
Melihat Tomatsu tergeletak di tanah, Darren tidak bisa diam saja. Ia segera berdiri dan menghampiri Tomatsu, walau ia sendiri tahu kalau ia keluar sekarang ia akan di tembak oleh para pemanah.
"Tomatsu!" Teriak Darren histeris sambil berlari sekuat tenaga. Begitu ia sampai di dekatnya, Darren langsung mencoba membuatnya bangun. "Tomatsu! Bangunlah!"
Tomatsu tak menyahut. Ia tetap tergeletak tanpa mengeluarkan tanda-tanda kesadaran. Hal ini membuat Darren panik.
"Tomatsu, sadarlah!" Ia terus mengguncang-guncang tubuh Tomatsu, berharap ada jawaban keluar dari mulutnya.
Tak lama kemudian, Accel kembali mengeluarkan perintah. "Itu dia! Cepat tembak dia!" Teriak Accel sambil menunjuk Darren.
Tapi Accel masih penasaran dengan apa yang terjadi. Gelombang getaran tadi itu sangat kuat dan itu membuatnya bertanya-tanya dari mana asalnya.
"Sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi?" Gumamnya. "Tidak usah pikirkan itu dulu. Darren adalah prioritas utama ku."
Para tentara mulai menarik benang panah mereka lagi. Suara benang yang meregang kembali terdengar dengan serempak. Mendengar ini untuk yang ketiga kalinya membuat suasana menjadi menyeramkan.
"Tembak!" Seru Accel.
Anak panah kembali diluncurkan. Bahkan kali ini para penyihir juga sudah bersiap menangkal setiap mantra yang Darren keluarkan.
"Non-Eucledian," Pria itu muncul dan meluncurkan mantra.
Setiap anak panah yang terbang ke arah Darren tiba-tiba menghilang. Tak lama kemudian, panah-panah itu kembali muncul tepat di atas para tentara itu.
Untuk seketika, suara jeritan bisa terdengar jelas dari atas dinding. Beberapa dari mereka ada yang terluka berat, dan bahkan ada juga yang tewas karena anak panah yang mereka tembak berakhir menancap di tengkorak mereka sendiri.
Accel berhasil bertahan, tapi ia mendapat pemandangan mengerikan di depan matanya. Ia melihat mayat-mayat berceceran. Bahkan jumlahnya lebih dari tiga puluh orang.
"M-Mustahil-- Sihir macam apa itu!?" Batin Accel. Ia kemudian memalingkan wajahnya dan melihat pria itu. "Penampilannya, mirip sekali dengan Raja Iblis yang Taiji lawan. Mungkinkah--"
Pria itu turun dari terbangnya dan mendekat ke arah Darren. Ia berdiri di depannya sambil memandangi Tomatsu tanpa berkata-kata.
Shiro yang melihat itu segera bergerak mendekati Darren dan berusaha menariknya menjauh. "Darren-sama, orang itu. Orang itu adalah orang yang Tomatsu-sama katakan," Bisiknya. "Sebelumnya Tomatsu-sama bilang bahwa kita harus cepat kabur."
Setelah mendengarnya, Darren segera mundur menjauh dari orang itu. "Jangan-jangan, orang ini adalah--"
Pria itu pun menoleh ke arah Darren.
"Raja Iblis Kegelapan!"
Darren jadi bingung harus apa. Jika orang di depannya ini bisa mengalahkan Tomatsu hingga pingsan seperti itu, maka ia harus berhati-hati sebelum mengambil langkah.
"Orang ini sangat berbahaya. Kekuatannya mungkin setara-- tidak, mungkin lebih kuat dari Tomatsu," Batin Darren. "Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa lari dan meninggalkan Tomatsu begitu saja."
Melihat Darren terpaku diam menatap keadaan, pria itu tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan padanya. "Kenapa kau diam saja? Kau tidak kabur?" Tanya-nya.
Darren tersentak saat sadar kalau Raja Iblis itu berbicara padanya. Ia menatapnya sambil ketakutan sekaligus waspada. "Apa mau mu?" Balas Darreb balik bertanya.
"Ku yakin kau sudah tahu apa tujuan ku. Sekarang jawab pertanyaan ku: Kenapa kau tidak kabur?"
Darren menundukkan kepala sedikit. "Bagaimana bisa aku lari dan meninggalkan Tomatsu begitu saja."
Pria itu hanya menatapnya sebentar, kemudian berpaling menghadap Tomatsu yang masih tergeletak di tanah. "Bagi mu, kau anggap apa makhluk di hadapanmu ini?" Tanya-nya sambil menunjuk Tomatsu.
Darren menoleh ke wajahnya yang tertutup topeng. Ia kemudian menjawab. "Mentor-- tidak. Teman!"
"Teman? Tck, naif sekali," Balasnya. "Kenaifan mu telah membawa dirimu sendiri menuju jalan yang buntu."
Pria itu mengeluarkan pedang hitamnya. Ia kemudian kembali menghadap ke arah Darren. Ia menjulurkan tangannya dan hendak mengeluarkan mantra.
Darren terkejut saat pria itu sudah bergerak begitu saja. Ia langsung menepis tangan pria itu hingga membuatnya terarah ke atas.
Duarr! Sebuah ledakan besar keluar dari telapak tangan pria itu. Betapa leganya Darren saat sadar kalau ia berhasil selamat dari hal berbahaya itu.
Pria itu segera menebaskan pedangnya ke arah Darren. Tapi dengan cepat, Shiro muncul di hadapan Darren dan menahannya dengan tombak miliknya.
"Shiro," Ucap Darren.
"Darren-sama, cepat pergi! Aku akan menahan orang ini," Ucap Shiro sambil menangkis setiap serangan orang itu.
Darren menggeleng dan maju ke sampingnya. Ia tidak mau membiarkan orang lain berkorban untuknya. Hayate, Rolf, dan Yuzuna, ia tak mau kejadian serupa terjadi lagi.
"Dark Elemental: Non-Eucledian!" Darren menciptakan portal di depannya saat pria itu hendak menusukkan pedangnya.
Ujung pedang itu akhirnya masuk ke dalam portal itu dan muncul di belakang pria itu, sehingga membuatmu menusuk dirinya sendiri.
Pria itu jadi sedikit terkejut dan segera kembali menarik pedangnya. Tapi saat itulah ia lengah.
"Ice Elemental: Frost Spear!" Shiro menusukkan tombaknya ke perut pria itu, menyebabkan luka dalam yang cukup fatal. Dan dari dalam luka itu, keluar duri-duri es yang menusuk targetnya dari dalam.
Pria itu mulai memuntahkan darah. Ia menjatuhkan pedangnya dan mulai terpaku diam karena sebagian besar tubuhnya telah tertahan duri es.
"Shiro, ayo cepat pergi!" Ucap Darren sambil menggendong Tomatsu.
Saat mereka hendak pergi, suara bising mulai terdengar dari arah jalan utama. Terdengar seperti suara tapak kaki yang ramai.
Dari atas dinding, Accel terdengar tertawa dengan kencang. Ia menatap orang-orang di bawah dengan tatapan percaya diri dan arogan.
"Akhirnya, mereka datang juga!"
Dari jalan utama, sebuah pasukan Vertrag muncul dengan jumlah besar. Formasi mereka begitu komplit. Di bagian depan, terdapat orang-orang dengan perisai dan pedang. Di tengah, terdapat pasukan kuda. Di bagian belakang, terdapat para pemanah dan penyihir.
"M-Mereka tiba secepat itu?" Ucap Rendi sambil melotot dengan Remi dan Tora di sampingnya.
Di garis depan pasukan itu, Raja Kerajaan Vertrag, Lionne, memimpin pasukan di atas kudanya. Ia bersenjata penuh dengan zirah menutupi seluruh bagian tubuhnya dan tombak panjang di tangan kanannya.
"Sekarang aku merasa sangat senang. Bisa membunuh Darren saja sudah menguntungkan, dan sekarang Raja Iblis itu muncul juga. Jika aku bisa membunuh keduanya, maka yang mulia Axel akan memberiku penghargaan tertinggi."
Area situ pun langsung di penuhi tentara. Setiap penduduk dalam jarak dua ratus meter telah di evakuasi dan daerah sekitar sudah kosong.
Lionne segera mengerahkan pasukannya. Ia tahu kalau Darren bukanlah musuh lemah yang bisa diremehkan. Tapi ia terkejut saat melihat pria lain berada di situ.
Pria itu memancarkan aura yang sangat menekan. Saking kuatnya tekanan itu, kuda-kuda yang mereka tunggangi jadi tidak gelisah dan tak mau bergerak.
"Ada apa ini?" Lionne berusaha mengendalikan kudanya yang memberontak. "Pria itu. Siapa dia? Aku merasakan tekanan yang kuat terpancar darinya."
Lionne langsung meneriakkan perintah. "Semuanya, cepat serang pria itu!"
Beberapa pasukan mulai maju dan menyerang ke arah pria itu secara bersamaan. Pria itu sendiri mulai menegakkan badan dan memperbaiki posisi topengnya.
"Menyedihkan sekali. Padahal kalian tidak perlu mati di sini," Ucapnya.
Dalam seketika, pria itu mulai bergerak dengan sangat cepat. Dengan pedang hitamnya di tangan, ia menebas setiap tentara yang berdatangan kepadanya.
Darah mulai berceceran mewarnai area itu menjadi merah. Mayat-mayat mulai bergelimpangan dan banyak bagian tubuh para tentara yang terbelah menjadi beberapa bagian.
Darren menatap pertarungan pria itu dengan mata melotot. "Ia sangat kuat," Ucapnya dalam hati. "Ini kesempatan ku. Kami bisa kabur sekarang."
Darren segera menarik tangan Shiro. Sambil menggendong Tomatsu, ia menarik Shiro kabur dari tempat itu. Remi dan Rendi yang melihat Darren kabur juga mengikutinya.
Tora awalnya hendak ikut kabur, tapi ia merasa tidak pantas. Ia berpikir kalau mungkin ia lebih baik mati, demi menebus kesalahannya pada Darren.
"Tora, cepat!" Tiba-tiba Darren berteriak padanya. Tora menoleh dengan beberapa linang air mata menetes.
Ia hanya diam menatap mereka pergi. Ia merasa memang sewajarnya ia ditinggal di belakang. Tempat yang cocok bagi seorang pengkhianat.
Tapi tiba-tiba, Darren segera memanggil Shiro dan memindahkan Tomatsu ke atas pundaknya. Ia berlari ke arah Tora dan menarik tangannya.
"Ayo, cepat! Ini bukan tempat untuk mati," Ucapnya sambil menarik Tora.
Mata Tora seketika bercahaya. Lagi-lagi Darren menunjukkan sifat lembutnya, walaupun terhadap seorang pengkhianat sekalipun.
Darren terus menarik Tora menjauh dari area pertempuran. Bagaimanapun, melawan Raja Iblis itu sendirian saja sudah mustahil, ditambah lagi kedatangan para tentara.
Tapi di sisi lain, selagi Raja Iblis itu sedang bertarung dengan mereka, ini bisa jadi kesempatan yang bagus untuk melarikan diri. Kabur bukan berarti pengecut, melainkan strategi.
Pria itu sedang asik-asiknya membantai para tentara satu persatu, sampai ia sadar bahwa Darren telah kabur.
"Mereka kabur, ya," Ucapnya pelan. "Untungnya aku sudah menyiapkan ini."
Darren dan yang lainnya sedang berlari di gang-gang kecil sampai tiba-tiba sesuatu muncul mencegat mereka di ujung jalan.
"Graawrr!" Sebuah tengkorak hidup muncul dari sebuah tikungan. Jumlahnya tidak hanya satu, dan mulai mengepung mereka dari depan.
"Earth Elemental: Stone Wall!" Rendi membuat tembok besar di hadapan mereka. Menutup setiap celah di gang itu, sehingga bisa menahan para Skeleton. "Semuanya, mundur!"
Saat mereka berbalik, ternyata jalan di belakang juga sudah terkepung Skeleton. Jumlah mereka yang sangat banyak dan kondisi tempat yang sempit, tidak memungkinkan bagi Darren untuk bertarung. Apalagi ia harus melindungi banyak orang di saat yang bersamaan.
"Sial!" Gerutu Darren sambil menggertak gigi.
Tapi dari atas gedung, sebuah tali menjulur tepat dari atas mereka. Mereka sempat terkejut, tapi kemudian mereka mendengar suara.
"Semuanya, cepat naik!" Ternyata itu Mia. Dan di sisinya ada Robert sedang mengulurkan tali.
Dengan cepat mereka segera memanjat tali itu dan naik ke atas gedung. Mereka akhrinya selamat dari kepungan Skeleton.
"Terimakasih Robert, Mia," Ucap Darren sambil bernafas lega.
"Tidak masalah, Darren-sama," Balas Robert dan Mia bersamaan. Mereka kemudian melihat Tora bersama-sama dengan mereka, tapi mereka tetap menutup mulut dan tak menanyakan pertanyaan apapun.
Mia melanjutkan, "Darren-sama, apa rencana mu selanjutnya?"
Darren menjawab, "Kabur. Aku tidak bisa melawan mereka. Terlebih lagi si Raja Iblis itu."
Tiba-tiba Robert menyahut. "Aku takut kalau mungkin itu akan sulit," Ucapnya. Ia kemudian menunjuk ke kejauhan. "Lihatlah."
Darren segera menatap ke arah Robert menunjuk. Sebuah keramaian yang terlihat normal di kejauhan. Awalnya semua terlihat normal dan ia tak mengerti maksud Robert, tapi ia menyadari sesuatu.
"Tunggu, itu bukan orang!" Darren menyipitkan matanya. "Itu--"
"Benar. Keramaian itu bukanlah manusia, melainkan para undead. Mereka sudah memenuhi kota ini," Ucap Robert menyambung.
Ternyata di bawah mereka sekarang, terdapat lautan kematian yang sudah menunggu mereka.
Darren jadi bingung. Ia tidak tahu harus apa sekarang. Raja Iblis itu sudah satu langkah-- tidak, mungkin sudah jauh di depan dari pemikiran Darren.
Ternyata ia sudah menyiapkan semua ini hanya untuk menangkapnya. Itu semakin meyakinkan Darren kalau Raja Iblis itu benar-benar membutuhkannya. Jadi, jika ia tertangkap, sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.
"Ini gawat. Aku tidak tahu harus apa," Ucap Darren gemetaran. Tapi setelah melihat rekan-rekan di sisinya yang menatapnya dengan keyakinan, itu membuat Darren meneguhkan pikirannya.
"Tidak. Aku harus memikirkan sesuatu! Aku tidak boleh berhenti berpikir!" Ucapnya pada dirinya sendiri. Ia memejamkan matanya dan mulai berpikir dengan serius. Ia kemudian mendapatkan sesuatu dalam pikirannya.
"Mungkin ada satu, jalan. Tapi aku tidak yakin apa itu akan berhasil."
.
.
.