
"Baiklah. Pengobatan selesai. Cepat bawa ia ke ruang isolasi. Biarkan ia beristirahat sampai benar-benar pulih!" Darren berteriak pada para perawat di sampingnya.
"Baik!"
Di depannya, seorang pemuda yang diduga adalah petualang, terbaring dengan perut yang sebagiannya diliputi bercak hitam. Ia pun dibawa oleh para perawat dengan ranjang kereta keluar ruangan, menuju ruang isolasi.
Di depan pintu, beberapa teman-temannya nampak menunggu dengan wajah khawatir. Begitu melihat Darren, mereka segera menghampirinya.
"Terimakasih banyak!" Para petualang itu berteriak terimakasih. Jumlah mereka totalnya empat orang, termasuk pasien tadi.
"Kami tidak tahu harus membalas dengan apa," Sambung salah satu dari mereka.
"Ah, tidak apa. Lagipula kami memang sedang berusaha menekan angka penyebaran penyakit itu," Balas Darren. "Tapi jika boleh tahu, bagaimana teman kalian itu bisa terjangkit?"
Mereka saling menoleh satu sama lain. Kemudian salah satunya menjawab. "Sejujurnya kami tidak begitu tahu."
Yang lain pun meneruskan. "Ketika dalam perjalanan dari Steinfen, ia tiba-tiba mulai merasa tidak enak badan. Awalnya kami kira ia hanya masuk angin biasa."
"Steinfen?" Darren mengangkat alisnya.
"Ya. Kota para petualang terkenal. Banyak petualang peringkat berlian ke atas yang berasal dari sana," Jelas mereka. "Kami awalnya ingin merayakan kelulusan ujian naik pangkat. Tapi tak kami sangka salah satu teman kami malah jatuh ke kondisi seperti ini."
"Eh, ujian naik pangkat? Apa itu ujian petualang?" Tanya Darren.
"Ya. Untuk jadi petualang papan atas, tentunya butuh pangkat yang tinggi. Jadi kami menjalankan ujian di akademi petualang di sana."
"Ah, begitu rupanya," Darren mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Semoga kalian semua baik-baik saja."
"Terimakasih banyak."
Para petualang itu pun pergi. Darren hanya berdiri di depan pintu dengan keringat yang membasahi sekujur pakaiannya. Tiba-tiba seseorang muncul dari lorong dan menghampirinya.
"Pasti berat ya," Nigel muncul dengan sapu tangan dan potion. Ia pun memberikannya pada Darren. "Anda kelihatan kelelahan. Sebaiknya minum ini dulu."
"Ya, terimakasih."
Darren meneguk potion itu. Seketika Mana dalam tubuhnya kembali terisi. Ia kemudian mengelap keringat yang mengalir dengan sapu tangan.
"Tapi sepertinya ada kemajuan," Ucap Nigel. "Akhir-akhir ini anda mulai bisa menggunakan sihir cahaya itu beberapa kali. Padahal sebelumya sekali pakai saja sudah bisa membuat anda pingsan."
"Ya, aku juga sedikit terkejut. Rasanya semua yang terjadi di desa ini begitu pesat," Balas Darren. "Bukan kemampuanku saja. Tapi semuanya secara harfiah."
"Benarkah? Bagiku semua berjalan normal," Sahut Nigel. "Semenjak anda menyelamatkan kami dari tangan pedagang budak itu, kami bisa merasakan hidup layak di desa ini. Mungkin karena itu kami merasa desa ini seperti rumah kami sendiri."
"Haha, aku senang mendengar kalian bisa beradaptasi baik di sini."
Darren pun mulai meregangkan badannya. Seperti biasa, sihir cahaya untuk menetralisir penyakit terkutuk itu benar-benar membuatnya lelah. Bahkan potion Mana tak bisa mengobatinya secara keseluruhan.
"Tapi ini gawat," Ucap Darren. "Akhir-akhir ini, kasus penyakit terkutuk itu mulai menyebar cepat. Aku takut jika penyakit ini merajalela terlalu luas, aku takkan bisa mengobati semuanya."
"Benar. Aku juga berpikir begitu. Satu-satunya yang bisa mengobati penyakit itu di sini hanya engkau, Darren-sama. Tapi kami tahu kalau itu akan membebani kesehatanmu," Balas Nigel. "Andai kami memiliki tenaga medis yang handal untuk mengatasi masalah ini."
Darren melirik. "Bagaimana dengan para petualang yang tinggal di sini? Apa tak ada dari mereka yang berprofesi sebagai penyembuh dapat mengatasinya?"
Nigel menggeleng. "Memang banyak dari mereka yang berbakat. Namun penyakit ini jauh di atas level mereka. Sihir cahaya yang diperlukan pun bukan sembarangan. Seperti milik anda."
Darren menggaruk kepalanya. "Agh, ini sangat menyusahkan."
Darren merasa frustasi. Ia tahu kalau dirinya sendiri takkan cukup untuk mengatasj masalah penyakit ini. Ia sempat berpikir untuk meminta bantuan pada Lionna di Vertrag, mengingat ia mampu menggunakan sihir cahaya dengan baik. Tapi ia masih mengurungkan niatnya itu.
"Anu, Nigel. Apa kau masih punya informasi lain tentang penyakit ini?" Tanya Darren.
Nigel mengelus dagunya. "Aku takut informasi yang kita miliki hanya sebatas pada efeknya saja. Seperti yang kujelaskan waktu rapat, mereka yang tewas karena penyakit ini akan berubah jadi mayat hidup."
"Apa hanya itu saja? Apa tidak ada data tentang karakteristik penyakit ini?"
"Satu-satunya karakteristik yang dimiliki hanyalah kelemahannya pada sihir penyembuh suci, seperti yang anda miliki," Jelas Nigel. "Sayangnya hanya sedikit orang yang menguasai sihir ini."
"Begitu ya. Kita benar-benar kekurangan informasi."
Tiba-tiba dari arah berlawanan, nampak Riuku berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa.
"Darren-sama," Panggilnya.
"Riuku, ada apa?"
Riuku berusaha mengendalikan nafasnya yang terengah-engah. "Ravenna-sama memanggilmu."
"Eh, ada apa tiba-tiba seperti ini?"
.
.
.
Darren memasuki sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar Ravenna. Sambil dipandu Riuku, ia diarahkan pada tempat duduk dengan meja yang penuh buku-buku.
"Kita sampai. Silahkan duduk dulu," Riuku menarik bangku dan mempersilahkan Darren.
"Ah iya."
Tak lama kemudian, dari balik rak-rak buku yang berbaris, Ravenna berjalan keluar. Rautnya seperti sudah menantikan Darren sejak tadi.
Darren melirik ke arah berpakaian Ravenna yang terkesan... 'berbeda'?
"Jadi ini yang selalu kau pakai saat tidak bertualang?" Darren menatap Ravenna dalam baju kaos dan celana pendek.
"Aku juga bisa santai tahu! Kau pikir aku akan mengenakan pakaian zirah itu sepanjang waktu?" Balas Ravenna sambil duduk di hadapannya.
"Lalu, ada apa kau memanggilku?" Tanya Darren.
Ravenna melemparkan beberapa kertas ke atas meja. Awalnya Darren tak memahami apa maksudnya, sampai tiba-tiba matanya terpaut pada sesuatu di salah satu kertas itu.
"Gambar? Lukisan siapa ini?" Darren meraih lembaran itu dan mengamatinya.
Sebuah gambar sketsa yang sedikit ruwet. Tak begitu detail, namun bisa menjelaskan bahwa gambar tersebut adalah sesosok seseorang.
"Ini semua adalah laporan dari tim patroli yang berjaga kemarin. Salah satu dari mereka mengabadikan momen ketika mereka menemukan sesuatu yang aneh di pinggiran kota," Jelas Ravenna.
"Apa ini manusia? Bentuk badannya kelihatan normal sih. Hanya saja kelihatan... pendek."
"Memang kalau di gambar sedikit tidak jelas. Tapi kesaksian para anggota tim mengatakan kalau itu bukanlah manusia."
"Eh? Apa ini undead?"
"Entahlah. Tim patroli memilih untuk kembali seketika mereka melihatnya. Menurut kesaksian, makhluk itu memancarkan aura yang sangat berat. Merasakannya saja cukup untuk mengurungkan niat bertarung mereka."
"Begitu ya. Apa aku harus mengeceknya?"
Ravenna menarik nafas. "Aku sendiri tidak yakin. Setelah mendengar kalau kau sedang diburu oleh Raja Iblis, aku takut kalau ini hanyalah permainan mereka," Balas Ravenna. "Tapi di sisi lain, tak ada seorangpun yang mampu mendekatinya."
Ketika mereka berbincang, tiba-tiba suara lain terdengar dari jendela kamar Ravenna. Suara yang tiba-tiba muncul tanpa terdeteksi sama sekali.
"Ravenna, jangan-jangan kau lupa kalau masih ada aku di sini," Sesosok bertopeng, Si Hijau Zamrud, melompat masuk melalui jendela.
Ravenna menoleh dan rautnya seolah mengatakan ia telah menghadapi hal semacam ini setiap harinya.
"Akira, sudah berapa kali kukatakan. Lewat pintu!"
"Jika aku lewat pintu, kalian pasti akan langsung mengganti topik pembicaraan," Balas Akira seraya berjalan mendekat.
"Jadi kau memata-matai kami?" Darren menoleh.
"Awalnya aku tak berniat begitu. Tapi melihat mu masuk, aku merasa sesuatu yang menarik akan terjadi," Jawabnya. "Tapi tenang saja. Aku takkan membocorkan apapun yang kudengar di sini kepada Raja Friedlich. Aku akan menyimpan informasi ini untuk diriku sendiri."
"Sebaiknya begitu," Ucap Ravenna kecil.
Akira membuka topengnya dan matanya langsung melirik pada kertas-kertas di atas meja.
"Kau ingin menangkap orang ini, kan? Bagaimana jika aku membantu kalian?" Ujar Akira. "Setidaknya aku bisa menjaga Esema-kun jika memang terjadi apa-apa."
Ravenna langsung menolak usulan itu mentah-mentah. "Kau adalah tamu. Mana mungkin kami akan membiarkan tamu kami dalam bahaya."
"Ah sudahlah. Tidak usah mengkhawatirkanku. Jika kita membiarkan musuh terlalu lama, mereka mungkin akan memulai langkah selanjutnya."
"Itu benar, Ravenna. Sebaiknya kita cepat bersikap," Sahut Darren.
Ravenna nampak risau. Ia ragu apakah ini pilihan yang tepat. Jika ternyata musuh memang merencanakan ini untuk menangkap Darren, maka ini hanya akan jadi sebuah gerakan bunuh diri. Tapi dirinya malah makin ragu apakah membiarkan musuh berkeliaran akan memberikan hasil yang lebih baik.
"Huff... Baiklah, aku serahkan ini pada mu, Darren. Dan juga Akira, tolong jaga dia," Ravenna menyerah dan membiarkan mereka pergi.
"Serahkan pada kami. Aku sebagai perwakilan Friedlich, pasti akan membantu negara tetangga kami ini," Balas Akira.
Mereka berdua segera pergi dan mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk mengantisipasi segala ancaman. Tak lupa Darren mengabari timnya dan mengumpulkan mereka. Kini mereka telah siap untuk pergi.
"Jadi ini misi pertamaku di kota ini, ya?" Hain nampak antusias.
Di sisinya, Tora cekikikan sambil meliriknya. "Semoga juga ini takkan jadi yang terakhir."
"Aku takkan mati semudah itu!"
Shiro berjalan mendekati Darren. "Darren-sama, sebenarnya ada apa ini?"
Darren menyahut sambil mengangkat tas ke pundaknya. "Kita hanya akan mengecek sesuatu. Entah itu ancaman atau bukan."
Darren berpaling kepada Akira yang sudah siap dengan pedang hijaunya. Bermandikan cahaya mentari sore, topeng yang dominan warna hijau itu seolah bercahaya bagai zamrud asli. Walau wajahnya tertutup, namun Darren bisa menebak kalau Akira merasa bersemangat.
"Baru beberapa bulan lalu. Tapi rasanya sudah lama sekali kita tak bekerja sama seperti ini," Ucap Akira. Siluetnya semakin menebal seraya matahari mulai tenggelam.
Darren tersenyum. "Ya. Ku harap kemampuanmu tidak menumpul."
Akira terkekeh. "Seharusnya aku yang mengatakan itu," Sahutnya. "Nah, sekarang lebih baik kita bergerak. Matahari mulai redup."
Senja pun menjemput. Perlahan kegelapan mulai bangkit menyelimuti pandangan. Di saat seperti ini, kegelapan bisa menjadi tempat yang bersembunyi yang bagus. Namun yang satu-satunya berpikir seperti itu bukan hanya mereka saja. Siapapun dapat menyatu dengan bayangan.
Bagai burung hantu, ia mengawasi mangsa dengan tajam. Dengan penuh kesabaran, ia akan menunggu momen yang tepat tiba. Dan ketika saatnya datang, maka ia akan langsung menyerang bagai kilat yang senyap.
"Kali ini aku takkan gagal lagi. Aku, Serina, takkan mengecewakanmu, Albino-sama."
.
.
.