mendapat semua informasi itu?"


"Ah soal itu, aku dapat dari koran," Jawabnya.


"Eh? Koran? Apa koran memuat berita-berita seperti itu?"


"Oh, begitu," Ucap Darren. "Mengetahui hal itu aku jadi tertarik dengan mu."


"T-tertarik?"


"Eh, maksudku bukan tertarik kayak homo gitu," Ucap Darren. "Aku tertarik dengan kemampuan mu dalam mencari informasi. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?"


"Apa itu?"


"Bekerjalah untukku," Ucap Darren.


"Bekerja? Apa bayarannya?"


"Kau akan menjadi informan-ku. Dan sebagai balasannya, aku akan menjaga mu jauh dari tangan Tuan mu itu. Tentu saja kebutuhan makan mu juga aku yang tanggung."


Tora merengutkan dagunya. Ia berpikir kalau itu merupakan kesepakatan yang bagus. Lagipula, ia juga sudah muak dengan Tuan-nya itu.


"Aku tak punya banyak waktu untuk mencari informasi, dan Tora terlihat cerdik. Mengumpulkan informasi pasti hal mudah baginya," Pikir Darren.


"Baiklah, aku menerimanya," Jawab Tora tanpa basa-basi.


Darren kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabatan, kemudian disusul juga oleh tangan Tora.


"Tolong kerjasamanya," Ucap mereka berdua bersamaan.