
Darren kebingungan. Dua rekannya sedang bertarung melawan makhluk yang tak dikenal dan ia tak bisa apa-apa. Darren sudah berkeliling mencari jalan untuk sampai kepada mereka, tapi ia sadar bahwa dungeon ini seperti labirin yang berputar-putar.
Setiap kali ia mengambil jalan, ia selalu saja kembali ke jalan awal. Ia sempat frustasi dan bingung, tapi ia kekhawatirannya atas keselamatan mereka mendorongnya untuk berpikir.
"Pasti belok sini!" Darren berlari menuju sebuah belokan ke kanan.
Tapi, lagi-lagi ia hanya berputar-putar. Sesulit apapun ia mencoba, ia tak menemukan jalan sama sekali. Seakan-akan labirin ini memang menjebaknya.
Darren terlalu panik untuk memikirkan rencana. Yang ada di kepalanya hanyalah Shiro dan Tora. Ia berharap mereka berdua bisa bertahan hingga ia tiba.
Darren kembali berlari. Kali ini ia mencoba mengambil belokan ke kiri.
Ia sudah sangat yakin. Tapi keyakinan tanpa strategi ini hanya membuatnya semakin jauh dari Tora dan Shiro. Ia bisa melihat melalui tembok betapa jauhnya ia dari keduanya.
"Apa-apaan ini!?" Darren menggerutu. "Aku yakin sudah berjalan mendekati mereka, tapi aku malah semakin jauh."
Saat hendak kembali berjalan, Darren tak sengaja melihat ke sudut ruangan.
"Itu kan tulang tadi. Bagaimana benda itu masih di sini?" Gumam Darren. "Apa aku memang hanya berputar-putar saja dari tadi?"
Darren hampir mengulangi kesalahan yang sama sampai ia tiba-tiba berhenti saat hendak kembali berlari.
"Tunggu, aku sepertinya paham dengan situasi ini," Darren menarik kembali kakinya. Ia mencoba menenangkan diri karena panik hanya akan membuat pikirannya acak-acakan.
Ia menarik nafas perlahan sambil terus mengawasi pergerakan dua temannya itu. Ia mencoba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini.
"Aku agak merasa ada yang aneh. Aku mulai curiga sejak aku meninggalkan mereka berdua tadi," Darren mengerutkan keningnya. Ia berpikir dengan keras. "Aku yakin, saat aku meninggalkan mereka berdua tadi, mereka seharusnya belum begitu jauh. Aku juga tak mendengar suara mereka berlari sama sekali."
"Dan dilihat dari situasi ku sekarang, aku terjebak di ruangan yang sama berulang-ulang," Sambungnya. "Tora juga bilang bahwa banyak sekali petualang yang hilang di tempat ini. Sepertinya mereka hilang bukan karena hanya sekedar tersesat."
Darren kemudian menatap tembok di depannya. Terlihat dari balik tembok itu, Tora dan Shiro sedang bertarung bersama melawan musuh yang masih belum diketahui identitasnya.
"Aku yakin musuh sengaja mencerai-berai formasi kami. Ia tahu strategi ku tentang mengawasi Tora dan Shiro dari belakang, dan menganggap ku sebagai ancaman utama. Itulah kenapa ia memisahkan ku dari yang lain," Ucap Darren. "Jika aku terus melewati lorong-lorong itu, baik lewat kiri ataupun kanan, aku hanya akan terus terjebak di sini. Aku harus memikirkan cara lain."
.
.
.
Beberapa menit lalu...
"Esema-sama, jalan mana yang harus kita ambil?" Tanya Tora sambil memimpin jalan. Tapi tak ada tanggapan dari Darren.
"Esema-sama?" Tora menoleh ke belakang dan hanya melihat Shiro sendirian di belakangnya.
"Shiro, dimana Esema-sama?" Tanya Tora pada Shiro dengan wajah bingung.
Shiro ikut menoleh ke belakang. Ia seharusnya tahu bahwa Darren ada di belakangnya dari tadi, tapi saat ia menoleh, tak ada seorang pun di belakangnya.
"Esema-sama?" Shiro mulai memanggil-manggil namanya. "Esema-sama! Dimana kau?"
"Esema-sama!" Tora ikut memanggil tapi sia-sia. Tak ada jawaban sama sekali.
Keadaan menjadi hening saat mereka tersadar bahwa Darren sudah benar-benar menghilang. Tapi ada satu hal lain yang mengganggu pikiran Tora.
Ia memperhatikan sekitarannya. "Aneh. Tadi ada ruangan di sini, tapi kenapa ruangan itu menghilang?" Gumamnya.
Mereka sedang berada di sebuah lorong panjang yang gelap, dan tak ada ruangan sama sekali di dekat mereka.
"Sebaiknya kita berbalik dan cari Esema-sama," Ujar Shiro. Ia khawatir dengan keadaan Darren.
Merekapun berbalik dan kembali menyusuri lorong di belakang mereka.
Tapi, kejadian yang aneh malah terjadi saat mereka terus berjalan. Lorong yang mereka lalui seakan tak berujung. Mereka awalnya tak menyadari itu, tapi Tora mulai curiga saat ia melihat tempat yang sama persis seperti yang mereka lewati sebelumnya.
"Apa? Kita kembali lagi?" Gumamnya. "Apa perasaan ku saja?"
Shiro juga terlihat kebingungan. "Tora-kun, apa kau merasa ada yang aneh?"
Terlihat jelas di wajah Shiro bahwa ia juga menyadari kejadian aneh ini. Ekspresi bingung sekaligus tak yakin.
Tora sendiri masih belum menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ia punya ide.
"Shiro, bisakah kau membuat tanda di dinding ini menggunakan sihir es mu?" Ucap Tora sambil menunjuk ke dinding di sebelahnya.
Shiro mengangguk dan menancapkan sebatang es ke tembok tersebut.
"Bagus. Sekarang aku akan mengetahui kebenarannya sebentar lagi," Ucap Tora sembari kembali berjalan.
Berjalan beberapa menit, mereka berakhir kembali ke tempat semula. Tapi kali ini, mereka sudah yakin bahwa ini bukan hanya sekedar perasaan atau gumaman. Ini adalah jebakan yang sudah disiapkan.
"Shiro, berhati-hati lah!" Tora langsung bersiap. Kecurigaannya ternyata benar. Selama ini mereka terjebak dalam skenario musuh.
Shiro terlihat menyiapkan tombaknya. Tombak yang ia bawa dari dojo. Walau itu tombak biasa, tapi cukup untuk pertahanan.
"Tora-kun, sebelah sana!" Shiro tiba-tiba bergerak menghampiri Tora dan menusukkan tombaknya.
Jleebb! Ia menusuk sesuatu yang muncul dari belakang Tora. Dengan ganas ia menikam tombaknya lebih dalam untuk memastikan makhluk itu mati.
"Shiro, apa itu?" Tora terkejut. Lagipula, makhluk memiliki bentuk yang tidak umum.
"T-Tulang! Tulang belulang ini bergerak!" Balas Shiro sambil kembali menarik tombaknya.
Tora langsung berbalik dan membantu Shiro. Ia merapal mantra angin yang cukup kuat hingga membuat makhluk itu hancur.
"Itu tadi Skeleton!?" Gumam Tora. "Apa jangan-jangan, dungeon ini adalah sarang undead?"
Tora mundur untuk berkumpul lagi dengan Shiro.
Tak lama kemudian, terdengar beberapa langkah kaki yang datang ke arah mereka. Dengan kondisi lorong yang kosong dan sunyi, suara-suara langkah kaki itu jadi terdengar menggema. Membuat Tora kesulitan untuk memperkirakan jumlah musuh yang datang.
"Shiro, bersiaplah!" Ucap Tora sambil membelakangi Shiro. Kini mereka saling melindungi dari kedua sisi.
"Aku tak bisa memperkirakan jumlah musuh, jadi kita hanya bisa bertarung," Sambung Tora. "Sebaiknya kau gunakan sihir es mu juga!"
Walau ia ketakutan, tapi ia lebih takut lagi jika majikannya tak selamat dari dungeon ini. Itulah yang mendorongnya untuk membuang rasa takutnya.
"Aku harus selamat! Aku harus bertemu lagi dengan Darren-sama!" Ucapnya dalam hati. "Saat aku bertemu dengannya nanti, akan ku ceritakan bagaimana aku bertarung melawan monster undead. Ia pasti akan sangat bangga dan memberikan ku elusan kepala."
Shiro mencengkram erat batang tombaknya. Wajahnya seketika berubah menjadi percaya diri. Tubuhnya berhenti bergetar dan sekarang semangatnya berapi-api.
"Tora-kun, ayo kita hajar mereka," Ucap Shiro sambil menyeringai.
Tora sempat terkejut dengan perubahan Shiro. Tapi kemudian ia membalasnya dengan senyuman simpul dan kembali berfokus pada musuh di depan.
"Kita hajar mereka, Shiro!" Balas Tora.
Suara langkah kaki semakin terdengar keras. Benar saja, banyak sekali skeleton yang muncul dan menghampiri mereka dengan cepat.
Beberapa dari mereka ada yang menggunakan zirah, dan ada juga yang membawa beberapa senjata.
"Wind Elemental: Sharp Vortex!" Tora meluncurkan aliran angin yang kuat dari tangannya.
Crassh! Tulang belulang yang berserakan dengan cepat menutupi lantai. Banyak sekali skeleton yang berhasil Tora kalahkan, tapi jumlah mereka masih banyak dan mereka terkepung dari kedua sisi.
Mereka tidak boleh lupa dengan bagaimana posisi mereka sekarang. Bisa dibilang, mereka sangat tidak diuntungkan dengan kondisi ini.
Mereka tidak bisa memperkirakan jumlah musuh. Mereka juga terjebak dari kedua arah. Dan juga, mereka kalah jumlah. Ditambah lagi, mereka tidak memiliki banyak informasi tentang musuh yang mereka lawan. Ini seperti menari-nari di atas telapak tangan mereka.
Shiro dengan lincah bergerak dengan tombaknya. Dengan hempasan kecil dari tombaknya saja, itu sudah cukup untuk menghancurkan tulang belulang skeleton yang rapuh.
Satu persatu, jumlah para skeleton mulai menipis. Jumlah yang berdatangan juga semakin berkurang. Itu membuat Shiro dan Tora merasa sedikit lebih tenang dan yakin dengan kekuatan mereka.
Crash! Skeleton terakhir berhasil di kalahkan. Sekarang lorong itu penuh sekali dengan tulang.
"Tora-kun, lihatlah," Shiro memanggil Tora. "Tulang-tulang ini bagus sekali."
Tora menatapnya dengan tatapan aneh. Tidak heran sih jika serigala suka tulang. Tapi rasanya ini bukanlah waktu yang tepat untuk melihat-lihat tulang-tulang yang bagus.
"Tak ku sangka kalian berhasil mengalahkan pasukan ku," Tiba-tiba sebuah suara muncul dari ujung lorong.
Shiro dan Tora langsung waspada dan kembali mengambil posisi berjaga.
"Siapa itu!?" Ucap Tora dengan lantang.
"Siapa aku bukanlah urusan kalian," Jawab suara itu. "Kalian adalah pelanggar dan kalian harus dihukum."
"Hukum? Pelanggar?" Ulang Tora. "Apa dungeon ini adalah tempat tinggal mu?"
"Bukan, bukan. Bukan milikku. Tapi aku dipercaya untuk menjaganya," Balasnya.
Tora mengernyit. "Apa itu artinya ada orang lain lagi disini?" Gumamnya.
Tak lama kemudian, muncul sesosok perempuan dari balik bayangan. Badannya agak pendek, dan ia mengenakan pakaian yang sangat minim.
"Succubus anak-anak?" Ucap Tora pelan mengarahkan pandangan ke perempuan itu.
"Aku bukan anak-anak, dasar bajingan!" Balas perempuan itu dengan keras. "Aku adalah hamba dari Raja Iblis ke tujuh. Aku yakin kalian pernah mendengar namanya."
"Raja Iblis ke tujuh. Jangan-jangan, maksud mu adalah Raja Iblis Sejati?" Ucap Tora.
Perempuan itu tertawa kecil dengan suaranya yang menyeramkan. "Tuanku tidak suka bila ada seseorang masuk ke wilayahnya tanpa izin. Ia bilang untuk menangkap siapapun yang menyusup."
"Aku gagal memisahkan kalian. Padahal aku sudah berhasil membuat pria itu menjauh," Sambung Succubus itu membicarakan Darren. "Tapi yasudahlah. Aku akan tetap menangkap kalian."
Tora menggertakkan gigi.
"Setelah ku tangkap kalian. Aku akan layani keinginan liar kalian dan membuat kalian serasa di surga," Sambung Succubus itu lagi. "Dan perempuan itu mungkin akan menjadi makanan yang bagus untuk peliharaan-peliharaan ku."
Succubus adalah makhluk yang memiliki rupa seperti perempuan. Walau penampilannya seperti manusia, tapi Succubus nyatanya adalah iblis.
Succubus cenderung memangsa manusia yang berjenis kelamin laki-laki. Succubus selalu menggoda para pria untuk berhubungan seksual dan melahap jiwa mereka disaat mereka dimabuk nafsu. Itulah cara mereka bertahan hidup.
Tora harus berhati-hati. Untungnya Shiro berada di sisinya. Mereka masih punya kesempatan walau kesempatan itu kecil. Setidaknya mereka bisa mengatur strategi, baik itu untuk bertempur maupun untuk melarikan diri.
"Ice Elemental: Icicle Dart!" Shiro melemparkan serangan es nya secara tiba-tiba.
Succubus itu bereaksi. Ia memiringkan tubuhnya dan dengan mudah menghindari serangan itu. Tapi ada yang aneh. Jarum es Shiro tiba-tiba menghilang begitu melewati Succubus itu.
"Kau lihat itu, Tora-kun?" Ucap Shiro.
Tora mengangguk. "Ya. Sepertinya itu adalah sihirnya."
"Ups, sepertinya kalian harus hati-hati dengan kepala kalian," Succubus itu tiba-tiba tertawa.
Tora dan Shiro mendengar seperti sesuatu datang dari belakang. Benar saja, jarum es yang Shiro lempar tadi muncul dari belakang mereka. Mereka berdua segera menghindar.
"Itu es mu, kan?" Tanya Tora pada Shiro.
"Iya benar. Tapi bagaimana itu bisa muncul di belakang?" Jawab Shiro.
Succubus itu tertawa makin keras. "Kalian dasar makhluk-makhluk bodoh," Ucapnya. "Itu adalah salah satu mantra spesial ku, yaitu manipulasi ruang!"
Tora dan Shiro menelan ludah mendengar itu. Kemampuan musuh mereka jauh dari mereka sendiri. Kesempatan menang juga mungkin kecil.
"Tora-kun, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Shiro berbisik.
Tora membalas. "Kekuatan musuh sudah jelas lebih kuat di banding kekuatan kita berdua. Kabur juga mustahil. Ia pasti akan menggunakan kekuatan manipulasi ruangnya dan membuat kita kembali ke sini," Jawab Tora. "Pilihan kita satu-satunya adalah bertarung."
Shiro menelan ludah. "Tapi ia sangat kuat."
Tora membalas sambil tersenyum simpul. "Kesempatan kita untuk menang memang kecil, tapi itu bukan berarti mustahil."
"Ayo kita tunjukkan pada Esema-sama bahwa kita juga bisa menjadi lebih kuat darinya," Sambung Tora sambil mengacungkan jempol.
Semangat Shiro terbakar. Wajahnya bercahaya dan matanya berbinar. Ia mencengkram kembali tombaknya dan mengangkatnya.
"Ayo kita habisi dia!" Teriak Shiro dengan lantang.