
Darren dan teman-temannya sedang dalam perjalanan kembali ke Friedlich. Selama perjalanan, keadaan terasa sangat canggung di antara mereka.
Darren melihat sikap Tomatsu yang menjadi lebih dingin dari biasanya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu, dan hal itu sepertinya mengganggunya.
Tora juga terlihat aneh. Ia diam saja selama perjalan. Darren sudah mencoba untuk mengajaknya berbicara, tapi ia seakan tidak berniat mengobrol. Ia bahkan tak menatap Darren sedikitpun.
Hanya Shiro saja yang terlihat normal. Ia berjalan berdampingan di sisi Darren dan ia berbisik pelan bahwa Tora sudah bersikap aneh sejak mereka keluar dari Dungeon itu.
"Apa ini pengaruh dari pertempuran tadi?" Gumam Darren. "Pertempuran yang sengit memang bisa mengganggu mental sih. Tora mungkin masih sedikit syok dengan hal itu."
Perjalanan mereka memakan waktu setengah hari dan mereka hanya bisa sampai di Kota Veronheim, masih sangat jauh dari kastil.
"Kita sepertinya harus mencari penginapan," Ucap Darren sembari melihat langit yang perlahan semakin gelap.
"Aku setuju denganmu, Esema-sama," Sahut Shiro, sementara yang lain tidak terlihat begitu peduli dengan pilihan Darren.
Mereka berjalan menuju sebuah penginapan yang cukup bagus di kota. Lokasinya tak jauh dari restoran dan pemandian, sehingga mereka bisa kesana sewaktu-waktu.
"Aku telah memesan empat kamar," Ucap Darren sembari menghampiri ketiga temannya yang sudah menunggu di ruang tunggu. "Masing-masing akan mendapat kamar sendiri-sendiri."
"A-Apa itu tidak apa-apa, Esema-sama?" Shiro terlihat khawatir. "Maksud ku, penginapan ini cukup bagus. Biayanya juga pasti tidak murah."
Darren membalasnya dengan senyuman. "Tidak apa-apa. Lagipula, gaji ku di kastil juga lebih dari cukup. Setidaknya, sebagai majikan yang baik, aku harus memastikan kedua rekan ku bisa tidur nyaman."
Shiro sedikit terperanjat dengan perkataan Darren. Seperti biasa, ia masih merasa tak enak kepada Darren. Ia kadang berpikir apa ia masih benar-benar seorang budak.
Setiap orang sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Darren mendapat kamar di ujung lorong, dan kamar Shiro terletak di sebelahnya, dan kemudian kamar Tora dan Tomatsu di sampingnya lagi secara berurutan.
Darren merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sambil melipat tangannya di bawah kepala, ia memandang ke dalam kehampaan pikirannya.
Hening... perasaan ini... Seakan ingatan dari masa lalu muncul kembali di kepalan.
"Aku rindu dengan mama papa," Ucap Darren dengan suara pelan. "Kabar mereka sekarang gimana ya?"
Tok... tok... tok... Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
"Siapa?" Tanya Darren dengan keras.
"Ini aku," Jawab Shiro dari balik pintu. "Apa aku boleh masuk?"
"Ya. Masuk saja."
Shiro membuka pintu. Ia melihat Darren sedang berbaring di atas kasurnya dengan wajah murung.
"Ada apa, Darren-sama? Kau terlihat murung," Tanya Shiro. "Apa pertarungan itu membuat mu lelah."
Darren hanya mengangguk pelan tanpa menoleh. "Ya, mungkin."
Shiro berjalan mendekati Darren. Ia duduk di samping Darren di atas kasur. Berada di dekatnya saja, Shiro bisa merasakan kesedihan pada diri Darren.
"Darren-sama, jika kau punya keluhan, kau bisa mengatakannya pada ku," Ucap Shiro lembut. Ia berharap ini bisa membuat hati Darren jadi lebih baik.
"Hm, ya. Terimakasih, Shiro. Tapi aku baik-baik saja," Balas Darren langsung merubah waut mukanya menjadi tersenyum. Ia sadar kalau Shiro memperhatikannya.
"Ngomong-ngomong," Sambung Darren. "Ini sudah waktunya makan malam. Sebaiknya kita ajak Tora dan Tomatsu."
Shiro mengangguk. Hatinya terasa lebih tenang setelah melihat Darren tersenyum.
Tok, tok, tok, Darren mengetuk pintu kamar Tora.
"Tora, apa kau mau makan?" Ucapnya agak keras agar terdengar melalui pintu. "Ini sudah malam lo."
Tapi tak ada jawaban sama sekali dari Tora. Darren jadi bingung. Ia menunggu beberapa saat lagi dan kembali mengetuk.
Tok, tok, tok. "Tora, apa kau baik-baik saja?"
Tapi Tora tidak menjawab. Darren berpikir kalau Tora mungkin masih syok dan ingin sendirian untuk sementara.
"Bagaimana dengan Tomatsu?" Tanya Darren sambil menoleh kepada Shiro.
"Tomatsu-sama bilang ia tidak mau. Katanya, pergi saja sendiri," Balas Shiro.
Darren menghela nafas berat sambil menggeleng kepala karena sikap mereka.
"Huff, sepertinya lebih baik kita biarkan mereka sendiri untuk sekarang. Kita bisa membawakannya makanan nanti," Ucap Darren. "Ayo, Shiro."
.
.
.
Sekeluarnya mereka dari penginapan, hari sudah malam tapi keramaian kota tidak berkurang sama sekali. Aktivitas di sana masih sama seperti saat siang. Banyak orang yang berlalu lalang, ada yang menjual jajanan, dan beberapa toko memasang lentera-lentera yang cantik di depan pintu.
"Ramainya," Ucap Shiro sambil memandang jalan kota penuh cahaya.
Sementara Darren merasa risih karena ia tidak suka keramaian.
"Ayo kita langsung ke restoran saja. Aku sudah lapar," Ucap Darren.
Mereka tiba di restoran dekat situ. Tempatnya cukup bagus untuk ukuran restoran murah. Banyak menu makanan yang tersedia dan juga ada minuman beralkohol.
Seorang pelayan wanita menghampiri mereka. "Mau pesan apa?"
Darren menoleh ke arah Shiro. "Kau mau apa, Shiro?"
Shiro menjawab, "Aku pesan yang sama seperti mu, Esema-sama."
Setelah menunggu agak lama, akhirnya makanan mereka tiba. Dua porsi daging steak dengan beberapa sayuran di pinggirnya.
Shiro terlihat lahap memakannya, sementara Darren mulai terlihay murung. Ia memikirkan tentang Tora dan Tomatsu yang bersikap aneh.
"Eh, iya. Ada apa, Shiro?" Sahut Darren terlihat linglung.
"Apa kau baik-baik saja? Apa makanannya tidak enak?"
Darren menggeleng. "Ah, tidak, tidak. Aku baik-baik saja, dan juga makanannya enak kok," Ucapnya sambil langsung memotong kecil daging dan melahapnya.
Shiro menatapnya. Ia tahu kalau Darren pasti sedang memikirkan sesuatu dan ia tak pandai dalam menyembunyikannya.
"Darren-sama, jika ada sesuatu kau bisa bicara kepada ku," Ucap Shiro lembut.
Darren hanya meliriknya dan kemudian tersenyum simpul. "Ya, terimakasih Shiro."
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Darren tak lupa dengan Tora dan Tomatsu. Ia membeli makanan dan membungkusnya untuk mereka berdua di penginapan.
Selama perjalanan kembali ke penginapan, Darren selalu menunjukkan ekspresi risih. Keadaan kota yang ramai benar-benar mengganggunya.
"Apa kota ini gak pernah sepi, ya?" Gerutu Darren. Ia melihat banyak sekali orang berlalu lalang.
Shiro meliriknya. "Darren-sama, apa kau tidak suka keramaian?" Tanyanya.
Darren menggeleng dengan malas. "Tempat ramai cuma membuat ku pusing."
Terdengar suara tawa kecil dari mulut Shiro. "Ternyata Darren-sama itu orang yang lucu ya."
"Hei, hei, apanya yang lucu. Jadi orang nolep kok lucu," Balas Darren dengan nada bercanda. Kini perasaannya sudah jadi lebih baik. "Sudahlah, ayo kita cepat kembali. Tora dan Tomatsu mungkin sudah kelaparan."
Darren mempercepat langkah kakinya, begitu juga dengan Shiro. Saat hendak masuk ke pintu depan penginapan, Darren tak sengaja melihat Shiro yang nampak perhatiannya tertarik oleh sesuatu.
Sebuah gerobak kecil dengan beberapa mainan yang berjejer untuk di jual. Shiro sepertinya ingin mainan seperti itu.
"Apa kau mau, Shiro?" Tanya Darren menawarkan.
Shiro langsung menoleh terkejut. Ia tak menduga kalau Darren akan memergokinya.
"Tidak, tidak, aku tidak... anu..." Shiro berusaha menyangkal.
Darren tersenyum. "Tidak apa-apa. Jika kau mau, aku bisa membelikannya untuk mu."
Shiro hanya diam sambil menunduk malu. Tapi tak lama kemudian, ia tak bisa menolak tawaran Darren. Ia pun menganggukkan kepalanya pelan.
Perlahan Darren berjalan ke pedagang itu dengan Shiro mengikutinya dari belakang.
"Kau mau yang mana?" Darren menunjukkan berbagai jenis mainan.
Shiro jadi malu-malu, tapi ia tetap memilih. Sikapnya sekarang mirip sekali dengan anak kecil.
"Yang itu," Shiro menunjuk sebuah boneka kecil yang terbuat dari kayu. Dengan ukiran yang indah dan warna yang mengkilap, mainan itu memang bagus juga kalau dilihat-lihat.
Darren berpaling menghadap pedagangnya. "Yang ini mas. Aku ambil tiga, ya."
Shiro menegakkan telinganya, ia sedikit kaget mendengar kata-kata Darren.
"Beli tiga?" Pikirnya.
"Tentu saja. Satu untukmu, satu untukku, dan satu lagi untuk Tora," Balas Darren sambil menerima boneka-boneka kecil itu. "Semoga Tora menyukainya."
Shiro tersenyum senang saat menerima boneka pemberian Darren. Walau bentuknya kecil dan keras, tapi Shiro menggenggamnya terus dan tak melepaskannya.
"Hati-hati, Shiro. Benda itu keras. Kalau kau terlalu kuat menggenggamnya, telapak tangan mu bisa terluka," Ucap Darren sembari memasuki penginapan.
Shiro hanya tertawa kecil dan wajahnya terlihat sangat gembira. Darren puas melihatnya.
"Aku akan menjaga boneka ini dengan baik, Darren-sama," Ucap Shiro.
.
.
.
Sekembalinya ke kamar, Darren memberi Tora dan Tomatsu makan malam mereka.
Tomatsu hanya membukakan pintu dan menerima makanan itu tanpa banyak bicara. Setelah itu ia kembali menutup pintunya.
Sementara itu, Shiro mengantarkan makanannya kepada Tora. Sama seperti Tomatsu, ia hanya membuka pintu dan menerimanya tanpa meninggalkan sedikitpun kata-kata. Bahkan ia tak berkutik sama sekali saat Shiro memberikannya boneka kayu itu.
Darren jadi semakin khawatir dengan keadaan mereka. Ia terus memikirkannya hingga ia kembali ke kamar.
"Ada apa dengan mereka?" Gumamnya sambil berbaring di kasur. "Tapi perasaan ku bilang, kalau ini bukanlah efek sihir. Mungkin ini adalah pengaruh psikologis, walau aku tak yakin betul."
Darren beranjak. Ia berjalan menuju sebuah meja dan duduk di kursi. Di bawah cahaya lampur minyak di kamar itu, Darren berniat mencoba sihir yang barusan ia tiru tadi.
"Dark Elemental: Non-Eucl..." Tapi sebelum ia mencobanya, seseorang mendobrak pintu Darren masuk secara tiba-tiba.
"T-Tomatsu?" Darren terkejut. Ia merasakan Tomatsu semacam memancarkan hawa yang berbeda. "A-Apa yang kau mau malam-malam begini?"
Tomatsu langsung berjalan lurus kepada Darren dan berhenti di hadapannya. Tatapan matanya yang sangat serius berpadu dengan paras eloknya, membuat suasana menjadi tegang.
Darren jadi bingung dengan apa yang terjadi, sampai tiba-tiba Tomatsu membuka mulut.
"Kau bukan dari dunia ini, kan?"
.
.
.
"Eh? EEH!?"