Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Pertarungan Kematian


Getaran merambat ke seluruh penjuru goa. Rontokan kerikil meluruh dari langit-langit. Beberapa bagian dinding pun dipenuhi goresan kasar yang terukir oleh bilah pedang, seolah pertempuran sengit telah terjadi di sini.


Sang wanita bertopeng melompat ke sana kemari, menghindari tangan-tangan yang kini mengejarnya tanpa henti. Nafasnya mulai terengah, diikuti stamina yang terkuras.


"Sekarang kau hanya bisa lari. Tapi mari kita lihat, berapa lama kau bisa melakukannya," Serina terus melipat ruang dan memukul-mukulkan tangannya, menyebabkan serangan langsung ke arah Akira.


Akira berusaha sekuat tenaga mempertahankan hidupnya. Ia tak menyangka trik psikologinya malah membuatnya terjebak ke dalam situasi yang lebih berbelit seperti ini. Tapi tak ada gunanya menyesali itu sekarang. Saat ini, yang ada di kepalanya adalah mencari cara untuk mengalahkan Succubus loli yang mengincar nyawanya.


"Kau tamat di sini!" Serina berteriak seraya menciptakan sebuah lipatan ruang di depan Akira. "Kau kira kekuatan Non-Eucledianku hanya sebatas berpindah tempat? Kau salah besar!"


Akira menghentikan langkahnya dan bergerak menjauh dari portal di depannya. Ia menduga bahwa Serina akan menyerangnya dari situ. Namun ia salah. Serina telah menunggunya mengambil langkah tersebut. Succubus itu muncul di belakangnya.


Buakk! Dengan satu pukulan telak, Serina membuat Akira terbang terpental ke dalam portal tersebut.


"Kekuatanku adalah kekuatan besar. Sebuah kekuatan dengan potensi luas. Pikiranmu terlalu dangkal untuk memahami kekuatan ini," Ucap Serina seraya melihat Akira terjatuh ke tanah di sisi lain portal.


Akira mencoba bangkit berdiri walau tubuhnya mengalami luka dalam yang cukup menyakitkan. Tapi ia yakin kalau pukulan tadi bukan dimaksudkan untuk membunuhnya. Jika memang demikian, ia seharusnya sudah mati dengan sekujur kerangka dalam yang hancur.


Ketika ia berhasil bangkit, ia kembali melihat Serina yang menatapnya dari balik portal. Di saat bersamaan, dirinya juga merasa sesuatu yang janggal telah terjadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Akira perlahan melayangkan pandangannya ke setiap sudut goa. Semuanya nampak menjulang besar.


"Kenapa semuanya membesar? Tidak, tunggu sebentar-- Akulah yang menciut!" Akira mengerutkan wajahnya. "Apa-apaan ini?!"


"Benar sekali. Ini adalah kekuatan dari Non-Eucledian. Kekuatan untuk melipat hukum alam," Sahut Serina. "Sekarang siapa yang kecil."


Akira berbalik menatap Serina. "Sialan. Apa yang telah kau lakukan?!" Teriaknya dengan nada masih terkejut. Belum pernah dilihatnya mantra seperti ini.


Serina tertawa. "Mungkin kau tidak akan paham. Ketika aku membuka dua titik portal dengan ukuran yang berbeda, maka akan terjadi penyesuaian ukuran dengan skala portal tersebut. Contohnya barusan dirimu memasuki portal berukuran sedang dan keluar dari titik portal yang berukuran lebih kecil. Dengan begitu, postur tubuhmu akan menciut mengikuti ukuran portal dimana kau keluar," Jelas Serina.



Akira mendengus. "Kekuatan macam apa ini. Tidak masuk akal."


Kalau dilihat-lihat, memang portal tempat ia keluar sangat kecil. Lebarnya hanya sebesar setengah dari ukuran tubuh aslinya. Dan pemandangan di sisi lain portal nampak normal, seolah tak terpengaruh apa-apa.


Akira hendak berbalik untuk masuk ke dalam portal itu lagi, namun Serina langsung menutupnya dan membuat portal baru di sampingnya. Ia segera mengulurkan tangannya untuk menyerang Akira. Namun karena ukuran tubuh yang terlalu kecil, hingga membuat Akira kesulitan untuk menghindar.


Grabb! Dengan satu tangan, Serina menarik lengan Akira dan melemparnya ke dinding goa, seakan ia sedang melempar anak kecil.


Darah bercucuran dari wajah Akira yang setengah tertutup topeng. Sibakan merah mencoret dinding dan meninggalkan noda yang tentunya takkan mudah hilang.


Serina perlahan berjalan menuju arahnya dengan tatapan yang penuh keinginan untuk membunuh. Setiap langkahnya seolah menggema ke seluruh penjuru goa. Dan hal itu membuat bulu kuduk Akira berdiri.


Tidak bisa bergerak lagi, Akira mencoba menyerang dengan segenap tenaga yang ia miliki.


"Emerald Bullet!" Dengan serangan jarak jauh, Akira mencoba melukai monster di hadapannya.


Namun peluru-peluru itu seolah memantul ketika menggores kulit Serina. Tidak ada satupun luka yang ditimbulkan. Kekuatan zamrudnya sudah benar-benar melemah.


"Sia-sia. Kelihatannya kekuatanmu telah menurun drastis ya. Apa kau sudah kelelahan?" Serina terus maju hingga akhirnya menapakkan kaki di depan Akira. "Katakan padaku, Akira. Apa kau melawan hingga titik ini karena ingin bertahan hidup atau karena Darren?"


Akira tidak menjawab, melainkan malah mengambil segenggam batu di sampingnya dan melemparnya ke arah wajah Serina. Plakk! Batu itu hancur ketika menabrak wajah Serina, tapi tak sedikitpun menggoresnya.


Serina merasakan sesuatu dari aksinya ini. Ia menatap ke mata kiri Akira yang terekspos dari topengnya yang pecah. Sebuah mata hijau yang seolah menyala. Ini bukan tatapan yang putus asa. Ini tatapan penuh tekad.


"Matamu menunjukkan jawabannya. Kau bukan orang yang egois, bukan?" Ucap Serina.


"Aku egois. Dan keegoisanku sekarang adalah ingin membunuhmu," Jawab Akira.


"Kau pikir bisa?"


Dengan satu pukulan dari tangan kecilnya, Serina menghantam wajah Serina hingga membuatnya tembus masuk ke dalam dinding batu. Retakan menjalar ke sekitar dinding dengan berpusat pada lubang yang membentuk kepala Akira.


"Kau sudah tamat di sini, Akira. Pekerjaanku sudah selesai. Aku hanya perlu membawa Darren pergi dari sini."


Tiba-tiba, terdengar suara isak tangis keluar dari mulut Akira. Air mata menitis perlahan, seraya Akira semakin jauh jatuh dalam tangisnya. Serina menatapnya sejenak sambil berpikir bahwa ia sedang berada dalam ambang kesadarannya.


Serina berbalik dan melangkah menjauh. "Ia akan mati sebentar lagi. Tak ada yang perlu ku khawatirkan."


Ekk!


"Ada apa ini?" Serina menghentikan langkahnya. "Apa kakiku kelelahan karena semua pertarungan ini? Tunggu, tidak! Ini...!"


.


.


.