
"Cover me in thunder!" Darren meneriakkan mantranya sesaat tepat sebelum pukulan Clara mengenai wajahnya.
Duar! Ledakan api sekaligus kilatan petir saling menyambar dan menciptakan reaksi berupa ledakan kuat yang dahsyat.
Darren sendiri terkejut karena pukulan api milik Clara sangat kuat. Bahkan bisa membuat pertahanan petir mutlaknya hancur.
Ia terpental beberapa meter dan terhempas ke tanah. Sementara Clara juga mengalami hal yang sama.
"Sihir petir juga? Sebenarnya apa kau ini?" Ucap Clara sambil bangkit dan membersihkan pakaiannya yang kusam. Seakan ledakan tadi tak menggoresnya. "Kau membuatku terpukau, Esema-kun."
Darren mengangkat tubuhnya bangkit dengan kedua tangannya yang gemetar. Ia bisa merasakan beberapa bagian badannya terasa sakit karena ledakan tadi.
"Sihir petir ku tidak mempan? Ia bisa menembusnya begitu saja. Kuat sekali," Ucap Darren dalam hati. "Kekuatan api yang luar biasa."
"Lagipula, latihan ini sudah kelewatan. Aku bisa mati beneran kalau begini," Gerutu Darren. "Clara-san, bagaimana kalau latihan ini kita akhi--"
"Esema-kun, kau membuatku semakin bersemangat. Akhirnya aku menemukan lawan latihan yang setara!" Tanggapan Clara membuat Darren merengut panik.
"Kerahkan semua kemampuan mu! Jangan ditahan!" Teriak Clara lagi dengan wajah antusias. "Lawanlah aku dengan seluruh kemampuan mu!"
"T-Tapi, Clara-san--"
"Shhh, jangan banyak bicara. Kita lanjut latihannya."
Darren tak bisa melawan dan akhirnya menyanggupi keinginan Clara walau badannya pegal-pegal.
"Baiklah," Ucap Darren sambil membentuk posisi kuda-kuda. Ia kemudian mengeluarkan pedang hijaunya dan menodongkannya.
"Mantap!" Clara langsung bergerak dan menerjang kembali dengan serangan apinya.
Bola-bola api berterbangan di udara dan meluncur ke arah Darren dengan jumlah banyak.
"Kau pasti punya jurus lain, kan? Coba gunakan untuk menangkis bola-bola api itu!" Ucap Clara.
"Sial, dia malah kesenangan. Sepertinya ia lupa kalau yang latihan seharusnya dia," Darren pun menghentakkan kakinya ke tanah dan menciptakan tembok batu yang besar. "Stone Wall!"
Setelah memblokir serang bola api itu dengan tembok batu, Darren menendangkan kakinya ke arah tembok tersebut dan membuatnya terpental ke arah Clara.
"Menganggumkan!" Ucap Clara dengan wajah menyeringai ceria. "Sungguh serangan balasan yang hebat!"
Ia dengan santai menarik tangannya ke belakang dan meluncurkan pukulan ke arah batu yang terbang ke arahnya. Hanya butuh satu pukulan untuk membuat batu besar tersebut hancur berkeping-keping layaknya kaca.
"K-Kuat sekali," Batin Darren menyaksikan sambil menutupi wajahnya dari puing-puing batu yang berterbangan. "Ia menghancurkannya dengan mudah. Seakan batu itu tidak ada apa-apanya."
"Bersiaplah!" Teriak Clara sambil menjulurkan tangan ke tanah.
Dari tanah tempat Darren berpijak, muncul sebuah rantai api dan mengikat kaki Darren.
"Sial, aku lengah!" Ucap Darren, tahu kalau ia sudah terjebak.
Clara menyeringai tajam dan melirik ke arah Darren dengan tatapan penuh gairah.
"Coba kita lihat bagaimana cara mu lepas dari ini," Clara meremas tanah di bawah telapak tangannya.
Perlahan, Darren merasa kalau rantai yang melilit kakinya semakin panas. Lama-lama, Darren mulai sadar kalau kakinya sudah terluka.
"Sial, aku harus melepaskannya." Darren menggenggam pedangnya dan terus membenturkannya ke rantai di kakinya. Namun rantai itu sudah sangat panas, hingga membuat pedang hijau Darren meleleh.
"Aagh!" Darren berteriak kesakitan karena kakinya sudah mulai terobek. "Ini sangat menyakitkan. Kalau begini terus kaki ku akan meleleh dan copot. Aku harus mencoba menurunkan suhunya."
"Froze!" Darren membekukan kakinya sendiri beserta dengan rantainya.
Ia kemudian menciptakan pedang baru dan menghancurkan rantai yang membeku dengan hati-hati tanpa melukai kakinya sendiri.
Krakk! Rantai itu berhasil dihancurkan.
Setelah kakinya bebas dari rantai, Darren segera mengobati luka bakar yang ia terima dengan mantra Heal.
"Hebat sekali. Selain bisa menguasai lima elemen, ternyata kau juga bisa menggunakan mantra penyembuh dengan baik," Puji Clara dari jauh.
Setelah kakinya sembuh seperti semula, Darren segera berdiri walau rasanya agak sempoyongan. Ia menatap Clara dengan serius.
"Clara-san, bisakah kita akhiri ini sekarang?" Tanya Darren sambil sempoyongan lemas.
"Kau pasti masih punya jurus lain. Coba kerahkan semuanya!" Ucap Clara. "Aku percaya kalau kau lebih kuat dari kelihatannya." Clara malah tidak kelihatan peduli.
"Bisa menguasai lima elemen sihir dan bisa bertahan melawanku. Kau adalah orang yang sangat hebat," Sambung Clara. "Walau kau baru menunjukkan lima jenis elemen sihir, tapi aku yakin kalau kau masih punya kejutan lain yang kau sembunyikan. Coba tunjukkan pada ku. Tidak usah menahan diri."
"Baiklah kalau itu mau mu. Akan ku akhiri latihan ini sekarang dengan tangan ku sendiri," Balas Darren. "Bind!"
Clara bisa merasakan tubuhnya terikat oleh sesuatu dan tak bisa bergerak. "Bind? Apa yang mau kau lakukan?"
"Lihat saja! Ini adalah jurus rahasia ku!" Jawab Darren.
Clara menyeringai. "Sihir murah seperti ini takkan bisa menahan ku," Ucapnya.
"Hydro Mimic!" Darren menciptakan salinan dirinya sebanyak enam salinan menggunakan sihir air. "Para diri ku. Cepat kepung dia!"
Para Darren mulai menyerbu. Bersamaan, mereka mengepung Clara dari berbagai arah. Sementara Darren berusaha menjaga jarak.
"Hiaa!" Mereka berenam melemparkan peluru-peluru air secara bersamaan.
Clara tak tinggal diam. Ia pun merobek mantra Bind milik Darren dan mengeluarkan serangan balasan. "Terbakarlah semuanya!"
Api mulai berkobar kemana-mana dan membakar semuanya. Peluru-peluru air itupun segera menghilang sebelum menyentuh Clara. Bahkan para salinan Darren pun mulai menguap bagai air mendidih karena panas api tersebut.
"Itu saj--" Clara hendak berbicara, namun terkejut saat melihat Darren sudah berada di sampingnya dan bersiap menebaskan pedangnya. "A-Apa? Bukankah kau tadi ada di sana?"
Darren tak menghiraukan. Ia terus berfokus untuk menyerang. "Chanelling, Sharpness!" Ia memperkuat pedangnya.
"Ada apa ini? Padahal aku cuma menoleh darinya sebentar, tapi ia sudah mendekat sedekat ini," Batin Clara. "Kecepatan ini. Ini bukan kecepatan orang biasa."
Untuk mengantisipasi serangan Darren, Clara dengan cepat menggerakkan tangannya dan memblokir pedang Darren.
Tapi Darren sudah terlanjur merapal mantra penguat pada pedangnya. Pedang yang sudah terlapisi sihir itu pun saling bertabrakan dengan telapak tangan Clara.
Pedang sihir yang berkilau dan kuat, beradu dengan tangan Clara yang berlapis sihir api yang luar biasa.
Duaarr! Ledakan yang sangat keras terpicu dan menghempaskan kedua belah petarung hingga terpental jauh.
Ledakan yang keras membuat tekanan udara yang bertiup kencang dan bahkan menumbangkan beberapa pohon di sekitar.
Gubrak! Darren terguling-guling di tanah. Pedangnya terlempar jatuh dan menancap pada salah satu batang pohon. Matanya mulai berkunang-kunang karena pasokan Mana-nya mulai surut.
Sementara Clara pun terlempar hingga menghantam sebuah pohon. Ia terjatuh dan berhasil menjaga kesadarannya dari pingsan.
"Kuat sekali," Ucap Clara sambil mengelap beberapa butir darah yang mengalir di bawah bibirnya. "Sangat memuaskan. Aku ingin lebih!"
Clara mulai bangkit dan mengepalkan tangannya. Di tangannya itu, terlihat segumpal elemen api berkumpul dan membuat tangannya bersinar.
"Kita lanjut! Kita akan bertarung sampai salah satu dari kita pin--"
Tiba-tiba-- Ciprat! Sebuah gelembung air terbang dan mengenai wajah Clara.
"Cukup, Clara," Terdengar suara seseorang.
Tiba-tiba dua orang muncul dan datang menghampiri mereka. Mereka berdua tidak lain adalah Dyland, dan Marvin si ogre.
"Ada apa ini!?" Teriak Marvin. Sementara Dyland memilih diam dan menganalisa keadaan.
Dua orang tersebut pun melihat lingkungan sekitar yang sudah berantakan. Banyak pohon tumbang dan terbakar, lubang-lubang di tanah, dan kondisi Darren dan Clara yang mengkhawatirkan.
"Jangan-jangan..." Sambung Marvin sambil melirik ke arah Darren. "Kau manusia pasti hendak membunuh Clara di sini, kan!?" Ia berteriak dan menunjuk ke arah Darren yang terluka.
"Marvin, tenanglah. Bukan seperti itu keadaannya," Ucap Clara.
"Ha!? Kau membela manusia ini? Sudah jelas kalau kau babak belur begitu. Ia pasti mencoba membunuh mu," Ucap Marvin lagi.
"Marvin," Ucap Dyland sambil menatapnya tajam. Dari gelagatnya, ia bermaksud membuat Marvin diam dengan mengintimidasinya. "Diam dan tutup mulut mu. Lebih baik kita dengarkan mereka."
Marvin terdiam. Tapi ia terus menatap Darren dengan tatapan jengkel.
"Clara!" Teriak Dyland tiba-tiba.
Clara langsung terdiam dan menundukkan kepala.
"Aku menunggu penjelasan mu," Sambung Dyland sambil melipat tangan.
"Yah, sebenarnya. Aku... eh, apa ya... aku... um... kami cuma latihan," Clara menjelaskan sambil terpatah-terpatah. "Dan akupun... terbawa suasana... he he."
Dyland menarik nafas panjang. "Ya ampun. Sudah ku duga."
Dyland kemudian menghampiri Darren dan membantunya berdiri.
"Kau tidak apa?" Ucapnya sambil menopang Darren di pundaknya.
"Ya, sedikit," Jawab Darren sambil mengangguk.
"Maafkan adik ku, ya. Ia memang selalu begitu kalau latihan," Sambung Dyland. "Lain kali, kalau dia mengajak mu lagi, jangan mau."
"E-Eh, baiklah."
Darren pun ditopang oleh Dyland kembali ke kamar, sementara Clara dibawa oleh Marvin untuk dibawa menghadap ke Simson.
Setibanya di kamar, Shiro langsung menghampiri Darren dan memeluknya karena Darren sudah menghilang sejak pagi. Ia semakin terkejut saat melihat sekujur tubuh Darren penuh dengan luka.
"Esema tidak apa-apa. Ia hanya terlibat latihan keras dengan adikku, Clara," Dyland menjelaskan kepada Shiro. "Maaf ya karena telah membuat mu khawatir. Jika sesuatu terjadi pada bawahan mu, kami akan pasti akan menanggung semuanya."
"Ya, tidak apa-apa. Yang penting semuanya baik-baik saja," Balas Shiro.
Setelah itu, Dyland pun kembali melangkah keluar. Namun sesuatu tiba-tiba terjadi. Seseorang tiba-tiba muncul di pintu dengan nafas terengah-engah.
"Dyland..." Ucapnya sambil berusaha mengatur nafas.
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" Sahut Dyland.
"Brankasnya..." Ia terus mengatur nafas. "Penyusup itu... berhasil membobol brankasnya!"
.
.
.